"Ma, Shanum mau pipis,"
Liana pun meraih segelas air putih dan meminumnya, kemudian mengusap sudut bibirnya dengan tisu. "Kia, sebentar ya, aku antar Shanum dulu ke toilet." Pamitnya.
Kiara hanya mengangguk karena mulutnya penuh makanan, saat tadi memilih menu akhirnya dia memutuskan untuk mengambil menu yang sama seperti Shanum. Cumi balado, begitupun dengan Liana. Tanpa saling tahu, ketika wanita itu memakan cumi balado tersebut sambil mengingat satu laki-laki yang sama.
Melihat raut wajah putrinya yang nampak tidak bisa menahan, Liana pun menggendong putrinya itu dan berjalan cepat menuju toilet terdekat. Saking buru-burunya, dia sampai menabrak seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.
"Maaf, saya gak se... ." Ucapan Liana terjeda begitu melihat siapa yang ditabraknya. "Mas Erick?"
"Papa kerja di sini ya?" Tanya Shanum. Pertanyaan itu terlintas begitu saja dipikirannya, karena selalu mengingat perkataan papanya yang mengatakan sedang bekerja mengumpulkan uang yang banyak, untuk membawanya bersama mamanya jalan-jalan ke Italia.
Saat Erick membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Shanum, Liana sudah lebih dulu memotongnya. "Shanum kan mau pipis, ayo buruan ke toilet." Liana gegas berbalik pergi setelah mengatakan itu.
Erick pun mengikuti. Dia telah berada di mall itu sejak satu jam yang lalu, mengawasi ketiga wanitanya itu dari kejauhan. Dia langsung datang begitu Kiara mengatakan sedang berada di mall, dan yang tidak dia sangka ternyata Kiara sedang bersama Liana dan Shanum.
"Shanum buruan masuk, Mama tunggu di sini." Kata Liana begitu mereka sampai di depan toilet wanita.
Shanum yang memang sedang kebelet, mengangguk lalu gegas masuk.
Liana yang tak melepas tatapannya dari pintu, dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya. Kedua matanya terbelalak begitu menoleh, ternyata Erick yang menepuk pundaknya.
"Mas, ini toilet wanita. Bagaimana kalau ada yang melihatnya?" Kata Liana sambil memperhatikan keadaan sekitar.
"Apa yang kamu lakukan di sini bersama Kia?" Erick bertanya sambil menatap Liana dengan lekat, mengabaikan kekhawatiran istrinya itu jika ada yang melihat mereka berdua di area toilet wanita. Tapi dia sudah memastikan tidak ada siapa-siapa saat dia masuk.
"Kia berjanji akan membawa Shanum membeli peralatan sekolah, dan hari ini dia menepatinya." Jawab Liana.
"Benar begitu? Bukan karena ada tujuan lain?" Kali ini, tatapan Erick menyelidik.
"Kalau aku mau, sudah sejak dulu aku membongkarnya, Mas." Merasa dituduh, Liana menjadi emosi. Jika bukan karena Denis yang memintanya, dia juga tidak akan berada di sini bersama Kiara.
"Tapi itu tidak aku lakukan karena aku... ." Ucapannya menggantung, rasanya percuma jika saat ini mengatakan hal yang sama berulang kali. Dia menutupi semuanya karena cintanya pada sang suami, tapi itu tidak akan berpengaruh apa-apa meskipun sekarang dia mengatakannya dengan berteriak. Semua tetap akan berjalan sesuai skenario yang sudah diatur mertuanya, bahkan suaminya pun tidak bisa melenceng dari perannya.
"Maaf, Ana." Erick menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah menuduh istrinya. Seharusnya dia percaya Liana tidak akan pernah merusak kepercayaannya. Terbukti selama ini, Liana tetap bertahan meski tersakiti berulang kali. Bahkan istrinya itu rela diabaikan oleh kedua orangtua Denis saat itu, karena lebih memilih bertahan daripada meninggalkannya yang sudah dianggap pengkhianat oleh Denis, papa Bagas dan mama Kasih.
"Kalau kalian sudah selesai berbelanja, segera bawa Shanum pulang." Erick meminta itu demi menjaga perasaan istrinya. Dia tahu, saat ini Liana pasti merasa sakit harus berdekatan dengan wanita yang juga pernah menjadi istrinya, bahkan akan kembali menjadi istrinya setelah Denis menjatuhkan talak.
Liana diam dalam kebimbangan. Bagaimana dia akan pulang sementara sedang menjalankan tugas dari Denis, "Kami akan pulang, kalau Shanum sendiri yang sudah meminta pulang." Ujarnya. Dapat dia lihat, meski awalnya Shanum tampak ogah-ogahan tapi begitu sampai di pusat perbelanjaan, putrinya itu terlihat senang sekali bahkan begitu akrabnya dengan Kiara.
"Ana, tolong dengarkan aku. Bawa Shanum pulang," pinta Erick sekali lagi.
"Mas, sudah aku bilang. Kami akan pulang kalau Shanum yang meminta pulang." Liana pun tetap kekeuh dengan keputusannya, dia tidak mau membuat Denis kecewa.
"Ana, please!" Erick menekankan. Tapi, Liana tetap menggeleng.
"Papa," seru Shanum yang baru saja keluar. Kedua mata gadis kecil itu berbinar menatap papanya. Dia berlari menghampiri sang papa dan memeluknya erat.
"Akh, Shanum." Erick tiba-tiba meringis begitu kepala Shanum menekan perutnya. Bahkan dia sampai refleks menjauhkan putrinya.
Liana terkejut, dia langsung memeluk putrinya yang kini tampak berkaca-kaca atas sikap Erick barusan. Namun, bukan itu yang membuat Liana merasa terkejut, tapi karena Erick yang tiba-tiba meringis kesakitan.
"Mas, ada apa?" Tanya Liana cemas.
Erick menggeleng, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. "Aku gak apa-apa," ujarnya lalu merendahkan tubuhnya sejajar dengan Shanum.
"Shanum sama Mama pulang ya sekarang, kita ketemu di rumah." Ucap Erick sambil mengusap-usap pucuk kepala putrinya, dia merasa bersalah melihat kedua mata putrinya yang nampak berkaca-kaca atas sikapnya tadi. Tapi mau bagaimana lagi, tadi itu gerakan refleksnya yang tidak dapat dia cegah.
"Papa mau pulang ya?" Tanya Shanum terdengar lirih.
Erick mengangguk, "Iya sayang, hari ini Papa akan pulang." Ujarnya.
Shanum tersenyum kembali. Untuk saat ini, tidak ada hal yang paling menyenangkan selain menunggu kepulangan papanya. "Iya, Pa, Shanum pulang sekarang sama Mama. Tapi Papa janji ya beneran pulang."
"Iya sayang, Papa janji."
Shanum bersorak senang, "Ayo Ma, sekarang kita pamitan dulu sama Tante Kia," ajaknya antusias.
Shanum menarik-narik tangan mamanya, yang akhirnya Liana pun menuruti. Mana mungkin dia tega menyurutkan senyum putrinya dengan menolak untuk pulang. 'Bang Denis, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelesaikan misi ini.' Gumamnya dalam hati.
"Tante Kia, Shanum sama Mama mau pamitan pulang." Kata Shanum begitu dia dan mamanya kembali menghampiri Kiara.
"Loh, kok pulang? Shanum gak mau jalan-jalan dulu, gitu? Ada Taman bermain yang bagus loh dekat sini," kata Kiara.
"Lain kali aja deh, Tante. Tadi Shanum ketemu Papa, katanya Papa mau pulang. Jadi sekarang, Shanum sama Mama juga mau pulang." Shanum tersenyum saat mengatakan itu, tak sabar rasanya segera sampai rumah bertemu papanya.
Kiara langsung menatap Liana. Mengerti arti tatapan Kiara, Liana pun membenarkan dengan mengangguk.
"Baiklah, ayo Kita pulang." Ucap Kiara. Dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, mengambil uang sejumlah bon makanan mereka bertiga lalu meletakkan di atas meja.
"Kia, biar kami pulang naik Taksi saja." Kata Liana.
"Tapi kan, motor Kamu ada di Rumahku."
"Gak apa-apa, biar dipakai Bang Denis saja."
Kiara terdiam sejenak, ada rasa ingin tahu dimana rumah Liana. "Kalau begitu, biar aku yang mengantarkan kalian pulang, daripada naik Taksi." Tawarnya.
"Gak usah, Kia. Kami sudah sangat merepotkan kamu," ucap Liana sambil menunjuk onggokan barang belanjaan mereka. "Biar kami pulang naik Taksi saja."
"Baiklah," ucap Kiara pasrah. Tidak mungkin juga dia memaksa untuk mengantarkan pulang.
Erick yang memperhatikan dari kejauhan, langsung menghampiri Kiara begitu Liana dan Shanum pergi. "Kia,"
"Mas Erick, kok bisa ada di sini?" Tanya Kiara heran.
"Kamu lupa? Tadi di telpon kamu bilang lagi di Mall, ya aku susulin ke sini." Ujar Erick.
Kiara tersenyum. Baper rasanya, Erick sampai menyusulnya ke mall.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Muliana Devi
kyk.nya erick lagi sakit deh..
2025-03-25
0
Royani Arofat
cinta tp menyakiti.apa yg bikin erick g berdaya menolak pengaturan papanya.padahal sdh punya anak istri lho....trus lambene erim kok lemes banget ngerayu kia.dan geregetan kpd kia yg g tau apa2
2024-10-11
0
Sugiharti Rusli
ada apa sebenarnya sama si Erick🙄🙄🙄
2024-07-11
1