Pagi menyapa, sudah jam 7 lebih dan Febby belum juga keluar dari kamar. Fabio berpikir jika Febby hanya merajuk saja. Ia menunggu di meja makan, dan hidangan belum ada satu pun yang Ia sentuh. Waktu terus bergulir, Fabio mulai merasa khawatir. Ia teringat semalam jika suhu tubuh Febby sedikit meningkat. Cepat-cepat Fabio menyusul Febby ke kamarnya. Ia tak menghiraukan Sammy yang hendak menyapanya di ruang tengah. Meski terheran, namun Sammy terus memperhatikan langkah Tuannya yang menghampiri kamar Nona kecilnya. Terlihat Fabio mengetuk pintu beberapa kali, namun tak kunjung terbuka. Selanjutnya Sammy melihat Fabio mendorong dan mencoba memaksa mendobrak pintu sekuat tenaga. Secepatnya Ia bergegas menyusul dan membantu. Alhasil, pintu berhasil terbuka dan Fabio segera menghampiri Febby yang masih terbaring di tempat tidur. Ia benar-benar panik mendapati kondisi Febby yang jauh dari kata baik.
"Tissue Sam!" Titah Fabio mengubah posisi tidur Febby. Terasa panas suhu tubuh Putrinya sampai Ia merasa tengah berada di musim panas. Wajahnya sangat pucat, dan kulitnya sedikit memerah.
"Nak! Bangun Nak!" Fabio berusaha mengguncangkan tubuh Febby berharap Putrinya segera bangun, namun tubuhnya semakin melemah. Ketakutan mulai menyeruak, Fabio tak bisa mengendalikan dirinya yang semakin gemetar menghadapi situasi yang paling Ia takutkan.
"Ini Papa, Nak! Bangun ya!" Suara Fabio kian melirih dan gemetar seraya membersihkan darah kering di wajah Febby. Ia penasaran sejak kapan darah itu keluar, mengapa sampai sekering itu? Bahkan di atas bantal pun begitu banyak.
"Tuan! Kita harus segera bawa Nona ke rumah sakit." Ujar Sammy memecah kepanikan Fabio. Ia tam tahu harus berbuat apa. Seluruh tubuhnya mendadak lemas dan sulit bergerak. Ia terlalu takut jika Putrinya sampai kenapa-kenapa karena dirinya.
"Tuan!" Entah panggilan ke berapa, akhirnya Fabio tersadar dari lamunannya. "Tuan jangan khawatir. Nona akan baik-baik saja. Biar saya yang bawa Nona ke rumah sakit. Setelah itu, saya akan menyuruh Laluna untuk menyusul. Dan saya akan menjemput Tuan." Tutur Sammy sepertinya belum bisa Fabio pahami. Sammy tahu jika Tuannya mulai depresi karena khawatir yang berlebihan. Namun Fabio mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha keluar dari rasa takutnya.
"Aku ikut denganmu Sam. Biar aku yang bawa Febby. Kau siapkan mobil dan kabari Laluna." Setelah memberi perintah tersebut, Fabio segera membawa Febby dengan membungkusnya memakai selimut. Ia khawatir jika angin akan memperparah kondisi Putrinya.
Sepanjang perjalanan, Fabio tak henti memeluk dan menciumi wajah pucat Febby yang seakan enggan membuka mata. Bahkan tanda-tandanya pun tak ada. Hal itu membuat Fabio semakin takut akan kemungkinan yang terjadi pada Febby. Sebisa mungkin, Ia berusaha tenang karena jika panik hanya akan membuat situasi menjadi rumit.
"Kalau kau anakku, kau pasti kuat. Kau tak akan kalah dengan penyakit seperti ini." Ujar Fabio terdengar begitu dingin dan menusuk tulang. Sammy merasa merinding mendengarnya.
...****************...
Sampai di depan rumah sakit, Sammy langsung menghubungi petugas agar segera menangani Febby. Tepat saat Febby tengah ditangani, Sammy melihat wajah tak asing yang sama-sama ditangani di UGD.
"Temannya Nona Febby." Ujar Sammy bergumam sendiri.
"Sam! Kau ke kantor saja. Biar aku yang mengurus semua keperluan Febby." Titah Fabio ditanggapi anggukan oleh Sammy yang langsung berlalu karena waktu sudah begitu terlambat untuk melakukan sebuah rapat.
"Febby.." lirih Rega mencoba bangkit, namun tubuhnya benar-benar lemas. Penyakitnya kambuh di waktu yang tidak tepat. Ia dibawa ke ruangan lain untuk melakukan pemeriksaan yang lebih intensif. Harapan untuk kembali bertemu dengan Febby semakin menguatkan tekad Rega untuk bertahan sekuat tenaganya. Ia tak boleh tumbang sebelum melamar pujaan hatinya.
...****************...
"Rega dan Febby tidak masuk?" Tanya seorang guru sebelum memulai pembelajaran. Seluruh murid di kelas menjawab serentak.
"Iya bu!"
"Kalau dilihat dari kondisinya kemarin, sepertinya Febby sakit bu. Soalnya kemarin badannya udah agak panas." Ujar Abila menerka dengan tak yakin. Ia sendiri tak tahu kemana Febby. Ponselnya pun tak aktif. Ia kesulitan mencari informasi.
"Ya sudah. Tunggu kabar dari keluarganya saja. Kalau memang sakit, pasti keluarganya menghubungi pihak sekolah. Terus, Rega kemana?" Tanya guru selanjutnya.
"Sebelum berangkat, saya lihat dia pakai seragam bu. Tapi, gak tahu kemana." Rangga menjawab seingat dirinya saja. Ia tak mau menambah atau mengurangi informasi apapun. Ketiadaan dua anak manusia itu berhasil membuat seisi kelas penasaran kemana mereka pergi.
...****************...
Siang menjelang, Laluna mengusap keringat Febby yang bercucuran setelah Ia di suntikkan obat penurun panas. Laluna sendiri merasa terkejut mendengar Febby yang tak kunjung bangun dari tidurnya. Bahkan Ia sempat tak bisa bernafas saat melihat kondisi Febby yang lain dari biasanya.
"Aunty..." lirih Febby tak begitu terdengar jelas oleh Laluna, sehingga wanita itu harus mendekatkan telinganya untuk memperjelas apa yang Febby katakan. Namun, bukannya mendapat jawaban, Ia justru melihat air mata mengalir tanpa sebab dari mata yang masih terpejam. Ia penasaran, sudah dari kapan keponakannya ini menangis? Dan sudah sejak kapan panasnya bertambah sampai tubuhnya memerah seperti ini. Bahkan kondisinya hampir kritis.
"Apa yang kau lakukan sebenarnya? Kenapa Febby sampai mengalami ini? Apa kau tidak sadar Febby sakit? Apa kau tak mengecek kondisinya sebelum tidur?" Pertanyaan beruntun Laluna itu tak mendapatkan jawaban apapun. Fabio hanya menghela nafas dalam seraya bersandar di sofa dengan mata terpejam.
"Fabio. Aku bertanya padamu!" Laluna mulai kesal, Ia beranjak dan menghampiri Fabio lalu menepuk pipinya dengan keras. Terlihat pria itu mengerjap, lalu tak berselang lama Fabio menatap dalam wajah Laluna. Dejavu? Mungkin iya. Fabio seolah melihat Ralisha di wajah Laluna. Namun Ia segera menepis bayangan itu sebelum membuat kesalahan.
"Aku tidak tahu." Sanggah Fabio menyembunyikan fakta bahwa semua ini karena perbuatan dan ketidaksadarannya pada kondisi Febby.
"Ugh.... Aunty...." panggil Febby memecah keheningan yang tercipta setelah penjelasan Fabio tadi. Laluna segera menghampiri Febby yang sepertinya memang mencari dirinya.
"Aunty... mau pulang." Lirihnya kembali menangis. Laluna tak bisa terus menyimpan rasa penasarannya pada masalah ini.
"Iya nanti kalau kamu sudah sembuh, kita pulang, ya!"
"Enggak. Mau pulang sekarang. Mau pulang ke rumah Aunty." Febby semakin merengek.
"Loh kenapa? Ini baru hari kamis loh." Respons Laluna demikian. Ia merasa heran mengapa keponakannya bersikeras ingin pulang ke rumahnya.
"Papa gak sayang sama Febby. Papa benci sama Febby. Papa ga berharap Febby ada. Papa bilang Febby anak sial. Karena Febby, Mama meninggal. Febby anak sial, Aunty? Kalau Febby anak sial, kenapa Mama milih melahirkan Febby? Kenapa gak dari awal Mama gugurkan kandungannya biar Febby gak lahir."
"Febby.. Febby sudah! Jangan diteruskan! Kalau memang semalam Papa bilang begitu sama kamu, mungkin Papamu tak sadar. Papamu tak mungkin setega itu sama kamu.." Laluna segera memeluk keponakannya dengan harap emosi dan tangisnya mereda.
"Sudah mengocehnya? Kalau keadaanmu sudah membaik, aku akan pergi. Banyak pekerjaan menungguku." Ujar Fabio benar-benar lebih dingin dan menusuk daripada angin malam. Febby mencengkram erat selimut dan memalingkan wajah ketika Fabio menghampiri lalu mencium kepalanya. Dan setelah itu, Fabio berlalu tanpa menoleh ke belakang. Hanya Febby yang merasakan sikap acuh Fabio,sementara Laluna melihat hal lain di wajah san sikap Fabio.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments