10. INI AKU ARSTANTA

Renald Menyuruh seluruh pasukannya untuk mundur terlebih dahulu dan mengadakan Rapat darurat.

Seluruh pasukan pun membawa jasad Ranteta dan Retita ke markas mereka.

*Di markas utama*

Para pekerja yang melihat jasad Retita dan Ranteta itu menangis, karena mereka tau seberapa baik mereka berdua kepada para pekerja di markas.

*Di ruang Rapat*

"Kenapa kita harus mundur Renald?!!" tanya Salah satu Pemimpin pasukan yang merasa kesal dengan keputusan Renald.

"Aku ragu dengan keputusanku, dan aku tidak ingin ada korban diantara pasukan kita lagi." jawab Renald dengan santai dan sedikit khawatir.

"Jadi maksudmu kita mengaku kalah?" tanya Salah satu Pemimpin yang lain dengan nada sedikit kesal.

"Sudahlah kawan, aku bukannya takut dengan BLACKDHAT, tapi kita harus memikirkan cara agar perusahaan ENTERPRISE ini bisa berkembang dan melebihi BLACKDHAT." ucap Renald dengan nada santai dan tenang.

"Menurutku itu adalah ide yang bagus, menurut rumor yang aku pernah dengar, Armada besar BLACKDHAT bukan hanya sekumpulan Tank dan kendaraan tempur yang seperti itu. Banyak perusahaan-perusahaan terdahulu yang pernah melihat Armada besarnya." ucap Salah satu Pemimpin pasukan dengan nada santai.

"Kau benar Stefa, Armada besar BLACKDHAT aku yakin sangat besar." ucap Renald dengan nada sedikit khawatir.

"Jadi.. Apa yang kau ingin lakukan Renald?" tanya salah satu Pemimpin pasukan dengan santai.

"Kita akan mengembangkan Teknologi kita terlebih dahulu." jawab Renald dengan nada santai dan percaya diri.

"Hmm.. Ide bagus, bukan begitu Alort?" ucap Stefa sembari tersenyum.

"Tidak buruk.. Aku rasa itu juga ide yang masuk akal." jawab Alort dengan nada sedikit kesal.

"Jadi ini saja rencana kita hari ini. Aku mohon bantuan kalian semua untuk mengembangkan perusahaan raksasa ini." ucap Renald dengan nada santai.

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk ENTERPRISE." ucap Stefa dengan senang dan bersemangat.

"Jangan lupakan aku bod*h, aku akan membuat prestasiku bertambah lagi sekarang." ucap Alort dengan nada tegas dan bersemangat.

"Baiklah, dengan begini rapat resmi di tutup." ucap Renald dengan yakin dan tegas.

*Berpindah ke kantor Pemerintah*

DRRRTTT...

DRRRTTT...

Ketua Menteri Pertahanan pun mengangkat telepon itu "Halo.. Ada apa?" tanya Ketua Menteri pertahanan itu dengan santai.

"Aku akan menyerang pasukan BLACKDHAT dengan Armada besarku, aku ingin kau meminta para penduduk disana untuk segera pergi..!!" ucap Jenderal dengan nada tegas.

"Baiklah.. Aku mengerti, aku akan membuat para penduduk disana pergi untuk sementara waktu.

"Aku menantikan laporan darimu." ucap Jenderal itu dengan nada tegas sebelum menutup panggilan teleponnya.

Ketua Menteri Pertahanan pun langsung melaksanakan tugasnya.

*Di perusahaan yang sangat besar di tengah hutan*

Para pekerja disana mendengar semua rencana Pemerintah dengan sangat jelas, mereka pun langsung memberitahu Armada besar BLACKDHAT

NITTT... NITTT... NITTT..

Ketua BLACKDHAT pun mengangkat panggilan telepon itu.

"Kau akan diserang oleh Armada besar Tentara nanti." ucap Ketua dari perusahaan besar itu.

"Informasi yang bagus, aku akan bersiap-siap." jawab Ketua BLACKDHAT dengan santai.

Panggilan telepon di antara mereka pun langsung terputus begitu saja.

Ketua BLACKDHAT pun langsung melaporkan informasi ini ke markas utama.

*Di rumah sakit tempat Arstanta*

Arstanta akhirnya berhasil di pindahkan ke rumah sakit lain, dan wanita itu masih mengikuti Arstanta terus.

"Aku mau berbicara denganmu Arstantaku." ucap wanita itu dengan nada khawatir dan cemas dengan keadaan Arstanta.

*Berpindah ke kelompok Alexxa*

"Pemimpin.. Apa kau benar-benar tidak merasakan sakit?" tanya salah satu pasukan Alexxa dengan cemas dan khawatir.

"A.. Aku tidak apa-apa." jawab Alexxa dengan nada santai sembari terengah-engah.

