*Seluruh pasukan Rantara bergegas pergi ke tempat Radhel berada, yaitu di Rumah sakit. Tempat Arstanta di rawat*
Mereka semua tampak terburu buru, sampai sampai mereka tidak peduli dengan aturan yang ada di rumah sakit itu
TAP.. TAP.. TAP..
Mereka mulai menaiki tangga rumah sakit, sampai akhirnya tiba di ruangan Arstanta
TOK.. TOK.. TOK..
Radhel yang mendengar suara ketukan pintu itu pun langsung membuka pintunya. Alangkah terkejutnya Radhel melihat para pasukan Rantara di rumah sakit dengan senjata lengkap "Hei.. Apa yang kalian lakukan? Kalian terlalu mencolok tau." ucap Radhel dengan nada sedikit kesal dan terkejut.
Salah satu pasukan pun mulai berbicara "Maafkan kami Boss, kami kemari dengan para pasukan lain untuk meminta izin Boss." ucap pasukan itu dengan yakin.
Radhel yang mendengarnya pun langsung mendengarkan pasukan itu.
"Rantara di culik, dia sekarang berada di markas utama JJ. Kami sudah berunding dan tekad kami sudah bulat, kami ingin Boss memberikan izin kepada kami untuk Berperang." pasukan itu berkata dengan tegas dan penuh tekad.
Radhel yang mendengarnya terkejut "Apa? Rantara di tangkap? Ini gawat.. Aku harus serius sekarang." ucap Radhel dengan nada khawatir.
Arstanta yang mendengarnya pun bertanya "Dimana letak markas utama JJ?" tanya Arstanta.
Salah satu pasukan menjawab "Di Jalan Traksana, markas yang terkena serangan bom dari Boss." jawab sang pasukan.
Arstanta yang mendengarnya hanya terdiam sembari berfikir.
Radhel pun mulai membuat rencana "Perhatian.. Aku ingin salah satu regu dari kalian memanggil Taka. Aku butuh seseorang yang berpengalaman dan berprestasi sepertinya." ucap Radhel ke para pasukan yang berada di ruangan Arstanta.
Para pasukan yang mendengarnya, langsung bergegas pergi untuk memanggil Taka "Siap..!!! Kami akan berusaha yang terbaik, doakan kami" ucap salah satu pasukan sebelum pergi.
Radhel yang mendengarnya pun tersenyum "Aku selalu mendoakan kalian, baik kesehatan maupun keselamatan." jawab Radhel dengan nada senang dan meyakinkan.
Salah satu pasukan itu pun tersenyum dan langsung meninggalkan rumah sakit.
*Di tempat lain, di tempat Rantara di tahan*
Disuatu tempat yang berada di bawah tanah dari perusahaan JJ. Rantara sedang dibawa oleh pasukan Alexxa disana, dia masih kehilangan kesadarannya dan dia butuh bantuan medis secepatnya.
"MINGGIR KALIAN..!!!" ucap salah satu pasukan Alexxa yang membawa tubuh Rantara dengan terburu buru.
Salah satu dokter yang bekerja disana melihat pasukan itu "Ada apa? Siapa dia?" tanya sang Dokter ke pasukan itu.
Pasukan itu pun menjawab dengan nada tegas dan emosi "TIDAK USAH BANYAK TANYA..!!! CEPAT SEMBUHKAN DIA..!!!" ucap pasukan itu.
Dokter pun segera masuk ke ruangannya untuk segera bersiap siap "Baiklah kalau begitu, cepat bawa dia masuk dan letakkan di tempat tidur itu." ucap Dokter yang terburu-buru sambil menunjuk tempat tidur yang dia katakan.
Setelah beberapa menit, Dokter pun siap dengan semua peralatannya, sang Dokter berkata ke pasukan itu "Tugasmu sudah selesai.. Pergilah, sekarang ini adalah tugas kami..!!" ucap Dokter dengan nada tegas dan terburu buru.
Pasukan yang mendengarnya langsung meninggalkan ruangan.
Dokter yang sedang bersiap siap mengoperasi Rantara, mulai mengambil nafas panjang sembari diiringi doa "Ya tuhan, selamatkanlah orang ini, walaupun dia adalah musuh kami." itulah doa yang dokter katakan di dalam hatinya.
