Kiara tertegun melihat dekorasi di pelaminan yang begitu indah, kalau dibandingkan ini terlihat lebih megah dibandingkan dekorasi pernikahannya dulu dengan Erick. Selama proses dekorasi, dia memang tidak pernah masuk ke ruangan tersebut, baru hari ini saja.
Meski papanya meminta dia dan Denis yang mengatur konsep pernikahan, tapi dia tidak mau membuang-buang waktu untuk itu dan memilih menyerahkan itu semua pada tim wedding organizer serta meminta untuk membuat dekorasi yang sederhana saja. Lagipula, pernikahan ini hanya sementara, jadi untuk apa membuat dekorasi yang mewah. Tapi, yang dia lihat hari ini justru sangat jauh dari kata sederhana. Entah siapa yang mengaturnya.
'Aku dan orangtuamu yang mengatur ini semua, Kia.' Ucap Denis dalam hati yang seakan dapat membaca isi pikiran Kiara.
Terpaksa untuk tersenyum di atas pelaminan, itu sangatlah tidak menyenangkan bagi Kiara. Lain halnya dengan Denis yang memasang senyum bahagia menyambut satu persatu para tamu undangan yang silih berganti memberikan ucapan selamat.
Ketika sesi pengambilan foto, Denis begitu antusias berbeda dengan Kiara yang tampak ogah-ogahan, apalagi ketika sang fotografer menginstruksikan untuk saling berhadapan dengan Denis yang memeluk pinggangnya, tentunya mereka berdua harus tersenyum saat fotografer tersebut membidikkan kameranya.
Tak sampai di situ, saat memasuki kamar pengantin untuk beristirahat. Lagi-lagi, Kiara terpaksa menuruti keinginan mama Flora untuk mengambil gambarnya berdua dengan Denis di dalam kamar. Mau tak mau dia pun menuruti saja. Dan untuk kali ini, fotografer mengintruksikan agar Denis memeluk Kiara dari belakang.
"Selamat beristirahat ya Sayang," mama Flora membelai lembut pucuk kepala putrinya lalu berpindah menepuk pundak Denis.
Hal yang sama juga dilakukan oleh mama Kasih, tapi yang berbeda dia memeluk Denis sambil berbisik, 'Bikin cucu yang banyak untuk Mama dan Papa.'
Denis hanya tersenyum menanggapinya. Kedua wanita paruh baya itu lantas keluar dari kamar pengantin dan menuju ruang keluarga dimana dua keluarga sedang berkumpul di sana.
"Silahkan kalau mau ganti baju duluan, setelah itu baru giliran aku." Kata Denis memecah kesunyian di dalam kamar pengantin itu. Namun, Kiara hanya diam dengan ekspresi wajah yang nampak tidak nyaman.
"Tunggu sebentar, aku panggilkan tim MUA dulu," ucap Denis kemudian yang mengerti kegelisahan Kiara. Gaun pengantin yang dikenakan Kiara tentulah membutuhkan bantuan seseorang untuk melepaskannya, dan dia tak mungkin menawarkan bantuan, Kiara pasti menolaknya mentah-mentah.
Tak lama kemudian, Denis kembali ke kamar dengan seorang wanita berhijab yang merupakan salah satu dari tim MUA. Denis pun keluar dari kamar demi memberikan kenyamanan untuk Kiara berganti pakaian, meski sudah resmi menjadi suami dan istri tapi dia tahu istrinya tersebut pasti tidak akan merasa nyaman dengan keberadaannya.
Beberapa menit menunggu di luar kamar, akhirnya pintu terbuka dari dalam, "Terima kasih," ucap Denis pada salah satu tim MUA yang menantu Kiara berhati pakaian.
"Sama-sama," balas wanita berhijab itu lalu pergi sambil bertanya-tanya dalam hati. Kenapa tidak suaminya saja yang membantu istrinya berganti pakaian?
Saat Denis kembali masuk ke kamar, Kiara sedang membersihkan riasan di wajahnya. Denis pun memilih untuk berganti pakaian, dia membuka koper mini miliknya yang sudah berada di dalam kamar itu. Mengambil celana bahan panjang berwarna hitam serta kemeja lengan pendek berwarna putih lalu gegas masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar dengan tampilan yang lebih segar setelah sebelumnya juga membasuh wajah.
Bertepatan dengan itu, ponsel Kiara berdering. Kiara pun lantas mengangkat panggilan tersebut yang merupakan dari Erick tanpa peduli sama sekali dengan keberadaan Denis.
"Ada apa, Mas Erick?" Tanya Kiara. Denis langsung berhenti melangkah dan menatap Kiara yang menyebutkan nama Erick. Tidak bisakah laki-laki itu untuk tidak mengganggunya hari ini saja.
[Apa Bang Denis ada bersamamu?] Tanya Erick.
"Iya, ada, Mas." Jawab Kiara sambil melirik Denis yang berjalan menuju ranjang pengantin mereka.
[Berikan ponselmu pada Bang Denis, aku ingin bicara sebentar." Kata Erick, dia sudah menghubungi Denis tapi ponselnya tidak aktif.
Jelas saja, Denis memang sengaja menonaktifkan ponselnya karena dia tahu Erick pasti akan menelponnya untuk memperingatinya berulang kali, tapi tetap saja laki-laki itu tidak kehabisan akal dengan menelpon Kiara.
Kiara pun beranjak dari depan meja riasnya, menghampiri Denis yang telah duduk di tepi ranjang, "Ini, Mas Erick ingin bicara denganmu." Ujarnya seraya mengulurkan ponselnya pada Denis.
Denis tak langsung mengambil ponsel tersebut melainkan justru menatap Kiara beberapa saat.
Merasa tak nyaman terus ditatap, Kiara kembali berkata, "Mas Erick ingin bicara denganmu!" Suaranya sedikit meninggi.
Denis pun mengambil ponsel Kiara lalu dengan sengaja menghidupkan pengeras suara agar Kiara juga mendengar apa yang akan dikatakan oleh Erick.
"Ada apa, Rick?" Tanya Denis.
[Aku sudah katakan tidak bisa menunggu terlalu lama, dan malam ini segera selesai syarat itu lalu talak Kiara.] Ucap Erick begitu menggebu.
Denis mengulum senyum mendengarnya, dia melirik Kiara yang tampak biasa saja mendengar ucapan Erick. Tapi lihat saja, bagaimana reaksi Kiara setelah Erick mengatakan sendiri syarat yang harus dilakukannya.
"Rick maaf, bisakah berikan waktu untuk beberapa hari. Badanku rasanya masih pegal-pegal semua, kau tahu beberapa hari ini aku benar-benar sibuk dan tadi harus berdiri lama di pelaminan." Kata Denis.
[Tidak bisa, Bang. Malam ini juga Bang Denis harus menyentuh Kiara dan setelah itu jatuhkan talak Abang padanya. Lakukan malam ini juga!] Seru Erick.
Kiara tersentak mendengarnya, kenapa dia seakan lupa dengan apa yang akan terjadi setelah pernikahannya dengan Denis. Kiara memejamkan mata seraya membuang nafas berat, malam ini dia harus mempersiapkan diri untuk memberikan hak Denis.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, Rick. Aku akan melakukannya," Denis lalu mengakhiri panggilan itu.
Mendengar perkataan Denis, Kiara semakin dibuat tak karuan. Dia harus benar-benar siap malam ini menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya. Tak terbayang harus melakukan hubungan suami-istri tanpa didasari oleh cinta.
"Kia, kamu baik-baik saja?" Tanya Denis seraya meletakkan ponsel Kiara diatas meja rias. Jujur saja, hatinya merasa tersentak melihat istrinya tersebut tampak tertekan.
Kiara membuka mata, menghela nafas panjang untuk menormalkan perasaannya. "Gak apa-apa," jawabnya.
"Ayo kita keluar, berkumpul bersama keluarga kita." Ajak Denis. Seharusnya mereka beristirahat, dia pun merasakan kakinya pegal berdiri cukup lama di pelaminan. Tapi dengan mengajak Kiara untuk keluar dari kamar, itu akan membuat istrinya merasa sedikit lebih tenang.
Kiara mengangguk, dia pun lantas berdiri lalu melangkah lebih dulu menuju pintu dengan sedikit tergesa-gesa, seakan takut Denis akan menangkap dan mengeksekusi dirinya diatas ranjang pengantin mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Dewa Rana
Kiara dibohongi
2024-12-16
0
Sugiharti Rusli
ternyata si Kiara benar" ga tahu seperti apa kelakuan si Erick di luaran sana yah,,,
2024-07-11
2
Sanatun Eka Ayu Aprilya
apa kah orang tua Bangun Denis tau kalau kiara mantan isteri erick?
2024-07-10
0