"Apa kau mau istirahat dulu?" tanya pasukan itu lagi dengan khawatir.

Alexxa menarik nafas "Tidak.. Aku baik-baik saja, sekarang kita harus melaporkan ini ke JJ." ucap Alexxa dengan nada santai.

*Berpindah ke para pasukan BLACKDHAT*

Alarm peringatan terdengar dimana-mana.

Para pasukan BLACKDHAT mulai khawatir dengan keadaan ini "Kita harus apa selanjutnya?" tanya salah satu pasukan BLACKDHAT dengan nada khawatir dan ketakutan.

"Apa kalian selemah ini? Aku tidak pernah mengajarkan cara takut yang seperti itu..!!" ucap Ketua BLACKDHAT dengan nada tegas dan kesal.

Semua Armada mendengar suara Ketua itu, dan mereka semua hanya bisa terdiam mendengarnya.

"Apa kalian takut hanya dengan suara dan hal-hal sepele lainnya?!! Bagaimana kalian bisa disebut pasukan BLACKDHAT?!!" tanya Ketua BLACKDHAT itu dengan nada kecewa dan kesal.

"Jangan pernah takut kepada manusia dan ciptaannya, tapi takutlah kalian pada tuhan kalian." ucap Ketua BLACKDHAT dengan tegas dan sedikit santai

NITTT.. NITTT.. NITTT..

Ketua BLACKDHAT itu pun mengangkat panggilan telepon itu.

"Ada apa lagi?" tanya Ketua BLACKDHAT itu dengan santai.

"Mereka datang." ucap Ketua perusahaan itu dengan santai.

"Aku ingin kau menutup semua jaringan Internet di Negara ini, dan biarkan Internet Internal milik kita tetap terjaga." ucap Ketua BLACKDHAT itu dengan santai.

"Aku mengerti, aku akan melakukannya." jawab Ketua perusahaan itu sebelum menutup Teleponnya.

*Berpindah ke markas JJ*

Alexxa dan pasukannya pun kembali, dan mereka semua terlihat sangat lelah.

"Apakah kalian mendapatkan informasi baru?" tanya JJ dengan nada santai.

"Kami hanya mendapatkan sedikit informasi." jawab Alexxa dengan nada santai juga.

"Apa itu?" tanya JJ dengan penasaran.

"Aku menemukan fakta bahwa perusahaan yang menyerang kita bernama BLACKDHAT." ucap Alexxa dengan nada santai.

"Apakah ada informasi lainnya?" tanya JJ.

"Aku tidak yakin, tetapi saat aku mengikuti salah satu pasukan dari BLACKDHAT itu, mereka pergi ke arah hutan. Aku curiga disana adalah tempat markas mereka." jawab Alexxa dengan nada santai sembari berfikir.

"Hmm.. Apa kita perlu menyerangnya suatu hari?" tanya salah satu pasukan JJ.

"Aku tidak yakin, perusahaan yang memiliki kekuatan setara Militer adalah perusahaan yang sangat besar," ucap JJ dengan santai sembari berfikir.

"Aku rasa lebih baik kita mengembangkan usaha kita dulu untuk membalas dendam." ucap JJ dengan santai dan yakin.

"Baiklah.. Kami akan berusaha semaksimal mungkin." ucap salah satu pasukan JJ dengan yakin dan percaya diri.

*Berpindah ke Armada BLACKDHAT*

"Misi dimulai, SEMUANYA..!!! Aku ingin kalian semua bersiap-siap. Kita benar-benar akan berperang dengan Negara ini." ucap Ketua BLACKDHAT dengan nada senang dan bersemangat.

"APA..?!! Ini gila, aku rasa ini mustahil." ucap salah satu pasukan dengan nada yang khawatir.

"Apa kalian benar-benar setakut itu?!! Kalian bukanlah BLACKDHAT, aku tidak ingin mendengar kata mustahil dari mulut kalian semua. Aku membangun Perusahaan ini dengan hal-hal yang dibilang mustahil, jika kalian berkata bahwa hal-hal sepele seperti memenangkan peperangan adalah mustahil, maka kalian sama sekali tidak mengerti apa itu BLACKDHAT," ucap Ketua BLACKDHAT dengan nada yang tegas dan yakin.

"Aku akan membuat kalian semua terdiam, dan aku akan buktikan ke kalian, apa itu BLACKDHAT sebenarnya." ucap Ketua BLACKDHAT itu dengan nada serius.

*Berpindah ke perusahaan misterius di tengah hutan itu*

"Ketua.. Apa kita harus membantu BLACKDHAT?" tanya salah satu Pemimpin pasukan dengan nada yang ragu.

