16. ORANG ITU KEMBALI LAGI

Arstanta bertemu dengan Kaedee, setelah mereka berdua berjabat tangan, mereka berdua seakan-akan sudah menjalin hubungan pertemanan.

"Arstanta.. Apa yang kau lakukan di sekitar sini?" tanya Kaedee dengan nada santai.

"Ohh.. Aku sedang dalam pekerjaan." jawab Arstanta dengan nada yang santai juga.

"Memangnya kamu kerja apa?" tanya Kaedee dengan nada sedikit penasaran.

Arstanta terdiam sejenak sembari berfikir.

"Apakah aku harus berbohong? Atau aku akan berkata jujur?" tanya Arstanta kepada dirinya sendiri dengan perasaan bimbang.

"Ada apa?" tanya Kaedee dengan nada penasaran.

"Ahh.. Tidak kok, aku hanya melamun sebentar." jawab Arstanta dengan nada santai sembari tersenyum.

"Ohh.." ucap Kaedee dengan nada sedikit curiga.

"Kalau begitu aku pergi dulu ya.." ucap Arstanta dengan nada santai sembari berjalan meninggalkannya.

"Hati-hati.." ucap Kaedee dari kejauhan dengan nada santai.

Arstanta hanya melambaikan tangannya ketika Kaedee mengatakan itu kepada dirinya.

"Apa yang dia sembunyikan dariku?" tanya Kaedee di dalam hatinya dengan nada curiga dan sangat penasaran.

*Berpindah ke Arstanta yang sedang menuju ke lokasi yang sudah Radhel beritahu*

Arstanta terus berjalan menuju ke lokasi yang sudah di beritahu oleh Radhel.

Karena merasa ragu dan khawatir, Arstanta langsung mengambil Handphone yang berada di saku kanan celananya.

"Apa aku tersesat? Atau aku mengambil jalan yang salah?" tanya Arstanta kepada dirinya dengan suara yang pelan dan nada yang sedikit bingung.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang dirinya

TAP.. TAP.. TAP..

Arstanta secara spontan langsung menoleh ke belakang dirinya.

*Orang itu ternyata terlihat lebih tinggi dari dirinya, namun tidak lebih tinggi dari Ketua BLACKDHAT yang sudah pernah dia lihat*

"Siapa kamu? Tanya orang tersebut dengan nada santai, namun tatapan matanya membuat Arstanta sedikit ketakutan.

"Aku Arstanta.. Aku kemari karena disuruh oleh seseorang." ucap Arstanta dengan nada santai sembari mengepalkan tangannya untuk berjaga-jaga.

"Ohh.. Jadi kamu perwakilannya ya? Kalau begitu ikuti aku." ucap orang tersebut dengan nada santai dan tenang sembari berjalan menuju ke sebuah Gang sempit yang berada tidak jauh dari lokasi tempat mereka berdua bertemu.

Arstanta pun mengikutinya dari belakang dengan perasaan khawatir.

Ketika Arstanta sudah berada di Gang sempit tersebut, suasana menjadi sangat sunyi, ditambah hanya ada mereka berdua di Gang tersebut.

"Apa yang Radhel perintahkan padamu?" tanya orang tersebut dengan nada santai.

"Aku disuruh menemuimu agar kau mau menjenguk dirinya, dia juga bilang kepadaku bahwa kamu adalah satu-satunya Pemimpin pasukan yang sangat sulit untuk dikendalikan oleh dirinya." jawab Arstanta dengan nada yang santai sembari mengepalkan tangan.

"Ohh.." ucap orang tersebut dengan nada santai dan sedikit merendahkan.

Orang tersebut melihat tangan Arstanta yang sedang mengepal itu "Apa kau takut kepadaku?" tanya orang tersebut dengan nada santai.

"Apa yang kau katakan? Aku hanya berjaga-jaga dengan keadaan saat ini." jawab Arstanta dengan nada sedikit ragu.

"Jika Radhel saja tidak bisa memerintahku, kenapa orang sepertimu datang untuk memerintahku?" tanya orang tersebut dengan nada santai dan sedikit merendahkan.

"Aku hanya mengikuti perintahnya," jawab Arstanta dengan nada santai.

"Apa kau benar-benar tidak mau mendengarkan perintah darinya?" tanya Arstanta dengan nada sedikit bingung.

"Aku tidak mau selalu diperintah olehnya, jika dia memaksa maka aku tidak akan segan-segan menghabisinya." jawab orang tersebut dengan nada santai.

Orang itu menatap Arstanta sejenak.

"Bagaimana jika kita melakukan sebuah pertaruhan saja." ucap orang tersebut dengan nada santai.

"Pe.. Pertaruhan? Pertaruhan seperti apa yang kau maksud?" tanya Arstanta dengan nada yang bingung.

