"Aku mau bicara 4 mata dengan Papa," kata Kiara sambil meletakkan piring berisi kue di atas meja. Dia melirik Denis sekilas.
Denis yang paham keberadaannya akan menganggu, langsung berpamitan kembali ke kamar, "Aku balik ke kamar ya, Pa. Mau lanjut bobok." Ujarnya.
"Gak makan kue dulu? Kia udah repot-repot loh bawain untuk kita," ucap Papa Rangga, berusaha untuk mengabaikan Kiara yang ingin bicara dengannya. Dia tahu apa yang ingin putrinya itu bicarakan.
Denis hanya mengambil sepotong kue tersebut, memakannya sambil berlarian pelan menuju kamar. Bukan tanpa sebab, Kiara terus meliriknya tajam bak ingin menelannya hidup-hidup.
Papa Rangga geleng-geleng kepala melihat Kiara memelototi Denis, "Kamu mau bicara apa sih?"
Kiara pun menoleh menatap papanya, "Papa tahu kan, kalau pernikahan aku sama Denis cuma untuk sementara? Bahkan mungkin dalam beberapa hari lagi kami berdua akan bercerai."
"Iya, Papa tahu." Jawab papa Rangga enteng sambil mengambil sepotong kue lalu memakannya. "Denis cuma kamu jadikan suami selingan, biar kamu dan Erick bisa rujuk lagi,"
"Terus kenapa tadi malam, Papa ngomongin soal bulan madu? Hal yang sama sekali tidak mungkin terjadi antara aku dan Denis." Tegas Kiara.
"Kamu juga tahu kan, kalau orangtuanya Denis sama sekali gak tahu soal pernikahan muhalil ini?" Papa Rangga balik bertanya.
Kiara mengangguk sebagai jawaban.
"Apa kamu sedikit saja tidak bisa memikirkan perasaan mereka? Betapa kecewanya mereka kalau kamu dan Denis tiba-tiba bercerai!" Kata papa Rangga tak kalah tegasnya.
"Tapi itu sudah konsekuensi yang harus diterima Denis, Pa. Kenapa dia sampai harus melibatkan orangtuanya? Bisa saja kan, kita menikah tanpa perlu dihadiri kedua orangtuanya." Balas Kiara.
"Sabar, Kia," papa Rangga membuang nafas berat. "Oke kalau kamu gak mau mengerti perasaan orang tua Denis. Setidaknya pikirkan perasaan Papa dan Mama. Apa kata orang-orang, baru 3 bulan bercerai dari Erick, kamu menikah dengan Denis. Dan sekarang kamu ingin bercerai dari Denis, kemudian kembali lagi pada Erick. Orang di luar sana gak tau permasalahan kamu dan Erick, yang orang tahu kamu itu perempuan gak bener menikahi 2 laki-laki secara bergantian. Siapa yang terkena imbasnya? Orang tua kamu sendiri, Kia. Mama dan Papa kamu!" Papa Rangga sampai menepuk-nepuk dadanya sendiri saking emosinya.
Selama ini, Kiara tidak pernah sekalipun membantah ucapannya. Tapi hari ini, hanya demi kembali pada Erick, bahkan Kiara sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaannya.
Kiara menunduk, menyadari cara bicaranya sudah keterlaluan. Tidak seharusnya dia mengajak papanya berdebat, "Maaf, Pa." Ucapnya kemudian beranjak dari tempat duduknya, mengayun langkah menuju kamarnya.
Papa Rangga menatap kepergian putrinya dengan nanar. Penyesalan terbesarnya, adalah menerima tawaran perjodohan dari papanya Erick. Andai dia bisa mengulang waktu, akan diselidikinya terlebih dahulu laki-laki yang akan membersamai putrinya, tak langsung menerima begitu saja hanya karena papanya Erick adalah teman lamanya.
Dia tidak habis pikir, kenapa teman lamanya itu yang semasa remaja bak saudara, tega menipunya habis-habisan seperti ini. Entah apa motif dan tujuannya? Seingatnya, dia dan papanya Erick tidak pernah terlibat masalah apapun sehingga tega menipunya seperti ini.
"Setelah semuanya terbongkar, kamu adalah orang yang paling hancur, Kia. Dan Papa siap menerima semua makianmu. Maki Papa yang telah memilihkan Erick untukmu, maki Papa sampai hilang rasa sakitmu." Lirih papa Rangga seiring Kiara yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Loh, Kia sama Denis kemana, Pa, kok gak ada?" Tanya mama Flora yang baru saja datang. Tadi dia kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya yang kotor terkena tepung.
"Balik ke kamar, masih ngantuk katanya." Kata papa Rangga sambil terkekeh pelan. Untung saja istrinya tidak melihat saat dia berdebat dengan Kiara, istrinya itu pasti akan sangat sedih melihat anak manis yang selalu menurut tiba-tiba bernada tinggi pada orangtuanya, hanya karena laki-laki brengsek yang bernama Erick.
Mama Flora pun tersenyum seraya duduk di samping suaminya, "Semoga ya, Pa, Denis bisa cepat mengambil hati Kia, biar Kia lupa sama Erick. Mama gak rela banget rasanya kalau Kia masih berkeinginan rujuk sama itu si kadang buntung!" Ucapnya sambil membulatkan kedua tangan membentuk kepalan tinju, kalau ingat Erick bawaannya emosi pengen nonjok.
Papa Rangga terkekeh mendengar julukan yang disematkan istrinya untuk Erick, bahkan lebih parah dari kadal buntung menurutnya, "Sama, Papa juga gak rela. Oh ya, Ma, ada berita yang mengejutkan untuk Mama." Serunya kemudian.
Mama Flora langsung memiringkan duduknya menghadap sang suami dan menatapnya dengan lekat, "Berita mengejutkan apa, Pa? Gak bakal bikin Mama jantungan, kan?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang langsung terlihat cemas.
Papa Rangga kembali terkekeh pelan, "Denis yang kita kira montir, ternyata pemilik Bengkel dan memiliki 2 Showroom Mobil di kota yang berbeda." Tutur papa Rangga.
"Seriusan, Pa?" Mama Flora sampai merapatkan duduknya dengan Papa Rangga, "Kalau gitu, nanti kita ke Showroom Mobil Denis, lihat koleksi mobil yang bagus-bagus di sana." Serunya bersemangat.
Papa Rangga hanya bisa mengangguk pasrah menuruti permintaan istrinya. Alamat bencana kalau tidak dituruti.
.
.
.
Denis yang sedang duduk di ranjang sambil bermain ponsel, tersentak kaget begitu mendengar suara pintu kamar terbuka. Ponselnya sampai terlepas dari genggamannya, untung saja jatuhnya di tempat tidur.
Kiara berhenti melangkah di ambang pintu, dia menatap Denis dengan tatapan yang sulit diartikan kemudian akhirnya kembali melangkah menuju kamar mandi.
Tangisnya pecah saat baru saja menutup pintu kamar mandi. Dia menyesali tindakannya tadi yang berbicara cukup kasar dengan papanya. Tapi, apa dia salah ingin memperjuangkan hubungannya kembali dengan Erick. Dia sangat yakin, kali ini Erick sudah benar-benar berubah. Jika tidak, untuk apa repot-repot mencarikannya seorang muhalil.
Di dalam kamar, Denis duduk di tepi ranjang sambil terus menatap pintu kamar mandi. Saat tadi Kiara menatapnya, dia langsung bisa menebak ada sesuatu yang terjadi melihat dari sorot mata istrinya itu yang penuh dengan emosi.
Denis langsung berdiri begitu Kiara telah keluar dari kamar mandi. Dia yang hendak menghampiri, berhenti melangkah saat Kiara lebih dulu melangkah menghampirinya.
"Kamu habis nangis?" Tanya Denis, tatapannya langsung tertuju pada kedua mata Kiara yang nampak sedikit sembab. Dugaannya benar. Ada sesuatu yang terjadi saat dia kembali ke kamar, tapi entah itu apa.
Kiara tidak menjawab. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu memangkas jarak semakin mendekati Denis.
Denis tersentak ketika Kiara menarik kerah bajunya, sorot mata istrinya itu begitu dalam menatapnya. Apa yang terjadi dengannya?
"Aku tidak bisa terlalu lama mempertahankan pernikahan ini, Denis. Sesuai perjanjian kamu dan Mas Erick, sentuh aku malam ini juga lalu jatuhkan talak mu setelah itu!"
Denis tercengang, untuk sesaat dia hanya bungkam tanpa mengatakan sepatah katapun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
emang beneer loe ye Erick kadal 🦎 buntung bngke lodon, 🤭😁🤣
2024-12-27
1
Sugiharti Rusli
benar kata papa kamu Kiara, kalo kamu tahu kebenarannya kamu akan terluka
2024-07-11
2
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
cinta membutakan segalanya kia kia tepok pramuka emakkk
2024-07-04
0