"Tentu saja, perusahaan itu benar-benar akan mengukir sebuah Sejarah yang sangat Legendaris di masa yang akan datang." jawab Ketua perusahaan itu dengan nada yang senang dan bersemangat.

"Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" tanya Pemimpin pasukan itu dengan nada bingung.

"Aku bermaksud membantunya karena dia adalah ladang Bisnis kita." jawab Ketua dari perusahaan itu dengan nada senang dan santai.

"Baiklah kalau begitu, aku akan melakukannya." ucap Pemimpin pasukan itu sebelum dia meninggalkan ruangan Ketua perusahaan itu dengan santai.

"Ini akan sangat menyenangkan." ucap Ketua perusahaan itu dengan sangat bahagia.

*Berpindah ke Rumah sakit yang merawat Arstanta*

Arstanta masih di rawat di ruangan rumah sakit oleh para Dokter.

Wanita cantik itu dengan setia menunggunya di luar ruangan sampai Arstanta bisa untuk dikunjungi olehnya.

"Sadarlah Arstantaku, aku akhirnya menemukanmu." ucap Wanita itu dengan nada khawatir dan cemas.

*Di ruangan Rantara*

Rantara pun akhirnya tersadar setelah beberapa lama tidak sadarkan diri.

"Aku dimana?" tanya Rantara dengan nada bingung.

"Pemimpin..!! Akhirnya kau sadar, aku sangat khawatir." ucap salah satu pasukan Rantara yang ada di sampingnya.

"Ohh.. Hai.. Apa kabar kalian?" tanya Rantara dengan nada santai dan senang.

"Pemimpin.. Aku tidak mau kamu sampai seperti ini lagi." ucap pasukan itu dengan khawatir.

"Aku akan berusaha agar tidak membuat kalian khawatir." ucap Rantara dengan nada santai dan senang sembari tersenyum.

"Kami sangat menghormatimu, kau adalah Wanita yang hebat dimataku. Kau membuktikan bahwa Wanita bisa menjadi lebih hebat dari para Pria. Aku benar-benar menghormatimu." ucap pasukan itu lagi dengan rasa hormat sembari menundukkan kepalanya sedikit.

"Sudahlah.. Aku hanya bisa memberikanmu saran, aku bisa sampai sejauh ini karena usahaku. Dan aku bisa sampai sekuat ini karena tekadku." ucap Rantara dengan nada santai.

"Aku akan menyimpan nasehat yang kau katakan itu, dan mungkin suatu hari aku akan melakukannya untuk bisa menjadi sepertimu" ucap pasukan itu dengan nada santai dan bersemangat.

"Hahaha..!! Aku menantikannya." ucap Rantara dengan senang sembari tersenyum.

*Berpindah ke ruangan Arstanta*

Salah satu Dokter keluar dari ruangan itu sembari berjalan santai.

Tanpa berlama-lama Wanita itu langsung menghampiri Dokter tersebut.

"Dokter.. Bagaimana kabar orang itu?" tanya Wanita itu dengan nada khawatir.

"Dia baik-baik saja, bersyukurlah." jawab Dokter itu dengan nada yang santai.

"Syukurlah, apa kau bisa menjenguknya?" tanya Wanita itu dengan nada penasaran dan penuh harapan.

"Hmm.. Aku rasa kamu bisa menjenguknya ketika dia sudah siuman." jawab Dokter itu dengan nada santai sembari tersenyum.

"Baiklah.. Aku akan menunggunya." ucap Wanita itu dengan nada sedikit sedih.

"Kalau begitu aku permisi dulu.." ucap Dokter itu dengan sopan.

"Baiklah Dok.. Aku juga ber terimakasih karena kamu sudah merawatnya dengan baik." ucap Wanita itu dengan santai.

Dokter hanya menganggukkan kepalanya, dan dia pun pergi meninggalkan wanita itu.

Beberapa jam berlalu, Wanita itu masih menunggu Arstanta siuman.

Arstanta tiba-tiba siuman dan mulai tersadar secara perlahan

"Aku.. Aku baik-baik saja?" tanya Arstanta dengan nada yang lemah.

"Apakah Radhel dan yang lainnya selamat?" tanya Arstanta lagi dengan nada yang khawatir di dalam hatinya

KRETEK..

Arstanta mendengar suara pintu yang terbuka dari ruangannya dan dia pun langsung menoleh ke arah suara tersebut.

"Arstanta.. Ini aku." ucap Wanita itu dengan nada senang dan bahagia sembari perlahan menedekati Arstanta.

Arstanta yang melihat Wanita itu hanya terdiam dan bingung.

"Siapa kamu?" tanya Arstanta dengan bingung.

"Aku Refta elna Arstanta." ucap Wanita itu dengan santai sembari tersenyum.

Arstanta pun terkejut mendengar nama itu.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!