"Kia," panggil Denis begitu Kiara turun dari motornya.
"Hem," Kiara hanya menjawab dengan deheman sambil melepas pengait helm.
"Kata orang, pasangan sesama anak sulung itu adalah pasangan idaman karena independen dan dapat diandalkan. Banyak juga yang bilang, pasangan anak sulung itu pasangan yang ideal banget karena sama-sama kapabel dan cekatan. Dan yang pasti, mantap menyongsong masa depan bersama-sama." Ucap Denis sambil tersenyum tipis.
"Tapi sayangnya, kita bukan pasangan yang akan menyongsong masa depan bersama-sama." Kata Kiara seraya mengembalikan helm milik Denis. "Terima kasih," ujarnya lagi.
"Sama-sama, senang bisa mengantarkan calon istriku dengan selamat sampai ke tempat tujuan." Balas Denis.
Kiara memutar bola matanya malas, entah dimana Erick menemukan laki-laki ini? Makin ke sini tingkahnya semakin menjadi saja. Rasanya dia tidak sabar menikah hari ini saja kemudian bercerai di hari itu juga. Tapi sayangnya, tidak bisa semudah itu.
"Jadi gimana?" Tanya Denis.
"Apanya?" Kiara balik bertanya.
"Yang aku katakan tadi. Apa kamu tidak berminat mencobanya? Siapa tahu kita benar-benar... ."
"Tidak," potong Kiara yang telah mengerti maksud pertanyaan Denis. "Aku sama sekali tidak berminat." Tegasnya. "Maaf, aku tinggal dulu, sekali lagi terima kasih karena sudah mengantarku." Kiara gegas pergi sebelum Denis kembali melontarkan kata-katanya yang hanya akan membuatnya muak.
Denis tersenyum sambil geleng-geleng kepala menatap kepergian Kiara. Mungkin caranya salah dengan membuat Kiara merasa kesal, tapi hanya dengan begitu dia bisa membuka obrolan.
Denis pun hendak naik ke motornya, namun urung begitu tatapannya tertuju pada seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat motornya terparkir.
"Ana," Denis pun gegas menghampiri Liana yang sedang menggendong Shanum yang tampak terkulai lemas.
"Shanum kenapa?" Tanya Denis khawatir, dia maju selangkah untuk melihat Shanum, ternyata gadis kecil itu sedang tidur.
"Shanum demam, Bang. Panasnya gak turun turun jadi aku putuskan untuk membawanya ke rumah sakit." Jawab Liana.
"Astaga Ana, kenapa gak telpon Abang?" Denis mengambil alih menggendong Shanum, saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Shanum dapat dia rasakan tubuh gadis kecil itu memang sangat panas.
"Apa Abang akan datang kalau aku telepon, bukankah hari ini adalah acara lamaran Abang? Aku rasa, Mama juga tidak akan mengizinkan Abang datang,"
Denis berdecak pelan, tanpa mengatakan apapun lagi, dia langsung berjalan cepat masuk ke rumah sakit agar Shanum segera mendapat penanganan. Begitu dokter menyarankan agar dirawat beberapa hari, dia langsung memilihkan kamar rawat VIP.
Dua jam berlalu. Setelah mendapat penanganan, akhirnya panas Shanum mulai turun. Liana bernafas lega, beberapa jam lalu dia dibuat cemas karena demam putrinya yang tak kunjung turun meski sudah dia kompres.
"Ternyata, dia lebih cantik dilihat secara langsung daripada hanya dilihat dari foto." Ucap Liana yang kini duduk berdampingan dengan Denis di sofa panjang yang tersedia dalam ruang rawat VIP itu. Saat turun dari taksi, tatapannya langsung tertuju pada Denis dan Kiara. Saat Denis menginap di rumahnya, Denis memperlihatkan foto Kiara padanya.
Denis mengulas senyum, "Kamu juga cantik, Ana." Ujarnya.
Liana tersenyum masam mendengarnya, jika hanya tentang cantik, hidupnya dan putri kecilnya tidak akan seperti ini. Nyatanya, kecantikan yang dia miliki tak mampu menahan suaminya untuk selalu berada di sampingnya. Tetap saja yang akan menjadi pemenang adalah wanita yang akan menjadi madunya, karena wanita itu memiliki apa yang tidak dia miliki.
"Untuk saat ini, tidak usah memikirkan apapun, Ana. Cukup fokus saja dengan kesembuhan Shanum. Meski beberapa hari ke depan Abang akan disibukan dengan segala persiapan pernikahan Abang, tapi Abang akan tetap usahakan untuk tetap bisa menjenguk kamu dan Shanum." Ucap Denis sambil menggenggam sebelah tangan Liana.
"Gak usah bikin Mama marah, Bang. Bukankah aku juga sudah terbiasa hanya berdua dengan Shanum menjalani getirnya hidup." Ujar Liana, melirik sekilas pada Denis.
"Shanum itu cucunya Mama, Ana." Hanya itu yang dapat dikatakan oleh Denis, dia menghela nafas berat seraya melepaskan genggaman tangannya dari Ana lalu menyandarkan punggungnya di sofa.
"Kamu sudah makan?" Tanya Denis, dia melirik jam tangannya, sekarang sudah lewat waktu makan siang.
Liana menggeleng, bahkan sejak pagi dia belum makan apapun karena terlalu khawatir dengan kondisi Shanum. Saat ini saja dia sudah merasa lemas, namun tidak ingin memperlihatkan itu di hadapan Denis. Dia ingin tunjukkan pada Denis dan mama Kasih bahwa dia adalah wanita yang kuat.
"Abang juga belum makan siang, mumpung Shanum masih tidur ayo kita makan ke kantin." Ajak Denis.
Liana merasa ragu untuk meninggalkan Shanum, dia melirik kearah putrinya dengan tatapan cemas. "Maaf Bang, apa bisa tolong belikan saja makanan untukku?"
Denis mengangguk, "Baiklah, kamu tunggu di sini." Denis pun beranjak keluar dari ruangan itu. Melangkah cepat menuju kantin rumah sakit.
Tak lama kemudian, Denis pun kembali ke ruang rawat Shanum dengan membawa dua kotak nasi serta beberapa jenis roti untuk persediaan Liana jika sewaktu-waktu lapar saat dia pulang nanti.
"Bang Denis,"
Panggilan seseorang menghentikan langkah Denis, dia berbalik menatap ke asal suara. Matanya langsung menatap jengah begitu melihat Erick berjalan kearahnya.
"Bang Denis ngapain di sini?" Tanya Erick, tapi tatapannya tertuju pada beberapa bungkusan yang dibawa oleh Denis.
"Siapa yang sakit?" Tanya Erick lagi, dia bisa menebak isi bungkusan itu adalah beberapa jenis makanan.
"Siapa yang sakit, apa itu penting untuk kamu tahu?" Denis tersenyum sinis.
"Aku hanya bertanya, terserah Bang Denis mau jawab atau tidak." Erick menggelengkan kepalanya lalu gegas mengayun langkah menuju ruangan Kiara.
Denis menatap kepergian Erick dengan sorot mata yang tajam, kemudian juga kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat Shanum.
"Shanum belum bangun?" Tanya Denis begitu baru saja masuk.
Liana yang berdiri di sisi ranjang tempat putrinya berbaring, menoleh menatap Denis, "Belum, Bang." Jawabnya.
"Sekarang ayo kita makan," ajak Denis.
Liana pun menghampiri Denis yang telah duduk di sofa, keduanya makan dengan begitu lahap karena memang benar-benar lapar. Sesekali Liana melirik kearah putrinya berharap Shanum segera bangun.
"Shanum itu anak yang kuat, seperti Mamanya," kata Denis yang juga melirik kearah Shanum.
Liana tersenyum tipis, 'Tapi nyatanya, aku tidak sekuat yang Bang Denis lihat. Hampir setiap malam, saat Shanum telah tidur, aku menangis ditengah kesunyian malam.' Gumamnya dalam hati.
"Sudah, jangan melihat Shanum terus, kapan makanan kamu akan habis? Kamu harus makan yang banyak, jangan sampai jatuh sakit juga."
Liana mengangguk. Denis benar, dia tidak boleh jatuh sakit. Cukup hati dan perasaannya saja yang sakit, jangan sampai fisiknya juga ikut sakit.
.
Jangan lupa tinggalkan cap jempolnya ya setelah baca. 🤗🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
next kak author update teruus.... 💪❤️🔥
2024-12-27
1
Dewa Rana
jadi apa hubungan Denis dg Liana ya, apa adik kakak?
2024-12-16
0
Royani Arofat
masih blm tau arah konflik liana, denis dan kiara
2024-10-10
2