Bab 19. Bukan tak peduli

Pagi menyapa, sudah jam 7 lebih dan Febby belum juga keluar dari kamar. Fabio berpikir jika Febby hanya merajuk saja. Ia menunggu di meja makan, dan hidangan belum ada satu pun yang Ia sentuh. Waktu terus bergulir, Fabio mulai merasa khawatir. Ia teringat semalam jika suhu tubuh Febby sedikit meningkat. Cepat-cepat Fabio menyusul Febby ke kamarnya. Ia tak menghiraukan Sammy yang hendak menyapanya di ruang tengah. Meski terheran, namun Sammy terus memperhatikan langkah Tuannya yang menghampiri kamar Nona kecilnya. Terlihat Fabio mengetuk pintu beberapa kali, namun tak kunjung terbuka. Selanjutnya Sammy melihat Fabio mendorong dan mencoba memaksa mendobrak pintu sekuat tenaga. Secepatnya Ia bergegas menyusul dan membantu. Alhasil, pintu berhasil terbuka dan Fabio segera menghampiri Febby yang masih terbaring di tempat tidur. Ia benar-benar panik mendapati kondisi Febby yang jauh dari kata baik.

"Tissue Sam!" Titah Fabio mengubah posisi tidur Febby. Terasa panas suhu tubuh Putrinya sampai Ia merasa tengah berada di musim panas. Wajahnya sangat pucat, dan kulitnya sedikit memerah.

"Nak! Bangun Nak!" Fabio berusaha mengguncangkan tubuh Febby berharap Putrinya segera bangun, namun tubuhnya semakin melemah. Ketakutan mulai menyeruak, Fabio tak bisa mengendalikan dirinya yang semakin gemetar menghadapi situasi yang paling Ia takutkan.

"Ini Papa, Nak! Bangun ya!" Suara Fabio kian melirih dan gemetar seraya membersihkan darah kering di wajah Febby. Ia penasaran sejak kapan darah itu keluar, mengapa sampai sekering itu? Bahkan di atas bantal pun begitu banyak.

"Tuan! Kita harus segera bawa Nona ke rumah sakit." Ujar Sammy memecah kepanikan Fabio. Ia tam tahu harus berbuat apa. Seluruh tubuhnya mendadak lemas dan sulit bergerak. Ia terlalu takut jika Putrinya sampai kenapa-kenapa karena dirinya.

"Tuan!" Entah panggilan ke berapa, akhirnya Fabio tersadar dari lamunannya. "Tuan jangan khawatir. Nona akan baik-baik saja. Biar saya yang bawa Nona ke rumah sakit. Setelah itu, saya akan menyuruh Laluna untuk menyusul. Dan saya akan menjemput Tuan." Tutur Sammy sepertinya belum bisa Fabio pahami. Sammy tahu jika Tuannya mulai depresi karena khawatir yang berlebihan. Namun Fabio mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha keluar dari rasa takutnya.

"Aku ikut denganmu Sam. Biar aku yang bawa Febby. Kau siapkan mobil dan kabari Laluna." Setelah memberi perintah tersebut, Fabio segera membawa Febby dengan membungkusnya memakai selimut. Ia khawatir jika angin akan memperparah kondisi Putrinya.

Sepanjang perjalanan, Fabio tak henti memeluk dan menciumi wajah pucat Febby yang seakan enggan membuka mata. Bahkan tanda-tandanya pun tak ada. Hal itu membuat Fabio semakin takut akan kemungkinan yang terjadi pada Febby. Sebisa mungkin, Ia berusaha tenang karena jika panik hanya akan membuat situasi menjadi rumit.

"Kalau kau anakku, kau pasti kuat. Kau tak akan kalah dengan penyakit seperti ini." Ujar Fabio terdengar begitu dingin dan menusuk tulang. Sammy merasa merinding mendengarnya.

...****************...

Sampai di depan rumah sakit, Sammy langsung menghubungi petugas agar segera menangani Febby. Tepat saat Febby tengah ditangani, Sammy melihat wajah tak asing yang sama-sama ditangani di UGD.

"Temannya Nona Febby." Ujar Sammy bergumam sendiri.

"Sam! Kau ke kantor saja. Biar aku yang mengurus semua keperluan Febby." Titah Fabio ditanggapi anggukan oleh Sammy yang langsung berlalu karena waktu sudah begitu terlambat untuk melakukan sebuah rapat.

"Febby.." lirih Rega mencoba bangkit, namun tubuhnya benar-benar lemas. Penyakitnya kambuh di waktu yang tidak tepat. Ia dibawa ke ruangan lain untuk melakukan pemeriksaan yang lebih intensif. Harapan untuk kembali bertemu dengan Febby semakin menguatkan tekad Rega untuk bertahan sekuat tenaganya. Ia tak boleh tumbang sebelum melamar pujaan hatinya.

...****************...

"Rega dan Febby tidak masuk?" Tanya seorang guru sebelum memulai pembelajaran. Seluruh murid di kelas menjawab serentak.

"Iya bu!"

"Kalau dilihat dari kondisinya kemarin, sepertinya Febby sakit bu. Soalnya kemarin badannya udah agak panas." Ujar Abila menerka dengan tak yakin. Ia sendiri tak tahu kemana Febby. Ponselnya pun tak aktif. Ia kesulitan mencari informasi.

"Ya sudah. Tunggu kabar dari keluarganya saja. Kalau memang sakit, pasti keluarganya menghubungi pihak sekolah. Terus, Rega kemana?" Tanya guru selanjutnya.

"Sebelum berangkat, saya lihat dia pakai seragam bu. Tapi, gak tahu kemana." Rangga menjawab seingat dirinya saja. Ia tak mau menambah atau mengurangi informasi apapun. Ketiadaan dua anak manusia itu berhasil membuat seisi kelas penasaran kemana mereka pergi.

...****************...

Siang menjelang, Laluna mengusap keringat Febby yang bercucuran setelah Ia di suntikkan obat penurun panas. Laluna sendiri merasa terkejut mendengar Febby yang tak kunjung bangun dari tidurnya. Bahkan Ia sempat tak bisa bernafas saat melihat kondisi Febby yang lain dari biasanya.

"Aunty..." lirih Febby tak begitu terdengar jelas oleh Laluna, sehingga wanita itu harus mendekatkan telinganya untuk memperjelas apa yang Febby katakan. Namun, bukannya mendapat jawaban, Ia justru melihat air mata mengalir tanpa sebab dari mata yang masih terpejam. Ia penasaran, sudah dari kapan keponakannya ini menangis? Dan sudah sejak kapan panasnya bertambah sampai tubuhnya memerah seperti ini. Bahkan kondisinya hampir kritis.

"Apa yang kau lakukan sebenarnya? Kenapa Febby sampai mengalami ini? Apa kau tidak sadar Febby sakit? Apa kau tak mengecek kondisinya sebelum tidur?" Pertanyaan beruntun Laluna itu tak mendapatkan jawaban apapun. Fabio hanya menghela nafas dalam seraya bersandar di sofa dengan mata terpejam.

"Fabio. Aku bertanya padamu!" Laluna mulai kesal, Ia beranjak dan menghampiri Fabio lalu menepuk pipinya dengan keras. Terlihat pria itu mengerjap, lalu tak berselang lama Fabio menatap dalam wajah Laluna. Dejavu? Mungkin iya. Fabio seolah melihat Ralisha di wajah Laluna. Namun Ia segera menepis bayangan itu sebelum membuat kesalahan.

"Aku tidak tahu." Sanggah Fabio menyembunyikan fakta bahwa semua ini karena perbuatan dan ketidaksadarannya pada kondisi Febby.

"Ugh.... Aunty...." panggil Febby memecah keheningan yang tercipta setelah penjelasan Fabio tadi. Laluna segera menghampiri Febby yang sepertinya memang mencari dirinya.

"Aunty... mau pulang." Lirihnya kembali menangis. Laluna tak bisa terus menyimpan rasa penasarannya pada masalah ini.

"Iya nanti kalau kamu sudah sembuh, kita pulang, ya!"

"Enggak. Mau pulang sekarang. Mau pulang ke rumah Aunty." Febby semakin merengek.

"Loh kenapa? Ini baru hari kamis loh." Respons Laluna demikian. Ia merasa heran mengapa keponakannya bersikeras ingin pulang ke rumahnya.

"Papa gak sayang sama Febby. Papa benci sama Febby. Papa ga berharap Febby ada. Papa bilang Febby anak sial. Karena Febby, Mama meninggal. Febby anak sial, Aunty? Kalau Febby anak sial, kenapa Mama milih melahirkan Febby? Kenapa gak dari awal Mama gugurkan kandungannya biar Febby gak lahir."

"Febby.. Febby sudah! Jangan diteruskan! Kalau memang semalam Papa bilang begitu sama kamu, mungkin Papamu tak sadar. Papamu tak mungkin setega itu sama kamu.." Laluna segera memeluk keponakannya dengan harap emosi dan tangisnya mereda.

"Sudah mengocehnya? Kalau keadaanmu sudah membaik, aku akan pergi. Banyak pekerjaan menungguku." Ujar Fabio benar-benar lebih dingin dan menusuk daripada angin malam. Febby mencengkram erat selimut dan memalingkan wajah ketika Fabio menghampiri lalu mencium kepalanya. Dan setelah itu, Fabio berlalu tanpa menoleh ke belakang. Hanya Febby yang merasakan sikap acuh Fabio,sementara Laluna melihat hal lain di wajah san sikap Fabio.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!