*Flashback masa kecil Rantara*
Di sebuah pameran di tengah kota, Rantara bersama keluarganya sedang menikmati liburan disana "Ayah.. Itu apa?" tanya Rantara ke Ayahnya sambil menunjuk salah satu wanita yang sedang memakai baju Laksamana Angkatan Laut.
Ayahnya pun menjawab dengan senang hati "itu namanya Angkatan Laut, apa kau suka baju Angkatan Laut?" tanya Ayah Rantara ke dirinya.
Rantara pun menjawab dengan semangat "IYAA..!!! Aku suka bajunya, dia kelihatan keren" Jawab Rantara dengan senang dan kagum.
Ibu dari Rantara pun bertanya ke Rantara "Apa kamu mau menjadi Angkatan Laut?" tanya ibunya.
Rantara dengan polos dan senang pun menjawabnya "AKU MAU..!!! Aku akan menjadi Angkatan Laut..!!!" Ibu dan Ayahnya Rantara yang mendengar Rantara berkata dengan senang itu pun tersenyum.
*5 tahun berlalu, sekarang Rantara sudah masuk ke sekolah menengah pertama dan dia sekarang kelas 9*
Salah satu teman Rantara menghampiri Rantara "Apa kau sudah siap semua?" tanya temannya.
Rantara yang mendengarnya langsung menjawab dengan yakin "Iya, aku sudah siap. Ayok kita berangkat." jawabnya dengan nada senang.
Mereka berdua masuk ke kelas, dan belajar seperti biasa. Tiba tiba salah satu teman sekelasnya yang berada di belakang Rantara mulai berbisik ke teman lainnya "Hei.. Apa kau yakin Rantara bisa menjadi Angkatan Laut?" tanya dia dengan nada yang meragukan.
Teman yang di sampingnya itu pun menjawab dengan ragu juga "Entahlah.. Tapi apa salahnya mencoba bukan?" jawabnya dengan wajah tersenyum dan nada yang senang.
Rantara yang mendengar pembicaraan mereka pun mulai tersenyum.
Teman sebangku Rantara yang melihat Rantara tersenyum pun bertanya ke Rantara "Kenapa kau tiba tiba tersenyum?" tanya teman Rantara ke dirinya.
Rantara yang merasa malu saat temannya melihat dia tersenyum, langsung membuang muka dan wajahnya terlihat sangat merah "Ti..Tidak kok." ucap Rantara dengan nada yang malu malu.
Temannnya yang menyadari Rantara merasa malu langsung mengejeknya dengan nada bercanda "Ehh..? Jadi kamu tidak mau memberitahunya yaa..?" tanya temannya itu.
Teman Rantara itu pun mencubit pipi Rantara sambil terus mengganggu Rantara "Beritahu aku..!!" ucapnya dengan nada bercanda dan sedikit keras.
Rantara yang tidak mau menjawab pun mencubit balik pipinya dan memegang tangan temannya yang sedang mencubit pipinya "Tidak mauu..!!" ucap Rantara ke temannya sambil tersenyum senang.
Teman Rantara yang melihat Rantara senang pun juga ikut tersenyum dan tertawa "Hahaha.." Rantara yang melihat temannya tertawa juga ikut tertawa bersamanya.
*Beberapa saat berlalu, dan sekarang saatnya pelajaran olahraga*
Rantara langsung menuju ke lapangan sekolah dan melakukan pemanasan " Satu.. Dua.. Satu.. Dua.." ucapnya dengan semangat sambil melakukan pemanasan pada tubuhnya.
Teman teman Rantara yang melihat Rantara sedang pemanasan seketika mereka semua memperhatikan tubuh Rantara yang sangat langsing dan terlatih itu.
Salah satu teman sekelasnya bertanya ke Rantara "Hei.. Bagaimana kau bisa membuat badanmu seperti itu?" tanya salah satu teman perempuannya Rantara ke dirinya dengan penasaran.
Rantara pun dengan santai memberitahunya "Olahraga saja seperti biasa." teman teman Rantara yang mendengarnya sedikit tidak yakin dengan jawaban yang diberikan Rantara.
*Pelajaran pun dimulai, saat itu guru olahraga menyuruh murid muridnya untuk berlari jarak dekat di lapangan itu*
Setelah beberapa saat menunggu giliran, akhirnya Rantara mendapatkan giliran untuk melakukannya.
Rantara dengan yakin mulai memasang wajah serius sembari memasang kuda kuda untuk berlari.
