"Kok kamu pulang sendirian? Mana, katanya kamu mau bawa calon mantu Mama ke sini? Kok gak ada?" Mama Kasih langsung memburu putranya dengan banyak pertanyaan, begitu Denis baru saja sampai di rumah.
Bagaimana tidak, mama Kasih sudah memasak banyak untuk menyambut calon menantunya.
Denis tersenyum sembari menangkup wajah wanita yang telah membawanya ke dunia itu, "Nanti dia juga akan tinggal di sini kan, Ma? Jadi sekarang, mending Mama dan Papa mempersiapkan untuk menjemput calon mantu kalian ke sini." Ucapnya dengan tatapan berbinar.
Mama kasih terdiam mencerna. Menjemput calon mantu, apa artinya dia harus menyiapkan mobil yang mewah untuk menjemput wanita yang akan dipersunting oleh putranya?
"Aduh Mama, kok bengong sih? Maksud aku, persiapan lamaran, Ma." Denis terkekeh pelan melihat mamanya justru tampak bingung.
"Lamaran?"
"Iya, lamaran. Ini kan yang Mama mau? Aku segera Nikah, jadi gak usah ngulur waktu lagi, Mama dan Papa harus segera datang melamar dia." Ucap Denis.
Mama Kasih langsung tersenyum lebar, "3 hari lagi, Mama dan Papa akan akan datang melamar dia." Setelahnya mama Kasih pun berbalik hendak menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti dan kembali berbalik menatap Denis karena lupa sesuatu.
"Oh ya Denis, nama calon mantu Mama siapa?" Tanyanya.
"Kiara Atmajaya," jawab Denis.
"Di dengar dari namanya aja, sepertinya anak orang berada?" Mama Kasih menerka.
"Iya, Ma. Keluarganya punya 2 perusahaan besar, dan Kiara sendiri adalah seorang dokter kandungan." Ucap Denis.
Mama Kasih melongo mendengarnya, tidak menyangka putranya akan mendapatkan istri anak konglomerat. Seketika terlintas di pikirannya untuk menyiapkan seserahan lamaran yang sepadan dengan derajat calon menantunya itu.
"Ma, malam ini aku boleh ya nginap di rumah Ana? Malam ini aja kok, setelah aku nikah waktuku hanya untuk Kiara, akan sulit mencari waktu untuk bisa bermain sama Shanum lagi." Denis memanfaatkan kesempatan ini, dia yakin mamanya pasti mengizinkan karena dia telah membawa kabar bahagia itu untuk mamanya.
Mama Kasih mecebikkan bibirnya, egois juga rasanya kalau dia melarang Denis. "Ya udah, malam ini aja. Terus nanti kalau kamu sampai di sana video call, Mama mau lihat Shanum. Tapi Shanum aja, gak usah sama Ana."
Denis mengacungkan jempolnya. Mama Kasih pun gegas menuju kamar untuk memberitahu suaminya, serta mencatat apa saja yang harus mereka beli untuk seserahan lamaran.
Menjelang magrib, Denis gegas menuju rumah Liana dengan membawa makanan yang dimasak Mama Kasih yang katanya untuk menyambut calon mantunya. Dari pada mubazir, dibagi-bagikan ke pemulung yang sering memungut sampah di sekitar rumahnya dan sisanya dia bawa untuk makan malamnya bersama Liana dan Shanum.
Usai makan malam, Denis mengajak Shanum ke halaman belakang untuk video call dengan Mama Kasih. Sementara Liana membereskan bekas makan mereka.
Kedua mata Liana berkaca-kaca saat melihat sisa-sisa makanan di piring. Akhirnya, setelah sekian lama dia bisa memakan lagi masakan mama Kasih.
"Shanum kangen Nenek. Kapan Shanum bisa ketemu Nenek lagi?" Tanya Shanum, terakhir kali dia ketemu mama Kasih 3 bulan lalu saat Denis membawanya ke sana.
'Shanum bisa tinggal sama Nenek, tapi bilang sama Mama Ana untuk tidak keras kepala lagi. Bilang sama Mama Ana untuk bisa berlapang dada menerima semuanya.' Tapi itu hanya dapat mama Kasih katakan dalam hati. Mana tega dia mencetuskan kalimat itu pada anak sekecil Shanum yang belum mengerti masalah orang dewasa.
"Sekarang Nenek lagi sibuk, kalau Nenek udah gak sibuk lagi kita pergi jalan-jalan ya," ucap mama Kasih akhirnya. Shanum langsung bersorak senang mendengarnya.
Cukup lama berbincang-bincang, Denis pun memutus sambungan video call itu. Kemudian meminta Shanum ke kamar untuk tidur. Gadis kecil itupun patuh, Shanum langsung menuju kamar. Sementara Denis menghampiri Liana yang tengah mencuci piring.
"Ini sudah malam loh, kan bisa dicuci besok pagi." Ucap Denis yang baru saja masuk ke dapur.
"Kalau ada waktu sekarang, kenapa harus menunggu besok?"
Denis tersenyum mendengarnya, "Hari pernikahan Abang nanti, kamu mau datang gak?" Tanyanya sembari menatap lekat Liana dari samping.
"Konyol. Aku tidak sekuat itu, Bang, untuk menyaksikan awal kehancuran ku lagi." Kata Liana.
"Benar kata Mama, kamu memang keras kepala." Denis terkekeh pelan. Liana pun tersenyum tipis menanggapinya.
"Kamu harus percaya sama Abang, ini hanya akan sebentar, Ana." Tegas Denis. "Abang sudah janji pada Shanum untuk mengembalikan kebahagiaannya," suaranya mulai terdengar lirih. Bila menyangkut Shanum, hatinya langsung berdenyut nyeri.
"Aku percaya sama Abang, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, Bang. Bagaimana kalau Abang lengah? Lagi-lagi, aku harus mengalah, bukan? Dan Shanum, dia harus menerima kenyataan bahwa Papanya... ." Liana menjeda kalimatnya dengan menghela nafas berat, untuk meneruskan kalimat itu rasanya dia tidak sanggup.
Denis pun terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi. Namun, dalam hatinya tetap bertekad untuk memenuhi janjinya pada Shanum.
.
.
.
Satu hari sebelum lamaran, Denis menyibukkan dirinya di bengkel karena setelah ini dia akan disibukan dengan keperluan persiapan pernikahan.
Saat tengah mengecek laporan keuangan, tiba-tiba seorang menggebrak mejanya yang membuatnya tersentak kaget.
"Kamu tahu sopan santun, gak sih!" Denis menatap tajam pada Erick yang juga menatapnya dengan tajam.
"Aku hanya meminta Abang menikahi Kia hanya sebagai syarat agar kami bisa rujuk. Ini bukan pernikahan sungguhan Bang, jadi untuk apa acara lamaran itu? Hanya akan membuang-buang waktu saja!" Tukas Erick.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau menjalani pernikahan yang tidak sah. Jadi lamaran itu bisa dibilang juga salah satu syaratnya. Tapi kalau kamu merasa keberatan, silahkan batalkan saja. Tapi jangan libatkan aku lagi untuk kedepannya. Silahkan kamu cari laki-laki lain yang mau menuruti perkataan kamu, tapi jelas kamu harus menerima resikonya untuk menjelaskan pada orang tua Kia kenapa mempelai prianya diganti." Kata Denis sambil tersenyum sinis.
Erick menggeram tertahan dengan kedua tangannya terkepal erat, dia tidak menyangka kalau Denis akan susah diatur seperti ini. "Baiklah, tapi setelah pernikahan itu, aku tidak mau tahu, Abang harus segera menceraikan Kiara!"
"Kamu tunggu saja," ucap Denis santai, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Meladeni Erick hanya akan membuang-buang waktunya saja. Sebelum waktunya tersita untuk mengurus pernikahan, lebih baik dia fokus menyelesaikan pekerjaannya di bengkel.
Erick pun pergi dengan membawa kekesalan yang tidak bisa dia lampiaskan. Menghajar Denis hanya akan menimbulkan masalah dan menghambat semua rencananya. Yang dapat dia lakukan sekarang hanyalah menunggu waktu perceraian Kiara dan Denis tiba.
"Kamu benar-benar tidak punya hati nurani, Rick!" Umpat Denis sambil menatap punggung Erick yang perlahan menjauh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
no comen of OVT, ✌️ ikut alur ceritanya lg nggu surprise plot twist. dari maak author 😘 love se'kebooon ❤️🔥
2024-12-27
1
Lina Suwanti
di masa lalu ada hubungan apa yaa antara Liana n Erick,apakah Shanum anak mereka?
2025-02-23
0
Juleha. Siti
shanum anaknya erik y thor
2024-12-10
0