Maap update nya siang, othor ngetiknya sambil gemetaran. Badan panas dingin. 🙈🙈
Happy reading...🤗
.
"Apa kamu sudah benar-benar siap?" Tanya Denis setelah beberapa saat terdiam. Netranya lekat menatap pada kedua mata Kiara.
"Ya, aku sudah siap!" Jawab Kiara dengan mantap.
"Baik, kita akan melakukannya malam ini," ucap Denis seraya menghela nafas panjang. Jujur, dia belum siap untuk melakukan itu, tapi Kiara sendiri yang memintanya maka dia akan menurutinya walaupun dengan berat hati.
Kedua tangan Kiara pun perlahan terlepas dari kerah baju Denis, kemudian berjalan menuju nakas, mengambil ponselnya lalu gegas menuju balkon kamar untuk menelpon seseorang.
Begitu Kiara kembali ke kamar, Denis yang sedang duduk di sofa lantas beranjak menghampiri istrinya itu.
"Kia, aku pamit keluar. Aku akan pulang setelah Maghrib," kata Denis.
Kiara hanya menjawabnya dengan anggukan. Setelah Denis keluar dari kamar, dia pun naik ke tempat tidur. Membaringkan tubuhnya dan perlahan memejamkan mata.
.
.
.
"Bang Denis, kenapa memintaku datang ke sini?" Tanya Liana begitu dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Denis. Beberapa saat lalu kakak sepupunya itu menelpon, dan memintanya datang ke bengkel.
"Ana, Abang butuh bantuan kamu." Kata Denis dengan ekspresi wajah yang serius menatap Liana.
"Aku akan bantu selagi aku bisa membantu," ucap Liana. "Memangnya, Bang Denis ingin meminta bantuan apa dariku?" Tanyanya.
"Apa kamu bisa, menyita perhatian Kia selama 3 hari? Maksudnya, buat dia sibuk bersamamu selama 3 hari ke depan."
"Maaf Bang, aku sama sekali gak ngerti dengan maksud Bang Denis. Memangnya untuk apa membuat Kia sibuk bersamaku selama 3 hari?" Kembali Liana bertanya.
"Untuk itu Abang gak bisa menjelaskannya, tapi Abang benar-benar minta tolong sama kamu untuk membuat Kia sibuk bersamamu selama 3 hari itu. Kia sudah janji sama Shanum akan mengajaknya membeli peralatan sekolah, Abang akan kasih nomor telepon Kia dan minta Shanum menelponnya besok untuk menagih janjinya itu. Dan untuk 2 hari setelah itu tolong kamu pikirkan sendiri bagaimana caranya."
Liana terdiam berusaha mencerna. Jika Denis tidak bisa menjelaskan apa tujuannya, ada kemungkinan itu menyangkut sesuatu yang sangat pribadi.
"Ana, Abang benar-benar butuh bantuan kamu kali ini!" Suara berat Denis menyadarkan Liana dari lamunannya.
"Baiklah, Bang. Akan aku usahakan," Liana pun menyanggupi meski dia harus dibuat berpikir keras bagaimana caranya menyita perhatian Kiara selama tiga hari.
Saat keduanya larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba pintu ruangan Denis terbuka dari luar.
Bukan hanya Denis dan Liana yang dibuat terkejut, seseorang yang membuka pintu ruangan pun terkejut ketika melihat tak hanya ada Denis di ruangan itu.
"Mas Erick," gumam Liana.
"Kalau kamu ke sini cuma untuk memperingati aku lagi, mending kamu pulang deh. Aku bukan anak kecil yang harus diingatkan berulang kali," tukas Denis, menatap Erick dengan jengah.
Namun, Erick tetap masuk ke ruangan itu. "Ana, bisa kamu tunggu di luar sebentar. Aku ingin bicara dengan Bang Denis."
Liana mengangguk, dia pun beranjak dari tempat duduknya. Namun, ketika hendak berbalik pergi, Erick tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.
"Jangan langsung pulang, tunggu di luar saja. Aku juga ingin bicara denganmu setelah bicara dengan Bang Denis." Kata Erick.
Liana hanya mengangguk, dia pun keluar dari ruangan itu setelah Erick melepaskan tangannya.
Erick duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Liana, menatap Denis yang tampak tak menghiraukan keberadaannya.
"Aku tidak akan pernah bosan untuk terus memperingati Bang Denis, sampai kalian berdua benar-benar bercerai!"
"Pergilah Erick, jangan sampai membuat kesabaran ku habis. Jika bukan karena Ana yang terus menahan ku, sudah sejak dulu aku memberimu pelajaran!" Tukas Denis, kedua tangannya terkepal erat seiring menatap Erick dengan tajam.
"Ana melakukan itu karena dia sangat mencintai aku. Dan satu hal yang perlu Bang Denis tahu, aku juga sangat mencintai Ana dan sampai kapan pun akan terus mencintainya hingga nafas terakhirku." Ucap Erick, tanpa merasa takut sedikitpun dengan tatapan Denis yang begitu tajam menatapnya.
"Lalu kenapa kamu menyakiti Adikku jika kamu memang benar-benar mencintai?"
"Terkadang, kita memang harus mengorbankan sesuatu untuk mencapai tujuan kita. Aku melakukan ini juga demi Ana dan Shanum, suatu hari nanti kami bertiga akan berkumpul kembali seperti dulu." Setelah mengatakan itu, Erick pun keluar dari ruangan Denis.
"Apa sebenarnya tujuan kamu, Erick?" Denis membuang nafas berat sembari menatap punggung Erick hingga hilang dari balik pintu ruangannya.
Erick tersenyum melihat Ana yang duduk di kursi panjang depan ruangan Denis. Istrinya itu benar-benar menunggunya, "Di mana Shanum, kenapa kamu tidak mengajaknya ke sini?" Tanya Erick seraya duduk di samping Liana.
"Di rumah Mama Kasih," jawab Liana. Beberapa bulan tidak bertemu, membuatnya seakan sedang berbicara dengan orang asing. Rasa rindunya tetap saja tak mampu membuatnya bisa berbicara banyak.
Erick tersentak mendengarnya. Bukankah hubungan Liana dan orangtuanya Denis merenggang sejak dia menikahi Kiara, bahkan Liana tidak pernah lagi bertemu dengan paman dan bibinya itu, lalu kenapa sekarang Shanum bisa berada di sana.
"Bang Denis yang menjemput ku kemarin malam, aku juga menghadiri pernikahan Bang Denis dan Kiara." Ucap Liana yang paham dengan keterkejutan Erick.
Erick akhirnya mengangguk paham, "Lalu, bagaimana dengan keadaan Shanum?" Tanyanya kemudian, terakhir bertemu beberapa hari lalu, putrinya itu terlihat sangat lemah karena demam tinggi.
"Shanum sudah baik-baik saja, Mas." Jawab Liana. Erick menghela nafas lega mendengarnya.
"Lalu, kapan kamu akan pulang ke rumah kita?" Tanya Erick lagi.
"Memangnya kenapa, Mas?" Bukannya menjawab, Liana justru balik bertanya. Bahkan kali ini dia memberanikan diri menatap Erick, dari sorot matanya menggambarkan sebuah harapan besar. Mungkinkah Erick menanyakan itu karena suaminya itu juga akan pulang.
"Aku hanya bertanya. Tapi kalau kamu dan Shanum masih ingin menginap di rumah Mama Kasih, tidak apa-apa. Hanya saja, jangan membuat rumah kita kosong terlalu lama," kata Erick sembari menggenggam sebelah tangan Liana dengan erat.
Liana langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tersenyum getir. Sepertinya dia terlalu berharap Erick akan pulang, dia seharusnya ingat bahwa suaminya itu akan rujuk kembali dengan Kiara.
"Ya sudah, Mas, aku pamit pulang. Takutnya Mama Kasih kewalahan menjaga Shanum,"
"Aku antar ya?" Tawar Erick.
"Aku ke sini bawa motor, Mas." Kata Liana.
"Baiklah, kalau begitu." Erick pun melepaskan genggaman tangannya. Keduanya lalu berjalan bersama menuju pelataran bengkel.
Liana menurut saja ketika Erick membantunya memasang helm, bahkan netranya yang penuh kerinduan itu tak lepas menatap suaminya.
"Hati-hati di jalan, Ana." Ucap Erick begitu Liana duduk di atas motor.
Liana hanya mengangguk, kemudian menyalakan motornya dan meninggalkan pelataran bengkel.
Setelah Liana tak terlihat lagi, Erick pun masuk ke mobilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
apa yah yang disembunyikan Erick dan ortunya yah,,,
2024-07-11
1
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
ada cewek goblok kaya liana
2024-07-04
0
Septiyani Hasanah
Erik nih nuruti ortunya aja nih pasti.tapi kok ya ga punya pendirian banget.heran
2024-06-29
1