"Jadi gimana, Nis. Langkah apa yang harus kita ambil untuk mencari tahu tentang Erick dan keluarganya?" Tanya papa Rangga meminta usulan pada sang menantu. Mumpung Kiara sedang tidak ada di rumah, mereka bisa leluasa untuk membahas rencana mereka.
"Pak Handoko itu kan teman lama Papa. Malah Papa juga pernah bilang, semasa Remaja udah kayak saudara tuh sama Papanya Erick, pastinya dekat banget kan? Harusnya Papa tahu dong, langkah apa yang harus kita ambil." Celetuk mama Flora.
Denis yang tadinya hendak menjawab, mengatupkan kembali bibirnya menahan senyum. Membiarkan kedua mertuanya itu berdebat, dan menjadi hiburan untuknya.
"Ma, kenal dekat bukan berarti Papa tahu seluk-beluk keluarga mereka. Buktinya, Papa gak tahu kalau ternyata Pak Handoko punya 2 istri. Yang Papa tahu nama istrinya Wilda, teman sekampus almarhumah Mamanya Kia. Papa gak sengaja dengar obrolan Pak Handoko dan Bu Wilda, yang membahas kalau ternyata Erick itu cuma anak dari istri kedua Pak Handoko. " Tutur papa Rangga tanpa sadar, telah mengungkapkan kebenaran yang selama ini dia tutupi dari istrinya.
Begitu sadar sudah keceplosan, raut wajah papa Rangga seketika pias. Terlebih melihat tatapan tajam istrinya, dia sampai kesulitan menelan ludah.
Tak hanya mama Flora yang terkejut, Denis tak kalah terkejutnya mendengar fakta itu. Dia maupun keluarganya sama sekali tidak tahu, kalau ternyata Erick dan Alex kakaknya berbeda ibu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Erick adalah anak dari istri kedua pak Handoko, karena selama ini yang selalu tampil bersama pak Handoko adalah bu Wilda. Mereka tidak pernah melihat keberadaan wanita lain di keluarga itu.
"Kenapa Papa gak bilang dari awal?" Tanya mama Flora, dengan nada suara ditekan. Berusaha menahan emosi di hadapan menantunya.
"Maaf, Ma. Papa gak bilang karena khawatir, Mama akan menolak perjodohan itu bila tahu Pak Handoko memiliki 2 Istri. Mama pasti akan langsung beranggapan, jika Bapaknya saja berpoligami, tidak menutup kemungkinan anaknya juga akan mengikuti jejak Bapaknya."
"Dan itu benar terjadi kan, Pa? Erick sudah punya istri dan anak, tapi masih mau menikah lagi. Kia, Pa, Kia yang jadi korbannya!" Pungkas mama Flora, nada suaranya meninggi, dia tidak bisa menahan emosinya lagi.
Papa Rangga hanya bisa meminta maaf, tapi maafnya itu tak akan semudah itu meredam emosi sang istri. Sementara Denis, merenung dalam keterkejutan akan fakta yang baru dia ketahui.
"Apa Papa tahu, di mana istri kedua Pak Handoko?" Tanya Denis akhirnya.
"Gak tahu," jawab Papa Rangga. Dia juga tidak pernah menanyakan hal itu pada pak Handoko karena itu menyangkut urusan pribadi keluarga besannya tersebut. Tapi sejatinya dia juga sangat penasaran, kenapa istri kedua pak Handoko tidak pernah terlihat sampai sekarang.
Denis terdiam, sesaat dia kehilangan akal sehatnya karena fakta yang cukup mengejutkan itu. "Pa, untuk sekarang aku akan meminta seseorang untuk memata-matai keluarga Erick," ucap Denis setelah beberapa saat terdiam. Kini fokusnya tertuju pada Liana, apakah adik sepupunya itu juga tidak tahu tentang Erick yang ternyata anak dari istri kedua Pak Handoko.
Saat ketiganya larut dalam pikiran masing-masing, kedatangan Kiara menyita perhatian mereka. Denis langsung berdiri dari tempat duduknya, menatap sang istri dengan tatapan terkejut. Kenapa Kiara bisa pulang secepat ini? Seharusnya Liana lebih lama lagi menahan Kiara.
"Kia, kamu pulang sendiri? Ana dan Shanum mana?" Tanya Denis.
"Mereka pulang. Shanum ketemu Papanya saat pergi ke toilet, katanya Papanya mau pulang jadi dia juga buru-buru ajak Ana pulang." Jawab Kiara.
'Sial!' Umpat Denis dalam hati. Entah Erick sengaja atau tidak melakukan itu, yang jelas Erick sudah menggagalkan rencananya.
"Aku ke kamar dulu," kata Kia, melirik Denis sebelum pergi. Begitu sampai di kamar, dia langsung menuju sofa untuk melepas penat. Namun, melihat pakaian Denis yang tergeletak begitu saja di sofa membuatnya berdecak kesal.
