"Ana, ayolah jangan seperti ini. Shanum aja mau ikut kok," kata Denis. Sekali lagi, dia berusaha membujuk Liana.
Tadi malam, setelah meyakinkan Liana, akhirnya adik sepupunya itu mau ikut bersamanya. Mama Kasih dan papa Bagas juga menyambut kedatangannya dengan penuh haru. Bagaimana tidak, sudah lebih dari satu tahun lamanya mereka tidak bertemu padahal tinggal di kota yang sama. Mereka hanya sesekali bertemu Shanum itupun Denis yang membawanya. Terlalu kecewa dengan keputusan Liana yang tidak mau berpisah dengan Erick yang telah mendua, membuat papa Bagas dan mama Kasih enggan untuk menemuinya lagi.
"Kan aku sudah bilang, Bang. Aku gak mau menyaksikan awal kehancuranku lagi." Ucap Liana sambil merapikan jas pengantin Denis yang terpasang di manekin. Yah, hari ini adalah hari pernikahan Denis kakak sepupunya, bersama Kiara yang akan kembali menjadi madunya jika Denis tak berhasil menahan Kiara untuk terus menjadi istrinya.
"Kita sudah bahas ini tadi malam, Ana. Kenapa sekarang kamu malah berubah pikiran lagi? Ini bukan awal dari kehancuranmu, tapi awal kembalinya kebahagiaan Shanum, kebahagiaan kamu juga tentunya." Tegas Denis.
"Tapi bagaimana dengan Bang Denis sendiri? Kenapa Abang mau mengorbankan masa depan Abang untuk menikahi wanita yang tidak Abang cintai? Kalaupun Mas Erick kembali pada kami, apa aku tetap bisa bahagia? Sementara Bang Denis sendiri berkorban untuk ku dan juga Shanum."
"Kamu salah, Ana. Abang tidak mengorbankan masa depan Abang, tapi justru Abang juga ingin merajut masa depan Abang." Ucap Denis.
"Maksudnya?" Netranya Liana memicing, dia tidak mengerti dengan perkataan Denis.
"Lain kali saja kita bahas masalah ini. Sekarang cepat ganti pakaianmu, sebentar lagi kita akan berangkat ke kediaman Kiara." Denis mendorong pelan bahu Liana menuju ruang ganti.
Liana pun akhirnya menurut. Dia masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan yang telah disiapkan oleh mama Kasih. Tak lama kemudian, dia pun keluar dengan penampilan yang terlihat lebih cantik padahal belum menggunakan riasan wajah.
Beberapa saat kemudian, setelah semuanya siap, mereka semua pun gegas berangkat menuju kediaman orang tua Kiara.
.
.
.
"Kak, jujur saja aku tidak setuju dengan keputusan yang Kakak ambil kali ini," ucap Azka, adiknya Kiara.
Sejak tahu tentang pernikahan muhalil ini dia langsung menentangnya keras, hanya saja tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Kiara karena pekerjaannya di kantor yang begitu padat, belum lagi beberapa hari belakangan kondisi istrinya yang sedang mengalami morning sikcnes membuatnya benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk pergi kemanapun selain ke kantor. Hari ini pun dia terpaksa meninggalkan istrinya di rumah yang keadaannya masih belum stabil, demi untuk melihat pernikahan kakaknya dengan laki-laki yang diketahui bernama Denis selaku sang muhalil.
"Harus berapa kali lagi Erick menjatuhkan talak agar kedua mata Kakak terbuka, bahwa dia bukan laki-laki yang baik untuk Kakak." Azka mulai tersulut emosi, apalagi sejak tadi Kiara hanya diam tanpa merespon ucapannya.
"Kakak yakin, kali ini Mas Erick akan berubah, Azka!" Tegas Kiara dengan penuh keyakinan.
Azka membuang nafas berat lalu keluar dari kamar kakaknya, percuma saja bicara pada orang yang telah buta akan cinta. Yang salah pun akan terlihat benar dimatanya.
Sementara itu di pelataran, papa Rangga dan mama Flora tak melepaskan senyum diwajahnya menyambut kedatangan Denis dan keluarganya.
Begitu Denis keluar dari mobil, papa Rangga langsung memeluknya sambil menepuk pelan pundak calon menantunya tersebut. Kemudian menghampiri papa Bagas dan saling berjabat tangan, pun dengan mama Flora yang menghampiri mama Kasih.
Tatapan mama Flora lalu berpindah pada seorang wanita yang baru saja keluar dari mobil bersama anak kecil yang begitu cantik dan menggemaskan. Sorot matanya berubah sendu, menyiratkan rasa iba di dalam sana. Tapi, sesaat kemudian mama Flora kembali tersenyum menyambut wanita yang dia ketahui bernama Liana, adik sepupunya Denis.
"Kamu cantik sekali," puji mama Flora.
"Terima kasih, Tante," Liana tersenyum, "Tante juga cantik," balasannya. Dan itu memang benar, wanita paruh di depan itu masih terlihat cantik meski usianya tak lagi muda.
Mama Flora pun tersenyum, dia lalu berpindah menatap gadis kecil di samping Liana. "Ini pasti Shanum ya? Sama cantiknya seperti Mamanya,"
Shanum mendongak menatap mamanya, seakan meminta pendapat harus mengatakan apa. Melihat itu, mama Flora lantas merendahkan tubuhnya sejajar dengan Shanum.
"Sebentar lagi kan, Om Denis nya Shanum akan jadi menantu saya, menantu sama halnya seperti anak saya. Jadi Shanum harus panggil saya dengan sebutan Nenek ya?" kata mama Flora lalu beralih menunjuk kearah suaminya, "Dan itu Kakek."
Shanum terdiam beberapa saat, dia menatap mama Flora dan papa Rangga bergantian, kemudian akhirnya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Semua orang yang ada di sana ikut tersenyum menyaksikan momen itu. Terkecuali Liana yang justru menatap Denis dengan lekat bak meminta penjelasan. Denis hanya mengangguk pelan sebagai isyarat, bahwa dia akan menjelaskannya nanti.
Begitu mempelai pria memasuki ruangan yang menjadi aula pernikahan sekaligus tempat yang akan diadakan ijab kabul sebentar lagi, semua mata para tamu undangan langsung tertuju pada sosok bak pangeran yang terlihat begitu gagahnya. Diantaranya para tamu yang juga dulu menghadiri pernikahan Erick dan Kiara mulai membanding-bandingkan kedua laki-laki itu.
"Karena calon mempelai laki-laki sudah datang, sekarang tolong panggilkan calon mempelai wanitanya." Ucap penghulu, setelah itu dia masih harus menikahkan calon pengantin lainnya.
Mama Flora dan mama Kasih pun beranjak meninggalkan aula pernikahan menuju kamar pengantin untuk memanggil Kiara. Mama Kasih tak dapat menahan untuk tidak berdecak kagum begitu melihat penampilan Kiara yang sangat terlihat cantik. Beruntung sekali putranya bisa mendapatkan wanita seperti Kiara.
Untuk mempersingkat waktu, kedua wanita paruh baya itu lantas segera membawa Kiara menuju aula pernikahan. Sepanjang langkah, mama Kasih tak hentinya melirik Kiara sambil tersenyum, tak sabar rasanya untuk segera memboyong calon menantu itu ke rumahnya.
Jantung Denis seketika berdebar begitu Kiara telah duduk di sampingnya, debaran yang sama ketika pertama kali bertemu Kiara.
Pernikahan Kiara kali ini, papa Rangga sendiri yang akan menikahkan putri sulungnya tersebut. Berbeda ketika dengan Erick, penghulu lah yang mengucapkan kalimat ijabnya.
"Silahkan, Pak Rangga," ucap penghulu, mempersilahkan papa Rangga untuk segera memulai ijab kabul.
Papa Rangga mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya pada Denis.
Denis tampak menarik nafas dalam-dalam, lalu membalas jabat tangan papa Rangga seraya menghembuskan nafasnya perlahan.
"Denis Prasetyo, bin Bagas Prasetyo. Saya nikahkan dan kawinan engkau kepada putri saya yang bernama Kiara Atmajaya binti Rangga Atmajaya, dengan mas kawin seperangkat Emas dan Uang senilai 100 juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya, Kiara Atmajaya binti Rangga Atmajaya dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Bagaimana para saksi?"
Sah!
Sah!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
Masya Allah tabarakaAllah, 🙏 Alhamdulillah wasyukurillah 🤲 akhirnya sekian purnama merindu sah juga, 😁 ikut deg' degan baca izab qobul' nya bng Denis 🤭
2024-12-27
1
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
yuk bisa yuuk.... 💪 bng Denis memperjuangkan cinta sejati untuk masa depan, smga slalu Istiqomah di jln Allah SWT. 🤲 hppy wedding 💒 Samawa bahagia slalu, 🙏❤️🔥
2024-12-27
1
Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲
perlahan tapi pasti semua tabir kepalsuan akan terungkap di balik tinta hitam, next kak slm support sehat slalu. 🤲❤️🔥
2024-12-27
1