"Mohon maaf atas segala kekacauan yang terjadi akibat ulah Putra saya Pak. Kedepannya, Keen tidak akan berulah lagi." Ujar Reindra meminta maaf atas kesalahan Keen yang mengakibatkan salah satu siswa mengalami cidera ringan dan wajah yang babak belur. Kepala sekolah dan guru BK hanya bisa memaafkan meski sebenarnya merasa heran karena yang terluka hanya satu orang saja. Tak ada luka apapun di tubuh Keen setelah perkelahian itu.
"Baik Pak. Mohon kerja sama dan pengertiannya."
Mendengar kepala sekolah yang sudah menerima maaf dan saling mengerti keadaan satu sama lain, pihak keluarga Keen dan Gibran sama-sama meluruskan masalah secara pribadi di luar sekolah. Dan mereka sepakat jika sesama orang tua mungkin masalah akan cepat selesai.
Setelah semua selesai, satu persatu pihak yang bersangkutan mulai meninggalkan ruangan, kecuali Reindra dan kepala sekolah.
"Maaf Pak. Masih ada yang ingin saya bicarakan dan tanyakan pada anda." Tutur Reindra setelah memastikan situasi aman dan tak ada yang menguping pembicaraan mereka, termasuk Keen sendiri.
"Ada apa Pak Reindra? Apa ini masalah donasi dan beasiswa?"
"Bukan Pak. Saya ingin menanyakan hal lain." Reindra menyela cepat. Ia tak ingin membuang waktu dengan membahas masalah yang tak ada hubungannya dengan tujuannya saat ini.
"Jadi, tentang apa Pak?" Kepala sekolah kembali mengulang pertanyaan.
"Apa di sekolah ini ada yang bernama belakang Arvasatya selain Keen?" Meski sempat ragu, namun Reindra mencoba yakin akan dugaannya.
"Maaf Pak. Untuk masalah itu, saya kurang tahu. Tapi jika anda ingin data anak-anak murid saya, saya bisa bantu."
"Emmm begitu ya? Oh! Begini saja Pak. Saya butuh data tentang anak yang memiliki nama belakang Arvasatya ini. Kalau bisa secepatnya Pak." Mendengar pernyataan Reindra tersebut, kepala sekolah hanya mengangguk menyanggupi tanpa ingin menolak atau menyela sedikitpun. Meski Ia penasaran akan tujuan Reindra, namun Ia tak berhak bertanya pada orang yang memberikan donasi terbesar pada sekolahnya.
"Baiklah Pak. Akan saya cari data yang anda minta." Dan mendengar ucapan kepala sekolah, Reindra mengangguk menanggapi dan tersenyum lega. Akhirnya, selangkah demi selangkah, jawaban dari pertanyaan di benaknya itu akan segera Ia dapatkan.
****************
Menjelang sore, Fabio mengikuti kemana Laluna pergi. Sebelum pulang, Laluna mampir ke sekolah Febby untuk menjemputnya. Ia meminta Febby untuk pulang cepat dan tak pergi bersama teman-temannya hari ini dengan alasan ada hal yang sangat penting.
Tak perlu menunggu lama, gerbang sekolah terbuka dan murid-murid mulai berhamburan keluar. Fabio menatap satu persatu wajah anak perempuan yang mungkin Ia kenali. Dari seragamnya, Ia tahu jika itu adalah seragam yang dipakai 3 siswi kemarin. Entah karena dorongan apan, Ia merasa penasaran pada gadis yang dipanggil Febby itu. Yang diceritakan Laluna pun bernama Febby. Akankah mereka orang yang sama?
Pandangan Fabio mulai terfokus pada seorang gadis yang berjalan berdampingan dengan seorang siswa laki-laki. Senyumnya begitu manis, sampai Ia teringat pada mendiang istrinya.
"Kalau kau lihat, kau juga akan merasa bahwa dia memiliki senyum yang sama denganmu. Dan aku berpikir jika dialah anak kita." Batin Fabio tak sadar tengah tersenyum menatap kemanapun anak itu melangkah.
"Tuan!" Tegur Sammy seketika membuyarkan lamunan Fabio.
"Kenapa Sam?" Tanyanya menoleh pada Sammy dengan ekspresi penuh tanya.
"Saya terharu melihat nona Febby sudah sebesar itu, Tuan. Rasanya baru kemarin saya menggendongnya. Tingginya sudah hampir sebahu saya." Tutur Sammy yang tak memalingkan pandangannya dari Febby yang kini sudah memasuki mobil Laluna. Ketika Sammy hendak melajukan mobilnya, Fabio menahan dan menyuruh Sammy untuk memanggil seseorang.
"Panggil Keen! Sepertinya dia belum dijemput." Ujar Fabio yang langsung dituruti oleh Sammy. Untuk menjaga privasi, Sammy turun dari mobil dan menjemput Keen untuk masuk ke mobil Fabio.
"Uncle." Panggilnya antusias dan langsung memasuki mobil Fabio.
"Kau sekolah disini Keen?" Tanya Fabio memulai basa-basi.
"Iya Uncle. Aku baru saja pindah." Jawabnya terdengar malas.
"Pindah?"
"Iya. Aku tak betah di sekolah lama. Orang-orangnya kaku, dan terlalu fokus pada pelajaran. Aku tak suka SMA favorit. Tapi Papa terus memintaku untuk masuk ke SMA itu. Katanya itu sekolah orang genius. Tapi menurutku, itu sekolah robot." Jelasnya semakin malas.
"Sam. Hubungi Reindra, dan bilang kalau anaknya bersamaku sekarang." Titah Fabio segera dilakukan oleh Sammy.
"Uncle mau kemana? Tidak mungkin kan Uncle sengaja menjemputku?" Keen kembali bertanya dengan antusias.
"Tadinya ada urusan. Tapi, berhubung aku tak tahu harus kemana, jadi kita pulang saja." Jawab Fabio sedikit asal. Ia tak ingin jika Keen tahu dan melapor pada Emran tentang keluarganya.
"Hemmm tadi Papa juga ke sekolah sih."
"Mau apa dia?" Fabio mulai penasaran akan tujuan Reindra datang ke sekolah Keen.
"Di panggil kepala sekolah."
"Hem? Kenapa?"
"Karena aku ribut sama anak orang. Wajahnya babak belur dan tangannya cidera ringan. Tadinya aku mau sekalian patahkan kakinya. Tapi keburu dipisah sama guru BK." Keluhnya menjelaskan dengan bangga diri.
"Kenapa tak sekalian kau patahkan lehernya, Keen?" Celetuk Fabio asal bicara.
"Memangnya boleh? Lain kali saja lah."
"Eh?" Pekik Sammy menyela obrolan absurd mereka berdua.
"Tuan muda harus bisa menjaga sikap. Demi martabat dan nama baik keluarga, tuan muda tak boleh asal bertindak." Tutur Sammy memberi nasehat.
"Aku tak akan mengusik orang, kalau dia tak mengusikku. Lagi pula, aku hanya memberinya sedikit pelajaran."
"Apa di sekolahmu ada yang memiliki nama belakang Arvasatya?" Tanya Fabio mengalihkan pembicaraan.
"Ishhh kenapa Uncle juga bertanya? Kemarin Papa, sekarang Uncle. Aku kurang tahu, tapi kata teman-temanku dari kelas lain, memang ada siswa perempuan bernama belakang Arvasatya. Tapi katanya dia bukan dari keluarga kita. Ibunya sudah meninggal, dan ayahnya pergi entah kemana." Papar Keen menjelaskan semua hal yang Ia ketahui saja.
"Keen! Apa kau pernah dengar kalau aku punya anak?" Lagi, Fabio bertanya hal yang membingungkan untuk Keen.
"Kata Papa, anak Uncle itu sudah meninggal." Jawabnya begitu santai. Jawaban Keen itu seakan seperti belati yang langsung menghujam jantung Fabio seketika. Ia benar-benar seorang laki-laki tak bertanggung jawab.
...****************...
"Ini data yang anda inginkan, Tuan." Ujar Seth, asisten pribadi Reindra. Ia menyerahkan sebuah map berisi beberapa berkas yang diinginkan Reindra. Perlahan Reindra membuka map dan mulai meraih salah satu berkas.
"Azrina Febby Arvasatya. Ayah kandung, Arga Fabio Arvasatya? Ibu kandung, Ralisha Athaya. Dan ini, hak asuh berada ditangan Laluna El Anantha." Reindra memaparkan semua data dengan mata yang membulat. Ia masih tak percaya jika keponakannya memang masih hidup. 14 tahun lalu, Ia berhenti mencari keberadaan Febby karena Fabio yang tak bisa mengendalikan emosi dengan mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal. Ia percaya saja dan berhenti mencari.
"Apa aku beritahu Ayah? Ah sebaiknya tidak. Aku ingin memastikan dulu. Apa anak ini juga yang Fabio maksud tempo hari? Sial! Sebegini dekatnya, aku tak bisa menemukan keberadaan keponakanku sendiri? Bagaimana dia hidup selama ini? Ah tak perlu melakukan tes DNA. Wajahnya sangat mirip dengan Fabio dan Ralisha." Reindra terus bergumam pada dirinya sendiri tentang segala kemungkinan yang terjadi.
"Laluna El Anantha. Dialah yang bertanggung jawab." Geram Fabio mencengkram kuat kertas di tangannya.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments