BAB 19. TIDAK BISA MENYELESAIKAN MISI

"Ma, Shanum mau pipis,"

Liana pun meraih segelas air putih dan meminumnya, kemudian mengusap sudut bibirnya dengan tisu. "Kia, sebentar ya, aku antar Shanum dulu ke toilet." Pamitnya.

Kiara hanya mengangguk karena mulutnya penuh makanan, saat tadi memilih menu akhirnya dia memutuskan untuk mengambil menu yang sama seperti Shanum. Cumi balado, begitupun dengan Liana. Tanpa saling tahu, ketika wanita itu memakan cumi balado tersebut sambil mengingat satu laki-laki yang sama.

Melihat raut wajah putrinya yang nampak tidak bisa menahan, Liana pun menggendong putrinya itu dan berjalan cepat menuju toilet terdekat. Saking buru-burunya, dia sampai menabrak seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.

"Maaf, saya gak se... ." Ucapan Liana terjeda begitu melihat siapa yang ditabraknya. "Mas Erick?"

"Papa kerja di sini ya?" Tanya Shanum. Pertanyaan itu terlintas begitu saja dipikirannya, karena selalu mengingat perkataan papanya yang mengatakan sedang bekerja mengumpulkan uang yang banyak, untuk membawanya bersama mamanya jalan-jalan ke Italia.

Saat Erick membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Shanum, Liana sudah lebih dulu memotongnya. "Shanum kan mau pipis, ayo buruan ke toilet." Liana gegas berbalik pergi setelah mengatakan itu.

Erick pun mengikuti. Dia telah berada di mall itu sejak satu jam yang lalu, mengawasi ketiga wanitanya itu dari kejauhan. Dia langsung datang begitu Kiara mengatakan sedang berada di mall, dan yang tidak dia sangka ternyata Kiara sedang bersama Liana dan Shanum.

"Shanum buruan masuk, Mama tunggu di sini." Kata Liana begitu mereka sampai di depan toilet wanita.

Shanum yang memang sedang kebelet, mengangguk lalu gegas masuk.

Liana yang tak melepas tatapannya dari pintu, dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya. Kedua matanya terbelalak begitu menoleh, ternyata Erick yang menepuk pundaknya.

"Mas, ini toilet wanita. Bagaimana kalau ada yang melihatnya?" Kata Liana sambil memperhatikan keadaan sekitar.

"Apa yang kamu lakukan di sini bersama Kia?" Erick bertanya sambil menatap Liana dengan lekat, mengabaikan kekhawatiran istrinya itu jika ada yang melihat mereka berdua di area toilet wanita. Tapi dia sudah memastikan tidak ada siapa-siapa saat dia masuk.

"Kia berjanji akan membawa Shanum membeli peralatan sekolah, dan hari ini dia menepatinya." Jawab Liana.

"Benar begitu? Bukan karena ada tujuan lain?" Kali ini, tatapan Erick menyelidik.

"Kalau aku mau, sudah sejak dulu aku membongkarnya, Mas." Merasa dituduh, Liana menjadi emosi. Jika bukan karena Denis yang memintanya, dia juga tidak akan berada di sini bersama Kiara.

"Tapi itu tidak aku lakukan karena aku... ." Ucapannya menggantung, rasanya percuma jika saat ini mengatakan hal yang sama berulang kali. Dia menutupi semuanya karena cintanya pada sang suami, tapi itu tidak akan berpengaruh apa-apa meskipun sekarang dia mengatakannya dengan berteriak. Semua tetap akan berjalan sesuai skenario yang sudah diatur mertuanya, bahkan suaminya pun tidak bisa melenceng dari perannya.

"Maaf, Ana." Erick menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah menuduh istrinya. Seharusnya dia percaya Liana tidak akan pernah merusak kepercayaannya. Terbukti selama ini, Liana tetap bertahan meski tersakiti berulang kali. Bahkan istrinya itu rela diabaikan oleh kedua orangtua Denis saat itu, karena lebih memilih bertahan daripada meninggalkannya yang sudah dianggap pengkhianat oleh Denis, papa Bagas dan mama Kasih.

"Kalau kalian sudah selesai berbelanja, segera bawa Shanum pulang." Erick meminta itu demi menjaga perasaan istrinya. Dia tahu, saat ini Liana pasti merasa sakit harus berdekatan dengan wanita yang juga pernah menjadi istrinya, bahkan akan kembali menjadi istrinya setelah Denis menjatuhkan talak.

Liana diam dalam kebimbangan. Bagaimana dia akan pulang sementara sedang menjalankan tugas dari Denis, "Kami akan pulang, kalau Shanum sendiri yang sudah meminta pulang." Ujarnya. Dapat dia lihat, meski awalnya Shanum tampak ogah-ogahan tapi begitu sampai di pusat perbelanjaan, putrinya itu terlihat senang sekali bahkan begitu akrabnya dengan Kiara.

"Ana, tolong dengarkan aku. Bawa Shanum pulang," pinta Erick sekali lagi.

"Mas, sudah aku bilang. Kami akan pulang kalau Shanum yang meminta pulang." Liana pun tetap kekeuh dengan keputusannya, dia tidak mau membuat Denis kecewa.

"Ana, please!" Erick menekankan. Tapi, Liana tetap menggeleng.

"Papa," seru Shanum yang baru saja keluar. Kedua mata gadis kecil itu berbinar menatap papanya. Dia berlari menghampiri sang papa dan memeluknya erat.

"Akh, Shanum." Erick tiba-tiba meringis begitu kepala Shanum menekan perutnya. Bahkan dia sampai refleks menjauhkan putrinya.

Liana terkejut, dia langsung memeluk putrinya yang kini tampak berkaca-kaca atas sikap Erick barusan. Namun, bukan itu yang membuat Liana merasa terkejut, tapi karena Erick yang tiba-tiba meringis kesakitan.

"Mas, ada apa?" Tanya Liana cemas.

Erick menggeleng, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. "Aku gak apa-apa," ujarnya lalu merendahkan tubuhnya sejajar dengan Shanum.

"Shanum sama Mama pulang ya sekarang, kita ketemu di rumah." Ucap Erick sambil mengusap-usap pucuk kepala putrinya, dia merasa bersalah melihat kedua mata putrinya yang nampak berkaca-kaca atas sikapnya tadi. Tapi mau bagaimana lagi, tadi itu gerakan refleksnya yang tidak dapat dia cegah.

"Papa mau pulang ya?" Tanya Shanum terdengar lirih.

Erick mengangguk, "Iya sayang, hari ini Papa akan pulang." Ujarnya.

Shanum tersenyum kembali. Untuk saat ini, tidak ada hal yang paling menyenangkan selain menunggu kepulangan papanya. "Iya, Pa, Shanum pulang sekarang sama Mama. Tapi Papa janji ya beneran pulang."

"Iya sayang, Papa janji."

Shanum bersorak senang, "Ayo Ma, sekarang kita pamitan dulu sama Tante Kia," ajaknya antusias.

Shanum menarik-narik tangan mamanya, yang akhirnya Liana pun menuruti. Mana mungkin dia tega menyurutkan senyum putrinya dengan menolak untuk pulang. 'Bang Denis, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelesaikan misi ini.' Gumamnya dalam hati.

"Tante Kia, Shanum sama Mama mau pamitan pulang." Kata Shanum begitu dia dan mamanya kembali menghampiri Kiara.

"Loh, kok pulang? Shanum gak mau jalan-jalan dulu, gitu? Ada Taman bermain yang bagus loh dekat sini," kata Kiara.

"Lain kali aja deh, Tante. Tadi Shanum ketemu Papa, katanya Papa mau pulang. Jadi sekarang, Shanum sama Mama juga mau pulang." Shanum tersenyum saat mengatakan itu, tak sabar rasanya segera sampai rumah bertemu papanya.

Kiara langsung menatap Liana. Mengerti arti tatapan Kiara, Liana pun membenarkan dengan mengangguk.

"Baiklah, ayo Kita pulang." Ucap Kiara. Dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, mengambil uang sejumlah bon makanan mereka bertiga lalu meletakkan di atas meja.

"Kia, biar kami pulang naik Taksi saja." Kata Liana.

"Tapi kan, motor Kamu ada di Rumahku."

"Gak apa-apa, biar dipakai Bang Denis saja."