"Kau mau bertaruh hartamu atau tubuhmu? Jika kau kalah dariku?" tanya orang tersebut kepada Arstanta dengan nada sedikit mengancam dan bersemangat.

Arstanta mengambil nafas sebentar untuk menenangkan dirinya.

"Aku pertaruhkan tubuhku." jawab Arstanta dengan nada santai dan yakin

"Baiklah.. Pertaruhan tubuh, peraturannya singkat, jika kau dapat mengalahkanku dengan cara apapun kau bisa memerintahku." ucap orang itu dengan nada santai.

"Apa kita akan berkelahi?" tanya Arstanta dengan nada sedikit khawatir.

"Tentu saja..!! Jika kau melarikan diri, aku tidak akan segan untuk membun*hmu." ucap orang tersebut dengan nada mengancam.

"Baiklah.. Aku akan ikut pertaruhanmu." ucap Arstanta dengan nada bersemangat sembari memasang kuda-kuda untuk bertarung.

"Keputusan yang bagus bocah." ucap orang itu dengan nada bersemangat dan senang sembari berjalan menuju ke arah Arstanta dengan santai.

TAP.. TAP.. TAP..

"Gagng ini benar-benar terlalu sempit.. Aku bisa mati disini." ucap Arstanta dengan nada khawatir di dalam hatinya.

Arstanta pun langsung berlari keluar Gang sempit dan pergi ke tempat pertama mereka berdua bertemu.

"Apa kau takut bocah?!!" tanya orang itu dengan nada sedikit kesal sembari mengejar Arstanta.

Ketika sampai di tempat yang cukup luas untuk bertarung, Arstanta langsung menoleh ke arahnya.

Namun tiba-tiba orang itu dengan sangat cepat langsung menendang Arstanta dengan sangat keras.

Arstanta berhasil menangkisnya, namun dia terjatuh karena kekuatan dari tendangan itu yang sangat kuat baginya.

"Sial.. Kuat sekali dia, aku harus melakukan sesuatu." ucap Arstanta dengan nada sedikit khawatir di dalam hatinya.

Orang itu mendekat ke arah Arstanta sembari berjalan dengan santai.

"Kau mau lari kemana bocah?" tanya orang itu dengan nada merendahkan sembari terus berjalan ke arah Arstanta dengan santai.

"Dia sangat santai ketika berjalan, namun ketika menyerang dia sangat cepat dan kuat," ucap Arstanta dengan suara yang pelan dan nada sedikit khawatir kepada dirinya sendiri.

Arstanta mulai berfikir.

"Berarti dia mengeluarkan semua tenaganya ketika dia menyerangku, namun ketika dia berjalan atau diam, itu berarti dia sedang mengisi tenaganya. Itu pasti dilakukan olehnya..!!" ucap Arstanta dengan nada senang dan bersemangat di dalam hatinya.

Ketika orang itu ingin menyerang Arstanta, Arstanta langsung berlari menuju ke belakangnya.

Seketika orang itu yang melihat Arstanta berlari ke belakang dirinya langsung menendang lagi ke arahnya dengan sekuat tenaga.

Arstanta terkena serangan dia lagi, namun di sisi lain dia juga berhasil menahannya.

"Aku akan menyelesaikan ini." ucap Arstanta dengan sangat percaya diri sembari meninju perutnya sekuat tenaga juga

BUGGG...

Ketika Arstanta sudah memukulnya, orang itu tertawa terbahak-bahak "HAHAHAHA..!!! Apa yang kau pikirkan?" tanya orang tersebut dengan nada merendahkan sembari tertawa terbahak-bahak.

"Perutmu?!! Apa mungkin?!!!" ucap Arstanta dengan nada ketakutan dan panik.

Orang itu seketika membuka bajunya dan memperlihatkan semua otot-otot kekarnya yang tertutup oleh bajunya ke Arstanta.

"Walaupun tidak sekekar Ketua BLACKDHAT, tapi bagaimana mungkin aku akan mengalahkannya?!!" ucap Arstanta dengan nada panik dan ketakutan.

"Jadi bagaimana caramu untuk mengalahkanku?" tanya orang tersebut dengan nada santai dan merendahkan.

"Aku akan mencobanya, apapun caranya dan apapun resikonya." jawab Arstanta dengan nada santai dan percaya diri.

"Menarik." ucap orang tersebut dengan nada santai dan senang sembari berjalan santai ke arah Arstanta lagi.

Arstanta memasang kuda-kudanya.

"Hahaha..!! Aku datang loh bocah..!!" ucap orang tersebut dengan nada yang bersemangat.

Orang itu langsung menyerang Arstanta dengan tendangannya dari depan.

Arstanta langsung menangkisnya dan langsung maju menyerangnya dengan meninju ke arah dadanya.

Orang itu dengan mudah langsung menghindari Arstanta dan langsung memukul Arstanta di kepala belakangnya dengan cukup keras

BAGGG...

Arstanta yang terkena serangan itu langsung terjatuh ke tanah sembari terengah-engah.

Arstanta juga mulai merasa pusing akibat serangannya itu.

"Sudah selesai kah bocah?" tanya orang itu dengan nada merendahkan dan mendekati Arstanta.

Arstanta yang mulai kesal langsung berdiri dengan cepat dan menyerang kemaluannya dengan tendangan yang sangat kuat dari bawah

BUGGG...

"ARRGGHH..!!!" ucap orang itu dengan nada kesakitan, dan dia pun langsung berlutut karena rasa sakit itu.

Arstanta dengan cepat langsung memukul wajah dari orang itu dengan sangat keras.

Orang itu pun terjatuh ke tanah sembari terengah-engah dan menahan rasa sakit dan nyerinya.

Dan tanpa belas kasihan Arstanta langsung memukul dada dari orang tersebut dengan sangat keras

"ARRGGHH...!!!" ucap orang itu dengan nada kesakitan, lalu secara perlahan orang itu pun tidak sadarkan diri.

Arstanta yang melihatnya tidak sadarkan diri langsung mengalihkan pandangannya dan pergi meninggalkannya sembari berjalan terhuyung-huyung dan terengah-engah.

"Aku harus memberitahu Radhel tentang ini." ucap Arstanta dengan nada santai dan sedikit senang sembari terus berjalan.

Tiba-tiba Arstanta mendengar suara sesuatu dari arah belakangnya.

Arstanta pun dengan cepat langsung menoleh ke belakangnya.

Dan dengan sangat cepat orang itu langsung menyerang Arstanta dengan pukulannya di wajah Arstanta dengan sangat keras dan cepat

BUGGG...

Arstanta yang terkejut dan tidak siap itu langsung terkena pukulannya dan sedikit terpental.

Lalu dia langsung terjatuh ke tanah.

"Selamat pagi bocah.." ucap orang tersebut dengan nada merendahkan dan bersemangat.

"ARGGHH... SIAL*N.. KE.. KENAPA DIA MASIH BISA BANGUN?" tanya Arstanta di dalam hatinya dengan nada bingung dan terkejut sembari menahan rasa sakit di wajahnya.

"Kau sepertinya bersemangat sekali tadi.. Apa sekarang saatnya aku menghabisimu?" tanya orang itu dengan nada merendahkan sembari tersenyum.

"A.. Aku harus mencari bantuan." ucap Arstanta di dalam hatinya dengan perasaan khawatir dan sedikit ketakutan.

Orang itu langsung berjalan santai menghampirinya.

Lalu orang itu langsung mengulurkan tangannya dengan wajah sombong dan meremehkannya.

"Bangunlah bocah.. Apa segini saja kemampuanmu?" ucap orang tersebut dengan nada santai dan meremehkan.

Arstanta sangat marah ketika mendengarnya, dia pun langsung memegang tangan dari orang tersebut, lalu dengan cepat menyerang kemaluannya lagi dengan tendangan kerasnya dari bawah.

"ARRGGHHH...!!!" teriak orang itu dengan nada kesakitan lalu langsung terjatuh ke tanah.

"BOCAH KURANG AJAR..!!!" ucap orang itu dengan nada marah sembari menahan rasa sakitnya.

Arstanta yang melihat orang tersebut sedang terjatuh ke tanah langsung dengan cepat menginjak dadanya beberapa kali dengan perasaan kesal dan sangat marah

BUGGG... BUGGG.. BUGGG...

"Argghh." ucap orang tersebut dengan nada lemah dan secara perlahan orang tersebut langsung tidak sadarkan diri lagi.

Arstanta pun mengehentikan serangannya itu dan dia pun terjatuh juga ke tanah sembari terengah-engah karena kelelahan dan dampak dari serangan orang itu.

"Aku harus memberitahu Radhel.." ucap Arstanta dengan suara yang melemah.

Arstanta pun langsung menelepon Radhel dari Handphone miliknya.

*Berpindah ke rumah sakit STONE 2*

Radhel sedang berbincang-bincang dengan Rantara dan Taka.

"Misi apa yang kau berikan kepada orang itu?" tanya Rantara dengan nada penasaran.

"Aku menyuruhnya untuk memanggil Trexa kemari." jawab Radhel dengan nada santai.

Rantara sangat terkejut ketika mendengarnya, lalu dia langsung memegang kerah kemeja yang Radhel gunakan.

"Apa kau sudah gila?!! Kau berniat membunuhnya ya?!!" tanya Rantara dengan nada kesal dan emosi.

Taka yang melihat Rantara emosi langsung menarik Rantara dan melepaskan tangannya dari Radhel.

"Rantara..!! Apa yang kau lakukan pada Boss?!!" tanya Taka dengan nada sedikit kesal kepada Rantara.

"Apa Boss sudah gila?!! Dia mengirim bocah keroco itu ke Trexa Taka..!!" jawab Rantara ke Taka dengan nada sedikit emosi dan kesal.

"Rantara.. Tenangkan dirimu." ucap Radhel dengan santai.

"Kau gila..!! Apa kau ingin membunuhnya?!!" tanya Rantara dengan kesal.

"Rantara aku memiliki alasan atas kejadian ini." jawab Radhel dengan nada santai dan sedikit tegas.

"Aku tidak mau mendengarnya lagi..!! Aku akan pergi membantunya..!!" ucap Rantara dengan nada emosi.

Ketika mereka semua sedang berdebat satu sama lain, tiba-tiba Handphone Radhel langsung berbunyi.

NITTT... NITTT... NITTT

Mereka semua seketika terdiam, Radhel pun mengambil Handphone miliknya dan melihat siapa yang meneleponnya di saat ini.

Radhel pun terkejut ketika melihatnya.

"Arstanta?!! Apa yang terjadi?" tanya Radhel dengan suara yang pelan dan sedikit khawatir

"Angkat panggilannya Radhel..!!" ucap Rantara dengan nada khawatir.

Radhel pun langsung menjawab panggilan telepon dari Arstanta itu, dan dia juga menyalakan fitur Handphonenya agar bisa di dengar oleh Taka dan Rantara.

"Ra.. Radhel.. Aku butuh bantuan." ucap Arstanta dengan nada yang lemah sembari terengah-engah.

Rantara yang mendengar suara Arstanta sudah mulai melemah, langsung mengambil paksa Handphone milik Radhel.

"Bocah..!! Kamu dimana?!! Aku akan menjemputmu..!!" ucap Rantara dengan nada sangat khawatir.

"A.. Aku ada di lokasi yang Radhel berikan." jawab Arstanta dengan nada suara yang semakin melemah.

Rantara yang mendengarnya langsung menatap mata Radhel dengan perasaan khawatir dan marah.

"Berikan aku lokasi dia sekarang Boss..!!" ucap Rantara ke Radhel dengan nada marah dan khawatir.

"Rantara.. Tapi tubuhmu belum sepenuhnya sembuh.." ucap Radhel dengan nada santai dan sedikit khawatir.

"Aku tidak peduli..!! Aku ingin menyelamatkannya..!! Cepat berikan lokasinya..!!" ucap Rantara dengan nada sangat khawatir dan kesal ke Radhel.

"Baiklah.." jawab Radhel dengan nada santai, lalu dia memberikan lokasi Arstanta berada yang di kirim lewat pesan ke Handphone Rantara.

"Aku akan pergi..!!" ucap Rantara dengan nada percaya diri, lalu dia pun langsung memanggil semua pasukannya untuk bersiap-siap.

"PASUKAN..!! SIAPKAN KENDARAAN..!!" ucap Rantara dengan nada tegas.

"SIAP PEMIMPIN..!!" jawab para pasukan Rantara yang berada di dekatnya, lalu mereka pun langsung berlari ke tempat parkir untuk menyiapkan kendaraan.

Rantara mengangkat tangan kanannya dan para pasukan yang melihatnya mengerti dengan kode yang diberikan Rantara.

Lalu mereka semua dengan cepat langsung membawa semua senjata lengkap milik mereka.

*Berpindah ke Arstanta dan Trexa*

Arstanta masih terhubung dengan panggilan telepon Radhel, tetapi Arstanta semakin melemah seiring berjalannya waktu.

"Arstanta.. Rantara sedang menuju ke lokasimu, bertahanlah." ucap Radhel dengan nada sedikit khawatir ke Arstanta.

Arstanta tidak menjawabnya dan dia juga tidak mendengar ucapan Radhel, dia hanya terus mengatur nafasnya agar dirinya tidak pingsan.

"Siapa yang sangat mengkhawatirkan aku tadi? Apakah si Angkatan Laut? Atau Taka?" tanya Arstanta dengan nada bingung dan sedikit senang di dalam hatinya.

Namun tanpa disadari oleh Arstanta tiba-tiba seseorang yang pernah masuk ke ruangan Arstanta waktu itu, muncul di depan matanya sembari menatapnya.

Arstanta sangat terkejut dengan kehadirannya, lalu dengan cepat orang itu membuat Arstanta pingsan.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!