"Apa kabar?" Ulang Seth yang tak mendapati jawaban di pertanyaan sebelumnya. Ia teringin tahu kabar mantan kekasih yang sudah 5 tahun ini tak ada komunikasi sama sekali.
"A-aku baik. Kau?" Respons Laluna mendadak gugup. Bohong jika Ia tak senang Seth menemuinya. Hanya saja, tubuhnya tak bisa Ia kendalikan. Lututnya mendadak gemetaran dan jantungnya berdegup kencang.
"Aku juga baik." Jawab Seth semakin mendekati Laluna. Gadis itu menghindar tak ingin ada kesalahpahaman diantara Ia dan karyawannya. Nuna memilih masuk ke ruangan Laluna terlebih dahulu dan membiarkan Laluna berbincang dengan tamunya.
"Apa yang membuatmu datang ke sini, Seth?" Tanya Laluna memecah keheningan diantara mereka.
"Mungkin aku tak akan basa-basi. Langsung saja, apa akhir pekan nanti kau ada waktu luang?"
Sejenak, Laluna terdiam beberapa detik, Ia tak bisa berucap, sehingga Ia menggeleng menanggapi pertanyaan Seth. Pria itu memiringkan kepalanya dan memicingkan matanya seakan bertanya maksudnya apa.
"Aku ada rencana dengan keponakanku." Ujar Laluna pada akhirnya. Ia sekuat tenaga menenangkan dirinya agar tidak nervous di depan Seth.
"Ah aku kalah lagi dari keponakanmu ya?" Meski Seth berucap dengan diiringi tawa, namun Laluna tahu jika Seth kecewa akan jawabannya. Sedari dulu, Seth selalu mengalah jika Laluna tak bisa meninggalkan Febby. Bahkan Ia rela tak jadi menikah karena masih ragu akan keadaan Febby yang belum bertemu dengan Fabio. Karena saat itu Laluna tak ada hati untuk mengungkap siapa keluarga Febby sebenarnya. Ia terlalu takut pada konsekuensi yang akan terjadi jika bertindak gegabah.
"Bukankah keponakanmu itu sudah bertemu dengan keluarganya? Mengapa kau masih repot dengan keponakanmu itu?" Kali ini suara Seth terdengar begitu dingin dan menekan sampai Laluna merinding dibuatnya. Namun saat Laluna menatap kedua mata Seth, Ia hanya mendapati tatapan hangat penuh kasih dan senyum manis di sana. Tak ada sesuatu yang membuatnya kesal seperti ucapannya tadi.
"Bagaimana pun, Febby masih keponakanku." Ujar Laluna menegaskan. Tatapannya yang serius berhasil membuat Seth gemas, sehingga Seth tak bisa menahan diri untuk mencium pipi Laluna. Mata gadis itu kembali membulat tak menyangka akan mendapatkan hal demikian dari pria yang bukan miliknya.
"Apa yang kau lakukan Seth?" Pekik Laluna menarik diri menjauh dari Seth sejauh mungkin.
"Kabari aku jika kau siap menikah. Aku masih menunggumu, Laluna." Tanpa memberi alasan, Seth menuturkan kalimat yang tak bisa di cerna oleh akal Laluna. Seharusnya mereka berpisah sejak 5 tahun yang lalu. Dan seharunya Seth menikah lebih dulu. Sendu yang Laluna rasa ketika Ia menatap kepergian Seth dari hadapannya. Ia menyalahi, mengapa takdir kembali membawa Seth padanya disaat Ia sudah menemukan pelabuhan hati yang lain. Meski kisahnya lebih rumit dari Seth.
...****************...
Sore menjelang, Laluna memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan menutup butik sesegera mungkin karena Ia ingin bergegas bertemu dengan Fabio. Alasan lainnya, Ia ingin bertemu dengan Febby.
Sampai di kediaman Fabio, Ia tak menemukan keberadaan Febby ataupun Fabio di jam yang sudah sore. Seingatnya, Febby sudah pulang sekolah di jam ini, dan Fabio pun tak mungkin bekerja lembur.
Tak berselang lama, ketika Laluna tengah duduk di teras ditemani secangkir teh dari pelayang rumah tangga, Ia melihat mobil pemilik rumah akhirnya datang. Yang membuatnya heran, Febby terlihat begitu bahagia dan seperti puas hati saat melihat wajah datar Fabio yang segera berlalu ke belakang mobil setelah Ia keluar dari tempat kemudi. Dan selanjutnya terlihat Fabio membawa beberapa kantong belanjaan di tangannya.
"Aunty...." teriaknya segera berlari dan memeluk Laluna dengan erat.
"Kau baru pulang sekolah?" Tanya Laluna mencari tahu sekaligus memastikan dugaannya benar.
"Tidak. Aku sudah pulang dari tadi. Aunty... ternyata tempat kerja Aunty yang kemarin itu tempatnya besar ya? Aku tadi ke sana dengan Papa. Aku kira tak sebesar itu. Sebelumnya aku hanya menebak saja karena tak tahu di dalamnya seperti apa."
