*Di markas besar BLACKDHAT*
TAP.. TAP.. TAP..
Raftel berjalan santai menuju ke ruangan keamanan, dan dia sangat terkejut ketika menemukan para pasukan dari perusahaan misterius itu.
"Bagaiman caranya mereka bisa kesini? Apakah para penjaga sudah di bunuh mereka?" tanya Raftel dengan nada panik ke dirinya sendiri.
Raftel pun langsung menuju ke ruangan Ketua BLACKDHAT
TOK.. TOK.. TOK..
"Permisi Ketua.. Aku mempunyai berita buruk." ucap Raftel dengan nada santai dan sedikit khawatir.
"Masuk Raftel." ucap Ketua BLACKDHAT dengan nada santai
CEKREKK..
"Permisi Ketua, aku hanya ingin melaporkan kepadamu hal penting." ucap Raftel dengan nada sopan.
"Beritahu aku." ucap Ketua BLACKDHAT itu dengan nada santai dan sedikit tertarik.
"Ada penyusup di wilayah markas." ucap Raftel dengan nada santai.
"Ohh.. Berapa jumlah mereka?" tanya Ketua BLACKDHAT dengan nada santai.
"Mereka ada 3 orang saja." jawab Raftel dengan nada santai dan sedikit khawatir.
"Urus mereka Raftel." ucap Ketua BLACKDHAT itu dengan nada santai dan yakin.
"Siap..!!" jawab Raftel dengan nada tegas dan hormat.
Raftel pun meninggalkan ruangan Ketua BLACKDHAT dengan sopan dan langsung menuju ke ruangan senjata.
*Berpindah ke Rantara dan Arstanta*
Mereka berdua baru saja sampai ke rumah sakit Stone 2, mereka pun langsung pergi menuju ke ruangan Radhel dan Taka.
*Berpindah ke Radhel dan Taka*
"Radhel.. Apa menurutmu bocah itu memiliki potensi untuk menjadi Pemimpin pasukan?" tanya Taka dengan nada santai.
"Hmm.. Pemimpin pasukan ya.. Aku rasa dia memilikinya." jawab Radhel dengan nada santai juga.
"Apa kau akan menaikkan pangkatnya?" tanya Taka dengan nada sedikit penasaran.
"Hmm.. Pertanyaan yang bagus." ucap Radhel dengan nada santai sembari memikirkan jawaban yang tepat dari pertanyaan Taka itu.
Ketika Radhel sedang berfikir untuk jawaban dari pertanyaan Taka, tiba-tiba Rantara langsung masuk ke ruangan Radhel dan Taka itu
CEKREKK..
Rantara pun masuk dengan santai sembari merangkul Arstanta, Rantara juga merasa sedikit khawatir dengan keadaan Arstanta.
Arstanta melihat Radhel dengan senyuman sedikit mengejek.
"Aku kembali Radhel." ucap Arstanta dengan nada santai dan senang.
"Hahaha..!! Pahlawan sudah kembali." ucap Radhel dengan nada senang, dan dia pun membantu langsung menghampiri mereka berdua.
Radhel memegang kepala Arstanta dan langsung mengelus kepalanya dengan lembut.
"Maaf atas keegoisanku, aku sebenarnya hanya ingin mengujimu saja." ucap Radhel dengan nada santai dan menyesal.
"Tidak usah di pikirkan, yang terpenting aku sudah kembali dalam keadaan masih hidup bukan?" ucap Arstanta dengan nada senang dan bercanda.
"Kau benar.. Selamat kembali Arstanta." jawab Radhel dengan nada senang sembari tersenyum.
Taka langsung menghampiri Arstanta.
"Selamat datang Arstanta." ucap Taka dengan nada sedikit menggodanya.
Rantara yang melihat Taka sedang menggoda Arstanta langsung memasang muka cemburu dan sedikit kesal.
"Apa yang kau mau darinya Taka?!!" ucap Rantara dengan nada sedikit mengancamnya dan cemburu.
"Hah?!! Apa kau tidak suka dengan itu?!!" ucap Taka dengan nada tidak senang ke Rantara.
Arstanta pun dipeluk oleh Rantara dengan erat tanpa dia sadari.
"Jangan terlalu mendekatinya." ucap Rantara dengan nada sedikit mengancam.
Arstanta yang dipeluk erat oleh Rantara hanya bisa terdiam dengan wajah memerah.
"Aaaaa... Situasi macam apa ini? Apakah aku MC anime atau film romance? Atau bahkan harem?" ucap Arstanta di dalam hatinya dengan nada senang dan kebingungan.
Taka yang melihat tingkah laku Rantara yang serakah langsung memegang tangan Arstanta dan mencoba menariknya.
"Aku juga ingin membantunya..!!" ucap Taka dengan nada iri dan sedikit kesal.
"Tidak.. Dia hanya mau padaku." ucap Rantara dengan nada yakin dan percaya diri.
"Tidak.. Dia hanya terpaksa ada di pelukanmu." ucap Taka dengan nada sedikit mengejeknya sembari terus menarik tangan Arstanta.
Ketika mereka berdua sedang memperebutkan Arstanta, Radhel pun mencoba memisahkan mereka berdua.
"Hei.. Biarkan aku saja yang membantunya." ucap Radhel dengan nada sedikit tegas.
Mereka berdua pun berhenti bertengkar dan langsung terdiam dengan wajah kesal dan cemberut.
Rantara secara perlahan melepas pelukannya, lalu Arstanta dibantu oleh Radhel untuk naik ke ranjangnya agar dia bisa beristirahat dan memulihkan dirinya.
"Terimakasih Radhel." ucap Arstanta dengan nada santai.
"Sama-sama.." jawab Radhel dengan nada santai juga.
Lalu Radhel pun berbisik ke Arstanta.
"Kau suka Rantara atau Taka?" tanya Radhel dengan nada menggoda dan sedikit mengejeknya.
Wajah Arstanta seketika langsung memerah kembali.
"A.. Apa yang kau katakan sialan?!!" jawab Arstanta dengan nada malu sembari berbisik.
Rantara dan Taka melihat mereka berdua saling berbisik satu sama lain, dan mereka pun sedikit mencurigainya.
"Apakah Radhel mengatakan hal yang buruk tentang aku ke bocah itu ya?" ucap Rantara dengan nada sedikit khawatir dan penasan di dalam hatinya.
"Apakah Radhel membisikkan hal buruk tentangku ke Arstanta? Atau malah yang lebih parah?!!" ucap Taka dengan nada sangat penasaran dan khawatir di dalam hatinya.
Setelah selesai bebisik-bisik dengan Arstanta, Radhel pun sedikit menjauh dari Arstanta.
"Lakukan bocah keroco." ucap Radhel dengan nada mengejeknya.
"Hah?!! Apa yang kau katakan sial*n?!!" ucap Arstanta dengan nada sedikit kesal dan malu, wajah Arstanta juga memerah karena perasaan malu itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Rantara dengan nada penasaran dan curiga ke mereka berdua.
Taka langsung mendekati Arstanta, dia pun langsung memegang pipi Arstanta dengan lembut.
"Apa yang Radhel katakan ke kamu Arstanta?" tanya Taka dengan nada yang lembut dan menggoda.
Rantara yang melihat Taka begitu berani, dia pun langsung menghampiri Arstanta juga.
"Bocah.. Apa yang dikatakan Radhel kepadamu?" tanya Ranatara dengan nada penasaran dan sedikit malu.
Wajah Arstanta memerah dan dia pun membuang mukanya sejenak.
"Ra.. Radhel hanya bilang kalian berdua cantik kok." ucap Arstanta dengan nada malu-malu dengan wajah yang masih memerah.
Rantara dan Taka yang mendengarnya seketika langsung membuang muka dan wajah mereka berdua menjadi merah karena malu dan senang.
"O..Ohh.. Aku kira dia mengatakan hal-hal aneh tentangku." ucap Rantara dengan nada malu-malu dan pura-pura tegar.
"Ohh.. Aku kira dia mengatakan hal-hal memalukan tentang diriku." ucap Taka dengan nada malu-malu.
Radhel tersenyum dengan perasaan yang senang ketika melihat Arstanta di dekati oleh Taka dan Rantara, lalu Radhel pun bebaring di ranjangnya untuk tidur.
*Berpindah ke markas BLACKDHAT*
Raftel sudah mempersiapkan dirinya dengan berbagai senjata, dan dia pun langsung pergi memburu ke 3 pasukan dari perusahaan misterius itu.
*Di sisi para pasukan perusahaan misterius*
"Ketua.. Apakah misi kita sudah berhasil?" tanya salah satu pasukan dengan nada penasaran.
"Hmm.. Aku rasa misi kalian sudah berhasil, sekarang kembalilah ke markas." ucap Ketua perusahaan misterius itu dengan nada santai sebelum dia menutup panggilan teleponnya.
Para pasukan dari perusahaan misterius itu langsung menuju ke kapal mereka dengan hati-hati.
Mereka mempersiapkan semuanya agar perjalanan mereka aman, mereka juga membawa alat-alat canggih yang berfungsi untuk membantu mereka menghindari berbagai macam ancaman dan radar.
Ketika mereka sedang bersiap-siap, Raftel dengan santai berjalan menuju ke arah mereka dengan membawa senjata SRPG
TAP.. TAP.. TAP..
"Terimakasih sudah berkunjung kemari, apa kalian menyukainya?" tanya Raftel dengan nada sedikit mengejek mereka.
Para pasukan dari Perusahaan misterius itu sangat terkejut dan panik ketika melihat Raftel.
"Enyahlah kau." ucap salah satu pasukan misterius itu sembari membidik Raftel dengan senjata Sniper.
"Apa kalian mau cepat-cepat kembali? Padahal aku sudah membuat jamuan yang menyenangkan." ucap Raftel dengan nada mengejek.
"Berisik." ucap salah satu pasukan itu dan langsung menembak Raftel
DORRR..
Raftel pun terjatuh ke tanah.
Para pasukan misterius itu semakin panik, karena mereka harus segera meninggalkan lokasi ini.
"Kita harus cepat, ini sangat gawat." ucap pasukan lainnya dengan nada panik.
Ketika mereka sedang bersiap-siap dan hampir berangkat, tiba-tiba ada Rudal yang datang dari markas BLACKDHAT menuju ke arah Kapal mereka
DUUUAAAARRRR....
Dan Kapal mereka pun seketika hancur berantakan.
Raftel pun berdiri kembali dengan santai.
"Armor yang kuat, walaupun harus mengorbankan beberapa tulangku." ucap Raftel dengan nada santai, lalu dia pun kembali ke markas.
*Berpindah ke perusahaan misterius*
Tiba-tiba Daftar nama kapal dari para pasukan perusahaan itu menghilang.
Dan para pekerja disana merasa bingung dan juga panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi disana?" tanya salah satu pekerja ke pekerja lainnya yang berada di sampingnya dengan nada khawatir.
"Aku tidak tau, yang terpenting kita harus mencoba untuk menghubungi mereka." ucap pekerja lainnya dengan nada khawatir juga.
*Di sisi Ketua perusahaan misterius*
"Mereka berhasil mendapatkan informasi yang penting, tetapi di sisi lain mereka gagal dalam hal melarikan diri. Aku akan mendoakan mereka setelah ini." ucap Ketua dari perusahaan misterius itu dengan nada santai sembari berjalan menuju ke ruangan yang lain.
*Berpindah ke markas BLACKDHAT*
Raftel kembali ke markas dengan santai sembari memegang dadanya yang terkena tembakan dari Sniper para pasukan perusahaan misterius itu.
Ketika dia baru saja sampai di pintu depan markas, Xenard sudah ada di depannya dan langsung menghampirinya.
"Apa kau butuh perawatan segera?" tanya Xenard dengan nada santai.
"Pertanyaan bagus, aku rasa iya dan aku rasa penemuanmu tentang armor ini harus di tingkatkan kembali." jawab Raftel dengan nada santai juga.
"Baiklah.. Aku akan meningkatkannya lagi, terimakasih karena sudah memberitahukan kekurangannya." ucap Xenard dengan nada santai sembari tersenyum.
"Tidak perlu dipikirkan Xenard." ucap Raftel dengan nada santai sembari pergi ke ruangan senjata untuk mengganti pakainnya.
*Berpindah ke markas JJ*
Alexxa sedang bersantai di kantor sembari memakan coklat, dia duduk di atap gedung sembari melihat pemandangan kota dari ketinggian.
"Apakah Rantara juga meningkatkan dirinya?" tanya Alexxa kepada dirinya sendiri dengan nada yang penasaran.
*Berpindah ke rumah sakit Stone 2*
Rantara dan Taka sedang mengobrol bersama Arstanta, mereka bertiga tampak akrab.
Sampai tiba-tiba seseorang datang ke ruangan mereka
CEKREK...
Pintu dari ruangan mereka dibuka, dan orang itu pun masuk.
"Halo bocah.." ucap Trexa dengan nada santai sembari menatapnya dengan santai.
"Kau?!! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arstanta dengan nada sedikit terkejut.
"Aku diberitahu oleh salah satu pasukan Rantara bahwa aku mengalami luka yang cukup serius, namun seperti yang kau lihat bocah, aku tidak apa-apa." ucap Trexa dengan nada santai dan sedikit sombong.
"Lalu apa maumu disini?" tanya Rantara dengan nada sedikit mengancam.
"Aku hanya ingin berteman dengan bocah ini." ucap Trexa dengan nada santai sembari menghampirinya.
"Ohh.. Kau hanya mau berteman ya? Baiklah.." ucap Arstanta dengan nada santai dan polos.
"HAH?!! Apa yang kau pikirkan Arstanta?!! Dia itu berbahaya loh..!!" ucap Taka dengan nada khawatir dan terkejut mendengar jawaban Arstanta.
"Hei bocah..!! Kau bisa mati kapan saja jika kau berteman dengannya..!!" ucap Rantara dengan nada sangat khawatir sembari memegang pipi Arstanta.
"Aku akan memastikannya, selama dia baik maka dia adalah orang baik bukan?" tanya Arstanta dengan nada percaya diri.
"Terserah kau saja." ucap Rantara dengan nada sedikit lelah.
Trexa menatap mata Arstanta dengan santai.
"Tendanganmu itu bagus bocah, kau memanfaatkan situasi untuk mendapatkan kemenangan bukan gengsi, aku salut padamu." ucap Trexa dengan nada senang dan santai ke Arstanta.
"Aku? Aku hanya asal menendang tau, aku juga mempelajari hal-hal seperti itu dari film." jawab Arstanta dengan nada santai.
"Hahaha..!! Tapi faktanya kau sangat hebat, aku kagum padamu bocah." ucap Trexa dengan nada senang dan bersemangat.
Radhel pun terbangun dari tidurnya karena suara yang lumayan berisik dari mereka semua yang sedang mengobrol.
"Oi.. Apa yang kalian bicarakan?" tanya Radhel dengan nada yang masih mengantuk.
"Kau ini lemah sekali bukan? Apa kerjaanmu hanya tertidur?" tanya Trexa dengan nada santai dan sedikit merendahkan Radhel.
"Terserah kau saja, yang jelas kau kalah dari bocah itu bukan?" ucap Radhel dengan nada mengejeknya.
Trexa hanya tersenyum sembari menatap Radhel dengan tatapan yang sedikit mengintimidasi.
Radhel pun menghampiri Arstanta dengan santai.
"Aku menaikkan kedudukanmu menjadi Pemimpin pasukan, dan kami semua adalah saksinya." ucap Radhel dengan nada sedikit tegas sembari tersenyum ke Arstanta.
"Apa?!! Apa kau gila Radhel?!!" ucap Trexa dengan nada tegas dan sangat terkejut.
"Apa kau serius?!! Arstanta menjadi Pemimpin pasukan secepat ini?!! Hei Radhel, aku rasa kau sedang bercanda" ucap Taka dengan nada sangat terkejut dan tidak percaya.
"Oii.. Apa kau bercanda Boss?!!" tanya Rantara dengan nada yang tidak percaya juga sembari mehatap Radhel.
Arstanta kebingungan dengan mereka semua, dan Arstanta pun hanya diam sembari melihat mereka semua berdebat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments