Bab 17. Kekasih masa lalu

"Apa kabar?" Ulang Seth yang tak mendapati jawaban di pertanyaan sebelumnya. Ia teringin tahu kabar mantan kekasih yang sudah 5 tahun ini tak ada komunikasi sama sekali.

"A-aku baik. Kau?" Respons Laluna mendadak gugup. Bohong jika Ia tak senang Seth menemuinya. Hanya saja, tubuhnya tak bisa Ia kendalikan. Lututnya mendadak gemetaran dan jantungnya berdegup kencang.

"Aku juga baik." Jawab Seth semakin mendekati Laluna. Gadis itu menghindar tak ingin ada kesalahpahaman diantara Ia dan karyawannya. Nuna memilih masuk ke ruangan Laluna terlebih dahulu dan membiarkan Laluna berbincang dengan tamunya.

"Apa yang membuatmu datang ke sini, Seth?" Tanya Laluna memecah keheningan diantara mereka.

"Mungkin aku tak akan basa-basi. Langsung saja, apa akhir pekan nanti kau ada waktu luang?"

Sejenak, Laluna terdiam beberapa detik, Ia tak bisa berucap, sehingga Ia menggeleng menanggapi pertanyaan Seth. Pria itu memiringkan kepalanya dan memicingkan matanya seakan bertanya maksudnya apa.

"Aku ada rencana dengan keponakanku." Ujar Laluna pada akhirnya. Ia sekuat tenaga menenangkan dirinya agar tidak nervous di depan Seth.

"Ah aku kalah lagi dari keponakanmu ya?" Meski Seth berucap dengan diiringi tawa, namun Laluna tahu jika Seth kecewa akan jawabannya. Sedari dulu, Seth selalu mengalah jika Laluna tak bisa meninggalkan Febby. Bahkan Ia rela tak jadi menikah karena masih ragu akan keadaan Febby yang belum bertemu dengan Fabio. Karena saat itu Laluna tak ada hati untuk mengungkap siapa keluarga Febby sebenarnya. Ia terlalu takut pada konsekuensi yang akan terjadi jika bertindak gegabah.

"Bukankah keponakanmu itu sudah bertemu dengan keluarganya? Mengapa kau masih repot dengan keponakanmu itu?" Kali ini suara Seth terdengar begitu dingin dan menekan sampai Laluna merinding dibuatnya. Namun saat Laluna menatap kedua mata Seth, Ia hanya mendapati tatapan hangat penuh kasih dan senyum manis di sana. Tak ada sesuatu yang membuatnya kesal seperti ucapannya tadi.

"Bagaimana pun, Febby masih keponakanku." Ujar Laluna menegaskan. Tatapannya yang serius berhasil membuat Seth gemas, sehingga Seth tak bisa menahan diri untuk mencium pipi Laluna. Mata gadis itu kembali membulat tak menyangka akan mendapatkan hal demikian dari pria yang bukan miliknya.

"Apa yang kau lakukan Seth?" Pekik Laluna menarik diri menjauh dari Seth sejauh mungkin.

"Kabari aku jika kau siap menikah. Aku masih menunggumu, Laluna." Tanpa memberi alasan, Seth menuturkan kalimat yang tak bisa di cerna oleh akal Laluna. Seharusnya mereka berpisah sejak 5 tahun yang lalu. Dan seharunya Seth menikah lebih dulu. Sendu yang Laluna rasa ketika Ia menatap kepergian Seth dari hadapannya. Ia menyalahi, mengapa takdir kembali membawa Seth padanya disaat Ia sudah menemukan pelabuhan hati yang lain. Meski kisahnya lebih rumit dari Seth.

...****************...

Sore menjelang, Laluna memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan menutup butik sesegera mungkin karena Ia ingin bergegas bertemu dengan Fabio. Alasan lainnya, Ia ingin bertemu dengan Febby.

Sampai di kediaman Fabio, Ia tak menemukan keberadaan Febby ataupun Fabio di jam yang sudah sore. Seingatnya, Febby sudah pulang sekolah di jam ini, dan Fabio pun tak mungkin bekerja lembur.

Tak berselang lama, ketika Laluna tengah duduk di teras ditemani secangkir teh dari pelayang rumah tangga, Ia melihat mobil pemilik rumah akhirnya datang. Yang membuatnya heran, Febby terlihat begitu bahagia dan seperti puas hati saat melihat wajah datar Fabio yang segera berlalu ke belakang mobil setelah Ia keluar dari tempat kemudi. Dan selanjutnya terlihat Fabio membawa beberapa kantong belanjaan di tangannya.

"Aunty...." teriaknya segera berlari dan memeluk Laluna dengan erat.

"Kau baru pulang sekolah?" Tanya Laluna mencari tahu sekaligus memastikan dugaannya benar.

"Tidak. Aku sudah pulang dari tadi. Aunty... ternyata tempat kerja Aunty yang kemarin itu tempatnya besar ya? Aku tadi ke sana dengan Papa. Aku kira tak sebesar itu. Sebelumnya aku hanya menebak saja karena tak tahu di dalamnya seperti apa."

