Denis duduk seorang diri di kursi tunggu yang tersedia di depan ruang rawat Shanum, jari-jari tangannya saling bertaut dan kepalanya disandarkan di dinding.
Kedua matanya tertutup rapat seiring ingatannya yang tertuju pada saat dia mendatangi sebuah rumah megah yang alamatnya sama dengan kartu nama yang dibawanya. Tepatnya, lebih dari satu tahun yang lalu...
Kala itu dia ingin menjelaskan pada sang pemilik kartu nama, bahwa dia bukanlah seorang montir seperti yang dikira oleh wanita itu, sekaligus ingin mengenalnya lebih dekat karena saat pertemuan pertama itu dia langsung jatuh hati. Konyol, tapi itulah yang terjadi. Namun, begitu sampai di alamat yang ditujunya, dia dibuat terkejut dengan pesta pernikahan yang digelar di rumah itu, dan yang lebih mengejutkan lagi ketika dia melihat kedua nama mempelai pada papan karangan bunga serta foto prewedding yang terpajang di pelataran.
Dengan emosi yang membuncah di dada, dia meninggalkan rumah megah tersebut. Melajukan motornya dengan kecepatan penuh membelah jalanan menuju sebuah rumah minimalis yang dia tahu di huni oleh satu keluarga kecil yang terdiri dari sepasang suami istri beserta putra kecilnya.
Setelah sampai, dia memarkirkan motornya asal lalu berjalan dengan tergesa menuju pintu rumah itu dan mengetuknya dengan tak sabar.
'Di mana Erick?' Tanyanya begitu Liana membukakan pintu.
'Mas Erick sedang ada perjalanan bisnis keluar kota, Bang,' jawab Liana sendu, menatap Denis sekilas lalu menunduk.
Denis membuang nafas berat, dengan gelagat Liana yang hari ini tak berani menatapnya sudah menjadi jawaban bahwa adik sepupunya itu berbohong akan perjalanan bisnis Erick keluar kota.
'Hari ini Abang melihat seorang mempelai laki-laki dan kamu tahu siapa?'
Liana hanya bisa meremat ujung bajunya seiring merapatkan bibir agar tangisnya tak pecah, namun bagaimana pun dia menahan akhirnya tangisnya itu pecah juga dihadapan Denis.
'Kenapa Ana, kenapa kamu menyimpan masalahmu sendiri? Jangan takut, katakan pada Abang apa yang sebenarnya terjadi?' Denis meraih tubuh Liana dan memeluknya erat.
'Apa yang Bang Denis lihat hari ini, percayalah itu tidak seperti apa yang Abang pikirkan. Mas Erick tidak pernah mengkhianati ku.'
Hanya itu yang selalu dikatakan Ana, bahkan hingga saat ini Denis tidak bisa mendapatkan jawaban yang pasti kenapa Erick menikah lagi.
Bahkan ketika dia tahu, Erick menjatuhkan talak pada istri keduanya berkali-kali dia tidak tahu apa alasannya. Begitu sulit mendapatkan jawabannya dari Erick maupun Liana.
.
.
.
"Shanum makan yang banyak ya Sayang, biar cepat sembuh." Kata Erick dengan tatapan berkaca-kaca menatap putri kecilnya yang terlihat sangat lemah. Beberapa saat lalu, setelah petugas administrasi memberitahu dikamar mana Shanum di rawat, dia langsung berlari menuju ruangan tersebut. Memaksa menerobos masuk bahkan hampir terjadi perkelahian antara dirinya dengan Denis jika Liana tak segera melerai.
"Tapi Shanum maunya disuapin sama Papa,"
Erick tersenyum seraya mengangguk, dia meraih semangkuk bubur diatas nakas kemudian menyuapi putrinya.
"Papa jangan pergi lagi ya, Shanum kangen sama Papa." Kata gadis kecil itu setelah menelan buburnya.
Erick tersentak, dadanya bergemuruh namun, maaf sekali lagi dia belum bisa memenuhi keinginan putri kecilnya. "Shanum kan tahu kalau Papa kerja, Papa kumpulin uang yang banyak buat nanti ajak Shanum dan Mama jalan-jalan ke... ."
"Ke Italia," sambung Shanum. Netranya berbinar, rasa tak sabar untuk segera melihat menara miring yang menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi di kota Pisa. Menara yang sampai saat ini hanya dapat dia lihat dari buku bergambar yang dibelikan oleh papanya.
Liana yang duduk di sofa, meremat kedua tangannya erat bersamaan perasaannya yang tak menentu. Bagaimana kalau Denis tidak bisa menepati janjinya terhadap Shanum, bukankah lagi-lagi dia harus mengikhlaskan tanpa bisa melakukan perlawanan.
'Kalau kamu masih tidak bisa terima, silahkan tinggalkan Putraku tapi jangan bermimpi untuk bisa membawa Shanum!' Kalimat itu, selalu menghantuinya setiap malam. Dia yang seorang yatim piatu, bisa apa untuk memperjuangkan haknya. Sudah cukup selama ini dia menyusahkan paman dan bibinya yang merawatnya sedari kecil, untuk masalah rumah tangganya biarlah dia yang menangani sendiri meski harus menahan perih setiap saat.
"Ma, ayo sini."
Liana tersentak ketika putrinya memanggil, dia mengatur nafas yang memburu kemudian beranjak menghampiri Shanum. "Ada apa, Sayang?" Tanyanya setelah berdiri di samping Erick.
"Shanum mau kayak dulu, disuapin sama Mama dan Papa."
Erick dan Liana saling menatap. Dulu, itu memang selalu mereka lakukan, sebelum keadaan merenggut momen-momen itu dan membuat waktu Erick yang bahkan hampir sepenuhnya hilang untuk anak dan istrinya. Kini, begitu terasa canggung dan seakan asing untuk mereka lakukan lagi.
"Biar Papa aja yang suapi Shanum ya? Habis ini Papa mau berangkat kerja lagi loh, nanti gak bisa suapi Shanum lagi." Kata Erick yang melihat ketidaknyamanan Liana. Dia bisa memahaminya, itu semua juga karena dirinya yang tidak bisa membagi waktu dengan adil. Saat awal pernikahannya dengan Kiara, dia hanya bisa mengunjungi sekali sebulan dengan dan itupun dengan mengatakan pada Kiara, dia ada perjalanan bisnis keluar kota. Setelah jatuh talak tiga itu, bahkan dia tidak pernah mengunjungi Liana dan Shanum karena suatu alasan. Tapi, dia selalu rutin mengirimkan uang ke rekening Liana.
"Iya deh," akhirnya Shanum mengangguk lemah. Biarlah ini menjadi lampiasan karena setelahnya entah kapan lagi dia bisa bertemu papanya. Untung saja ada Denis yang selalu ada mengisi hari-hari bak sosok seorang ayah.
Setelah Shanum menghabiskan buburnya, Erick pun membantu putrinya minum obat. Dia juga mengajak putrinya bercerita sampai akhirnya Shanum kembali tidur.
"Ana, jaga Shanum ya, maaf aku tidak bisa ada di samping kalian berdua."
Liana hanya bisa mengangguk lemah, ingin sekali dia mengatakan tinggallah sebentar lagi, Mas, tapi itu percuma saja. Erick tetap akan pergi. Dia menunduk, tak sanggup untuk melihat suaminya pergi meninggalkan ruangan itu.
Namun, tiba-tiba saja dia dibuat kaget ketika Erick memeluknya seraya mencium kening. "Percayalah, Ana, aku selalu merindukanmu. Juga merindukan semua yang kita lakukan bersama," setelah mengatakan itu Erick melangkah cepat keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia tahu, Liana pasti menangis, dan dia tidak sanggup melihat itu.
Denis tersentak ketika mendengar suara pintu ruangan di buka, dia membuka mata lalu membenarkan posisi duduknya. "Sudah selesai acara kangen-kangenannya?"
Erick hanya bisa menghela nafas panjang mendengar pertanyaan bernada sindiran itu, "Terima kasih, karena selama ini Bang Denis selalu ada untuk Shanum dan Liana."
"Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang Kakak dan juga Om,"
Sekali lagi, Erick merasa tersindir tapi dia harus menelan kalimat sindiran itu meski terasa pahit.
"Aku ingatkan sekali lagi, setelah Bang Denis menikahi Kiara segera ceraikan dia. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama!" Erick pun pergi setelah melontarkan kalimat peringatan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
mnyala 🔥 bng Denis selangkah lebih maju dari Erick, smga semua rencana baik bng Denis segera cepat terealisasikan. sebelum semuanya terlambat, 💪 ❤️🔥
2024-12-27
1
Maharani Rania
hore benar tebakan ku itu istri Erik 👏👏👏
2024-12-21
1
Dewa Rana
jadi Erik poligami ya, dan Kiara gak tau bahwa dia istri kedua
2024-12-16
0