19. ARSTANTA DAN RANTARA

Suara tembakan sekilas terdengar sampai ke telinga Arstanta dan para pasukan Rantara.

"Rantara.. Apa kau mendengarnya?" tanya Arstanta dengan nada khawatir.

"Aku mendengarnya, apa kita harus memeriksanya?" tanya Rantara dengan nada yang khawatir juga.

"Aku setuju, lebih baik kita periksa terlebih dahulu." jawab Arstanta dengan nada khawatir dan sedikit panik.

"PASUKAN..!!! KEMBALI KE LOKASI TADI..!!!" ucap Rantara dengan nada tegas ke para pasukannya menggunakan Walkie Talkie miliknya.

"SIAP..!!!" jawab semua pasukan Rantara dengan tegas juga.

Para pasukan Rantara pun memutar balik arahnya, dan langsung menuju ke rumah Kaedee lagi.

*Disisi Kaedee*

Kaedee tertembak di kepalanya dan langsung terjatuh ke tanah.

"Si... Sial*n." ucap Kaedee dengan nada yang sangat lemah, sebelum dia tidak sadarkan diri.

Salah satu pasukan Nai itu langsung meninggalkan lokasi kejadian setelah dia melihat Kaedee sudah tidak sadarkan diri.

Tidak lama dari kejadian penembakan itu, para pasukan Rantara baru sampai di lokasi, lalu seketika hampir semua pasukan Rantara langsung keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah Kaedee.

Mereka semua yang masuk kesana terkejut ketika melihat tubuh Kaedee yang terbaring di tanah dan penuh darah kepalanya.

Salah satu pasukan Rantara melaporkan kejadian ini menggunakan Walkie Talkie.

"Pemimpi ini gawat..!! Kami menemukan Kaedee sudah tidak sadarkan diri dengan luka tembakan di kepalanya." ucap pasukan itu dengan nada terkejut dan sedikit panik.

Arstanta yang mendengarnya sangat terkejut, dia hanya terdiam sembari mengeluarkan air matanya.

"Hei..!! Apa kau benar-benar mengatakan yang sebenarnya?!!" tanya Rantara dengan nada khawatir dan tidak percaya.

"Aku mengatakan yang sebenarnya Pemimpin..!!" jawab pasukan itu dengan nada serius dan sedikit tegas.

"Tcih.. Cari pelakunya..!! Temukan dia..!!" ucap Rantara dengan nada yang tegas.

"Siap..!!" jawab salah satu pasukan Rantara itu dengan nada tegas.

Para pasukan Rantara yang mendengar perintah dari Pemimpin mereka, seketika langsung mencari pelaku yang membunuh Kaedee.

*Di sisi Nai*

Salah satu pasukan Nai yang baru saja membunuh Kaedee kembali ke mobil kembali dengan perasaan senang dan lega.

Nai yang melihatnya merasa sedikit penasaran.

"Apa kau berhasil melakukan perintahku?" tanya Nai dengan nada santai sembari meminum segelas kopi dengan santai.

"Aku telah membunuhnya, apa itu tidak masalah?" tanya pasukan yang baru saja kembali itu dengan nada santai dan sedikit khawatir.

"Ohh.. Tidak masalah." jawab Nai dengan nada yang sedikit dingin.

"Ayok kita kembali." ucap Nai dengan nada yang santai dan dingin

"Baik Boss..!!" jawab kedua pasukannya dengan nada santai.

Ketika mereka baru saja jalan meninggalkan rumah Kaedee, salah satu pasukan Rantara ada yang melihat mereka pergi.

Dia pun langsung mengambil Walkie Talkienya dan melaporkannya ke Rantara.

"Pemimpin.. Aku melihat mobil mewah yang baru saja pergi, mereka terlihat mencurigakan." ucap salah satu pasukan Rantara itu dengan nada yang curiga dan santai.

"Ohh.. Ikuti mobil itu pasukan, siapa tau mereka adalah pelaku yang sebenarnya." ucap Rantara dengan nada yang santai dan sedikit tegas.

"Baiklah Pemimpin." jawab salah satu pasukan Rantara itu dengan nada santai dan sedikit tegas.

Salah satu pasukan Rantara itu seketika langsung menyiapkan mobilnya dan membawa 3 pasukan lainnya untuk berjaga-jaga.

Rantara berbicara lagi dari Walkie Talkie miliknya ke para pasukan yang mengikuti pasukan Nai itu.

"Hati-hati utamakan keselamatan kalian, aku tidak ingin ada korban lagi." ucap Rantara dengan nada santai dan sedikit khawatir.

Para pasukan Rantara yang sedang mengikuti mobil Nai merasa senang karena di khawatirkan.

"Terimakasih sudah mengkhawatirkan kami Pemimpin." ucap salah satu pasukan Rantara yang sedang mengikuti mobil Nai dengan nada santai dan senang.

Rantara pun tersenyum mendengar jawaban dari pasukannya itu.

Setelah itu Rantara pun melihat ke arah Arstanta yang masih bersedih atas kematian Kaedee.

"Hei bocah.. Jangan menangis lagi." ucap Rantara dengan nada santai dan lembut.

"Aku sedang mencoba untuk tidak menangis, namun nampaknya aku tidak bisa menahannya." ucap Arstanta dengan nada yang sedih sembari mengeluarkan air matanya.

"Hei bocah.. Dulu aku juga pernah kehilangan seseorang yang penting bagiku, aku tau apa yang kau rasakan, jadi jangan bersedih lagi oke?" ucap Rantara dengan nada kasihan dan santai.

"Siapa orang penting itu?" tanya Arstanta dengan nada penasaran sembari menghapus air matanya.

"Orang tuaku dan teman-temanku." jawab Rantara dengan nada santai dan sedikit sedih sembari tersenyum ke Arstanta.

"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Arstanta lagi dengan nada penasaran.

"Mereka semua mati terkena ledakkan bom di hotel, ketika itu terjadi aku sedang berada di luar hotel sendirian." jawab Rantara dengan nada sedikit sedih.

Arstanta terdiam sejenak ketika mendengarnya sembari menundukkan kepalanya.

"Maaf.. Aku seharusnya tidak perlu mengetahui ini." ucap Arstanta dengan nada menyesal dan tidak enak.

"Tidak apa-apa." jawab Rantara dengan nada santai.

Arstanta mengangkat kepalanya dan menatap Rantara.

Rantara yang melihat Arstanta masih merasa bersalah sembari bersedih, tiba-tiba memeluknya dengan lembut.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Arstanta dengan nada terkejut.

"Jangan terlalu dipikirkan bocah.. Aku akan membantumu sebisaku." ucap Rantara dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang.

Arstanta yang masih dipeluk oleh Rantara telrihat masih terkejut, namun di sisi lain dia juga merasa nyaman dengan pelukannya.

"Apa kau tidak akan terkena masalah dengan melakukan ini?" tanya Arstanta dengan nada sedikit khawatir.

"Tidak apa-apa, aku bisa menjelaskannya." jawab Rantara dengan nada santai dan lembut.

Arstanta hanya tersenyum ketika mendengarnya, lalu dia pun memeluk Rantara kembali.

*Berpindah ke Nai*

"Boss.. Sepertinya kita sedang diimuti oleh seseorang." ucap pasukan Nai yang sedang mengendarai mobil dengan nada santai.

Nai langsung melihat ke kaca Spion mobilnya dengan santai.

"Sepertinya kau benar." ucap Nai dengan nada santai.

"Apa yang ingin kau lakukan Boss?" tanya pasukan Nai yang sedang mengendarai mobil dengan nada santai dan sedikit penasaran.

"Hmm.. Kita biarkan saja mereka." ucap Nai dengan nada santai.

"Baiklah." ucap pasukan Nai itu dengan nada santai juga.

*Berpindah ke markas JJ*

Alexxa dengan tega membantai semua pasukan pemerintah itu dengan mudah, dia juga menatap jasad mereka semua dengan tatapan dingin dan tanpa belas kasihan.

JJ yang melihat Alexxa sudah sangat berubah merasa sedikit takut padanya.

"Dia benar-benar gila, dari 3 Pemimpin pasukan yang ada di perusahaan ini, hanya Alexxa yang sejauh ini selalu membuatku kagum dan terpesona." ucap JJ dengan nada santai di dalam hatinya.

Alexxa tersenyum ketika melihat semua pasukan yang berhasil dia kalahkan dengan senyuman bahagia.

*Berpindah ke Arstanta dan Rantara*

Rantara dan Arstanta saling berpelukan, setelah cukup lama berpelukan Arstanta melepas pelukan itu secara perlahan dan lembut.

"Terimakasih banyak atas perhatianmu padaku." ucap Arstanta dengan nada santai dan tenang.

"Tidak masalah kok bocah." jawab Rantara dengan nada santai dan lembut juga ke Arstanta sembari tersenyum.

"Rantara.. Bisakah kau mengantarkanku ke rumah sakit Stone 2?" ucap Arstanta dengan nada meminta yang santai dan lembut.

"Boleh kok, aku akan mengantarkanmu." jawab Rantara dengan nada santai dan lembut sembari sedikit tersenyum.

Rantara pun menyuruh salah satu pasukannya yang ada di mobil untuk segera pergi ke rumah sakit Stone 2.

"Pasukan.. Antar kita berdua ke rumah sakit Stone 2 sekarang." ucap Rantara dengan nada tegas.

"Siap..!!" jawab kedua pasukan Rantara yang berada di dalam mobil yang sama dengan nada tegas juga.

Mobil yang sedang dinaiki oleh Rantara dan Arstanta pun langsung menuju ke rumah sakit Stone 2 dengan kecepatan yang terbilang cukup santai.

"Rantara.. Aku tidak tau ternyata masih ada pasukanmu di mobil ini." ucap Arstanta dengan nada malu.

"Hahaha.. Tidak masalah kok, mereka tidak akan memberitahu rahasia kita. BENARKAN?!!" tanya Rantara dengan nada mengancam dan mengintimidasi ke kedua pasukannya itu.

"Ka.. Kami tidak akan melalukannya Pemimpin, percayalah." ucap kedua pasukan itu dengan nada yang ketakutan dan panik.

"Hahaha..!!" Rantara tertawa dengan senang setelah dia membuat kedua pasukannya ketakutan

"Hei.. Apa kau tidak terlalu berlebihan kepada mereka?" tanya Arstanta dengan nada sedikit khawatir dan kasihan ke kedua pasukan itu.

"Tidak apa-apa bocah, mereka juga tau jika aku hanya bercanda kepada mereka berdua." jawab Rantara dengan nada santai.

"Baguslah.." ucap Arstanta dengan nada senang dan perasaan yang lega setelah mendengarnya.

Kedua pasukan Rantara itu juga tersenyum setelah mereka bercanda dengan Pemimpin mereka.

"Aku rasa hanya bocah ini yang bisa membuat Rantara menjadi bahagia dan sesenang ini, jujur saja aku tidak pernah melihat Rantara seceria ini sebelumnya." ucap salah satu pasukan Rantara dengan nada pelan sembari berbisik ke pasukan yang satunya.

"Kau benar, aku harap keceriaan Rantara bisa bertahan sampai selamanya." jawab pasukan lainnya dengan nada pelan dan senang sembari berbisik juga.

*Berpindah ke markas JJ*

Alexxa turun dari lantai dua menggunakan tangga dengan santai.

Lalu dengan santainya dia pun menghampiri JJ.

"JJ, apa kau akan melakukan sesuatu kepada semua mayat-mayat ini?" tanya Alexxa dengan nada santai.

"Tentu saja, aku akan menjual semua organ dalamnya dan beberapa bagian tubuhnya di pasar gelap." jawab JJ dengan nada santai.

"Terdengar cukup menarik." ucap Alexxa dengan nada santai juga dan sedikit tersenyum.

"Baiklah waktunya bekerja lagi." ucap JJ dengan nada yang santai.

"Siap Ketua.." jawab Alexxa dengan nada yang santai juga.

*Berpindah ke para pasukan dari perusahaan misterius*

Mereka pergi ke sebuah pulau terpencil yang memiliki cukup banyak pepohonan yang lebat, mereka juga secara diam-diam dan berhati-hati masuk ke dalam pulau tersebut.

Pemimpin pasukan mereka membuka Handphone miliknya, dan langsung menghubungi ketua perusahaannya itu.

"Ketua aku rasa di pulau ini ada yang aneh." ucap pasukan itu dengan nada sedikit curiga dan santai.

"Apa yang kau temukan?" tanya Ketua perusahaan misterius itu.

"Sebuah markas raksasa berwarna hitam pekat." jawab pasukan misterius itu dengan nada curiga sembari memperhatikan perusahaan raksasa itu.

"Kerja bagus." jawab Ketua perusahaan misterius itu dengan nada yang senang dan bersemangat.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!