BAB 13. BUKAN MONTIR

"Daahhh Shanum, hati-hati dijalan semuanya."

Setelah makan malam bersama, keluarga Denis pun berpamitan pulang. Lambaian tangan serta senyum penuh kebahagiaan mengiring laju mobil tersebut hingga hilang dari pandangan.

"Sana, kalian istirahat. Mama sama Papa juga mau istirahat," ucap Papa Rangga, lalu merangkul pinggang istrinya masuk ke dalam rumah.

Denis menatap kepergian kedua mertuanya, tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri. Meski sudah tua, tapi mereka berdua tetap bersikap romantis. Entah kapan dia bisa melakukan hal yang sama pada Kiara, merangkul mesra pinggang sang istri atau mungkin menggendongnya ala bridal style menuju kamar.

Untuk saat ini dia masih harus bersabar sampai nanti membongkar semuanya di hadapan Kiara. Kapan? Tentu saja setelah mengetahui apa sebenarnya motif Erick dan orangtuanya. Memanipulasi indentitas demi menikahi Kiara, tapi kenapa Erick sampai menjatuhkan talak hingga berkali-kali lalu kembali masih berkeinginan untuk rujuk. Itu aneh, bukan? Apa masih ada laki-laki yang lebih gila dari Erick dimuka bumi ini?

Melihat Denis yang awalnya senyum-senyum, kemudian seketika saja raut wajahnya berubah murung. Kiara geleng-geleng kepala lalu masuk ke dalam rumah tanpa mengabaikan suaminya. Sepertinya Denis sudah tidak waras, pikirnya.

Denis pun gegas masuk ke dalam rumah menyusul Kiara, dia berjalan di belakang istrinya itu sampai ke dalam kamar.

"Selamat malam. Selamat tidur dan semoga mimpi indah," ucap Denis sambil berjalan menuju tempat tidur. Berbaring dengan santainya lalu memejamkan mata. Setelah beberapa hari disibukkan dengan segala persiapan pernikahan, malam in dia ingin tidur dengan tenang tanpa ada gangguan, bahkan sebenarnya sejak tadi dia sudah menahan kantuk.

"Kamu sudah mau tidur?" Tanya Kiara yang berdiri di samping ranjang.

Denis yang baru saja memejamkan mata, kembali membuka matanya dan menatap Kiara, "Iya, kenapa? Gak ada larangan kan buat pengantin baru untuk tidur cepat?" Dia masih sempat-sempatnya bercanda sambil melirik jam dinding yang baru menunjukkan hampir pukul delapan malam. Masih terlalu awal sebenarnya untuk tidur, tapi mau bagaimana lagi. Dia benar-benar sudah sangat mengantuk dan juga lelah.

Kiara hanya diam sambil menghela nafas panjang beberapa kali. Sepeti sedang ingin mengatakan sesuatu namun, terlihat bingung untuk menyampaikan.

"Kenapa? Apa aku gak boleh tidur di sini?" Denis menyimpulkan demikian karena melihat Kiara yang sepertinya enggan untuk naik ke tempat tidur. Mungkin Kiara akan merasa tidak nyaman tidur seranjang dengannya. "Oke, biar aku tidur di sofa aja," Denis pun turun dari tempat tidur, berjalan menuju sofa sambil mengusap-usap wajah. Merebahkan tubuhnya di sofa panjang itu dengan gaya pasrah karena benar-benar mengantuk.

Tadinya Kiara ingin mencegah, namun tangannya yang hendak meraih Denis hanya menggantung di udara tanpa berani menyentuh suaminya itu. Hingga akhirnya, dia pun naik ke tempat tidur, berbaring miring membelakangi posisi sofa.

'Bukankah tadi Mas Erick sudah memperingatinya untuk melakukannya malam ini juga agar kita bisa segera bercerai, tapi kenapa sekarang dia malah tidur. Jangan bilang dia sengaja mengulur waktu.' Gerutu Kiara dalam hati.

Cukup lama Kiara berbaring dengan posisi miring, merasa penasaran dengan Denis apakah sudah benar-benar tidur, dia pun menoleh untuk melihatnya. Dan ternyata, Denis memang sudah tidur.

Ting... Terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel Kiara. Dia pun meriah ponselnya yang ada di nakas samping tempat tidur. Ternyata pesan dari Erick.

[Kia,] isi pesan Erick. Dia ingin mengetes apakah Kiara sudah tidur atau belum.

"Ada apa, Mas?" Tanya Kiara membalas pesan Erick.

[Kamu belum tidur?]

"Ini baru mau tidur, Mas."

[Bang Denis, apa sudah tidur?]

"Sudah,"

Terlihat Erick sedang mengetik, namun berhenti untuk beberapa saat. Cukup lama Kiara menunggu balasan hingga akhirnya balasan dari Erick masuk kembali.

[Apa kalian sudah melakukannya?] Tanya Erick akhirnya. Beberapa kali dia mengetik kalimat yang ambigu lalu menghapusnya kembali, sampai menemukan kalimat yang pas untuk bertanya.

Kiara pun tak langsung mengetik balasan, dia menarik nafas panjang sambil berpikir untuk menjawab apa. Hingga akhirnya dia menuliskan, "Maaf, Mas. Aku sedang datang bulan." Terpaksa dia berbohong. Setelah berpikir keras, jujur dia sebenarnya juga belum siap untuk menyerahkan tubuhnya pada Denis.

[Baiklah, Kia. Selamat malam,] Erick mengetik pesan balasan itu dengan ekspresi wajah yang muram. Harus berapa lama lagi dia harus menunggu. Jujur, dia sudah sangat lelah dengan keadaan ini.

"Selamat malam juga, Mas." Setelah membalas, Kiara pun menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Untuk beberapa saat dia menoleh menatap Denis yang benar-benar telah terbuai ke alam mimpi, sebelum akhirnya dia pun kembali berbaring miring seperti posisi sebelumnya. Sama sekali tidak ada rasa kasihan melihat Denis yang tidur di sofa, tanpa bantal dan selimut. Lagipula, dia tidak menyuruh suaminya itu untuk tidur di sofa.

.

.

.

"Selamat pagi, wah pengantin baru seger banget nih kelihatannya." Ucap mama Flora begitu Denis dan Kiara datang ke ruang makan.

"Selamat pagi, Mama dan Papa juga kelihatannya seger banget pagi ini." Balas Denis, sementara Kiara hanya menanggapi sapaan mamanya dengan senyuman tipis lalu duduk.

"Suaminya belum duduk, tapi dia udah nyelonong aja duduk duluan. Gak sopan," gumam papa Rangga yang masih dapat didengar oleh Kiara maupun Denis. Tapi Kiara sama sekali tidak peduli. Bukan bermaksud untuk kurang ajar, dia hanya ingin menegaskan pada Denis bahwa posisinya hanyalah suami muhalil. Tak mau membuat pria itu bertingkah jika harus melayaninya seperti dia yang dulu selalu melayani Erick.

"Gini nih yang namanya istri, melayani suaminya dengan baik." Ucap papa Rangga sambil tersenyum pada istrinya yang tengah menghidangkan makanan ke dalam piringnya.

Kiara tampak mecebikkan bibir, dia tahu papanya sedang menyindir. Setelah ini dia harus bicara empat mata dengan papanya untuk memperingati lagi jika pernikahannya dengan Denis hanya untuk sementara.

Selesai sarapan, papa Rangga mengajak Denis ke ruang keluarga untuk bersantai. Kiara ingin menyusul namun, mama Flora lebih dulu memanggilnya.

"Yuk, bantuin Mama buat cemilan." Ajak mama Flora.

Sesaat Kiara menjadi bingung, dia harus bicara dengan papanya tapi tidak mungkin juga menolak ajakan mamanya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk membantu membuat cemilan terlebih dahulu baru setelah itu akan bicara pada sang papa.

"Kamu sudah berapa lama kerja di bengkel?" Tanya papa Rangga setelah beberapa saat dia dan Denis duduk santai di ruang keluarga.

Denis mengulum senyum, ada yang keliru dengan pertanyaan papa Rangga, "Bangkel itu sudah berdiri sebelum kedua orangtuaku menikah. Dan seiring berjalannya waktu, bengkel Papa semakin berkembang. Setelah lulus SMA, aku gak lanjut kuliah dan lebih memilih menggantikan Papa mengelola bengkel. Dan Alhamdulillah, dari penghasilan bengkel itu kami bisa membangun 2 showroom Mobil di kota yang berbeda." Ungkap Denis.

Papa Rangga tercengang mendengarnya, dia menatap Denis sampai tak berkedip, "Bukankah kamu montir yang membantu memperbaiki mobil Kiara saat itu?"

Denis kembali tersenyum, "Waktu itu, kebetulan aku berangkat pagi-pagi sekali ke bengkel untuk membawa perkakas baru karena perkakas lama sudah banyak yang tidak berfungsi dengan baik. Aku juga memang lebih suka menghabiskan waktu di bengkel yang penuh dengan kenangan itu daripada datang ke showroom yang... ." Denis menjeda kalimatnya sambil mengulum senyum.