Hitungan mundur pun dimulai " 3.. 2.. 1.. Mulai..!!" ucap sang guru.
Tanpa ragu ragu dan dengan keyakinan penuh pada dirinya, Rantara langsung berlari dengan sekuat tenaga.
Semua teman teman Rantara dan gurunya itu kagum sekaligus terkejut saat melihat kecepatan Rantara yang sangat cepat melebihi teman temannya.
Rantara sampai menyelesaikan lari jarak pendek itu dengan waktu yang tidak bisa dipercaya oleh gurunya sendiri "Dia mempunyai bakat." ucap gurunya dengan santai sambil tersenyum.
Rantara yang sudah selesai berlari terlihat sangat kelelahan "Belum cukup.. Ini belum seberapa." ucapnya dengan suara pelan.
Salah satu teman sekelas laki lakinya menghampiri Rantara "Kau hebat sekali Rantara..!!" ucapnya dengan wajah yang kagum.
Rantara yang mendengarnya sedikit tersenyum tetapi dia masih merasa kurang dengan hasilnya "Terimakasih." ucap Rantara dengan senyum di wajahnya.
*Setelah mengikuti pelajaran olahraga, Rantara pun izin pergi ke kamar mandi*
Saat sampai di kamar mandi dan menutup pintunya, Rantara mulai mengeluarkan air mata "Kenapa aku sangat lemah? Ini belum seberapa, dan belum sesuai harapanku..!!" ucapnya sembari menangis.
Salah satu teman sekelasnya Rantara masuk ke kemar mandi tanpa disadari Rantara. Dan dia mendengar semua keluhan Rantara di kamar mandi.
"KENAPA AKU TIDAK BISA MENJADI LEBIH KUAT..!!!" Rantara berkata dengan nada emosi sambil terus mengeluarkan air mata dan menangis.
Teman yang mendengar Rantara itu, berkata di dalam hatinya dengan khawatir "Rantara..." Rantara yang merasa kesal itu pun mulai meninju dinding kamar mandi dengan keras
DAARRR...
Setelah meninju dinding, tangan Rantara mulai mengeluarkan darah. Dan Rantara mulai bernafas terengah-engah "Aku harus lebih kuat.. Aku harus menjadi Angkatan Laut dan membuktikannya ke Orang tua ku..!!" ucap Rantara dengan penuh tekad dan bersungguh-sungguh.
Rantara pun mulai mencuci mukanya di wastafel agar menghilangkan bekas tangisan pada wajahnya, dia juga mencuci tangannya yang berdarah tadi.
Teman Rantara mengintip, dan dia melihat semua yang di lakukan Rantara di wastafel.
Setelah selesai, Rantara langsung kembali ke lapangan dengan wajah tersenyum.
Teman Rantara yang perempuan sedikit mengeluarkan air matanya saat melihat Rantara "Rantara.. Kamu benar-benar serius untuk mewujudkan impian mu itu" Teman Rantara itu pun mulai menangis di kamar mandi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya "Aku minta maaf Rantara.. Aku benar benar minta maaf.. Aku tidak tau kamu benar benar seserius itu untuk mewujudkannya" ucapnya dengan nada bersalah sembari terus menangis.
*Di saat kelas 7 di sekolah menengah pertama*
Seorang Guru bertanya kepada murid muridnya "Ibu mau tanya ke kalian.. Tapi janji ya.. harus jujur, tidak boleh berbohong." ucap sang Guru ke para muridnya.
Seluruh murid pun menjawabnya "Iyaa bu.." ucap para murid.
Sang Guru pun mulai memberikan pertanyaannya ke para murid "Apa cita-cita kalian? Mulai dari kamu Alga." Tanya guru itu.
Alga pun menjawabnya "Aku ingin menjadi Pilot." ucap Alga sambil ragu ragu dan malu.
Guru itu pun tersenyum dan sedikit tertawa melihat Alga yang seperti itu.
*Setelah beberapa saat, Rantara pun akhirnya di tanya*
"Kalau kamu bagaimana Rantara?" Tanya sang Guru ke Rantara.
Rantara pun menjawab dengan yakin sambil berdiri "AKU INGIN MENJADI ANGKATAN LAUT..!!" ucap Rantara dengan serius dan sungguh sungguh.
Salah satu teman Rantara tertawa "Hahaha... Kau mau menjadi Angkatan Laut? Lucu sekali..!!" ucapnya dengan mengejek dan bercanda.
*Seluruh kelas tertawa mendengarnya*
Guru pun mulai memberi saran ke Rantara "Coba kamu pikirkan lagi impianmu itu. Apa kamu yakin ingin menjadi tentara? Kalau saran ibu sih, mending kamu jadi artis atau apapun. Soalnya wanita itu lebih lemah dari Laki-laki." ucap sang Guru kepada Rantara.
Rantara yang mendengar itu pun membantahnya "TIDAK..!! Perempuan tidak selemah itu, aku pasti akan menjadi lebih kuat dari Laki-laki..!!" ucap Rantara dengan yakin ke Guru itu.
Guru itu hanya terdiam dan sedikit tersenyum. Lalu dia lanjut bertanya ke murid lainnya.
*Pelajaran berakhir, dan sekarang saatnya jam istirahat*
Rantara sedang berjalan santai ke arah kelasnya sehabis jajan di kantin.
Tiba tiba teman Rantara yang mengejeknya tadi langsung memukul kepala belakang Rantara dengan cukup keras
BUGGG...
"Aaaa..!" ucap Rantara sembari memegang kepala belakangnya yang habis di pukul itu.
Teman Rantara yang habis memukul itu pun langsung kabur sambil mengejeknya "Wuuu.. Angkatan Laut cengeng. Hahaha.." ucapnya dengan senang dan merendahkan Rantara.
Rantara yang mendengarnya pun mulai mengeluarkan air mata dan menangis sembari berjalan ke kelasnya.
Rantara hanya diam saat dia menangis, dan dia juga sedih melihat orang orang di sekitarnya tidak mendukungnya tapi malah merendahkannya.
Rantara yang sedang makan sambil menangis itu pun di hampiri salah satu Geng perempuan di kelasnya "Hei Angkatan Laut.. Kok kamu makannya sayur sih?" tanya teman perempuannya itu sambil mengejek.
Rantara hanya diam dan tidak merespon pertanyaannya.
Teman Rantara yang merasa kesal karena di cuekin itu pun secara reflek melempar makanan Rantara ke lantai.
Rantara yang sedang menangis itu terkejut dan langsung memukul wajah temannya itu dengan sangat keras dan membuat hidungnya mengeluarkan darah
BUGGG...
Temannya itu pun mulai panik dan menangis saat menyadari hidungnya mengeluarkan darah dan terasa sakit "Kau jahat.. Kau tega sekali Rantara..!!!" ucap teman lainnya yang berada di samping temannya itu.
Rantara yang merasa bersalah itu pun sedikit khawatir dengan keadaan temannya yang terkena pukulannya "Ma..Maafkan aku." ucap Rantara dengan rasa bersalah.
Teman sekelas Rantara yang habis memukul kepala belakang Rantara tadi pun masuk ke kelas dan melihat kejadian ini "Hei.. Ada apa ini?" tanya orang itu ke semua murid yang melihat kejadian tadi.
*Teman Rantara yang memukul Rantara bernama Razki dan yang dipukul Rantara bernama Rikka*
Razki yang mendengar kejadian yang di lakukan Rantara kepada Rikka langsung memukul wajah Rantara. Tetapi teman yang berada di barisan belakang tadi datang tepat waktu dan langsung memukul Razki di perutnya terlebih dahulu.
BUGGG...
Razki yang terkejut itu pun langsung terjatuh dan memegangi perutnya "Aaaa..!!! Apa maumu? Kau mau melawan aku ya?" ucap Razki sambil menahan rasa sakitnya.
Rantara yang melihat temannya membantu dirinya itu pun langsung merasa kagum "Karina.." ucap Rantara dengan kagum.
Karina yang menoleh ke Rantara pun hanya tersenyum sembari berkata "Kamu tidak sendirian lagi kok Rantara, aku akan membantumu sekarang." ucap Karina ke Rantara.
Rantara yang mendengar itu pun tersenyum dan mengeluarkan air mata senang "Terimakasih banyak." ucap Rantara ke Karina.
Karina yang mendengarnya pun membalas ucapan Rantara "Terlalu cepat untuk berkata terimakasih Rantara. Lebih baik kita selesai kan dulu masalah mu ini." ucap Karina dengan yakin sambil memasang kuda kuda bertarung.
Rantara yang melihat Karina memasang kuda kuda bertarung pun ikut memasang kuda kuda bertarung juga.