Kiara terdiam sejenak, ada rasa ingin tahu dimana rumah Liana. "Kalau begitu, biar aku yang mengantarkan kalian pulang, daripada naik Taksi." Tawarnya.

"Gak usah, Kia. Kami sudah sangat merepotkan kamu," ucap Liana sambil menunjuk onggokan barang belanjaan mereka. "Biar kami pulang naik Taksi saja."

"Baiklah," ucap Kiara pasrah. Tidak mungkin juga dia memaksa untuk mengantarkan pulang.

Erick yang memperhatikan dari kejauhan, langsung menghampiri Kiara begitu Liana dan Shanum pergi. "Kia,"

"Mas Erick, kok bisa ada di sini?" Tanya Kiara heran.

"Kamu lupa? Tadi di telpon kamu bilang lagi di Mall, ya aku susulin ke sini." Ujar Erick.

Kiara tersenyum. Baper rasanya, Erick sampai menyusulnya ke mall.

Terpopuler

Comments

Muliana Devi

Muliana Devi

kyk.nya erick lagi sakit deh..

2025-03-25

0

Royani Arofat

Royani Arofat

cinta tp menyakiti.apa yg bikin erick g berdaya menolak pengaturan papanya.padahal sdh punya anak istri lho....trus lambene erim kok lemes banget ngerayu kia.dan geregetan kpd kia yg g tau apa2

2024-10-11

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

ada apa sebenarnya sama si Erick🙄🙄🙄

2024-07-11

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. MENYESAL
2 BAB 2. 5 SYARAT
3 BAB 3. JANJI
4 BAB 4. SECEPATNYA
5 BAB 5. TIDAK PUNYA HATI NURANI
6 BAB 6. BARU AWAL.
7 BAB 7. TAK SEKUAT YANG TERLIHAT
8 BAB 8. TUHAN SEAKAN MENDUKUNG
9 BAB 9. TIDAK BISA MENUNGGU TERLALU LAMA
10 BAB 10. PERNIKAHAN
11 BAB 11. LAKUKAN MALAM INI JUGA!
12 BAB 12. DIA JUGA KORBAN
13 BAB 13. BUKAN MONTIR
14 BAB 14. SENTUH AKU
15 BAB 15. APA SEBENARNYA TUJUANMU?
16 BAB 16. BIBITKU ATAU PIL MU
17 BAB 17. MERENCANAKAN SESUATU
18 BAB 18. NAMA DAN MAKANAN KESUKAANNYA SAMA
19 BAB 19. TIDAK BISA MENYELESAIKAN MISI
20 BAB 20. AKU MEMANG SENGAJA
21 BAB 21. SIAPA YANG MELAKUKANNYA?
22 BAB 22. PURA-PURA AMNESIA
23 BAB 23 SEPERTI ADA YANG HILANG
24 UCAPAN TERIMA KASIH
25 BAB 24. ANCAMAN
26 BAB 25. JANGAN GALAK-GALAK SAMA SUAMI
27 BAB 26. JANGAN SEKARANG
28 BAB 27. HANYA KAMU YANG BISA
29 BAB 28. KALIAN SALING MENGENAL?
30 BAB 29. AKAN ADA BANYAK AIR MATA
31 BAB 30. INGIN KAMU MENGAKUI SATU HAL
32 BAB 31. SUARA ITU...
33 BAB 32. SIAPA YANG TAHU KAMU JUSTRU TERSESAT
34 BAB 33. RAGAKU BERSAMANYA TAPI HATI DAN PIKIRANKU TERTUJU PADAMU
35 BAB 34. APA KAMU MASIH MAU MENUNGGU AKU?
36 BAB 35. KAMU SALAH PAHAM DENGANKU
37 BAB 36. EFEK HUJAN-HUJANAN
38 BAB 37. SUDAH SEHARUSNYA MENDAPATKAN GANJARANNYA
39 BAB 38. DUA GARIS
40 BAB 39. TIDAK ADA ALASAN UNTUK MEMPERTAHANKAN
41 BAB 40. SIAPA KAMU SEBENARNYA?
42 BAB 41. SI LAKI-LAKI SUBUH
43 BAGI-BAGI POIN
44 BAB 42. SUSTER MARIA BILANG KALAU KAMU... .
45 BAB 43. BUKAN MUHALIL
46 BAB 44. APA KAMU BENAR-BENAR TULUS MENCINTAI AKU?
47 BAB 45. AKAN MEMBERITAHUNYA
48 BAB 46. DATANG SENDIRIAN SAJA
49 BAB 47. CERAIKAN DIA
50 BAB 48. SALAH KAMU SENDIRI
51 BAB 49. MENUJU RUMAH SAKIT
52 BAB 50. AKAN MENJADI AYAH
53 BAB 51. AKU ATAU KAMU?
54 BAB 52. HANYA ADA SATU CARA UNTUK MEMBUKTIKAN
55 BAB 53. BELAJAR DARI AIR LAUT
56 BAB 54. OBAT PEREDA MUAL YANG SANGAT AMPUH
57 BAB 55. BIAR GAK KANGEN SEPERTI SHANUM
58 BAB 56. MERASA JAHAT
59 BAB 57. TIDAK BERMAKSUD MERAGUKAN
60 BAB 58. PENGEN JENGUK SI DEDEK
61 BAB 59. TIBA-TIBA MANJA
62 BAB 60. GARA-GARA BANG DENIS
63 BAB 61. KITA AKAN MENGHADAPI INI BERSAMA-SAMA
64 BAB 62. MERINDUKANMU
65 BAB 63. HANTU LUAR NEGERI
66 BAB 64. SEKALIAN BAKAR LEMAK
67 BAB 65. MASIH AKAN BERLANJUT
68 BAB 66. TERBAKAR DI DALAM MOBIL
69 BAB 67. HAK PATEN
70 BAB 68. CINTA BUKAN SEKEDAR UNGKAPAN
71 BAB 69. ANA
72 BAB 70. SAUDARI KEMBAR?
73 BAB 71. BERUSAHA MENGIKHLASKAN
74 BAB 72. DENDAM
75 BAB 73. JUGA MEMILIKI HATI NURANI
76 BAB 74. DIMANA TEMPAT TINGGALNYA?
77 BAB 75. MENYUSUL KE BANDUNG
78 BAB 76. SEKALIAN HONEYMOON
79 BAB 77. MAMA KANGEN, NAK
80 BAB 78. MENGEJAR
81 BAB 79. KRITIS
82 BAB 80. BAGAIMANA AKU BISA HIDUP SEPERTI INI?
83 BAB 81. SEUMUR HIDUP TIDAK AKAN BISA MENGHILANGKAN RASA BERSALAH DAN SESAL
84 BAB 82. ANAK KITA SUDAH KEMBALI
85 BAB B3. DAPAT CUCU LAGI
86 BAB 84. DATANG TERLAMBAT
87 BAB 85. DUA ANAK CUKUP!
88 karya baru ~ RAHASIA HATI 2
89 KARYA BARU (Menanti Bahagia Yang Hilang)
90 Janji CINTA
Episodes

Updated 90 Episodes

1
BAB 1. MENYESAL
2
BAB 2. 5 SYARAT
3
BAB 3. JANJI
4
BAB 4. SECEPATNYA
5
BAB 5. TIDAK PUNYA HATI NURANI
6
BAB 6. BARU AWAL.
7
BAB 7. TAK SEKUAT YANG TERLIHAT
8
BAB 8. TUHAN SEAKAN MENDUKUNG
9
BAB 9. TIDAK BISA MENUNGGU TERLALU LAMA
10
BAB 10. PERNIKAHAN
11
BAB 11. LAKUKAN MALAM INI JUGA!
12
BAB 12. DIA JUGA KORBAN
13
BAB 13. BUKAN MONTIR
14
BAB 14. SENTUH AKU
15
BAB 15. APA SEBENARNYA TUJUANMU?
16
BAB 16. BIBITKU ATAU PIL MU
17
BAB 17. MERENCANAKAN SESUATU
18
BAB 18. NAMA DAN MAKANAN KESUKAANNYA SAMA
19
BAB 19. TIDAK BISA MENYELESAIKAN MISI
20
BAB 20. AKU MEMANG SENGAJA
21
BAB 21. SIAPA YANG MELAKUKANNYA?
22
BAB 22. PURA-PURA AMNESIA
23
BAB 23 SEPERTI ADA YANG HILANG
24
UCAPAN TERIMA KASIH
25
BAB 24. ANCAMAN
26
BAB 25. JANGAN GALAK-GALAK SAMA SUAMI
27
BAB 26. JANGAN SEKARANG
28
BAB 27. HANYA KAMU YANG BISA
29
BAB 28. KALIAN SALING MENGENAL?
30
BAB 29. AKAN ADA BANYAK AIR MATA
31
BAB 30. INGIN KAMU MENGAKUI SATU HAL
32
BAB 31. SUARA ITU...
33
BAB 32. SIAPA YANG TAHU KAMU JUSTRU TERSESAT
34
BAB 33. RAGAKU BERSAMANYA TAPI HATI DAN PIKIRANKU TERTUJU PADAMU
35
BAB 34. APA KAMU MASIH MAU MENUNGGU AKU?
36
BAB 35. KAMU SALAH PAHAM DENGANKU
37
BAB 36. EFEK HUJAN-HUJANAN
38
BAB 37. SUDAH SEHARUSNYA MENDAPATKAN GANJARANNYA
39
BAB 38. DUA GARIS
40
BAB 39. TIDAK ADA ALASAN UNTUK MEMPERTAHANKAN
41
BAB 40. SIAPA KAMU SEBENARNYA?
42
BAB 41. SI LAKI-LAKI SUBUH
43
BAGI-BAGI POIN
44
BAB 42. SUSTER MARIA BILANG KALAU KAMU... .
45
BAB 43. BUKAN MUHALIL
46
BAB 44. APA KAMU BENAR-BENAR TULUS MENCINTAI AKU?
47
BAB 45. AKAN MEMBERITAHUNYA
48
BAB 46. DATANG SENDIRIAN SAJA
49
BAB 47. CERAIKAN DIA
50
BAB 48. SALAH KAMU SENDIRI
51
BAB 49. MENUJU RUMAH SAKIT
52
BAB 50. AKAN MENJADI AYAH
53
BAB 51. AKU ATAU KAMU?
54
BAB 52. HANYA ADA SATU CARA UNTUK MEMBUKTIKAN
55
BAB 53. BELAJAR DARI AIR LAUT
56
BAB 54. OBAT PEREDA MUAL YANG SANGAT AMPUH
57
BAB 55. BIAR GAK KANGEN SEPERTI SHANUM
58
BAB 56. MERASA JAHAT
59
BAB 57. TIDAK BERMAKSUD MERAGUKAN
60
BAB 58. PENGEN JENGUK SI DEDEK
61
BAB 59. TIBA-TIBA MANJA
62
BAB 60. GARA-GARA BANG DENIS
63
BAB 61. KITA AKAN MENGHADAPI INI BERSAMA-SAMA
64
BAB 62. MERINDUKANMU
65
BAB 63. HANTU LUAR NEGERI
66
BAB 64. SEKALIAN BAKAR LEMAK
67
BAB 65. MASIH AKAN BERLANJUT
68
BAB 66. TERBAKAR DI DALAM MOBIL
69
BAB 67. HAK PATEN
70
BAB 68. CINTA BUKAN SEKEDAR UNGKAPAN
71
BAB 69. ANA
72
BAB 70. SAUDARI KEMBAR?
73
BAB 71. BERUSAHA MENGIKHLASKAN
74
BAB 72. DENDAM
75
BAB 73. JUGA MEMILIKI HATI NURANI
76
BAB 74. DIMANA TEMPAT TINGGALNYA?
77
BAB 75. MENYUSUL KE BANDUNG
78
BAB 76. SEKALIAN HONEYMOON
79
BAB 77. MAMA KANGEN, NAK
80
BAB 78. MENGEJAR
81
BAB 79. KRITIS
82
BAB 80. BAGAIMANA AKU BISA HIDUP SEPERTI INI?
83
BAB 81. SEUMUR HIDUP TIDAK AKAN BISA MENGHILANGKAN RASA BERSALAH DAN SESAL
84
BAB 82. ANAK KITA SUDAH KEMBALI
85
BAB B3. DAPAT CUCU LAGI
86
BAB 84. DATANG TERLAMBAT
87
BAB 85. DUA ANAK CUKUP!
88
karya baru ~ RAHASIA HATI 2
89
KARYA BARU (Menanti Bahagia Yang Hilang)
90
Janji CINTA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!