Kiara tak bisa tidur sepanjang malam, ponselnya tak sedetikpun dia lepas dan masih berusaha menghubungi suster Maria, yang entah kenapa baru kali ini susah sekali dihubungi. Tak terhitung sudah berapa kali dia mencoba namun, hasilnya tetap sama. Nomor suster Maria masih belum aktif juga.
Begitu fajar menyingsing, Kiara langsung turun dari tempat tidur, berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti. Dia tidak bisa menunggu lagi, pagi ini juga dia harus ke rumah sakit untuk mengambil sendiri pil kontrasepsi darurat itu.
Sebenarnya, masih bisa dikonsumsi untuk tiga hari ke depan. Hanya saja, reaksinya akan lebih efektif jika dikonsumsi lebih awal. Dia tidak mau ambil resiko jika menunda konsumsi pil tersebut.
Setelah berganti pakaian, kini Kiara duduk di depan meja riasnya. Mengambil foundation dan menutupi jejak kemerahan di lehernya yang ditinggalkan Denis tadi malam. Dia melirik suaminya itu dari pantulan cermin, bisa-bisanya Denis tidur dengan nyenyak sementara dirinya tak bisa tidur sepanjang malam.
Kiara menggeleng, menepis kala bayangan pergulatannya dengan Denis tadi malam, terlintas. Selesai berbenah di depan meja rias, dia pun memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu beranjak.
"Kia, kamu mau ke mana?" Tanya Denis dengan suara seraknya, khas bangun tidur. Tapi sebenarnya, dia sudah bangun sejak tadi, hanya saja sedang berpura-pura tidur sambil mengintai pergerakan istrinya.
"Aku mau ke rumah sakit," jawab Kia sambil berjalan menuju pintu kamar.
Mendengar itu, Denis dengan cepat bangkit menyingkirkan selimut dan bangkit dari pembaringannya. Mengejar Kiara yang hampir mencapai pintu, "Kamu mau apa ke rumah sakit, bukankah kamu masih cuti, Kia?" Tanyanya sambil menahan pergelangan tangan istrinya yang hendak menekan handle pintu.
"Aku ada urusan sebentar di rumah sakit. Setelah itu, aku akan langsung pulang ke rumah untuk menyelesaikan urusan kita. Maka kamu jangan kemana-mana, tunggu aku di rumah sampai pulang." Jawab Kiara, tatapannya yang begitu tegas mampu menusuk ke relung hati Denis.
"Oke, aku akan mengantar kamu ke rumah sakit. Biar aku yang menyetir mobilmu, kamu pasti masih merasa lelah kan, dengan yang kita lakukan tadi malam?" Ucap Denis sambil mengedipkan sebelah matanya, namun hatinya merasa cemas, memikirkan Liana yang belum juga menelpon Kiara untuk meminta Shanum menagih janji. Setidaknya, dengan mengantar Kiara ke rumah sakit, dia bisa mengulur waktu.
Kiara berdecak pelan, merasa kesal ketika diingatkan dengan yang terjadi tadi malam. Dia juga merutuki dirinya, yang bisa-bisanya terburai dengan permainan Denis, "Gak usah, aku hanya sebentar." Dia menarik pergelangan tangannya dari genggaman Denis, kemudian membuka pintu kamar lalu keluar.
"Tapi setidaknya kamu harus sarapan dulu sebelum pergi, Kia." Denis mengejar, mensejajarkan langkahnya dengan Kiara.
"Ya," jawab Kiara singkat. Dia memang akan sarapan terlebih dulu sebelum berangkat ke rumah sakit. Karena jujur saja, tubuhnya memang terasa lemas saat ini. Dia akui, Denis menguras habis-habisan tenaganya tadi malam.
Keduanya pun melangkah bersama menuju ruang makan. Jika raut wajah Kiara tampak tak bersahabat, lain halnya dengan Denis yang justru senyum-senyum sendiri sambil sesekali melirik Kiara yang berjalan beriringan di sampingnya.
Papa Rangga dan mama Flora yang telah berada di ruang makan, saling melirik heran saat anak dan menantunya datang. Kiara telah berpenampilan rapi, sementara Denis masih mengenakan piyama tidur.
"Selamat pagi Pa, selamat pagi Ma." Sapa Denis sembari menarik kursi lalu duduk. Hal yang sama pun dilakukan oleh Kiara.
"Pagi juga Denis, Kia," balas mama Flora dan papa Rangga serentak.
"Kamu baru bangun, Nis?" Tanya papa Rangga tiba-tiba, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Denis mengulum senyum, "Iya Pa, baru bangun. Semalam kecapekan dan tidurnya nyenyak banget," tuturnya sambil melirik Kiara.
Sementara yang dilirik nampak mengeratkan giginya serta menggenggam sendok dengan erat. Dalam hatinya merutuki Denis, kenapa harus mengatakan itu dihadapan kedua orangtuanya.
"Oh gitu," papa Rangga yang sudah paham, tersenyum sambil melirik istrinya. Pun dibalas senyuman oleh mama Flora.
Semuanya pun memulai sarapan, tak ada lagi obrolan di ruangan itu. Namun, Denis dan kedua mertuanya sesekali saling melempar senyum sambil melirik Kiara yang hanya fokus dengan makanannya.
"Tuan, ada tamu." Ucap art yang baru saja datang.
"Si... ." Belum sempat mama Flora bertanya, sudah lebih dulu terdengar suara nyaring Shanum yang datang bersama Liana.
"Halo Om Denis, Tante Kia, Kakek, Nenek." Sapa Shanum sambil melambaikan tangan. Namun, raut wajahnya terlihat datar, tak ada senyuman sama sekali. Bagaimana tidak, dia masih ngantuk sebenarnya tapi sudah dipaksa mamanya datang ke sini pagi-pagi sekali. Bahkan sepanjang malam, dia sudah berasa ikutan casting menjadi artis cilik dengan terus menghapal kalimat yang diajarkan mamanya.
Denis langsung tersenyum lega begitu melihat kedatangan adik sepupu dan keponakannya. Dia pikir, hari ini rencananya akan gagal. Namun, diluar rencana, dia yang hanya meminta Liana untuk menelpon Kiara, justru datang secara langsung.
"Hai Shanum," mama Flora yang hendak menyajikan nasi goreng ke piring suaminya, meletakkan kembali sendok lalu menghampiri Shanum, dia bersimpuh di hadapan gadis cilik itu.
"Shanum datang pagi-pagi sekali, pasti mau ajak Om Denis sama Tante Kia jalan-jalan ya?" Terka mama Flora sambil menoel hidung Shanum.
Shanum mengangguk, namun sesaat kemudian dia menggeleng begitu merasakan cubitan pelan di bagian punggungnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan mamanya, "Shanum ke sini mau nagih janjinya Tante Kia, Nek." Ujarnya.
"Janjinya Tante Kia?" Mama Flora langsung menoleh menatap Kiara.
Kiara yang sedang mengunyah nasi goreng pun tampak berpikir, "Ah iya, Tante sudah janji mau ajak Shanum beli peralatan sekolah." Ucapnya.
"Kia maaf ya, tadi aku sudah membujuk Shanum untuk lain kali saja. Tapi Shanum nya malah nangis dan maksa buat ke sini." Kata Liana.
Shanum mengerucutkan bibirnya, padahal selama ini mamanya selalu mengajarkan untuk jujur. Tapi kenapa sekarang dia malah dipaksa harus berbohong.
"Gak apa-apa, Ana. Namanya juga anak kecil, kemauannya harus selalu dituruti." Kiara tersenyum, "Shanum udah sarapan apa belum nih?" Tanyanya kemudian.
Shanum menggeleng, "Belum Tante," jawabnya. Jangankan sarapan, mandi pun belum. Bangun tidur hanya cuci muka, ganti baju terus langsung berangkat sama mamanya.
"Ya udah, kita sarapan dulu, baru setelah itu kita pergi beli peralatan sekolah untuk Shanum." Kata Kiara.
Shanum mengangguk, dia pun duduk di kursi samping Kiara, sementara Liana duduk disebelah Denis.
Diam-diam, Denis mengedipkan sebelah matanya pada Liana. Hal tersebut ternyata dilihat oleh papa Rangga dan mama Flora, tapi keduanya langsung dapat menembak jika Denis dan Liana sedang merencanakan sesuatu. Entah apa, tapi yang pasti ada kaitannya dengan Kiara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
waduh, mudah" an si Shanum bisa tetap dikondisikan nanti yah, namanya bocil kan polos😄😄😄
2024-07-11
2
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
kalo dibongkar langsung pasti kiara ngk bakalan percaya ya........ namay jg lagi ketutup awan hitam..... petir halilintar bersama temanya dia anggap angin semilirrrr
2024-07-04
0
Dwi Rustiana
moga aja Kiara lupa ama pil daruratnya ya terus Denis junior bisa otw deh 🤭🤭🤭
2024-06-29
2