Kiara mondar-mandir di dalam kamar sambil terus menatap layar ponselnya, sesekali dia menyingkap gorden jendela dan melihat kearah pagar.
Sudah mendekati pukul delapan malam, tapi Denis belum juga pulang seperti yang dikatakannya sebelum pergi, bahwa dia akan pulang setelah Maghrib. Namun, bukan Denis yang Kiara tunggu, melainkan suster Maria yang katanya juga akan datang setelah Maghrib.
Kiara sudah beberapa kali menghubungi nomor suster Maria, tapi nomornya malah tidak aktif.
Tak berapa lama kemudian, terlihat sebuah taksi singgah di depan pagar. Yakin itu adalah suster Maria yang datang, Kiara pun gegas keluar dari kamar dan berjalan cepat menuruni anak tangga menuju pintu utama.
Bertepatan dengan itu, Denis pun melangkah masuk setelah art membukakan pintu.
"Kia, kenapa tergesa-gesa seperti itu?" Tanya Denis.
Kiara tak menanggapi, dia terus melanjutkan langkahnya hingga ke pelataran. Namun, taksi yang tadi dia lihat sudah tidak ada lagi.
"Non Kia cari siapa?" Tanya satpam yang baru saja menutup pagar, melihat Kiara celingak-celinguk nampak mencari seseorang.
"Taksi yang tadi kemana, Pak?" Tanya Kiara balik.
"Sudah pergi,"
"Pergi? Apa tadi penumpangnya ada menitipkan sesuatu pada Bapak?"
"Gak ada, Non. Orang tadi yang naik Taksi itu Mas Denis kok,"
"Denis?" Kiara mengerutkan keningnya.
"Iya, Non. Kan tadi pagi Mas Denis perginya juga naik Taksi."
"Baik Pak, terima kasih." Kiara pun kembali masuk ke rumah. Dia lupa jika di hari pernikahan, Denis datang bersama keluarganya dan tidak membawa kendaraan sendiri. Lalu, kemana perginya Denis seharian ini jika tidak pulang ke rumahnya untuk mengambil kendaraan?
Sambil berjalan menuju kamar, Kiara kembali mencoba menghubungi suster Maria namun, nomornya masih tidak aktif juga.
Begitu sampai di kamar, Kiara dikejutkan oleh penampilan Denis yang berdiri di sisi ranjang, dengan hanya mengenakan handuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Aku sudah siap!" Kata Denis seraya berkacak pinggang, seolah menantang.
"Tu-nggu sebentar," ucap Kiara sedikit terbata, lalu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Kembali dia mencoba menghubungi suster Maria, namun masih saja tidak aktif.
Kiara pun membasuh wajah, setelah itu melepaskan seluruh pakaiannya lalu membalut tubuhnya menggunakan bathrobe. Menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan, itu dia lakukan beberapa kali kemudian akhirnya keluar dari kamar mandi.
Denis yang masih berdiri di sisi ranjang, menoleh begitu mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia tertegun melihat penampilan Kiara, bathrobe pendek yang dikenakan istrinya itu memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus. Sebagai laki-laki normal, bohong kalau dia tidak tertarik, tapi rasa gugupnya lebih mendominasi. Karena bagaimanapun, ini adalah yang pertama kali untuknya.
"Aku juga sudah siap," kata Kiara. Namun, kata-katanya itu tak sejalan dengan gerakannya yang begitu lambat menghampiri Denis.
"Ingat, kamu harus menjatuhkan talak mu setelah kita melakukannya." Ucap Kiara setelah berdiri di hadapan Denis. Kalimat peringatan itu dia ucapkan dengan lirih, sama seperti Denis, dia pun merasa gugup meski ini bukan yang pertama kali baginya. Betapa tidak, dia harus melakukannya dengan laki-laki asing tanpa cinta.
Denis hanya diam, seolah tidak mendengarkan peringatan Kiara. Tatapannya tak lepas menatap tepat pada kedua mata istrinya itu, dalam hati dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang akan dia lakukan bersama Kiara bukanlah sebuah kesalahan. 'Kia istriku, dan wanita yang sejak dulu aku cintai. Aku akan melakukannya dengan penuh cinta dari dalam dasar hatiku,' gumamnya dalam hati.
Denis pun maju memangkas jarak, atas rasa inisiatifnya sebagai laki-laki dia mengangkat tubuh Kiara dan membaringkannya perlahan di atas ranjang.
Meski Kiara tak menginginkannya, tapi Denis akan membuat Kiara tidak akan melupakan malam ini. Dengan semangat kelelakiannya, dia membuka tali bathrobe yang membungkus tubuh istrinya. Sejenak dia tertegun, begitu indah pemandangan di depan matanya saat ini. Untuk yang pertama kalinya melihat tubuh polos seorang wanita.
Denis pun membuka satu-satunya kain yang menutupi sebagian tubuhnya. Handuk yang melilit di pinggangnya, dia lempar begitu saja ke lantai bersamaan dengan bathrobe yang dikenakan Kiara.
Setelah tubuh keduanya sama-sama polos, Denis mulai mencumbui istrinya, seluruh bagian sensitif Kiara tak absen dari sapuan bibirnya.
Kiara mengumpat dalam hati ketika tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Seharusnya dia tidak menikmati ini, karena melakukannya bukan dengan laki-laki yang dicintainya. Tapi sialnya, Denis begitu lihai merangsang seluruh bagian sensitifnya. Namun, sebisanya dia menahan, dengan memejamkan mata serta mengatupkan bibirnya dengan rapat, agar tak mengeluarkan suara yang akan membuat Denis berpikir dia menyukai permainan ini.
Seperti tekadnya yang akan membuat Kiara tak akan melupakan malam ini, Denis semakin gencar dengan aksinya. Meski hasratnya bak sudah di ubun-ubun namun, dia tetap menahan untuk tak segera memulai permainan inti. Demi meruntuhkan pertahanan Kiara, bibirnya semakin aktif meninggalkan bekas kemerahan di sekujur tubuh istrinya. Yang akhirnya, membuat Kiara tak dapat menahannya lagi.
Denis pun tersenyum puas begitu mendengar Kiara mengeluarkan lenguhan yang semakin memancing hasratnya. Bibirnya yang masih bermain disekitar perut istrinya, berpindah memagut bibir ranum yang kini tiada henti mengeluarkan nada-nada manja yang membuat siapapun mendengarnya tidak akan tahan.
'Ini memang bukan yang pertama bagimu, Kia. Tapi ini adalah yang pertama bagiku, akan aku buat malam menjadi spesial untuk kita berdua dan kau tidak akan pernah melupakannya.' Ucap Denis dalam hati.
Kiara reflek mencengkeram sprei, ketika benda pusaka milik Denis memasuki inti tubuhnya. Dengan bibir yang masih menyatu, Denis mulai menggerakkan panggulnya perlahan yang membuat Kiara benar-benar lupa segalanya. Bahkan Kiara lupa dengan suster Maria yang tak kunjung datang membawa pil kontrasepsi darurat yang dimintanya.
Gerakan yang awalnya lambat, perlahan semakin cepat seiring peluh membasahi tubuh keduanya. Merasakan sesuatu yang akan meledak keluar dari inti tubuhnya, Kiara mengalungkan kedua tangannya di leher Denis seraya menggigit bibir ketika cairan kental nan hangat itu mengalir keluar. Bersamaan dengan itu, Denis pun akhirnya mencapai puncaknya. Untuk yang pertama kali dia menabur bibit yang akan menghadirkan kehidupan baru.
"Terima kasih, Kia." Ucap Denis seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kiara.
Kiara tak menjawab, dia hanya sibuk mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ketika sadar akan situasi yang terjadi, dengan gerakan cepat dia mendorong tubuh Denis yang berada di atasnya lalu menarik selimut membungkus tubuhnya. Dengan tergesa-gesa dia berjalan menuju kamar mandi dan lupa tentang perjanjiannya dengan Denis.
Denis tersenyum mendengar pintu kamar mandi yang ditutup dengan sedikit kasar. Dia turun dari tempat tidur, memungut handuk yang dia lemparkan ke lantai lalu melilitkannya di pinggang.
"72 jam sama dengan 3 hari. Kita lihat saja Kia, siapa yang akan menang, bibitku atau pil mu." Denis terkekeh sembari mengingat ketika dia menguping Kiara menelpon seseorang di balkon. Dia pikir, istrinya itu menelpon Erick untuk laporan, tapi rupanya Kiara menelpon suster Maria.
'Halo, suster Maria?'
[Ya dokter Kia, ada apa?]
''Sus, saya minta tolong antarkan pil postinor ke rumah saya sekarang.'
[Maaf Dok, saya gak bisa kalau sekarang. Shift saya kan sampai siang, hari ini. Setelah itu saya ada acara keluarga. Paling bisa sore atau selambatnya setelah Maghrib.] Kata suster Maria.
Kiara menghela nafas, 'Baiklah, tapi tolong usahakan setelah Maghrib pil postinor itu harus sudah ada.'
[Baik Dok, akan saya usahakan.]
Sambungan telepon pun terputus. Kiara membawa dirinya duduk di kursi kayu yang tersedia di balkon. Tak pernah terbayang, malam ini dia akan berbagi peluh dengan pria asing.
'Pil postinor,' gumam Denis kemudian menjauh dari pintu balkon. Dia berjalan menuju tempat tidur mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang lalu berjalan menuju sofa.
Terlalu penasaran dengan pil yang diminta Kiara pada suster Maria, Denis pun membuka google untuk mencari tahu apa kegunaan pil tersebut.
Kedua matanya terbelalak begitu tahu, pil postinor tersebut ternyata digunakan sebagai kontrasepsi darurat yang harus diminum 12 sampai 72 jam setelah berhubungan badan tanpa pengaman untuk mencegah kehamilan.
Denis mengambil celananya yang dia letak dia letakkan di sofa, mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Dia menyeringai tipis menatap bungkusan yang berisi pil kontrasepsi darurat yang dia dapatkan dari suster Maria. "Terima kasih kerjasamanya,"
.
Halo semuanya. 🤗
Menjelang bab 20, please jangan ada yang menumpuk bab agar retensi aman. Bentar lagi perhitungan loh, konsisten yak. 🙈
Lope lope sekebon sawit. ❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Athallah Linggar
wah dr.kiara dpt orisinil ga mau tuh pdhl dia bekas. Dasar kamu tuh tak tau diuntung dr,menyesal kamu ga dengerin nasehat orangvtua
2024-09-30
0
Sugiharti Rusli
bagus Denis uda disabotase duluan pilnya dari suster Maria,,,
2024-07-11
0
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
waduh......baca pagi pagi segerrr banget dah..... ujan pula.....
2024-07-04
1