*Di rumah sakit STONE 2*
Arstanta dan yang lainnya sedang berbincang-bincang sembari bercanda.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang ke ruangan mereka
TAP.. TAP.. TAP..
Mereka semua yang ada di dalam ruangan langsung terdiam dan menoleh ke arah pintu masuk
KREKK...
Orang tersebut masuk ke ruangan Arstanta itu dan langsung menatap Arstanta "Apa kau yang bernama Arstanta?" tanya orang tersebut dengan nada santai dan sedikit mengintimidasi.
"Iya.. Aku Arstanta." jawab Arstanta dengan nada khawatir dan sedikit panik.
"Siapa kau?!!" tanya Radhel dengan nada mengancam.
"Kalian tidak perlu tau namaku." ucap orang tersebut dan kemudian dia meninggalkan ruangan tersebut dengan santai.
"Siapa dia itu Arstanta?" tanya Rantara dengan nada penasaran.
"Aku tidak mengenalnya sama sekali, dan aku rasa aku pernah mendengar suaranya." jawab Arstanta dengan nada santai dan sedikit ragu dengan apa yang dia katakan.
"Apa kita harus mengikutinya?" tanya Taka dengan nada santai sembari bersiap untuk mengikutinya.
"Jangan dulu.. Kita biarkan saja dia." ucap Radhel ke Taka dengan nada santai sembari melarangnya.
*Berpindah ke tempat peperangan Indonezia melawan BLACKDHAT beberapa hari kemudian*
Anna berhasil melarikan diri dari para pasukan BLACKDHAT, dia bersembunyi di salah satu bangunan yang hancur akibat peperangan itu.
"Fiuhh.. Aku selamat." ucap Anna dengan nada lega dan tenang
TAP.. TAP.. TAP..
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah belakang dirinya.
"Hei nak.. Apa kau baik-baik saja?" tanya salah satu anggota Polisi ke Anna dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik saja." jawab Anna dengan nada santai dan lega.
"Ayok ikut kami nak.. Kami akan membawamu ke tempat yang lebih baik." ucap petugas Polisi itu dengan nada santai.
Anna pun mengikuti Polisi tersebut dengan peraan bangga dan senang.
*Berpindah ke markas JJ*
Alexxa menghampiri JJ yang sedang berada di ruangannya "JJ, apa kau tertarik tentang berita BLACKDHAT yang hancur itu?" tanya Alexxa dengan nada santai.
"Aku tidak tertarik Alexxa, memangnya ada apa?" tanya JJ dengan nada santai sembari menatap mata Alexxa.
"Aku hanya bertanya saja.. Aku kira kau akan tertarik dengan berita yang seperti ini" jawab Alexxa dengan nada santai sembari menatap JJ kembali dengan tatapan sedikit kecewa.
*Berpindah ke perusahaan misterius*
TAP.. TAP.. TAP..
Salah satu pekerja sedang menuju ke arah ruangan Ketua dengan membawa beberapa berkas-berkas penting. Dia dengan santai dan percaya diri mengetuk pintu ruangan tersebut
TOK.. TOK.. TOK..
"Masuk saja." ucap Ketua dari perusahaan tersebut dengan nada santai.
Pekerja itu pun masuk ke dalam ruangan itu dengan santai sembari menaruh berkas-berkas yang dia bawa ke meja yang berada di depan Ketua perusahaan itu.
"Berkas apa saja itu?" tanya Ketua perusahaan tersebut dengan nada santai.
"Beberapa berkas tentang BLACKDHAT yang berhasil kami retas." ucap pekerja tersebut dengan nada santai sembari tersenyum dengan senang.
"Kerja bagus." ucap Ketua perusahaan itu dengan nada sangat senang.
*Berpindah ke rumah sakit STONE 3*
Salah satu Masyarakat Indonezia langsung menunjukkan kepada dunia betapa kejamnya BLACKDHAT dengan cara merekam para jasad pekerja rumah sakit STONE 3 yang berada di gudang tua.
Berita itu menyebar sangat cepat di Negara Indonezia dan Negara lainnya.
"BLACKDHAT... Mereka sangat kejam bukan?" tanya salah satu Masyarakat yang berada di lokasi tersebut ke Masyarakat lainnya dengan nada sedikit ketakutan.
"Kau benar.. Bagaimana mungkin ada manusia atau bahkan seseorang yang sekejam ini di zaman sekarang." jawab Masyarakat itu dengan nada khawatir.
Berita tentang anggota BLACKDHAT yang membantai semua para pekerja di rumah sakit Stone 3 itu seketika menjadi berita yang sangat populer. Bukan hanya di Indonezia saja, namun juga sudah mendunia dengan sangat cepat.
*Berpindah ke markas ENTERPRISE ENTERTAINMENT*
Renald melihat berita tentang kejadian di rumah sakit Stone 3 itu "Apakah mereka benar-benar sekejam dan sesadis ini?" tanya Renald ke dirinya sendiri dengan nada yang pelan.
Stefa yang mendengarnya langsung berbicara kepadanya "Tidak.. BLACKDHAT tidak pernah melakukan hal kejam sedikit pun, aku yakin ada faktor lain yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini." ucap Stefa dengan nada santai sembari bekerja di depan komputernya.
"Apa kau mengetahui sesuatu tentang masalah ini?" tanya Renald dengan nada sedikit penasaran.
"Hmm.. Aku punya beberapa data tentang BLACKDHAT, apa kau mau melihatnya?" tanya Stefa dengan nada santai ke Renald.
"Aku ingin melihatnya." jawab Renald dengan nada santai sembari menghampiri Stefa.
"Baiklah.. Aku akan tunjukkan." ucap Stefa dengan nada santai.
Stefa pun mengambil Flashdisk miliknya yang berada di tas dan langsung mencolokkannya ke Komputer yang sedang dia gunakan.
"Baiklah.. Aku akan tunjukkan." ucap Stefa dengan nada santai sembari memperlihatkan data tentang BLACKDHAT itu.
"Perusahaan yang baik dan terpercaya? Apa maksudnya?" tanya Renald ke Stefa dengan nada penasaran.
"10 tahun yang lalu BLACKDHAT adalah perusahaan yang sangat berpengaruh di dunia, mereka menjual berbagai macam produk. Bahkan bukan cuma produk biasa, mereka juga menjual semua keperluan yang dibutuhkan oleh manusia dan lainnya." ucap Stefa dengan nada santai.
"Bagaimana kau tau itu?" tanya Renald dengan nada santai.
"Dulu ada seseorang yang menceritakannya kepadaku sejak aku masih kecil, namun sayangnya aku lupa siapa orang yang sudah menceritakan itu kepadaku." jawab Stefa dengan nada santai sembari mengingat siapa orang yang sudah memberitahu dia tentang BLACKDHAT ini.
"Apa kau yakin? Bisa saja orang tersebut hanya berkata hal-hal yang tidak benar bukan?" ucap Renald dengan nada meragukan.
"Kau benar.. Namun aku yakin dia tidak berbohong." jawab Stefa dengan nada yakin sembari menatap wajah Renald dengan serius.
Renald yang melihat Stefa sangat yakin seperti itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Baiklah.. Aku percaya padamu." ucap Renald dengan nada santai sembari menatap matanya lagi.
*Berpindah ke para pasukan BLACKDHAT*
Para pasukan BLACKDHAT yang selamat, langsung di tahan dan di introgasi oleh para pasukan dari Negara tetangga Indonezia, yaitu Singapuora.
Para tentara Singapuora merasa bingung dan heran dengan apa yang mereka lihat, ternyata selama kejadian penyerangan terhadap Indonezia, Negara Austraria ikut serta membantu BLACKDHAT.
"Hei.. Apa kalian benar-benar dari Austraria? Dan kenapa kalian bisa bersama Armada BLACKDHAT?!!" tanya salah satu tentara Singapuora dengan nada yang tegas dan penasaran.
"Ka.. Kami hanya di suruh oleh seseorang." jawab salah satu pasukan Austraria dengan nada ketakutan.
"Disuruh oleh seseorang? Siapa orang itu?!!" tanya tentara Singapuora itu dengan nada yang tegas.
"Aku tidak tau.. Dia menggunakan Jas dan dia datang ke Negara kami menggunakan kapal induk raksasa." ucap pasukan Austraria itu dengan nada ketakutan dan badan yang gemetar.
"Kami sudah menghancurkan dan menenggelamkan kapal induk itu, apa kau berbohong soal orang tersebut?!!" tanya tentara Singapuora itu dengan nada kesal.
"Aku bersumpah." jawab pasukan dari Austraria itu dengan nada ketakutan.
*Di sisi lain lautan, Para Pemimpin pasukan dari BLACKDHAT dan Ketuanya melarikan diri menggunakan kapal selam tanpa terdeteksi oleh radar kapal tentara Singapuora dan Negara lainnya*
"Ketua.. Apa kau yakin membawa orang ini?" tanya Raftel dengan nada meragukan.
"Tentu saja aku yakin.. Apa kalian meragukan dirinya?" tanya Ketua BLACKDHAT itu dengan nada santai sembari sedikit mengancam.
"Ti.. Tidak kok, aku hanya bertanya." ucap Raftel dengan nada panik dan sedikit ketakutan.
Lalu Refta yang merasa tidak nyaman ketika di bicarakan itu hanya menunduk karena merasa malu dan tidak percaya diri.
Tetapi sebenarnya, Refta hanya memikirkan tentang Arstanta di dalam pikirannya.
"Arstanta.. Aku rindu kamu.." ucap Refta di dalam hatinya dengan perasaan sedikit sedih dan rindu.
*Berpindah ke rumah sakit Stone 2*
"Arstanta.. Aku tau kau sudah sembuh total, maka dari itu aku ingin kau menjalankan sebuah misi sendiri." ucap Radhel dengan nada santai dan yakin dengan apa yang dia katakan.
"Aku?!! Apa kau yakin ingin memberiku misi di saat keadaan seperti ini?!!" tanya Arstanta dengan nada khawatir dan bingung.
"Sudahlah.. Ikuti saja perintahku." ucap Radhel dengan nada santai.
*Berpindah ke perusahaan misterius*
"Ohh.. Aku tau.. Jadi selama ini BLACKDHAT hanya mengandalkan sistem investasinya, dan dia juga bisa bisa memanipulasi 50% harga pasar di dunia karena banyak perusahaan miliknya yang tidak kita ketahui." ucap Ketua perusahaan misterius itu dengan nada santai dan kagum.
Pekerja dari perusahaan itu langsung menatap Ketua perusahaan itu "Jadi Ketua.. Apa rencanamu?" tanya pekerja tersebut dengan nada penasaran.
"Hmm.. Aku rasa untuk saat ini kita perhatikan saja apa yang akan mereka lakukan." ucap Ketua perusahaan misterius itu dengan nada santai.
*Berpindah ke Arstanta*
Arstanta pergi dari rumah sakit STONE 2, dia pergi sendirian untuk mencari seseorang yang sudah diperintahkan oleh Radhel.
"Hmm.. Apa mereka benar-benar mengandalkanku? Bukankah diriku ini hanya keroco bagi mereka?" tanya Arstanta kepada dirinya sendiri dengan bingung.
Arstanta pun teringat dengan kata-kata seseorang yang pernah dia temui.
"Apakah ucapannya benar? Apakah aku benar-benar hanya dimanfaatkan oleh mereka?" tanya Arstanta lagi ke dirinya dengan khawatir dan ragu.
Ketika Arstanta sedang berjalan-berjalan santai sembari berfikir, Arstanta langsung dihampiri oleh beberapa orang yang tidak dia kenal.
"Hei.. Ini wilayah kami." ucap salah satu dari mereka dengan nada mengancam sembari menodongkan senjata tajam mereka ke arah Arstanta.
Tiba-tiba ada seseorang yang teriak dari arah belakang Arstanta "HENTIKAN SIAL*N..!!" ucap seseorang dari arah belakang Arstanta dengan nada tegas.
Semua orang yang mengancam Arstanta menoleh ke arah belakang.
"Kau kira kau siapa Hah?!!" ucap salah satu dari orang yang mengancam Arstanta sembari menodongkan senjatanya ke arah orang yang menghentikan mereka itu.
"Aku..?!! Aku Kaedee." ucap orang tersebut dengan nada yang mengancam.
Orang-orang yang sedang mengancam Arstanta itu pun langsung meninggalkan Arstanta dan menghampiri orang itu.
"Apa aku harus terus kalah? Atau sebenarnya aku hanya pengecut?" tanya Arstanta ke dirinya sendiri dengan perasaan khawatir dan sedikit takut.
Namun ketika Arstanta terus memikirkan tentang dirinya itu, dia teringat dengan Refta yang sudah pasti pernah merasakan hal yang sedang dia rasakan saat ini.
"Refta.. Jika dia bisa, maka aku harus melebihi dirinya." ucap Arstanta di dalam hatinya dengan nada percaya diri dan sangat bersemangat.
Arstanta pun mendekati seseorang yang memegang senjata itu.
Seseorang itu pun menoleh ke arah Arstanta.
"Kau kenapa?!! Apa kau mau cari masalah juga?!!" tanya orang orang tersebut dengan nada mengancam.
Setelah seseorang itu selesai berbicara, Arstanta langsung meninju dagu orang yang memegang senjata itu dengan sangat keras
BUGGG...
Orang tersebut langsung pingsan terkena pukulan Arstanta tersebut.
Teman-teman dari orang yang di tinju Arstanta itu langsung menoleh dan melihat ke arah Arstanta.
"BERANINYA KAU SIALAN..!!!" ucap salah satu teman dari orang tersebut dengan nada sangat marah, sembari menyerang Arstanta dengan memukul pipi Arstanta dengan keras.
Arstanta terkena pukulan itu dengan cukup keras di pipinya hingga penglihatannya sedikit kabur
Arstanta pun langsung membalasnya dengan memukul perutnya
Kaedee yang melihat Arstanta begitu bersemangat untuk mengalahkan orang-orang itu langsung merasa bersemangat juga.
"Hei.. Aku juga mau ikutan..!!" ucap Kaedee sembari berlari dan menyerang orang-orang tersebut.
Beberapa saat berlalu, Kaedee dan Arstanta berhasil memenangkan pertarungan itu dengan keadaan sedikit babak belur.
"Boleh juga kau.." ucap Kaedee dengan nada santai ke Arstanta sembari terengah-engah karena kelelahan.
"Kau juga lumayan jago seni bela diri" ucap Arstanta ke Kaedee dengan nada terengah-engah juga.
"Hahaha..!! Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Kaedee ke Arstanta dengan nada santai.
"Arstanta.. Dan namamu Kaedee bukan?" Jawab Arstanta dengan nada santai juga.
"Benar.. Salam kenal." ucap Kaedee dengan nada santai sembari mengajak Arstanta berjabat tangan.
Arstanta yang melihat Kaedee ingin menjabat tangannya, langsung menjabatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments