Liana tersenyum getir melihat putrinya dan wanita yang pernah menjadi madunya, saling bergandengan tangan memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Sementara dirinya berjalan di belakang.
Shanum dikatakan anak-anak karena usianya yang masih terlalu dini, tapi Liana yakin putrinya sudah mengerti tentang apa itu ibu tiri. Dan entah bagaimana reaksi Shanum jika tahu, bahwa Kiara pernah menjadi ibu tirinya. Dan Kiara jangan ditanyakan lagi bagaimana reaksinya, sudah pasti sangat kecewa jika tahu, gadis kecil yang dia genggam tangannya adalah anak dari mantan suaminya.
Liana menghela nafas, berusaha untuk tidak memikirkan hal lainnya dan harus fokus dengan misinya hari ini. Menjalani misi yang entah apa tujuannya, membuatnya merasa pusing memikirkan apalagi yang harus dia lakukan dua hari ke depan untuk membuat Kiara sibuk bersamanya.
Hari ini, Liana harus berlapang dada melihat putrinya begitu asyik bersama Kiara dan seakan melupakan kehadirannya. Dia hanya mengikuti dari belakang dan hanya diam membiarkan Kiara yang begitu antusias memilihkan semua perlengkapan sekolah untuk Shanum.
Shanum pun terlihat sangat senang ketika Kiara membelikan pensil beserta kawan-kawannya secara random dengan jumlah yang menurut Liana bisa dipakai hingga lulus sekolah dasar. Tak lupa, Kiara juga membelikan beberapa buku yang akan sangat berguna untuk Shanum mengeja dan menghitung dan juga mengenal berbagai macam hewan dan tumbuhan.
Selesai dengan peralatan menulis. Kini mereka berburu ke toko yang menjual tas dan sepatu. Sama seperti sebelumnya, kali ini pun Kiara sama antusiasnya memilihkan sepatu dan tas untuk Shanum.
Meski sebenarnya merasa tak enak hati, tapi Liana menahan untuk tidak menegur Kiara yang sudah sangat berlebihan memanjangkan Shanum, demi menjalankan tugasnya dari Denis.
Saat tengah asyik memilih sepatu, ponsel Kiara berdering. Lekas dia mengangkatnya begitu melihat nama Erick yang tertera di layar ponselnya, "Halo, Mas?"
[Kia, kamu lagi di mana?] Tanya Erick.
"Lagi di Mall, sama... ."Belum sempat Kiara menyelesaikan kalimatnya, sambungan teleponnya terputus, dia pun menatap layar ponselnya dan ternyata ponselnya mati. Semalaman dia memang tidak mengisi daya karena terus berusaha menghubungi suster Maria.
"Siapa yang telepon, Tante?" Tanya Shanum yang rupanya pemasaran.
Kiara tak langsung menjawab. Anak seusia Shanum sedang aktif aktifnya bertanya saat ini, jika dia mengatakan Erick adalah mantan suaminya pasti Shanum akan bertanya hal lainnya lagi dan pertanyaannya tidak akan habis sampai dia merasa menemukan jawaban yang puas, "Temannya Tante," jawab Kiara akhirnya.
"Oh, temannya Tante cewek apa cowok?" Kembali Shanum bertanya.
Kiara tersenyum tipis sambil menggaruk pelipisnya, benar kan, Shanum akan terus bertanya sampai merasa puas. "Cowok,"
"Namanya siapa, Tante?"
"Namanya Erick," jawab Kia.
"Nama temannya Tante sama dengan nama Papanya Shanum," kata Shanum terlihat berbinar.
"Oh ya? Jadi, nama Papanya Shanum juga Erick?" Tanya Kiara, dia yang awalnya merasa risih meladeni pertanyaan Shanum, jadi merasa penasaran akan sosok suami Liana tersebut.
"Iya Tante, jangan-jangan, temannya Tante itu Papanya Shanum ya?"
Kiara terkekeh, "Temannya Tante itu belum punya anak, cuma namanya aja yang sama. Seperti di rumah sakit, Tante juga punya teman, dokter anak namanya Ana. Sama kan, seperti nama Mamanya Shanum?"
Shanum pun tersenyum sambil mengangguk, bisa-bisanya dia berpikir temannya Kiara adalah papanya hanya karena memiliki nama yang sama.
Mereka pun lanjut memilih sepatu dan tas. Tak tanggung-tanggung, Kiara membelikan tiga buah tas dan tiga pasang sepatu untuk Shanum.
Liana memperhatikan itu dengan tatapan bak kosong, saat tadi mendengar percakapan Shanum dan Kiara, hatinya serasa tersayat membayangkan ketika Erick mendatangi keluarga Kiara dengan status bujangan, padahal jelas-jelas ada anak dan istrinya yang selalu menunggu kepulangannya di rumah. Namun, dia tidak pernah menyalahkan suaminya atas hal tersebut.
Tak terasa, hanya membeli peralatan sekolah Shanum, mereka menghabiskan waktu berjam-jam bahkan sekarang sudah mendekati waktu makan siang. Setelah membayar semua belanjaan Shanum, Kiara pun mengajak ibu dan anak itu naik ke bagian lantai atas.
"Laper gak nih?" Tanya Kiara, sambil menatap Shanum dan Liana bergantian.
"Mau bilang enggak, tapi lapar. Mau bilang lapar, tapi gak enak." Liana terkekeh karena ucapannya sendiri.
"Laper laperin aja mumpung gratis." Kata Kiara juga terkekeh.
"Bener tuh, Ma." Sahut Shanum, "Mumpung gratis, kita puas puasin makan. Mama kan gak pernah ngajak Shanum makan di luar, katanya harus irit pakai uang dari Papa. Selalunya Om Denis yang ajak Shanum jalan-jalan dan beli apapun yang Shanum mau."
Liana tersenyum masam mendengar perkataan putrinya. Memang begitulah adanya, mereka berdua harus irit menggunakan uang dari Erick. Meski suaminya itu rutin mengirim uang tiap bulan, tapi jumlahnya tidak seberapa. Dan dia tidak pernah protes, karena dia bisa memahami situasinya.
"Ya udah, sekarang Shanum bebas mau makan apa aja. Tante yang akan bayar semuanya, " Kiara kembali menggenggam tangan Shanum, mengajak gadis kecil itu menuju stand stand makanan dengan berbagai menu yang begitu menggugah selera. Dia benar-benar iba mendengar perkataan Shanum tadi, entah laki-laki seperti apa ayahnya Shanum? Ternyata tak hanya jarang pulang, tapi juga tidak bisa memenuhi semua kebutuhan putrinya sendiri.
"Shanum mau yang mana aja nih?" Tanya Kiara, begitu mereka telah berada di depan stand stand makanan.
"Yang itu, Tante," Shanum menunjuk cumi balado. "Itu makanan kesukaan Shanum dan Papa," ujarnya sambil tersenyum.
Kiara terdiam sejenak, kenapa semuanya jadi kebetulan sama seperti ini. Tak hanya nama mantan suaminya dan nama papanya Shanum yang sama, tapi makanan kesukaannya juga sama. Sewaktu masih bersama Erick dulu, hampir tiap hari dia memasak cumi balado yang merupakan makanan kesukaan Erick.
Melihat Kiara diam, Liana pun mendekati dan menepuk pundaknya. "Kamu kenapa?" Dia bertanya meski sebenarnya tahu apa yang membuat Kiara terdiam.
"Gak apa-apa," jawab Kiara, dia tersenyum. "Oh ya, kalau kamu mau makan yang mana? pilih aja, bebas." Ucapnya.
"Kalau aku, samain aja sama punya kamu, biar couple." Canda Liana berusaha mencairkan suasana, agar Kiara tak terus terpikirkan tentang cumi balado itu. Dan itu berhasil, Kiara tertawa pelan mendengarnya.
"Bisa aja kamu, makanan juga bisa couple rupanya," Kiara lalu kembali menatap Shanum, "Shanum mau nambah yang mana lagi nih?" Tanyanya.
"Shanum mau Cumi Balado aja, Tante." Jawab Shanum.
"Beneran gak mau tambah dengan menu yang lainnya? Hari ini Tante pasrah deh diporotin sama kamu," kata Kiara sambil mencubit gemas hidung Shanum. Jika saja sejak awal pernikahannya, Erick tak menunda punya anak, mungkin saat ini dia juga telah memiliki buah hati bersama Erick.
"Gak tante, Shanum mau Cumi Balado aja."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
polos bgt c bocil 🤭 😁
2024-12-27
1
Sugiharti Rusli
hadeh seandainya kamu tahu kebenarannya Kiara siapa mereka b-2, apa ga kamu nangis darah tahu kenyataannya
2024-07-11
1
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
entah bertahan karena liana..... bego kok dipelihara..... tuyul piara biar bnyk tuh duit gereget emak
2024-07-04
0