Dipungutnya baju dan celana suaminya tersebut, membawanya dengan cara diseret menuju keranjang pakaikan kotor yang ada di samping lemari. Tiba-tiba saja, sebuah bungkusan kecil terjatuh dari saku celana Denis. Kiara pun berjongkok untuk mengambilnya, keningnya mengerut begitu melihat logo rumah sakit tempatnya bekerja pada plastik kecil tersebut. Tanpa berpikir panjang, dia langsung membukanya. Kedua matanya seketika terbelalak begitu melihat isinya.
"Postinor," Kiara bergumam. "Bagaimana ini bisa ada di celana Denis?" Dia berpikir keras.
Bertepatan dengan itu pintu kamar terbuka. Denis masuk dengan ekspresi cemas, terlebih ketika melihat Kiara memegang pil kontrasepsi darurat yang dia dapatkan dari suster Maria berkat sogokan yang jumlahnya lumayan banyak, dia juga yang meminta suster Maria untuk tidak mengaktifkan ponselnya selama tiga hari. Tapi sekarang, semua usahanya itu gagal total. Entah bagaimana dia akan menjelaskan itu pada Kiara sekarang.
Kiara pun berdiri, dia melangkah cepat menghampiri Denis dengan membawa pil kontrasepsi darurat itu sementara pakaian Denis dia biarkan begitu saja di lantai.
"Ini apa maksudnya? Kenapa Pil ini bisa ada di saku celana kamu? Kamu pasti tahu kan, dengan kegunaan pil ini?" Tanya Kiara beruntun sambil memperlihatkannya tepat di depan wajah Denis. Dia terdiam sejenak ketika mencoba mencerna sesuatu.
"Atau jangan-jangan, sejak kemarin suster Maria tidak bisa dihubungi itu karena ulah kamu, iya?" Tanyanya lagi, kali ini nada suaranya meninggi.
Melihat Denis hanya diam, Kiara langsung menyimpulkan demikian. "Kamu sengaja melakukan itu untuk menipu aku dan Mas Erick, huh? Kamu menggunakan kesempatan ini agar bisa hidup mewah di rumah ini, iya kan!" Teriaknya.
"Iya, aku memang sengaja. Aku yang sudah menyogok suster Maria demi mendapatkan pil kontrasepsi darurat itu dan memintanya untuk tidak mengaktifkan ponsel. Aku melakukan itu agar selamanya kamu menjadi istriku." Tutur Denis akhirnya, percuma menutupinya lagi.
Plak!
Satu tamparan yang cukup keras seketika mendarat di pipi Denis. Namun, dia hanya tersenyum tipis tanpa mempedulikan rasa panas di pipinya.
Sementara itu, Kiara langsung menuju nakas setelah menampar Denis, sambil membuka pembungkus pil darurat itu. Meraih segelas air diatas nakas, meminumnya hingga setengah setelah sebelumnya memasukkan sebutir pil tersebut kedalam mulutnya. Dia menatap Denis dengan tajam seraya kembali menghampirinya.
"Sekarang juga, kamu harus menalak aku dihadapan kedua orangtuaku!" Kiara menarik tangan Denis keluar dari kamar. Begitu mendekati anak tangga, Denis menarik tangannya.
"Aku tidak akan pernah melakukan itu, Kia. Talakku tidak akan pernah jatuh untukmu!" Tekan Denis.
"Sebutkan berapa yang kamu mau? Aku akan berikan tapi jangan pernah bermain-main denganku!" Tukas Kiara.
Denis tersenyum getir, "Simpan saja uangmu, aku sama sekali tidak membutuhkannya." Dia lalu berjalan melewati Kiara. Saat baru menuruni satu anak tangga, Kiara kembali menarik tangannya.
"Kamu tidak bisa melakukan ini Denis. Mas Erick pasti sudah memberikan banyak padamu, aku juga akan menambahnya lebih banyak lagi asal kamu bisa diajak bekerja sama."
"Tapi maaf, Kia. Saat aku datang bersama orangtuaku melamar kamu, itu murni tanpa ada kaitannya dengan permintaan Erick. Dan asal kamu tahu, aku tidak menerima sepeserpun dari Erick." Ucap Denis.
"Bohong! Mas Erick pasti sudah membayar mu mahal."
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak." Denis menarik kembali tangannya dari genggaman Kiara. Namun, nahas, begitu tangannya terlepas, justru kakinya yang tergelincir dianak tangga.
"Denis...!"
.
.
.
Maaf, baru update dan cuma bisa up 1 bab hari ini. Bocilku rewel, lagi demam.
Sekarang sudah bab 20, semoga retensinya aman... 🙈🙈🙈
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Imas Masripah
sy juga punya temen begitu cerai rujuk sama suaminya sampe habis talak,trs suaminya minta balikan lagi,sy bilang gini Aja,ngapain balik lagi kaya laki habis aja,trs kl pun balik lagi si wanita harus nikah dl dan cerai lagi,aku saranin aja dia JD TKI biar g di teror trs sama mantan suami,sampe skrng blm plng masih JD TKI lbh baik kerja nyari duit bahagiain orang tua
2024-09-23
1
Sugiharti Rusli
waduh, apa Denis akan selamat
2024-07-11
0
Lovita BM
pk Rangga PA za ,udah tau gtu dan udah berpikiran yg sama ,ehhh msih mau²an ajah ngejodohin ngobanin anaknya .
2024-07-02
0