Razki yang melihat mereka berdua mau melawannya langsung menyerang Karina dengan pukulan ke arah wajahnya.
Karina pun langsung menghindarinya dan memukul dagu Razki dengan keras sampai membuat salah satu gigi bawah Razki copot dan mulutnya mengeluarkan darah
BAGGG...
Razki yang merasa kesakitan karena salah satu giginya copot itu pun hanya memegangi mulutnya dan mulai menangis "A.. Aku akan melaporkan kalian berdua ke Guru..!!" ucap Razki dengan nada mengancam dan panik.
Karina yang mendengar itu pun langsung memukul perut Razki lagi dengan keras
BUGGG..
Razki yang tidak mengira Karina akan menyerang lagi pun terjatuh sembari kesakitan dan menangis.
Bel berbunyi, istirahat sudah selesai, Razki dan Rikka masih menangis di dekat meja Rantara sembari memegangi anggota tubuh mereka yang terluka.
Guru pun masuk ke kelas itu, dan terkejut melihat kejadian ini "HEI..!!! SIAPA YANG LAKUKAN INI?!!" tanya sang Guru dengan emosi dan terkejut.
Alga maju ke depan, lalu Alga pun mulai menjelaskan kejadian ini ke Guru.
Setelah mendengar penjelasan Alga, mereka berempat termasuk Rantara dibawa ke ruang Guru.
Mereka diintrogasi disana "Jadi siapa yang mulai duluan?" tanya Guru itu ke 4 murid ini.
Rantara menjawab "Saat jam istirahat, aku sedang berjalan ke arah kelas untuk memakan jajanan yang aku beli di kantin. Tiba tiba Razki memukul kepala bagian belakangku dengan keras. Aku pun memegang kepalaku karena merasakan sakit. Saat aku menoleh ke belakang, Razki langsung mengejekku dengan mengatakan "Wuuu.. Angkatan Laut cengeng.." lalu Razki kabur begitu saja tanpa meminta maaf." ucap Rantara dengan penuh jujur.
Guru yang mendengar itu pun bertanya ke Razki "apa memang benar begitu Razki?" tanya guru itu ke Razki.
Razki yang mendengarnya hanya terdiam.
Guru itu pun berkata lagi dengan tegas ke Razki "HEI..!!! KAMU DENGAR TIDAK RAZKI?!!" ucap guru itu ke Razki dengan emosi.
Razki pun menjawabnya dengan panik sambil sedikit mengeluarkan air mata, karena masih merasakan sakit pada giginya yang copot itu "I.. Iya.. I..Itu benar." ucap Razki dengan panik dan merasa bersalah.
*Setelah beberapa saat di introgasi, semua cerita pun sudah terungkap*
Guru mulai mengambil keputusan disini "Aku menghukum Razki dan Rikka, kalian diberi 1 surat peringatan, dan kalian berdua tidak boleh masuk ke sekolah selama 1 minggu mulai besok..!!" ucap guru itu dengan nada tegas.
Razki dan Rikka hanya bisa terdiam mendengar itu dan merasa bersalah.
Guru pun mulai memperingatkan ke Karina dan Rantara "Kalian juga..!! Kalian tidak boleh melukai teman kalian sampai seperti ini..!!" ucap guru itu dengan tegas ke Rantara dan Karina.
Rantara dan Karina pun menundukkan kepala karena merasa bersalah juga.
Guru yang melihat murid-muridnya ini menyesali perbuatannya langsung berkata dengan tenang "Sekarang kalian saling bersalaman dan meminta maaf." ucap guru itu dengan tenang.
Mereka pun saling bersalaman dan meminta maaf, tetapi saat Karina meminta maaf ke Razki, wajah Karina masih kesal dan emosi.
Razki yang melihat wajah Karina masih kesal hanya bisa membuang pandangannya dan merasa panik.
*Setelah meminta maaf dan diberi nasihat oleh guru, mereka semua keluar dari ruangan itu*
Guru itu sebenarnya merasa kagum dengan Rantara dan Karina "Karina dan Rantara ya? Mereka berdua hebat. Aku harap bisa bertemu mereka di masa depan nanti" ucap guru itu dengan santai dan kagum.
*Kembali ke kelas 9*
Saat ini adalah hari persiapan untuk pergi jalan-jalan dari sekolah.
Rantara yang bersiap siap pun mengajak Orang tuanya juga untuk ikut jalan-jalan bersamanya.
*Singkat cerita, mereka semua sudah berangkat dan sampai di tujuannya*
Rantara turun dari bus, dan tiba tiba Karina memanggilnya "Rantara..!!" ucap Karina memanggil Rantara.
Rantara yang mendengarnya pun langsung menghampirinya "Ada apa Karina?" tanya Rantara.
Karina pun menjawab "Aku bosan tau.. Aku hanya melihat jalanan dari tadi, aku juga tidak mengobrol apapun dengan orang tuaku." jawab Karina dengan nada sedikit jengkel.
Rantara yang melihat Karina seperti itu tertawa "Hahaha..!! Jadi kamu mau aku duduk di sampingmu seperti saat di kelas?" tanya Rantara.
Karina pun menjawab "Tentu saja, apa salahnya kan?" ucap Karina ke Rantara.
"Tidak boleh Karina, itu dilarang tau. Kau tidak membaca aturannya ya?" tanya Rantara dengan nada sedikit bingung dengan Karina.
Karina hanya tersenyum polos.
Rantara yang melihat Karina seperti itu langsung menyadari maksud senyuman polos itu "Kau menghilangkannya ya?" tanya Rantara dengan nada sedikit mengancam.
Karina yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum sembari berkata dengan polos dan sok imut "Hehe.. Begitulah Lantala.." ucap Karina.
Rantara yang mendengarnya pun hannya bisa merasa heran dengan Karina.
*Beberapa saat berlalu, mereka semua menuju ke sebuah Hotel bintang 5 disana untuk memesan kamar*
Rantara dan orang tuanya masuk ke kamar itu .
Orang tua Rantara tiba tiba menanyakan sesuatu ke Rantara "Rantara.. Apa kamu yakin mau menjadi Angkatan Laut?" tanya ibunya ke Rantara.
Rantara pun menjawab "Tentu saja, memangnya kenapa?" tanya Rantara.
Ibunya hanya bisa ragu untuk memberitahunya "Ti.. Tidak kok, ibu hanya memastikan saja." ucap ibu Rantara dengan sedikit ragu-ragu.
Ayah Rantara pun menghampiri Rantara "Apa kamu punya cita-cita lain selain menjadi Angkatan Laut?" tanya Ayahnya.
Rantara pun menjawab dengan santai dan tenang "Tidak ada, aku memang sudah bertekad untuk menjadi Angkatan Laut."ucap Rantara.
Ayah dan ibu Rantara pun terlihat sedikit sedih setelah mendengarnya.
Rantara pun bertanya "Ada apa? Apa kalian tidak mengizinkanku?" tanya Rantara.
Ayah Rantara pun menjawab "Bukan begitu, kami hanya khawatir padamu, Ayah masih ragu dengan keputusanmu ini." ucap sang Ayah dengan khawatir.
Rantara pun menjawab "Apa yang harus di khawatirkan? Aku sudah besar Ayah, aku bisa menjaga diriku" ucap Rantara dengan percaya diri.
singkat cerita, di malam itu Rantara hanya bersantai di kamar Hotelnya.
*Di luar hotel*
Seorang pria dengan menggunakan tutup kepala menghampiri seseorang yang seumuran dengan Rantara "Hei nak, bisa bantu abang sebentar?" ucap orang itu.
Anak itu pun menjawab "Apa itu? Apa kau kesulitan?" tanya anak itu dengan polos.
Orang yang menggunakan tutup kepala itu pun memberikan sebuah Handphone ke dirinya "Tekan tombol telfon itu saat aku memberikan aba aba." ucap orang itu.
Orang itu mulai sedikit menjauh dari anak kecil itu sembari menelepon seseorang.
Anak kecil itu hanya bingung dengan tingkah laku orang itu.
*Berpindah tempat ke Rantara*
Rantara keluar dari Hotel untuk jalan-jalan, ketika dia sedang berjalan-jalan, dia melihat seseorang yang seumuran dengannya sedang memegang ponsel sambil memperhatikan pria di belakangnya.
Pria di belakangnya itu pun mulai memberikan aba aba.
Anak itu seketika menekan tombol telfon di ponsel
DUARRRR.....
Hotel itu hancur berkeping keping, Rantara dan anak yang berada di dekat Hotel itu terpental dan tidak sadarkan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments