7. SANG SNIPER

Robert dan Perty melihat jasad Ketua mereka di tumpukan tanah itu.

"A.. Aku benar-benar tidak sedang bermimpi kan?" tanya Robert dengan sangat panik dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

"Robert.. Laporkan ini ke seluruh anggota." ucap Perty dengan nada khawatir dan panik juga.

"Ba.. Baiklah." jawab Robert dengan terbata-bata dan khawatir

NITTT... NITTT... NITTT...

*Di markas ENTERPRISE ENTERTAINMENT*

Salah satu pekerja yang berada disana mengangkat telepon itu.

"Haloo.." ucap pekerja itu dengan ramah.

"Hei.. Ini aku Robert yang bertugas menjaga Ketua.

A.. Aku punya berita buruk." ucap Robert di telepon itu dengan panik sembari menceritakan apa yang dia lihat.

Pekerja itu merasa sangat terkejut setelah mendengarnya, dan tanpa berfikir panjang dia langsung berlari menuju ke ruangan Pemimpin pasukan yang berada di markas

TOK.. TOK.. TOK.. TOK..

Pekerja itu mengetuk pintu dengan sangat cepat dan panik.

"Tunggu sebentar." ucap salah satu Pemimpin pasukan perempuan disana, lalu dia membukakan pintunya.

"Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu panik?" tanya Pemimpin dengan nada bingung dan heran.

"Ini gawat.. Ini berita buruk" ucap pekerja itu dengan nada khawatir dan panik.

"Ada apa?" tanya Pemimpin pasukan itu.

"Ketua.." jawab pekerja itu dengan panik dan khawatir sembari menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Ketua.

Pemimpin pasukan itu sangat terkejut saat mendengar berita ini dari sang pekerja.

"JANGAN KATAKAN HAL BOD*HH SIAL*N..!!!" ucap Pemimpin itu dengan nada yang sangat marah dan kesal. Pemimpin itu juga menodongkan senjata pistol ke kepala pekerja tersebut.

"A.. Aku sama sekali tidak berbohong.. Aku mendengarnya dari Robert yang mengawal Ketua ke rumah sakit hari ini." ucap pekerja itu dengan panik dan ketakutan.

"Robert?!! Baiklah aku akan pergi ke rumah sakit sekarang..!!" ucap Pemimpin itu dengan nada kesal dan emosi lalu dia berjalan menuju ke parkiran.

*Berpindah ke Robert dan Perty*

Robert dan Perty yang berada disana masih tidak percaya dengan kejadian ini. Mereka berdua pun terus menggalinya sampai seluruh tubuh dari Ketua itu terlihat dengan jelas.

Disaat mereka terus menggali

DOOORR..

tiba-tiba mereka berdua mati tertembak oleh Sniper dari atas gedung rumah sakit.

*Berpindah ke ruangan Arstanta*

Arstanta mendengar suara tembakan Sniper dari atas gedung rumah sakit saat sedang berbicara dengan Radhel.

Radhel dan Arstanta pun langsung pergi ke gedung tersebut untuk mencari pelaku itu.

"Dimana dia? Aku yakin sekali mendengarnya disini." ucap Radhel dengan nada khawatir dan panik.

"Aku juga mendengarnya, aku rasa dia memang benar-benar disini." ucap Arstanta dengan bingung dan khawatir.

Radhel pun langsung memanggil pasukan Rantara untuk pergi ke rumah sakit

NITT.. NITTT... NITT..

Pasukan Rantara yang sedang bersama Taka itu mendengar Handphone milik temannya berbunyi.

"Hei.. Handphone kamu sepertinya mengeluarkan suara" ucap pasukan itu ke temannya dengan nada santai.

"Benarkah?" tanya pasukan itu dengan nada penasaran dan langsung mengambil Handphonenya.

Dia terkejut saat melihat seseorang yang meneleponnya, dan dia pun langsung mengangkatnya.

"Halo Boss.. Ada apa?" tanya pasukan itu dengan nada sedikit khawatir dan santai.

"Hei.. Kamu bersama Taka kan?" tanya Radhel ke pasukan itu.

"Iya.. Aku bersamanya sekarang" jawab pasukan itu dengan santai.

"Bagus.. Kalau begitu aku ingin kalian semua pergi ke rumah sakit sekarang..!!" ucap Radhel dengan nada sedikit tegas.

"Bagaimana dengan perangnya?" tanya pasukan itu dengan bingung.

"Rantara sudah diselamatkan, sekarang dia dirawat di rumah sakit yang berbeda." jawab Radhel dengan santai.

"Syukurlah kalau dia sudah selamat.. Kalau begitu kami akan segera ke lokasimu sekarang." ucap pasukan itu dengan yakin.

"Baiklah.. Aku tunggu kalian." ucap Radhel dengan nada sedikit lega dan langsung mematikan teleponnya

NIT...

"Ada apa?" tanya Taka dengan penasaran.

"Kita harus pergi ke rumah sakit di tempat Radhel berada sekarang" jawab pasukan itu dengan santai dan tenang.

"Bagaimana dengan pemimpinmu?" tanya Taka dengan bingung dan khawatir dengan keadaan Rantara.

"Dia sudah berhasil diselamatkan.. Sekarang dia berada di rumah sakit" jawab pasukan itu dengan santai dan perasaan tenang.

"Baguslah jika dia selamat" ucap Taka dengan nada tenang dan lega.

*Berpindah ke Arstanta dan Radhel*

TAP.. TAP.. TAP.. TAP..

Arstanta dan Radhel langsung menghampiri suara langkah kaki itu.

Ayok cepat Arstanta." ucap Radhel dengan nada khawatir sembari memegang pistol di tangannya.

TAP.. TAP.. TAP.. TAP..

Suara langkah kaki tersebut semakin dekat dan keras.

Seketika mereka berdua melihat sebuah ruangan di gedung itu.

Radhel memberi aba-aba untuk mendobrak pintu ruangan tersebut.

Arstanta pun maju dan langsung mendobrak pintu itu

BRAKKK...

Radhel langsung menodongkan pistolnya ke orang tersebut "HEI.. DIAM..!!" Teriak Radhel sembari menodongkan pistolnya ke orang itu.

Orang tersebut mengangkat tangannya dan dia mulai berbalik badan secara perlahan.

Radhel dan Arstanta terkejut saat melihat orang tersebut ternyata adalah Dokter dari rumah sakit itu.

"Ja.. Jangan tembak aku.. Aku mohon." ucap Dokter itu dengan nada ketakutan dan panik sembari mengangkat tangannya.

Arstanta dan Radhel yang melihatnya sangat terkejut "Ja.. Jangan takut, kami disini bukan untuk menembakmu" ucap Radhel dengan nada santai dan mencoba menenangkan Dokter tersebut.

"Memangnya ada apa disini?" tanya Dokter itu dengan penasaran.

"Apa kau benar-benar tidak mendengarnya?" tanya Radhel dengan nada yang bingung dan heran.

"Tadi ada suara tembakan dari sini, apa kau benar-benar tidak mendengarnya?" tanya Arstanta mencurigai Dokter ini.

"Apa yang kalian berdua katakan?" tanya Dokter itu semakin bingung dan heran.

Radhel menghampiri Arstanta dan menyuruhnya keluar duluan dengan memberi kode.

Arstanta pun keluar dari ruangan itu dengan cepat.

"Ohh.. Kalau begitu kami minta maaf karena sudah mengganggumu." ucap Radhel dengan ramah.

"Iyaa.. Tidak masalah," jawab Dokter itu dengan ramah juga "Baiklah.. Kalau begitu aku pergi dulu ya." ucap Dokter itu dengan senyum di wajahnya.

"Ohh.. Baiklah." jawab Radhel sembari tersenyum juga.

Dokter itu pun pergi meninggalkan Radhel.

*Di sisi Arstanta*

Arstanta yang sedang di luar ruangan itu mulai khawatir dengan Radhel yang ada di dalam ruangan.

Tiba-tiba Radhel keluar dari ruangan itu dengan santai.

"Apa yang terjadi?" tanya Arstanta.

"Tidak ada kok" jawab Radhel dengan santai dan tenang.

"Apa kau tidak berbohong kali ini?" tanya Arstanta lagi dengan nada mencurigai Radhel.

"Sudahlah.. Ayok kita cari pelaku itu." ucap Radhel sembari mendorong Arstanta turun dari tangga ruangan itu dan membawanya kembali ke ruangannya.

"Dia sangat mencurigakan, apa yang terjadi?" tanya Arstanta di dalam hatinya dengan dirinya sendiri.

*Setelah beberapa saat berlalu, pasukan Rantara yang bersama dengan Taka itu pun sampai di rumah sakit tempat Radhel berada. Dan Taka membawa ratusan pasukan miliknya untuk berjaga-jaga*

Taka pun langsung menelepon Radhel

NITT... NITT... NITTT... NITTT...

Radhel yang mendengar Handphonenya berbunyi langsung mengangkat panggilan telepon itu "Halo Taka.. Apa kau sudah sampai?" tanya Radhel dengan penasaran.

"Aku di depan rumah sakit, apa kau bisa menjemput kami?" tanya Taka ke Radhel dengan nada santai.

"Baiklah.. Aku akan kesana." ucap Radhel dengan nada santai.

"Baiklah akan aku tunggu." jawab Taka sebelum mematikan panggilan telepon tersebut.

NIT...

Radhel pun berjalan kaki menuju ke lokasi Taka dan pasukan Rantara itu.

Beberapa saat berlalu, Radhel pun sampai disana "Jadi.. Ada apa kau memanggil kami kemari?" tanya Taka dengan nada penasaran.

"Sebenarnya aku menyuruh kalian semua kemari untuk menyelidiki kasus yang baru saja terjadi." jawab Radhel dengan nada santai.

"Kasus apa? Memangnya apa yang terjadi di rumah sakit ini?" tanya Taka dengan penuh penasaran.

"Saat aku sedang berbincang dengan Arstanta, tiba-tiba ada suara tembakan Sniper dari atas gedung. Lalu ketika aku datang ke lokasi suara Sniper tersebut bersama Arstanta, aku hanya menemukan seorang Dokter disana. Dan anehnya Dokter tersebut mengatakan bahwa tidak ada suara tembakan Sniper disana." ucap Radhel dengan nada santai dan curiga.

Taka yang mendengar penjelasan Radhel itu langsung berfikir dan mencari keanehan.

"Oii.. Pasukan, aku ingin kalian memeriksa semua Dokter yang ada di rumah sakit ini sekarang..!!" ucap Taka dengan nada yang tegas.

"Hei.. Apa kau tidak berlebihan?" tanya Radhel dengan nada Khawatir.

"Kita harus mencari Dokter itu..!! Aku yakin dia pelakunya..!!" jawab Taka dengan nada sedikit kesal dan emosi.

"Tenang Taka.. Aku sudah mengurusnya." ucap Radhel dengan tenang.

"Apa maksudmu dengan mengurusnya?" tanya Taka dengan penasaran.

Radhel hanya tersenyum setelah mendengar pertanyaan dari Taka.

*Berpindah ke markas BLACKDHAT*

"Lambat laun perbuatanku pasti akan terungkap oleh perusahaan ENTERPRISE itu." ucap Ketua BLACKDHAT dengan santai.

"Kenapa kau setenang itu? Sedangkan dirimu bisa diancam dan nasibmu akan dipertaruhkan." tanya Anna dengan nada penasaran.

"Hahaha..!! Aku tau bagaimana hasilnya ini, kita pasti akan berperang." ucap Ketua BLACKDHAT dengan santai sembari tertawa.

*Berpindah ke Pemimpin pasukan ENTERPRISE yang sudah sampai di rumah sakit*

BROOOMMM....

Pemimpin itu memakirkan mobilnya dan mulai menyelidiki rumah sakit itu.