"Yang apa?" Tanya papa Rangga penasaran.

"Yang sales nya genit genit," kekeh Denis. Itulah kenapa dia malas sekali datang ke showroom jika tidak ada kepentingan. Dia sudah pernah memperingati asistennya untuk menegur para sales itu, tapi dibantah dengan alasan begitulah teknik untuk menarik pembeli. Bahkan rata-rata sales yang bekerja di showroom nya kebanyakan wanita. Ya sudahlah, daripada showroom nya sepi, kan.

Papa Rangga langsung mengedarkan pandangan saat Denis berkata genit genit, khawatir istrinya tiba-tiba muncul dan akan terjadi kesalahpahaman. Setelah memastikan tak ada jejak istrinya di ruangan itu, dia pun kembali menatap Denis dengan serius.

"Papa pikir, kamu itu benar-benar montir loh?

Denis terkekeh, "Kalau aku hanya seorang montir. Mana sanggup orangtuaku membawa parcel lamaran yang membuat aku harus datang naik motor karena mobilnya gak muat, dan mana bisa juga aku ngasih mahar yang tinggi untuk Kiara."

Papa Rangga mengangguk membenarkan. Dia sempat ingin bertanya mengenai itu. Heran saja rasanya jika hanya seorang montir tapi bisa memberikan mahar sebanyak itu, tapi dia menahan keinginan untuk bertanya demi menjaga perasaan Denis dan besannya. Dan ternyata, keluarga Denis juga berasal dari kasta yang berada. Denis, bukan montir seperti yang dikiranya.

"Em, kalau gitu. Kapan-kapan, ajak Papa ke showroom kamu, mau lihat-lihat koleksi mobil yang bagus."

"Mau lihat koleksi mobil, apa lihat yang genit genit?"

"Yang bagus-bagus lah pokoknya!"

Kedua laki-laki berbeda generasi itu tertawa bersama karena obrolan mereka.

Terpopuler

Comments

Dewa Rana

Dewa Rana

ada, author yg bikin cerita ini 😄

2024-12-16

1

Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲

Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲

ada udang 🍤 di balik rempeyek 😁🤣

2024-12-27

1

Athallah Linggar

Athallah Linggar

anakmu dokter tp begonya mnt ampun pp rangga🤦🤦😡😡

2024-09-30

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. MENYESAL
2 BAB 2. 5 SYARAT
3 BAB 3. JANJI
4 BAB 4. SECEPATNYA
5 BAB 5. TIDAK PUNYA HATI NURANI
6 BAB 6. BARU AWAL.
7 BAB 7. TAK SEKUAT YANG TERLIHAT
8 BAB 8. TUHAN SEAKAN MENDUKUNG
9 BAB 9. TIDAK BISA MENUNGGU TERLALU LAMA
10 BAB 10. PERNIKAHAN
11 BAB 11. LAKUKAN MALAM INI JUGA!
12 BAB 12. DIA JUGA KORBAN
13 BAB 13. BUKAN MONTIR
14 BAB 14. SENTUH AKU
15 BAB 15. APA SEBENARNYA TUJUANMU?
16 BAB 16. BIBITKU ATAU PIL MU
17 BAB 17. MERENCANAKAN SESUATU
18 BAB 18. NAMA DAN MAKANAN KESUKAANNYA SAMA
19 BAB 19. TIDAK BISA MENYELESAIKAN MISI
20 BAB 20. AKU MEMANG SENGAJA
21 BAB 21. SIAPA YANG MELAKUKANNYA?
22 BAB 22. PURA-PURA AMNESIA
23 BAB 23 SEPERTI ADA YANG HILANG
24 UCAPAN TERIMA KASIH
25 BAB 24. ANCAMAN
26 BAB 25. JANGAN GALAK-GALAK SAMA SUAMI
27 BAB 26. JANGAN SEKARANG
28 BAB 27. HANYA KAMU YANG BISA
29 BAB 28. KALIAN SALING MENGENAL?
30 BAB 29. AKAN ADA BANYAK AIR MATA
31 BAB 30. INGIN KAMU MENGAKUI SATU HAL
32 BAB 31. SUARA ITU...
33 BAB 32. SIAPA YANG TAHU KAMU JUSTRU TERSESAT
34 BAB 33. RAGAKU BERSAMANYA TAPI HATI DAN PIKIRANKU TERTUJU PADAMU
35 BAB 34. APA KAMU MASIH MAU MENUNGGU AKU?
36 BAB 35. KAMU SALAH PAHAM DENGANKU
37 BAB 36. EFEK HUJAN-HUJANAN
38 BAB 37. SUDAH SEHARUSNYA MENDAPATKAN GANJARANNYA
39 BAB 38. DUA GARIS
40 BAB 39. TIDAK ADA ALASAN UNTUK MEMPERTAHANKAN
41 BAB 40. SIAPA KAMU SEBENARNYA?
42 BAB 41. SI LAKI-LAKI SUBUH
43 BAGI-BAGI POIN
44 BAB 42. SUSTER MARIA BILANG KALAU KAMU... .
45 BAB 43. BUKAN MUHALIL
46 BAB 44. APA KAMU BENAR-BENAR TULUS MENCINTAI AKU?
47 BAB 45. AKAN MEMBERITAHUNYA
48 BAB 46. DATANG SENDIRIAN SAJA
49 BAB 47. CERAIKAN DIA
50 BAB 48. SALAH KAMU SENDIRI
51 BAB 49. MENUJU RUMAH SAKIT
52 BAB 50. AKAN MENJADI AYAH
53 BAB 51. AKU ATAU KAMU?
54 BAB 52. HANYA ADA SATU CARA UNTUK MEMBUKTIKAN
55 BAB 53. BELAJAR DARI AIR LAUT
56 BAB 54. OBAT PEREDA MUAL YANG SANGAT AMPUH
57 BAB 55. BIAR GAK KANGEN SEPERTI SHANUM
58 BAB 56. MERASA JAHAT
59 BAB 57. TIDAK BERMAKSUD MERAGUKAN
60 BAB 58. PENGEN JENGUK SI DEDEK
61 BAB 59. TIBA-TIBA MANJA
62 BAB 60. GARA-GARA BANG DENIS
63 BAB 61. KITA AKAN MENGHADAPI INI BERSAMA-SAMA
64 BAB 62. MERINDUKANMU
65 BAB 63. HANTU LUAR NEGERI
66 BAB 64. SEKALIAN BAKAR LEMAK
67 BAB 65. MASIH AKAN BERLANJUT
68 BAB 66. TERBAKAR DI DALAM MOBIL
69 BAB 67. HAK PATEN
70 BAB 68. CINTA BUKAN SEKEDAR UNGKAPAN
71 BAB 69. ANA
72 BAB 70. SAUDARI KEMBAR?
73 BAB 71. BERUSAHA MENGIKHLASKAN
74 BAB 72. DENDAM
75 BAB 73. JUGA MEMILIKI HATI NURANI
76 BAB 74. DIMANA TEMPAT TINGGALNYA?
77 BAB 75. MENYUSUL KE BANDUNG
78 BAB 76. SEKALIAN HONEYMOON
79 BAB 77. MAMA KANGEN, NAK
80 BAB 78. MENGEJAR
81 BAB 79. KRITIS
82 BAB 80. BAGAIMANA AKU BISA HIDUP SEPERTI INI?
83 BAB 81. SEUMUR HIDUP TIDAK AKAN BISA MENGHILANGKAN RASA BERSALAH DAN SESAL
84 BAB 82. ANAK KITA SUDAH KEMBALI
85 BAB B3. DAPAT CUCU LAGI
86 BAB 84. DATANG TERLAMBAT
87 BAB 85. DUA ANAK CUKUP!
88 karya baru ~ RAHASIA HATI 2
89 KARYA BARU (Menanti Bahagia Yang Hilang)
90 Janji CINTA
Episodes

Updated 90 Episodes

1
BAB 1. MENYESAL
2
BAB 2. 5 SYARAT
3
BAB 3. JANJI
4
BAB 4. SECEPATNYA
5
BAB 5. TIDAK PUNYA HATI NURANI
6
BAB 6. BARU AWAL.
7
BAB 7. TAK SEKUAT YANG TERLIHAT
8
BAB 8. TUHAN SEAKAN MENDUKUNG
9
BAB 9. TIDAK BISA MENUNGGU TERLALU LAMA
10
BAB 10. PERNIKAHAN
11
BAB 11. LAKUKAN MALAM INI JUGA!
12
BAB 12. DIA JUGA KORBAN
13
BAB 13. BUKAN MONTIR
14
BAB 14. SENTUH AKU
15
BAB 15. APA SEBENARNYA TUJUANMU?
16
BAB 16. BIBITKU ATAU PIL MU
17
BAB 17. MERENCANAKAN SESUATU
18
BAB 18. NAMA DAN MAKANAN KESUKAANNYA SAMA
19
BAB 19. TIDAK BISA MENYELESAIKAN MISI
20
BAB 20. AKU MEMANG SENGAJA
21
BAB 21. SIAPA YANG MELAKUKANNYA?
22
BAB 22. PURA-PURA AMNESIA
23
BAB 23 SEPERTI ADA YANG HILANG
24
UCAPAN TERIMA KASIH
25
BAB 24. ANCAMAN
26
BAB 25. JANGAN GALAK-GALAK SAMA SUAMI
27
BAB 26. JANGAN SEKARANG
28
BAB 27. HANYA KAMU YANG BISA
29
BAB 28. KALIAN SALING MENGENAL?
30
BAB 29. AKAN ADA BANYAK AIR MATA
31
BAB 30. INGIN KAMU MENGAKUI SATU HAL
32
BAB 31. SUARA ITU...
33
BAB 32. SIAPA YANG TAHU KAMU JUSTRU TERSESAT
34
BAB 33. RAGAKU BERSAMANYA TAPI HATI DAN PIKIRANKU TERTUJU PADAMU
35
BAB 34. APA KAMU MASIH MAU MENUNGGU AKU?
36
BAB 35. KAMU SALAH PAHAM DENGANKU
37
BAB 36. EFEK HUJAN-HUJANAN
38
BAB 37. SUDAH SEHARUSNYA MENDAPATKAN GANJARANNYA
39
BAB 38. DUA GARIS
40
BAB 39. TIDAK ADA ALASAN UNTUK MEMPERTAHANKAN
41
BAB 40. SIAPA KAMU SEBENARNYA?
42
BAB 41. SI LAKI-LAKI SUBUH
43
BAGI-BAGI POIN
44
BAB 42. SUSTER MARIA BILANG KALAU KAMU... .
45
BAB 43. BUKAN MUHALIL
46
BAB 44. APA KAMU BENAR-BENAR TULUS MENCINTAI AKU?
47
BAB 45. AKAN MEMBERITAHUNYA
48
BAB 46. DATANG SENDIRIAN SAJA
49
BAB 47. CERAIKAN DIA
50
BAB 48. SALAH KAMU SENDIRI
51
BAB 49. MENUJU RUMAH SAKIT
52
BAB 50. AKAN MENJADI AYAH
53
BAB 51. AKU ATAU KAMU?
54
BAB 52. HANYA ADA SATU CARA UNTUK MEMBUKTIKAN
55
BAB 53. BELAJAR DARI AIR LAUT
56
BAB 54. OBAT PEREDA MUAL YANG SANGAT AMPUH
57
BAB 55. BIAR GAK KANGEN SEPERTI SHANUM
58
BAB 56. MERASA JAHAT
59
BAB 57. TIDAK BERMAKSUD MERAGUKAN
60
BAB 58. PENGEN JENGUK SI DEDEK
61
BAB 59. TIBA-TIBA MANJA
62
BAB 60. GARA-GARA BANG DENIS
63
BAB 61. KITA AKAN MENGHADAPI INI BERSAMA-SAMA
64
BAB 62. MERINDUKANMU
65
BAB 63. HANTU LUAR NEGERI
66
BAB 64. SEKALIAN BAKAR LEMAK
67
BAB 65. MASIH AKAN BERLANJUT
68
BAB 66. TERBAKAR DI DALAM MOBIL
69
BAB 67. HAK PATEN
70
BAB 68. CINTA BUKAN SEKEDAR UNGKAPAN
71
BAB 69. ANA
72
BAB 70. SAUDARI KEMBAR?
73
BAB 71. BERUSAHA MENGIKHLASKAN
74
BAB 72. DENDAM
75
BAB 73. JUGA MEMILIKI HATI NURANI
76
BAB 74. DIMANA TEMPAT TINGGALNYA?
77
BAB 75. MENYUSUL KE BANDUNG
78
BAB 76. SEKALIAN HONEYMOON
79
BAB 77. MAMA KANGEN, NAK
80
BAB 78. MENGEJAR
81
BAB 79. KRITIS
82
BAB 80. BAGAIMANA AKU BISA HIDUP SEPERTI INI?
83
BAB 81. SEUMUR HIDUP TIDAK AKAN BISA MENGHILANGKAN RASA BERSALAH DAN SESAL
84
BAB 82. ANAK KITA SUDAH KEMBALI
85
BAB B3. DAPAT CUCU LAGI
86
BAB 84. DATANG TERLAMBAT
87
BAB 85. DUA ANAK CUKUP!
88
karya baru ~ RAHASIA HATI 2
89
KARYA BARU (Menanti Bahagia Yang Hilang)
90
Janji CINTA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!