"Ma, Papa kemana? Kok gak ikut makan malam?" Tanya Kiara yang baru saja datang ke ruang makan, melihat mama Flora hanya duduk seorang diri sambil bermain ponsel, nampaknya sedang berbalas pesan. Tidak biasanya mama Flora tak bersama papa Rangga.
"Papa lagi keluar, ketemu sama temannya. Mungkin sekalian makan malam di luar," jawab mama Flora seraya meletakkan ponselnya di atas meja makan. "Yuk, makan," ajaknya.
Kiara mengangguk lalu duduk di samping mamanya, "Ada urusan apa Papa sama temannya? Tumben banget Papa mau diajak ketemuan di luar," rupanya hal tersebut membuat Kiara penasaran, karena semenjak pensiun dari dunia bisnis, papa Rangga lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama istri tercinta. Jika ada undangan, papa Rangga tidak akan pergi bila tak bersama mama Flora.
"Kok heran gitu sih? Papa kamu itu mantan pebisnis yang hebat loh, rekan kerjanya banyak. Emang salah, kalau sekarang Papa kamu keluar ketemu temannya?" Tanya mama Flora.
Kiara menggeleng, "Ye enggak sih, cuma aku heran aja, Ma. Soalnya Papa kan paling malas keluar kalau gak sama Mama."
"Tadi Papa ngajakin Mama kok, cuma Mama gak mau ikut. Soalnya teman Papa laki-laki semua. Tahu sendiri Papa kamu itu gimana?" Mama Flora terkekeh pelan.
Kiara pun tersenyum. Begitulah papanya, katanya malas keluar kalau gak sama istri tercinta, tapi saat pulang pasti dengan wajah masam. Usut punya usut, papa Rangga kesal dengan mantan rekan-rekan kerjanya yang kesannya selalu ngeliatin mama Flora, cemburu katanya. Mama Flora gak boleh dilirik laki-laki selain dirinya, duh prosesi banget.
Mam Flora dan Kiara pun memulai makan, tak ada lagi obrolan diantara keduanya selain hanya dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar di ruangan itu.
Derap langkah kaki yang terdengar menuju ruang makan mengalihkan perhatian mama Flora dan Kiara. Kedua wanita berbeda generasi itu lantas tersenyum melihat kedatangan papa Rangga.
"Bentar banget pulangnya, Pa? Gak nyaman ya pergi sendirian gak bawa gandengan?" Kiara mengedipkan sebelah matanya menggoda papanya.
Papa Rangga menanggapinya dengan senyuman. Dia menarik kursi, duduk lalu membalikkan piring di hadapannya.
"Loh, Papa gak makan di luar sama teman Papa?" Tanya Kiara.
"Enggak," jawab papa Rangga singkat. "Selesai makan nanti, kita ngobrol di ruang keluarga. Ada yang mau Papa bicarakan denganmu," ujarnya.
Meski penasaran, Kiara memilih untuk tidak bertanya. Dia pun kembali melanjutkan makan, sementara mama Flora menyajikan makanan ke dalam piring suaminya.
Usai makan, kini mereka berkumpul di ruang keluarga.
Papa Rangga tampak beberapa kali menarik nafas kemudian akhirnya membuka suara, "Bilang pada Erick, segera bawa laki-laki yang akan menjadi suami muhalil kamu untuk bertemu Papa dan Mama."
Tatapan Kiara seketika terpaku pada papanya. Apa dia tidak salah dengar? Baru sore tadi papanya menentang keras rencana rujuknya bersama Erick, tapi malam ini papa Rangga justru ingin bertemu dengan laki-laki yang akan menjadi suami muhalilnya.
"Kia, apa kamu dengar Papa?"
Kiara tersentak, "I-ya, Pa, aku dengar." Jawabnya sedikit terbata. Rasanya tidak percaya kalau papanya bisa merubah keputusannya dalam waktu yang singkat.
"Baiklah, kalau bisa, besok bawa laki-laki itu ke sini. Papa tunggu," setelah mengatakan itu Papa Rangga beranjak dari tempat duduknya, begitupun dengan mama Flora. Sepasang suami istri itu melangkah bersama menuju kamar mereka dengan tangan saling bergandengan.
Kiara menatap kepergian kedua orangtuanya tanpa kedip. Masih antara percaya dan tidak, tapi sejatinya dia sangat merasa senang saat ini.
Bak anak gadis yang lagi kasmaran, Kiara berlari pelan menuju kamarnya sambil tersenyum. Tak sabar rasanya untuk menyampaikan kabar baik itu pada Erick.
"Mas, Papa setuju. Besok Papa ingin bertemu dengan laki-laki itu," ucap Kiara begitu sambungan teleponnya terhubung dengan Erick.
[Serius, Kia?] Tanya Erick memastikan.
"Serius, Mas." Jawab Kiara antusias. "Tapi, apa Mas Erick sudah menemukan laki-laki yang mau menikahi aku?" Tanyanya kemudian seiring senyumnya yang memudar.
[Kamu tenang saja, aku sudah mendapatkan laki-laki yang akan menjadi suami muhalil kamu. Besok kita bertiga bertemu di cafe dekat kantorku, baru setelah itu ke rumahmu.]
"Baiklah, Mas, kita ketemu besok." Kiara lalu memutuskan sambungan telponnya. Setelah menyimpan ponselnya di atas nakas, ia pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Memejamkan mata, tak sabar menunggu malam berganti pagi.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika motor Denis terparkir di depan sebuah rumah minimalis. Setelah turun dari motor dan melepas helm, dia pun berjalan menuju pintu rumah itu sambil membawa bungkusan berisi makanan.
Beberapa kali mengetuk, tak lama kemudian pintu rumah itupun terbuka, "Bang Denis," ucap seorang wanita terdengar parau. Matanya nampak sayu menatap Denis.
"Nih, Abang belikan Martabak kesukaan kamu." Ujar Denis seraya menyerahkan bungkusan yang dia bawa.
Wanita yang bernama Liana itupun mengambilnya, "Terima kasih, Bang." Ujarnya. Dia pun membuka pintu lebar-lebar agar Denis masuk.
"Shanum sudah tidur?" Tanya Denis sambil melangkah masuk.
"Sudah, Bang." Jawab Liana yang ikut melangkah di samping Denis.
Denis duduk di ruang tamu, sementara Liana ke dapur membuatkan minum untuk Denis. Tak lama kedua dia kembali dengan secangkir teh hangat beserta martabak pandan toping keju yang dibeli Denis.
Bertepatan dengan Denis yang tengah menyeruput teh hangat, terdengar ponselnya berdering. Dia pun meletakkan cangkir teh nya kembali merogoh saku jaketnya mengambil ponsel.
"Erick," gumamnya yang masih dapat didengar oleh Liana.
"Ada apa, Rick?" Tanyanya begitu menjawab panggilan itu. Bahkan dia sengaja menghidupkan speaker agar Liana juga dapat mendengarnya.
[Bang, besok jam 9 kita ketemu di cafe dekat kantorku, sama Kia juga. Setelah itu Abang harus menemui orang tua Kia.] Ujar Erick.
"Buru-buru sekali," ucap Denis sambil melirik Liana yang ekspresi wajahnya langsung berubah setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Erick.
[Lebih cepat kan lebih bagus, Bang.]
"Hem, ya sudah besok kita ketemu."
[Terima kasih, karena Abang sudah mau membantuku menikahi Kiara. Berapapun yang Abang minta akan aku berikan,] ucap Erick.
Denis hanya menjawabnya dengan deheman, lalu mengakhiri panggilan itu. Dia menyimpan kembali ponselnya lalu meraih sebelah tangan Liana dan menggenggamnya erat.
"Abang janji, ini hanya sebentar. Setelah itu Shanum akan kembali berkumpul bersama Mama dan Papanya."
Liana hanya tersenyum tipis mendengarnya. Godaan terbesar seorang laki-laki adalah wanita, dia harus menyiapkan mental sekuat baja untuk menghadapi itu. Bahkan mungkin kata mengikhlaskan harus dia kedepankan lantaran skenario yang akan terjadi selanjutnya didukung penuh oleh kedua mertuanya. Dia bisa apa untuk itu?
"Abang mau lihat Shanum dulu," setelah melepas tangan Liana, Denis beranjak menuju kamar Liana. Kedua matanya berkaca-kaca saat membuka pintu kamar, melihat Shanum, gadis kecil berusia 5 tahun itu tidur seorang diri.
Dengan langkah pelan Denis berjalan menuju tempat tidur, dia duduk di tepi ranjang sambil memandangi Shanum.
"Shanum kangen Papa ya?" Gumam Denis sambil mencium pelan kening Shanum. "Sabar ya Sayang, sebentar lagi keluarga Shanum akan kembali utuh."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
tnpa sadar Eric, mempertemukan Denis dgn Kiara takdir pembawa jodoh 🥰 next kak slm support sehat slalu. 🤲❤️🔥
2024-12-27
1
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
next kak 💪 asyeek maraton bacanya makin seruu dan menarik bikin penasaran 😁 ❤️🔥
2024-12-27
1
Maharani Rania
kayak nya istri dan anak Erik deh
2024-12-21
1