"Bagaimana cara kita mendapatkan uang untuk membuat usaha kita?" tanya Kaedee ke Arstanta dengan nada bingung.
"Aku punya sedikit uang, tapi kamu bisa tidak mengolahnya?" tanya Arstanta dengan nada santai.
"Hmm.. Tunggu dulu, masalahnya aku juga butuh pengalaman dan keterampilan dibidang usaha." jawab Kaedee dengan nada santai dan sedikit ragu.
"Pengalaman itu di cari Kaedee bukan di ragukan." ucap Arstanta dengan nada santai.
"Aku tau, tapi.. Aku merasa diriku masih belum siap untuk melakukannya." ucap Kaedee dengan nada santai.
"Aku harap ada sesuatu yang bisa kita gunakan sebagai modal." ucap Arstanta dengan nada mengeluh.
Kaedee terfikirkan sesuatu.
"Aku kan punya mobil itu." ucap Kaedee dengan nada senang.
"Mobil? Mobil apa?" tanya Arstanta dengan nada bingung.
"Ada pokoknya.. Kamu mau membuka usaha bersama tidak?" tanya Kaedee dengan nada senang.
"Hmm.. Menarik, baiklah aku mau..!!" jawab Arstanta dengan nada bersamangat.
*Di sisi Nai*
"Hmm.. Pasti modal mereka dari mobil hasil curian itu, aku harus memberitahu pasukanku agar mereka gagal dalam membuat usaha mereka." ucap Nai di dalam hatinya dengan nada senang dan sedikit bersemangat.
Nai pun pergi meninggalkan lokasi itu secara diam-diam sembari berjalan santai menuju ke mobilnya yang di dalamnya terdapat 2 pasukannya.
*Berpindah ke Arstanta dan Kaedee*
"Kita akan menjadi pengusaha apa?" tanya Arstanta dengan nada bingung.
"Hmm.. Bagaimana jika makanan?" ucap Arstanta memberikan saran.
"Apa kau bisa memasak?" tanya Kaedee dengan nada santai.
"Tidak." jawab Arstanta dengan nada santai juga.
"Berarti usaha yang akan kita buat bukan hal yang berhubungan dengan makanan." ucap Kaedee dengan nada santai sembari sedikit mengeluh.
"Berarti kita usaha apa?" tanya Arstanta dengan nada bingung.
"Bagaimana kalo kita investasi?" ucap Kaedee memberikan saran.
"Hmm.. Tapi itu butuh waktu yang lama untuk mendapatkan keuntungan. Apa tidak masalah?" tanya Arstanta dengan nada santai.
"Hmm.. Benar juga," jawab Kaedee dengan nada mengeluh.
Kaedee pun berfikir sejenak.
"Aku tau..!!" ucap Kaedee dengan nada sangat bersemangat.
"Apa?" tanya Arstanta dengan nada bingung.
"Kita akan menjual bensin saja." ucap Kaedee dengan nada senang.
"Hmm.. Sepertinya menarik." ucap Arstanta dengan nada senang juga.
"Baiklah ayok kita lakukan..!!" ucap Kaedee dengan nada senang.
"Baiklah..!!" jawab Arstanta dengan nada bersemangat.
"Saatnya kita membeli kebutuhan kita untuk membuatnya." ucap Kaedee dengan nada santai.
"Baiklah ayok kita beli." jawab Arstanta dengan senang.
"Tunggu sebentar Arstanta." ucap Kaedee dengan nada sedikit ragu.
"Ada apa lagi?!!" tanya Arstanta dengan nada bingung dan jengkel.
"Aku tau yang mudah dan bisa membuat kita kaya." ucap Kaedee dengan nada sedikit bersemangat.
"Apa itu?" tanya Arstanta dengan nada penasaran.
"Kita akan bermain Pitcoin." ucap Kaedee dengan nada senang.
"Pitcoin? Pitcoin itu apa?" tanya Arstanta dengan nada santai dan bingung.
"Singkatnya kita membeli sebuah koin online yang dicetak secara terbatas, lalu jika harga dari koin itu naik maka kita jual agar kita mendapatkan keuntungan. Namun jika harga koin itu turun maka kita akan mendapatkan kerugian jika kita sudah membelinya." jawab Kaedee dengan nada santai.
"Ohh.. Aku paham, jadi kapan kita akan memulainya?" tanya Arstanta dengan nada bingung.
"Sekarang juga bisa, tapi aku tidak punya banyak pengetahuan tentang koin-koin itu." jawab Kaedee dengan nada santai.
"Bagaimana jika kamu mempelajarinya terlebih dahulu, lalu kau praktekkan." ucap Arstanta memberikan saran dengan nada santai.
"Baiklah.. Ide yang bagus." jawab Kaedee dengan nada senang.
Arstanta dan Kaedee pun berjabat tangan sebagai persetujuan bahwa mereka berdua setuju untuk melakukan bisnis ini.
*Berpindah ke rumah sakit STONE 2*
"Radhel apa kau tidak peduli dengan keselamatan bocah itu?!!" tanya Taka ke Radhel dengan nada emosi dan kesal.