"Kau dari kantor Avasatya?" Laluna tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, Ia sedikit memekik saat melontarkan pertanyaan tersebut. Dan Febby mengangguk antusias merasa sangat senang. Bahkan kesenangannya lebih terpancar melebihi saat bersamanya. Ternyata keputusannya tidak salah untuk menyatukan Fabio dengan Febby. Memang inilah hal yang Ia inginkan sejak lama.

"Aku tunggu di ruang kerjaku." Ujar Fabio ketika melewati Laluna. Suara khas itu memang terdengar menekan dan tegas, namun Laluna tahu jika Fabio tidak sedang marah. Itu hanya pembawaan Fabio yang memiliki sikap dingin.

Laluna mengikuti langkah ringan Febby yang mengiringinya sampai ke ruang keluarga. Setelahnya Febby memilih untuk membongkar semua belanjaan yang Fabio letakkan di atas meja.

"Aunty... nanti jangan dulu pulang ya! Ke kamar Febby dulu." Ujar Febby menghentikan langkah Laluna yang sudah hampir sampai di depan pintu ruangan. Ia mengangguk seraya tersenyum hingga akhirnya berlalu memasuki ruang kerja Fabio. Dengan gugup, Laluna duduk di sofa tepatnya di seberang Fabio yang menyilangkan kakinya dan ponsel ditangannya.

"Kau menolak pemberianku? Lalu kau malah memintaku menjadi walimu? Dalam hal apapun? Kenapa kau memintanya padaku?" Pertanyaan beruntun itu tak bisa langsung Laluna jawab. Kegugupannya mulai menyeruak hingga tubuhnya mendadak gemetar khawatir.

"A-anu... a-aku minta maaf. Aku tak mau jika menerima semua pemberianmu, itu kesannya seperti aku menjual Febby padamu." Mendengar jawaban Laluna tersebut, Fabio menghentikan aktifitas di ponselnya. Ia meletakkan benda pipih itu di atas meja lalu perhatiannya tertuju pada Laluna yang semakin menunduk.

"Otakmu ada, tapi pikiranmu tidak ada." Cibir Fabio membuat Laluna mendongak hendak menampik ucapannya, namun Fabio memberikan kode tangan agar Laluna diam karena Ia belum selesai berbicara.

"Aku ayah kandung Febby, ayah biologisnya. Dilihat dari manapun, aku yang memiliki tanggung jawab atas dirinya. Aku memberikan semua itu padamu hanya untuk berterima kasih dan mengganti semua biaya yang sudah kau keluarkan untuk merawat Febby. Mungkin tidak seberapa, tapi itu cukup untuk membuatmu hidup, bukan? Jangan berpikir ini tentang jual beli. Aku ingin menebus kesalahanku. Dan hanya dengan cara ini aku mengganti semua jasamu. Jadi, jangan banyak alasan kau menolak pemberianku. Ini hadiah dariku sebagai kakak iparmu." Lanjut Fabio menegaskan. Laluna masih menunduk karena tak bisa membantah apa yang Fabio katakan itu.

"Tapi... kalau aku terima semua itu, permintaanku--"

"Aku bersedia menjadi walimu. Jadi pastikan kau tak protes lagi."

"Eh?" Respons Laluna menatap Fabio dengan bingung. Ia belum paham dengan apa yang diucapkan mantan kakak iparnya tersebut.

"Kau mendapatkan semua hadiah dariku, dan juga mendapatkan peranku sebagai walimu. Apa ada hal lain yang kau inginkan lagi?" Tutur Fabio menjelaskan ulang sekaligus memastikan Laluna sudah puas atau belum.

"Ohh ti-tidak ada. Te-terima kasih."

"Hemmm" hanya begitu tanggapan Fabio. Ia kembali meraih ponselnya dan sibuk dengan benda canggih tersebut. Laluna memilih untuk berlalu dari hadapan Fabio dan segera menghampiri Febby di kamarnya.

Fabio melirik ke arah pintu dimana saat ini sudah kembali tertutup. Ia menghela nafas dalam lalu menatap ponselnya yang baru saja masuk sebuah pesan. Ia memijit kepalanya merasa pening akan apa yang Sammy laporkan padanya.

"Revian Danish. Seth Kei Elfathan. Kenapa harus dua orang itu yang dekat dengan Laluna? Dengan Seth, aku tak menjamin kebahagiaannya. Dia terlalu licik sebagai asisten Reindra. Dan dengan Revian pun, jangankan kebahagiaan bahkan restu saja tak Ia dapatkan hanya karena perbedaan usia. Laluna. Kau berhak mendapatkan pasangan yang baik. Tapi aku akui, Seth bisa diandalkan sebagai kekasih masa lalu Laluna daripada Revian yang tak bisa membela Laluna di depan keluarganya" Fabio bergumam sendiri di ruangannya. Sampai Ia memejamkan mata dengan bersandar di sofa. Tak bisa dipungkiri, Ia memang menyayangi Laluna sebagai adik kecilnya dulu.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!