"Aku rasa disini harusnya ada 2 penjaga yang mengawal Ketua" ucap Pemimpin pasukan itu di dalam hatinya dengan bingung dan penasaran.

Pemimpin pasukan itu pun memeriksa seluruh area depan rumah sakit secara perlahan dan menyeluruh.

*Berpindah ke markas BLACKDHAT*

NITTT... NITTT... NITTT...

"Ada telepon dari seseorang." ucap salah satu pasukan BLACKDHAT.

"Biar aku saja yang mengangkatnya." ucap salah satu Pemimpin pasukan BLACKDHAT.

Salah satu Pemimpin pasukan itu pun mengangkat panggilan telepon tersebut.

"Halo.. Ini kami pasukan Sniper yang dikirim ke rumah sakit." ucap pasukan itu dengan nada santai.

"Ada apa?" tanya Pemimpin pasukan itu.

"Aku ingin melaporkan tentang kejadian yang ada di rumah sakit saat ini. Pertama.. Kami membunuh 2 orang pasukan ENTERPRISE saat mereka melihat jasad Ketua mereka yang dikubur.

Kedua.. Pria bernama Radhel dan Arstanta ikut campur dalam misi kali ini dan berhasil membunuh salah satu pasukan Sniper yang ada disini.

Dan yang terakhir.. Ada Pemimpin pasukan ENTERPRISE disini, dan nampaknya dia sedang menyelidiki kasus ini." ucap pasukan BLACKDHAT itu dengan santai.

"Laporan bagus.. Aku akan memberitahu Ketua." ucap Pemimpin pasukan BLACKDHAT itu dengan santai dan sedikit tegas.

"Baiklah.. Kalau begitu sekian dari saya." ucap pasukan tersebut dengan santai sebelum mematikan panggilan telepon itu.

NIT...

Pemimpin pasukan itu pun langsung pergi ke ruangan Ketua BLACKDHAT.

"Permisi.. Ini aku Raftel Coloska." ucap Pemimpin pasukan itu dengan nada santai dan sopan.

"Ohh.. Masuklah Raftel." ucap Ketua BLACKDHAT itu dengan santai sembari duduk di kursinya.

Raftel pun masuk ke ruangan Ketua dengan sopan "Permisi.. Aku baru saja mendapatkan informasi tentang peristiwa yang sedang terjadi di rumah sakit sekarang." ucap Pemimpin pasukan itu dengan tenang dan santai.

"Ohh.. Menarik.. Apa kau bisa mengatakan semua informasi itu padaku sekarang?" tanya Ketua BLACKDHAT dengan santai dan tenang.

"Baiklah.." jawab Raftel dengan santai. Lalu setelah itu dia langsung menjelaskan semua kejadian yang terjadi di rumah sakit saat ini.

"Hmm.. Ada salah satu Pemimpin pasukan mereka ya?" tanya Ketua BLACKDHAT itu.

"Benar... Sekarang dia berada di lokasi untuk melakukan penyelidikan." jawab Raftel dengan santai.

"Kalau begitu.. Bunuh saja dia." ucap Ketua BLACKDHAT itu dengan santai dan tenang.

"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu." ucap Raftel dengan sopan dan pergi meninggalkan ruangan Ketua BLACKDHAT.

*Di markas ENTERPRISE ENTERTAINMENT*

"HAH?!! APA KAU SERIUS?!!" tanya salah satu Pemimpin pasukan di sana dengan sangat terkejut.

"Benar.. Dia pergi kesana tanpa siapapun." jawab pekerja disana dengan nada sedikit khawatir dan panik.

"Aku akan kesana dengan pasukanku." ucap Pemimpin pasukan itu yang langsung bergegas menuju ke rumah sakit.

*Di tempat Radhel dan Taka*

"Aku membunuh Dokter itu." ucap Radhel dengan nada santai dan bangga.

"Tunggu sebentar.. Lalu untuk apa aku dipanggil kesini?" tanya Taka dengan nada bingung.

"Kau, aku dan Arstanta akan berada di rumah sakit ini lebih lama, dan juga untuk memastikan bahwa semuanya aman." jawab Radhel dengan santai.

"Bagaimana dengan pasukanku?" tanya Taka dengan penasaran.

"Pasukanmu berkeliling saja untuk mencari informasi.. Dan beberapa berjaga di depan ruangan Arstanta nanti." jawab Radhel dengan santai sembari menatap mata Taka.

"Ide bagus.. Baiklah kita jalankan rencana ini" ucap Taka dengan santai.

"Pasukan..!! Kalian berpatroli di area rumah sakit ini. Lalu jika salah satu dari kalian menemukan keanehan langsung saja telepon kami. Mengerti?!!" ucap Taka dengan tegas.

"Mengerti Pemimpin..!!" jawab para pasukan dengan tegas.

*Di pasukan Sniper BLACKDHAT*

NITTT... NITTT... NITTT..

Handphone salah satu prajurit berdering dengan suara yang cukup keras.

Pasukan itu pun mengangkat panggilan telepon itu "Halo.. Ada apa?" tanya pasukan itu dengan nada santai.

"Bunuh Pemimpin pasukan itu." ucap Raftel dengan santai.

"Baiklah.. Aku akan melakukannya." jawab pasukan itu sembari membidiknya.

*Berpindah ke ruangan Arstanta*

"Radhel pergi kemana sih?!! Lama banget" ucap Arstanta dengan jengkel karena kesepian.

Arstanta melihat seorang wanita yang sedang mencari sesuatu di taman rumah sakit.

"Apa yang dia cari?" ucap Astanta dengan suara yang pelan dan penasaran.

Arstanta terus memperhatikannya dengan penasaran

DOOORR...

Suara tembakan dari Sniper dengan sangat jelas terdengar di telinga Arstanta, lalu tiba-tiba wanita yang diperhatikan Arstanta langsung terjatuh.

"Ini gila..!!" ucap Arstanta dengan panik dan khawatir dengan keadaan wanita itu.

*Di sisi Radhel dan Taka*

Mereka berdua dan para pasukannya mendengar suara tembakan Sniper di rumah sakit itu.

"Ini gawat.. Mereka benar-benar masih ada disini." ucap Radhel dengan nada khawatir.

"Sniper? Apa yang mereka lakukan disini?" tanya Taka dengan nada bingung.

"Taka.. Apa kau merasa ada yang aneh di rumah sakit ini?" tanya Radhel dengan nada curiga dan penasaran.

"Ada apa? Aku tidak tau." jawab Taka dengan nada yang bingung.

"Kenapa sejak tadi kita tidak melihat satu pun orang disini, bahkan saat ada suara tembakan Sniper yang sangat keras seperti tadi, tidak ada seseorang pun yang keluar dari ruangan rumah sakit ini." ucap Radhel dengan nada curiga dan sedikit bingung.

"Benar juga..!!" jawab Taka dengan suara yang sedikit keras karena baru sadar dengan perkataan Radhel.

"Untuk saat ini kita sembunyi dulu, sembari melihat situasi." ucap Radhel dengan santai dan khawatir.

BROOOOMMMM....

Dari kejauhan terdengar suara mobil Sport dan mobil-mobil lainnya yang mengarah ke rumah sakit ini.

Radhel dan Taka memperhatikan arah datangnya mobil-mobil itu dengan cukup serius.

Setelah beberapa saat, mobil Sport itu langsung masuk ke rumah sakit bersama mobil-mobil lainnya.

Pemimpin pasukan itu parkir di dekat taman rumah sakit. Lalu semua pasukannya melindungi mobil Pemimpin tersebut dengan menutupinya menggunakan mobil-mobil mereka.

"Pasukan selidiki tempat ini..!!" ucap Pemimpin pasukan tersebut dengan nada yang tegas.

Setelah beberapa menit menyelidiki taman rumah sakit, salah satu pasukan menemukan jasad wanita yang tergeletak di taman itu. Dia melihat jasad itu memiliki luka tembakan di kepalanya.

"

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!