"Aku peduli dengannya, namun aku tidak menduga jika para pasukan BLACKDHAT menyerang rumah sakit begitu saja." jawab Radhel dengan nada tegas.
"Apa kau benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya?!!" tanya Taka dengan nada mengancam dan curiga.
"Aku serius Taka..!!" jawab Radhel dengan nada serius sembari menatap matanya dengan yakin.
Taka membuang mukanya karena kesal dengan apa yang sudah dilakukan Radhel kepada Arstanta.
*Berpindah ke Arstanta dan Kaedee*
Ketika Kaedee dan Arstanta sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar ada suara mobil yang jumlahnya cukup banyak datang ke rumah Kaedee
BROOOMMM...
Kaedee yang mendengarnya seketika langsung keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi di luar.
Terlihat dengan jelas banyak mobil-mobil sedan berwarna hitam yang sudah ada di depan rumah Kaedee, mereka semua keluar dari mobil dan langsung menodongkan senjata ke arah Kaedee.
Kaedee yang merasa dirinya terancam, seketika langsung memasang kuda-kuda bertarung.
"Siapa kalian?!! Apa yang kalian inginkan disini?!!" tanya Kaedee dengan nada mengancam.
Tidak lama kemudian Rantara keluar dari salah satu mobil sedan itu dengan santai.
"Dimana Arstanta?!!" tanya Rantara dengan nada tegas.
"Angkatan laut? Apa yang kau inginkan darinya?!!" ucap Kaedee dengan nada terkejut dan tegas.
Arstanta mendengar suara Kaedee yang berada di luar dan juga para pasukan Rantara.
"Angkatan laut?!! Itu pasti Rantara..!!" ucap Arstanta dengan nada terkejut dan sedikit khawatir dengan keadaan Kaedee.
Arstanta pun langsung menjatuhkan dirinya dari kasur Kaedee
BRAKK...
Kaedee yang mendengar suara dari ruangan Arstanta, seketika langsung menoleh ke arah ruangan itu dengan perasaan khawatir.
"Arstanta..!!" ucap Kaedee dengan nada khawatir di dalam hatinya.
Arstanta dengan sepenuh kekuatannya mulai membangunkan dirinya dan berusaha berjalan menuju ke pintu keluar.
"Apa yang kau sembunyikan disana?!!" tanya Rantara dengan nada tegas dan curiga ke Kaedee.
"BUKAN URUSANMU SIAL*N..!!!" jawab Kaedee dengan nada kesal dan khawatir.
Rantara yang kesal langsung memberikan aba-aba untuk menembak Kaedee.
Arstanta melihat Kaedee yang sedang dibidik oleh para pasukan Rantara dari jendela rumahnya, dan dia berusaha untuk keluar dari rumah Kaedee sembari berpegangan dengan dinding.
Rantara dengan tatapan tajam dan mengintimidasi memperingatkan Kaedee lagi.
"Aku peringatkan kau, beritahu aku dimana Arstanta?" tanya Rantara dengan nada mengancam dan dingin.
"Aku tidak akan memberitahumu..!!" jawab Kaedee dengan nada tegas dan percaya diri.
"Sampai jumpa." ucap Rantara dengan nada dingin.
"BERHENTI...!!!" teriak Arstanta dengan suara yang keras dari salah satu ruangan di dekat pintu keluar.
Rantara yang mendengarnya langsung menyuruh semua pasukan untuk menahan tembakan.
"TAHAN TEMBAKAN..!!!" ucap Rantara dengan nada tegas.
Rantara pun melihat ke salah satu ruangan yang ada di dalam rumah Kaedee dan melihat Arstanta yang sedang kesulitan berjalan.
"Arstanta aku datang menjemputmu..!!." ucap Rantara dengan nada senang dan sedikit khawatir.
"Tahan tembakan.. Dia temanku." ucap Arstanta dengan nada terengah-engah sembari terus berjalan ke pintu keluar.
Kaedee yang melihatnya dengan cepat langsung membantu Arstanta.
"Apakah mereka kenalanmu?" tanya Kaedee dengan nada penasaran dan sedikit khawatir.
"Iya.. Mereka kenalanku." jawab Arstanta dengan nada santai.
"Kalian punya hubungan apa?" tanya Kaedee ke Arstanta dengan nada penasaran.
"Aku.. Aku sebenarnya adalah anggota Mafia seperti mereka." jawab Arstanta dengan nada sedikit ragu sembari menatap Kaedee.
"Apa kau diperlakukan baik disana?" tanya Kaedee dengan nada santai dan sedikit khawatir.
"Iya.." jawab Arstanta dengan nada santai.
"Apa kau bahagia disana?" tanya Kaedee lagi dengan nada santai sembari menatap Arstanta.
Arstanta mengingat hari dimana dia bercanda dengan Radhel dan berbincang-bincang dengan Rantara dan Taka.
"Aku cukup bahagia." jawab Arstanta dengan nada sedikit sedih.
"Apa kau akan kembali lagi?" tanya Kaedee lagi dengan nada khawatir dan sedikit sedih.
"Aku tidak tau." jawab Arstanta dengan nada sedih sembari sedikit mengeluarkan air matanya.
"Bagaimana dengan bisnis kita?" tanya Kaedee dengan nada sedih.
"Maaf.. Aku rasa kau harus menjalankannya sendiri." jawab Arstanta sembari menangis.
"Aku mengerti." ucap Kaedee dengan nada sedih juga sembari mengeluarkan sedikit air mata.
"Kaedee.. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu begitu saja." ucap Arstanta dengan nada meyakinkan.
"Aku tau.. Ini mungkin memang sudah takdir kita, jadi jangan lupakan aku ya.." ucap Kaedee dengan nada sedikit sedih sembari tersenyum ke Arstanta.
"Kaedee.. Aku tidak akan melupakanmu." jawab Arstanta dengan nada sedih sembari mengeluarkan air mata.
Arstanta pun langsung memeluk Kaedee dengan erat.
Kaedee yang terkejut dengan apa yang dilakukan Arstanta, seketika langsung memeluknya dengan erat juga sembari menangis.
"Sukses selalu Kaedee." ucap Arstanta dengan nada sedih.
"Iya.. Kau juga Arstanta." jawab Kaedee dengan nada sedih.
Mereka berdua pun secara perlahan melepas pelukan mereka.
"Aku pergi dulu ya.." ucap Arstanta dengan nada santai dan sedikit sedih sembari tersenyum ke Kaedee
"Iya.. Jaga dirimu baik-baik." ucap Kaedee dengan nada santai dan tersenyum juga.
Rantara pun menghampiri mereka berdua.
"Maaf atas ketidaksopananku." ucap Rantara dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa, aku hanya mencoba melindunginya." jawab Kaedee dengan nada santai sembari tersenyum.
"Terimakasih karena sudah memaafkanku." ucap Rantara dengan nada santai sembari menundukkan kepalanya dengan hormat.
Kaedee membalasnya dengan senyuman di wajahnya.
Rantara pun memegang bahu Arstanta dan membantunya berjalan.
"Sampai jumpa Kaedee." ucap Arstanta dengan nada santai sembari tersenyum.
"Sampai jumpa." jawab Kaedee dengan nada santai sembari tersenyum juga.
Arstanta pun dibawa masuk ke salah satu mobil sedan itu, dan sebelum para pasukan Rantara pergi, mereka semua memberikan hormat kepada Kaedee.
Kaedee hanya tersenyum membalasnya.
Lalu para pasukan Rantara pun pergi meninggalkan rumah Kaedee.
*Berpindah ke markas JJ*
Mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, namun seseorang datang ke markas JJ dengan jumlah pasukan yang cukup banyak.
Mereka semua mengepung kantor JJ.
Salah satu pekerja di perusahaan JJ itu pun langsung melaporkan kejadian ini ke JJ.
"Halo.. Boss ini gawat." ucap pekerja itu dengan nada khawatir dan panik.
*Berpindah ke orang tersebut*
"DIMANA BOSS KALIAN?!!" tanya orang itu dengan nada sombong sembari berteriak.
DOR.. DOR.. DOR..
3 buah peluru ditembakkan ke lengan dan ke badan dari orang itu.
"AAAARRGGGHH...!!!" Teriak orang itu dengan suara yang cukup keras karena tembakan itu.
"Kau pikir kau siapa si*lan? Apa aku perlu membunuhmu?" ucap Alexxa dengan nada dingin dari lantai 2 kantor sembari membidiknya.
"BE.. BERANINYA KAU..!!!" ucap orang itu dengan nada emosi.
"Apa kau mau aku bunuh sekarang?" tanya Alexxa dengan nada dingin.
JJ yang mendengar keributan di kantornya, seketika langsung keluar dari kantor miliknya dengan berjalan santai.
"Apa urusan kalian disini?" tanya JJ dengan nada santai.
"Aku dengar kau adalah Ketua dari perusahaan ilegal ini, aku dari anggota kepolisian, dan aku akan menghentikan perusahaanmu ini..!!" ucap orang tersebut dengan nada tegas.
JJ menarik nafas panjang dan membuangnya dengan santai.
"Masalah yang serius, Alexxa bunuh mereka semua." ucap JJ dengan nada santai.
"Baik." ucap Alexxa dengan nada dingin
DOR.. DOR.. DOR..
*Berpindah ke rumah Kaedee*
Kaedee masih melihat kepergian Arstanta, dia merasa sedih namun juga senang ketika melihat Arstanta mempunyai seseorang yang bisa membuatnya bahagia.
"Sampai jumpa lagi temanku." ucap Kaedee dengan suara yang pelan dan nada yang sedih
TAP.. TAP.. TAP..
Terdengar suara langkah kaki dari belakang dirinya, seketika Kaedee langsung membalik badannya dengan cepat
DOR..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments