"Pulang jam berapa tadi malam?" Tanya mama Kasih, mamanya Denis saat tengah menghidangkan nasi goreng ke piring putranya.
"Gak tahu, Ma, gak lihat jam soalnya." Jawab Denis sambil mengulum senyum. Setelah dari rumah Liana, dia langsung tidur dan sama sekali tidak memperhatikan jam. Tapi sepertinya, malam sudah sangat larut ketika dia sampai di rumah.
Mama kasih geleng-geleng kepala, "Gak mampir kan, ketemu Ana?" Kali ini tatapannya penuh selidik.
"Em," Denis hanya dapat menggelengkan kepalanya. Tapi mama Kasih tak dapat dia bohongi. Mamanya pasti tahu dia sehabis menemui Liana tadi malam.
"Denis, Mama kan sudah sering bilang sama kamu, gak usah sering-sering lagi ketemu Ana. Dia itu keras kepala jadi biarkan dia berpikir sendiri. Dan kamu, fokus saja sama tujuan kamu. Jadi kapan, kamu kenalin ke Mama, perempuan yang kamu gadang sebagai calon istri kamu?" Tanya mama Kasih.
Denis nampak kesusahan menelan nasi goreng di mulutnya, "Hari ini aku mau ketemu dia kok, Ma. Setelah ketemu sama orangtuanya, aku akan bawa dia ke sini ketemu Papa dan Mama."
Mama Kasih menghela nafas lega, akhirnya apa yang dia harapkan selama ini sebentar lagi akan terwujud. Tak terhitung sudah berapa banyak wanita yang dia kenalkan pada putranya itu, tapi Denis selalu menolak dengan alasan akan membawa pilihannya sendiri.
"Bagaimana kabarnya Shanum?" Tanya mama Kasih kemudian. Tak dapat dipungkiri, dia rindu juga dengan cucunya itu.
"Anak sekecil itu tidak akan baik-baik saja tanpa sosok Ayahnya, Ma." Jawab Denis lirih.
Mama Kasih hanya dapat menghela nafas panjang. Dia kasihan, tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk itu. "Sudah, tidak usah membahas itu lagi, sekarang cepat habiskan sarapan kamu dan segera pergi, bawa calon mantu Mama kesini." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Denis mengangguk, dia pun kembali melanjutkan sarapannya.
"Oh ya Ma, Papa kemana? Tumben gak kelihatan?" Tanya Denis setelah menghabiskan nasi gorengnya. Dia seakan baru sadar kalau sejak tadi papanya tidak ikut sarapan bersama.
"Belum bangun, semalam begadang nonton bola." Jawab mama Kasih dengan nada yang kesal. Dia sampai memasang headset karena tak tahan mendengar suara gaduh suaminya yang nonton bola sambil teriak-teriak.
Denis pun berpamitan pada mamanya. Waktu baru menunjukkan pukul 7:30 pagi, masih ada banyak waktu sebelum dia bertemu Erick dan Kiara, dia akhirnya memutuskan untuk ke bengkel terlebih dahulu.
Mendekati waktu yang ditentukan, Denis pun gegas berangkat ke kafe dekat kantor Erick. Jarak dari bengkel ke kantor Erick tak begitu jauh, hanya memerlukan waktu kurang dari setengah jam.
Saat sampai di kafe tersebut, ternyata Erick dan Kiara sudah lebih dulu ada di sana. Denis tampak mengatur nafas sambil berjalan menghampiri Erick dan Kiara.
"Kia, itu orangnya." Ujar Erick sambil menunjuk ke arah Denis.
Kiara menoleh, tatapannya terpaku pada sosok laki-laki yang berjalan kearah mejanya. Sesaat kemudian netranya memicing, dia seperti pernah melihat laki-laki itu, tapi entah dimana.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama," ujar Denis setelah berdiri di samping Erick. Sebenarnya dia tidak terlambat, hanya Erick dan Kiara saja yang datangnya di luar jam yang ditentukan.
"Santai saja," ucap Erick lalu mempersilahkan Denis duduk.
"Kia, ini Bang Denis, orang yang akan menjadi suami muhalil kamu."
Kiara hanya menanggapinya dengan anggukan pelan, bahkan untuk balik menyebutkan namanya saja dia merasa sungkan. Apalagi mengulurkan tangan untuk berkenalan. Entah bagaimana nanti setelah dia menikah dengan laki-laki itu.
"Setelah Bang Denis menikahi Kia nanti. Segera selesaikan semua syarat itu lalu ceraikan Kia." Ucap Erick lalu membuang nafas berat. Membahas tentang syarat, jujur saja dia benar-benar merasa tidak nyaman. Bagaimanapun, dia tidak rela Kiara disentuh oleh laki-laki lain namun, hanya dengan cara itu dia bisa rujuk kembali bersama Kiara.
Denis hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, dia tidak mau membahas tentang syarat-syarat itu dihadapan Kiara.
Erick pun memesan makanan. Meski masih merasa kenyang, tapi Denis tetap makan. Sementara Erick dan Kiara makan dengan lahap karena keduanya memang belum sarapan.
Sambil mengunyah makanannya, sesekali Denis melirik Kiara tanpa sepengetahuan Erick maupun Kiara. Bibirnya menyunggingkan tipis, 'Kau berhutang padaku, Kia. Jangan pikir aku melupakannya, aku akan menagihnya nanti. Di malam pernikahan kita,' gumamnya dalam hati.
Selesai makan, mereka bertiga pun lekas berangkat menuju kediaman orang tua Kiara. Meski gugup harus berhadapan dengan mantan mertuanya, namun Erick tetap memberanikan diri untuk datang demi memastikan semuanya berjalan lancar. Dia tidak ingin Denis sampai salah bicara dan akan merusak semuanya.
Begitu sampai, Kiara langsung menuntun dua laki-laki yang berdiri di sisi kanan dan kirinya menuju ruang tamu. Setelah Erick dan Denis duduk berdampingan di sofa panjang, Kiara gegas menuju lantai atas untuk memanggil kedua orangtuanya.
Tak lama kemudian, Kiara pun kembali ke ruang tamu bersama papa dan mamanya.
"Jadi kamu, yang bersedia menjadi suaminya Kiara?" Tanya papa Rangga seraya duduk, tatapannya hanya fokus pada laki-laki yang duduk di samping Erick tanpa menghiraukan keberadaan Erick sendiri.
"Iya, Om," jawab Denis sambil tersenyum tipis.
Perubahan sikap papa Rangga tersebut membuat Erick semakin merasa tidak nyaman. Dulu, saat pertama kali datang ke rumah itu, dia diperlakukan dengan sangat istimewa. Tapi hari ini, bahkan papa Rangga dan mama Flora seakan tidak melihat keberadaannya.
"Jadi kapan, kamu membawa orang tua kamu datang ke sini untuk melamar Kiara?" Tanya papa Rangga selanjutnya.
Erick tersentak mendengarnya, "Pa, aku rasa tidak perlu pakai acara lamaran. Langsung ijab kabul saja." Seru Erick merasa keberatan. Sementara Kiara yang duduk di samping mama Flora hanya diam menyimak, meski sebenarnya dia juga keberatan dengan kata lamaran itu.
Papa Rangga langsung berpindah menatap Erick dengan lekat, "Kamu kan, yang merencanakan ini semua? Jadi sekarang, kamu juga harus mematuhi peraturan yang saya buat!" Tegas papa Rangga. Bahkan dia berbicara secara formal pada mantan menantunya itu.
Erick pun terdiam. Selain harus berlapang dada atas syarat yang telah disebutkan oleh Denis. Mau tidak mau kini dia juga harus mematuhi peraturan yang dibuat mantan papa mertuanya.
"Baik, Om. Secepatnya aku akan membawa kedua orangtuaku untuk datang melamar Kia," ucap Denis sambil melirik Kiara yang hanya menunduk menyimak pembicaraan mereka.
Erick langsung menoleh menatap Denis, dari tatapannya mengisyaratkan agar Denis menolak tentang acara lamaran yang hanya akan membuang-buang waktu. Tapi sayangnya, Denis sama sekali tidak melihat kearahnya.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Denis pun berpamitan pulang. Dia langsung menuju rumahnya untuk menyampaikan kabar yang selalu ditunggu-tunggu oleh kedua orangtuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
mnyala 🔥 pak Rangga c Erick emang perlu di kasih pencerahan biar paham 🤭😁
2024-12-27
0
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
hadeeeh.... Bambang tidak semudah itu, jgn egois pikirkan Liana dn shanum 😥
2024-12-27
0
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
aku malah berfikir Liana adik kandungnya Denis, teruus Denis berusha untuk melepaskan Kiara dari jerat bayang Eric yg toxic slalu menyakiti hati perempuan. kasian shanum 😥 maaf kak author 🙏 klo aku berfikir aneh sedikit OVT ✌️😁
2024-12-27
0