"Kau dari kantor Avasatya?" Laluna tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, Ia sedikit memekik saat melontarkan pertanyaan tersebut. Dan Febby mengangguk antusias merasa sangat senang. Bahkan kesenangannya lebih terpancar melebihi saat bersamanya. Ternyata keputusannya tidak salah untuk menyatukan Fabio dengan Febby. Memang inilah hal yang Ia inginkan sejak lama.
"Aku tunggu di ruang kerjaku." Ujar Fabio ketika melewati Laluna. Suara khas itu memang terdengar menekan dan tegas, namun Laluna tahu jika Fabio tidak sedang marah. Itu hanya pembawaan Fabio yang memiliki sikap dingin.
Laluna mengikuti langkah ringan Febby yang mengiringinya sampai ke ruang keluarga. Setelahnya Febby memilih untuk membongkar semua belanjaan yang Fabio letakkan di atas meja.
"Aunty... nanti jangan dulu pulang ya! Ke kamar Febby dulu." Ujar Febby menghentikan langkah Laluna yang sudah hampir sampai di depan pintu ruangan. Ia mengangguk seraya tersenyum hingga akhirnya berlalu memasuki ruang kerja Fabio. Dengan gugup, Laluna duduk di sofa tepatnya di seberang Fabio yang menyilangkan kakinya dan ponsel ditangannya.
"Kau menolak pemberianku? Lalu kau malah memintaku menjadi walimu? Dalam hal apapun? Kenapa kau memintanya padaku?" Pertanyaan beruntun itu tak bisa langsung Laluna jawab. Kegugupannya mulai menyeruak hingga tubuhnya mendadak gemetar khawatir.
"A-anu... a-aku minta maaf. Aku tak mau jika menerima semua pemberianmu, itu kesannya seperti aku menjual Febby padamu." Mendengar jawaban Laluna tersebut, Fabio menghentikan aktifitas di ponselnya. Ia meletakkan benda pipih itu di atas meja lalu perhatiannya tertuju pada Laluna yang semakin menunduk.
"Otakmu ada, tapi pikiranmu tidak ada." Cibir Fabio membuat Laluna mendongak hendak menampik ucapannya, namun Fabio memberikan kode tangan agar Laluna diam karena Ia belum selesai berbicara.
"Aku ayah kandung Febby, ayah biologisnya. Dilihat dari manapun, aku yang memiliki tanggung jawab atas dirinya. Aku memberikan semua itu padamu hanya untuk berterima kasih dan mengganti semua biaya yang sudah kau keluarkan untuk merawat Febby. Mungkin tidak seberapa, tapi itu cukup untuk membuatmu hidup, bukan? Jangan berpikir ini tentang jual beli. Aku ingin menebus kesalahanku. Dan hanya dengan cara ini aku mengganti semua jasamu. Jadi, jangan banyak alasan kau menolak pemberianku. Ini hadiah dariku sebagai kakak iparmu." Lanjut Fabio menegaskan. Laluna masih menunduk karena tak bisa membantah apa yang Fabio katakan itu.
"Tapi... kalau aku terima semua itu, permintaanku--"
"Aku bersedia menjadi walimu. Jadi pastikan kau tak protes lagi."
"Eh?" Respons Laluna menatap Fabio dengan bingung. Ia belum paham dengan apa yang diucapkan mantan kakak iparnya tersebut.
"Kau mendapatkan semua hadiah dariku, dan juga mendapatkan peranku sebagai walimu. Apa ada hal lain yang kau inginkan lagi?" Tutur Fabio menjelaskan ulang sekaligus memastikan Laluna sudah puas atau belum.
"Ohh ti-tidak ada. Te-terima kasih."
"Hemmm" hanya begitu tanggapan Fabio. Ia kembali meraih ponselnya dan sibuk dengan benda canggih tersebut. Laluna memilih untuk berlalu dari hadapan Fabio dan segera menghampiri Febby di kamarnya.
Fabio melirik ke arah pintu dimana saat ini sudah kembali tertutup. Ia menghela nafas dalam lalu menatap ponselnya yang baru saja masuk sebuah pesan. Ia memijit kepalanya merasa pening akan apa yang Sammy laporkan padanya.
"Revian Danish. Seth Kei Elfathan. Kenapa harus dua orang itu yang dekat dengan Laluna? Dengan Seth, aku tak menjamin kebahagiaannya. Dia terlalu licik sebagai asisten Reindra. Dan dengan Revian pun, jangankan kebahagiaan bahkan restu saja tak Ia dapatkan hanya karena perbedaan usia. Laluna. Kau berhak mendapatkan pasangan yang baik. Tapi aku akui, Seth bisa diandalkan sebagai kekasih masa lalu Laluna daripada Revian yang tak bisa membela Laluna di depan keluarganya" Fabio bergumam sendiri di ruangannya. Sampai Ia memejamkan mata dengan bersandar di sofa. Tak bisa dipungkiri, Ia memang menyayangi Laluna sebagai adik kecilnya dulu.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments