"Ayo duduk di sini," mama Kasih antusias menepuk bagian sofa kosong di sampingnya begitu anak menantunya datang. Tatapannya tak lepas menatap Kiara.
Denis langsung duduk di samping mamanya, namun baru saja duduk tapi dia langsung berdiri kembali sambil mengelus pinggangnya yang terasa panas akibat cubitan mama Kasih.
"Bukan kamu, tapi Kia," mama Kasih melotot menatap putranya, kemudian berpindah menatap Kiara sambil tersenyum, "Ayo duduk sini dekat Mama," ujarnya sambil menarik tangan sang menantu.
Kiara pun duduk, sekilas dia melirik Denis yang merintih sakit sambil mengelus-elus pinggangnya. Kasihan? Tentu saja tidak! Dia rasa Denis hanya berlebihan, tidak mungkin cubitan mama Kasih bisa sesakit itu.
"Denis, kamu duduk di sini saja." Panggil papa Rangga, dia yang duduk berdampingan dengan papa Bagas, sedikit bergeser untuk memberi Denis tempat duduk.
"Pasti sakit sekali," bisik papa Bagas begitu Denis telah duduk diantaranya dan besannya.
"Sakit banget, Pa," balas Denis juga berbisik.
Papa Bagas terkekeh, dia juga pernah merasakan cubitan istrinya dan rasanya memang sangat sakit. Maklum, semasa sekolah mama Kasih pernah ikutan Taekwondo, jadi tak heran meski sudah tua tapi cubitannya bisa sesakit itu, bahkan bekas memerahnya baru hilang setelah beberapa hari.
"Nanti minta dielusin sama istri kamu, sakit dan bekasnya pasti langsung hilang." Goda papa Bagas.
Denis hanya mengulas senyum. Dalam hatinya berkata, semoga kedua orang tuanya tidak pernah tahu jika ada tujuan lain dari pernikahannya dengan Kiara. Tak terbayang bagaimana kecewanya mereka jika dia menikahi Kiara tak semata-mata karena dia memang menyukai Kiara sejak dulu, tapi karena ada kaitannya dengan Erick dan Liana.
"Om Denis akan tinggal di sini ya?" Tanya Shanum yang duduk di sebelah mama Kasih. Semua mata langsung tertuju pada gadis kecil itu, tak terkecuali Kiara, dia langsung jatuh hati pada anak manis nan cantik itu. Dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa sepupunya Denis tak datang bersama suaminya.
"Dalam beberapa hari Om akan tinggal di sini dulu, baru nanti Om bawa Tante Kia tinggal di rumah Om," jawab Denis.
Kiara langsung menatap Denis dengan tatapan tak setuju, tapi Denis sama sekali tidak mempedulikannya, justru dia balas dengan tersenyum menatap istrinya itu.
"Kalau bisa secepatnya kalian berdua pergi berbulan madu," papa Bagas menimpali.
"Setuju, lebih cepat lebih bagus." Sahut papa Rangga.
Dengan cepat, Kiara langsung berpindah menatap papanya. Tapi sama seperti Denis, papa Rangga juga tak mempedulikan tatapan protes putrinya itu.
"Jadi nanti Om Denis tidurnya sama Tante Kia ya, sama kayak Papa dan Mamanya Shanum kalau Papa pulang?" Kembali Shanum bertanya dengan polosnya.
Denis tersenyum, "Iya Sayang. Om nanti tidurnya sama Tante Kia," jawab Denis.
Kali ini Kiara tak peduli lagi dengan obrolan itu, percuma dia protes, tak akan ada juga yang meresponnya. Fokusnya hanya tertuju pada ucapan Shanum baru saja. 'Kalau Papa pulang' itu artinya suami Liana jarang berada di rumah. Kasihan, gumamnya dalam hati. Anak sekecil Shanum, seharusnya menikmati hari-hari dengan indah didampingi kedua orangtuanya, tapi papanya justru jarang pulang. Kalau dia yang jadi Liana, sudah pasti tidak akan sanggup. Dulu saja, Erick yang sering bepergian ke luar kota hanya sebulan sekali tapi dia tetap merasa kesepian. Bagaimana dengan Liana yang suaminya jarang pulang?
"Shanum sudah sekolah apa belum?" Tanya Kiara, , dia tersenyum pada gadis kecil itu.
Shanum menggeleng, "Tapi bulan depan mau didaftarkan sekolah sama Om Denis," Jawabnya sambil menunjuk Denis.
"Iya, bulan depan aku akan mendaftarkan Shanum masuk ke sekolah Taman kanak-kanak." Kata Denis.
"Kalau peralatan sekolah, sudah beli apa belum?" Kembali Kiara bertanya pada Shanum.
"Belum, Tante," jawab Shanum.
"Mau gak nanti beli peralatan sekolahnya sama Tante?" Tawar Kiara.
Shanum langsung menatap Denis, om nya itu pernah mengatakan akan membelikan peralatan sekolahnya mendekati waktu masuk sekolah. Melihat Denis mengangguk, dia langsung paham dan kembali menatap Kiara, "Mau, Tante." Jawabnya.
Kiara pun tersenyum, dia mengulurkan tangannya mencubit gemas hidung Shanum. 'Setidak peduli itukah suaminya Liana? Sampai-sampai urusan sekolah, harus Denis yang mendaftarkannya.' Ucapnya dalam hati.
"Oh ya, Mamanya Shanum kemana, kok gak kelihatan?" Kembali Kiara bertanya.
"Ana ke dapur sama Mama kamu," mama Kasih yang menjawab.
Tadinya mama Flora ingin mengambil brownies yang dibuatnya tempo hari, disimpan dalam lemari pendingin yang memang khusus untuk kedua besanya nanti. Liana pun menawarkan diri untuk ikut ke dapur membantu mama Flora.
"Kalau gitu, aku mau susul mereka ke dapur." Kiara pun beranjak menuju dapur.
Sementara itu di dapur...
Setelah selesai memotong brownies dan menatanya di piring besar, Liana pun hendak membawanya menuju ruang keluarga tapi tangannya yang akan menyentuh piring ditahan oleh mama Flora.
"Ada apa, Tante?" Tanya Liana, dia terkejut sekaligus heran mama Flora tiba-tiba memegang tangannya.
"Maafkan Kiara ya? Tapi percayalah dia juga korban. Kia gak tahu apa-apa soal kamu dan Erick. Bukan hanya Kia, bahkan kami juga tertipu. Bisa-bisanya Erick memanipulasi identitasnya sebagai seorang Bujangan." Mama Flora ingin mengatakan itu sejak dia dan Liana masuk ke dapur. Hanya saja mengumpulkan keberanian serta menyusun kalimat yang tepat untuk mengatakannya pada Liana.
Mama Flora tahu semua itu dari suaminya, dan orang yang memberi tahu papa Rangga tak lain adalah Denis. Saat itu, papa rangga sedang membaca koran di balkon kamar, ketika ada yang menelpon. Melihat nomor tersebut asing, papa Rangga mengabaikan namun, karena nomor tersebut terus menelpon, akhirnya papa Rangga menjawab. Karena si penelpon ingin menyampaikan informasi penting, papa Rangga pun setuju untuk bertemu di sebuah cafe. Dan disitulah Denis memberitahu semuanya, serta memberitahu dialah laki-laki yang ditunjuk Erick untuk menikahi Kiara.
Dan ketika papa Rangga bertanya, apa alasan Erick menikahi Kiara sementara telah memiliki anak dan istri, tapi kemudian menjatuhkan talak hingga tiga kali lalu ingin rujuk kembali? Untuk itu Denis tidak bisa menjawab, karena diapun tidak tahu apa alasannya.
Liana tertegun mendengar permintaan maaf Flora, dia langsung menebak Denis lah yang mengatakan itu semua. Sejak awal dia juga tidak pernah menyalahkan pihak Kiara. Dia tahu keluarga Kiara tertipu, tapi dia tidak bisa membongkar itu semua karena terancam akan terpisahkan dengan putrinya.
Mama Flora menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, kemudian kembali berkata, "Papanya Erick itu teman lama suami Tante, mereka bertemu kembali di acara lelang. Namanya ketemu teman lama, pasti lupa waktu kalau ngobrol. Dan situlah awal perjodohan Kiara dan Erick terjadi. Tante, yang saat itu memang selalu mewanti-wanti Kiara untuk segera menikah, akhirnya menerima perjodohan itu. Begitupun dengan Kiara, yang ternyata bisa menyukai Erick dengan cepat." Tuturnya.
Liana tersenyum, dia membalas menggenggam tangan mama Flora. "Kenapa Tante harus minta maa? Tante, Om Rangga maupun Kiara gak salah apapun. Aku yakin, kalian tidak mungkin melakukan perjodohan itu jika tahu siapa Mas Erick sebenarnya."
Mama Flora mengangguk, karena terlalu khawatir Kiara belum menikah juga diusianya yang terbilang sudah sangat matang untuk menikah, terlalu terburu-buru melakukan perjodohan tanpa menyelidiki terlebih dahulu.
"Tapi Kamu tenang saja. Untuk menembus penderitamu dan putrimu selama ini, Tante dan Om serta Denis tidak akan membiarkan Kiara kembali pada Erick. Mengenai apa alasan Erick melakukan itu semua, kami juga akan mencari tahu." Kata mama Flora.
Liana menundukkan pandangannya. Dia tahu apa apa alasan menikahi Kiara, tapi dia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan itu semua karena ancaman kedua mertuanya.
"Dan Denis sudah mengatakan pada kami, bahwa sebenarnya dia sudah lama menyukai Kiara, hanya saja takdir harus mempermainkan perasaannya. Ternyata, orang yang membantu Kiara saat mobilnya mogok di hari pernikahannya dengan Erick, adalah Denis. Saat pertemuan pertama itulah Denis jatuh hati pada Kiara." Ucap mama Flora selanjutnya.
Liana cukup terkejut mengetahui tentang fakta itu. Sesaat kemudian bibirnya menyunggingkan seringai tipis, lihat saja nanti dia akan memberi pelajaran pada Denis karena telah merahasiakan itu darinya. Kadang dia berpikir jika Denis pria tidak normal karena tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, tapi ternyata kakak sepupunya itu diam-diam menyukai istri kedua suaminya.
Obrolan keduanya terhenti ketika Kiara datang. Liana pun lekas menarik tangannya dari genggaman mama Flora lalu mengangkat piring brownies. Kiara pun membantu membawa nampan berisi minuman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Dewa Rana
biasanya di novel2 org diomongin dengar
2024-12-16
0
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
mungkin kak author belum mengizinkan, Kiara untuk tau sebenarnya. ✌️🤭😁
2024-12-27
2
Puji Ustariana
yah syg kiara gak denger
2024-08-23
0