Bab 4. Pemilik nama Arvasatya

"Mohon maaf atas segala kekacauan yang terjadi akibat ulah Putra saya Pak. Kedepannya, Keen tidak akan berulah lagi." Ujar Reindra meminta maaf atas kesalahan Keen yang mengakibatkan salah satu siswa mengalami cidera ringan dan wajah yang babak belur. Kepala sekolah dan guru BK hanya bisa memaafkan meski sebenarnya merasa heran karena yang terluka hanya satu orang saja. Tak ada luka apapun di tubuh Keen setelah perkelahian itu.

"Baik Pak. Mohon kerja sama dan pengertiannya."

Mendengar kepala sekolah yang sudah menerima maaf dan saling mengerti keadaan satu sama lain, pihak keluarga Keen dan Gibran sama-sama meluruskan masalah secara pribadi di luar sekolah. Dan mereka sepakat jika sesama orang tua mungkin masalah akan cepat selesai.

Setelah semua selesai, satu persatu pihak yang bersangkutan mulai meninggalkan ruangan, kecuali Reindra dan kepala sekolah.

"Maaf Pak. Masih ada yang ingin saya bicarakan dan tanyakan pada anda." Tutur Reindra setelah memastikan situasi aman dan tak ada yang menguping pembicaraan mereka, termasuk Keen sendiri.

"Ada apa Pak Reindra? Apa ini masalah donasi dan beasiswa?"

"Bukan Pak. Saya ingin menanyakan hal lain." Reindra menyela cepat. Ia tak ingin membuang waktu dengan membahas masalah yang tak ada hubungannya dengan tujuannya saat ini.

"Jadi, tentang apa Pak?" Kepala sekolah kembali mengulang pertanyaan.

"Apa di sekolah ini ada yang bernama belakang Arvasatya selain Keen?" Meski sempat ragu, namun Reindra mencoba yakin akan dugaannya.

"Maaf Pak. Untuk masalah itu, saya kurang tahu. Tapi jika anda ingin data anak-anak murid saya, saya bisa bantu."

"Emmm begitu ya? Oh! Begini saja Pak. Saya butuh data tentang anak yang memiliki nama belakang Arvasatya ini. Kalau bisa secepatnya Pak." Mendengar pernyataan Reindra tersebut, kepala sekolah hanya mengangguk menyanggupi tanpa ingin menolak atau menyela sedikitpun. Meski Ia penasaran akan tujuan Reindra, namun Ia tak berhak bertanya pada orang yang memberikan donasi terbesar pada sekolahnya.

"Baiklah Pak. Akan saya cari data yang anda minta." Dan mendengar ucapan kepala sekolah, Reindra mengangguk menanggapi dan tersenyum lega. Akhirnya, selangkah demi selangkah, jawaban dari pertanyaan di benaknya itu akan segera Ia dapatkan.

****************

Menjelang sore, Fabio mengikuti kemana Laluna pergi. Sebelum pulang, Laluna mampir ke sekolah Febby untuk menjemputnya. Ia meminta Febby untuk pulang cepat dan tak pergi bersama teman-temannya hari ini dengan alasan ada hal yang sangat penting.

Tak perlu menunggu lama, gerbang sekolah terbuka dan murid-murid mulai berhamburan keluar. Fabio menatap satu persatu wajah anak perempuan yang mungkin Ia kenali. Dari seragamnya, Ia tahu jika itu adalah seragam yang dipakai 3 siswi kemarin. Entah karena dorongan apan, Ia merasa penasaran pada gadis yang dipanggil Febby itu. Yang diceritakan Laluna pun bernama Febby. Akankah mereka orang yang sama?

Pandangan Fabio mulai terfokus pada seorang gadis yang berjalan berdampingan dengan seorang siswa laki-laki. Senyumnya begitu manis, sampai Ia teringat pada mendiang istrinya.

"Kalau kau lihat, kau juga akan merasa bahwa dia memiliki senyum yang sama denganmu. Dan aku berpikir jika dialah anak kita." Batin Fabio tak sadar tengah tersenyum menatap kemanapun anak itu melangkah.

"Tuan!" Tegur Sammy seketika membuyarkan lamunan Fabio.

"Kenapa Sam?" Tanyanya menoleh pada Sammy dengan ekspresi penuh tanya.

"Saya terharu melihat nona Febby sudah sebesar itu, Tuan. Rasanya baru kemarin saya menggendongnya. Tingginya sudah hampir sebahu saya." Tutur Sammy yang tak memalingkan pandangannya dari Febby yang kini sudah memasuki mobil Laluna. Ketika Sammy hendak melajukan mobilnya, Fabio menahan dan menyuruh Sammy untuk memanggil seseorang.

"Panggil Keen! Sepertinya dia belum dijemput." Ujar Fabio yang langsung dituruti oleh Sammy. Untuk menjaga privasi, Sammy turun dari mobil dan menjemput Keen untuk masuk ke mobil Fabio.

"Uncle." Panggilnya antusias dan langsung memasuki mobil Fabio.

"Kau sekolah disini Keen?" Tanya Fabio memulai basa-basi.

"Iya Uncle. Aku baru saja pindah." Jawabnya terdengar malas.

"Pindah?"

"Iya. Aku tak betah di sekolah lama. Orang-orangnya kaku, dan terlalu fokus pada pelajaran. Aku tak suka SMA favorit. Tapi Papa terus memintaku untuk masuk ke SMA itu. Katanya itu sekolah orang genius. Tapi menurutku, itu sekolah robot." Jelasnya semakin malas.

"Sam. Hubungi Reindra, dan bilang kalau anaknya bersamaku sekarang." Titah Fabio segera dilakukan oleh Sammy.

"Uncle mau kemana? Tidak mungkin kan Uncle sengaja menjemputku?" Keen kembali bertanya dengan antusias.

"Tadinya ada urusan. Tapi, berhubung aku tak tahu harus kemana, jadi kita pulang saja." Jawab Fabio sedikit asal. Ia tak ingin jika Keen tahu dan melapor pada Emran tentang keluarganya.

"Hemmm tadi Papa juga ke sekolah sih."

"Mau apa dia?" Fabio mulai penasaran akan tujuan Reindra datang ke sekolah Keen.

"Di panggil kepala sekolah."

"Hem? Kenapa?"

"Karena aku ribut sama anak orang. Wajahnya babak belur dan tangannya cidera ringan. Tadinya aku mau sekalian patahkan kakinya. Tapi keburu dipisah sama guru BK." Keluhnya menjelaskan dengan bangga diri.

"Kenapa tak sekalian kau patahkan lehernya, Keen?" Celetuk Fabio asal bicara.

"Memangnya boleh? Lain kali saja lah."

"Eh?" Pekik Sammy menyela obrolan absurd mereka berdua.

"Tuan muda harus bisa menjaga sikap. Demi martabat dan nama baik keluarga, tuan muda tak boleh asal bertindak." Tutur Sammy memberi nasehat.

"Aku tak akan mengusik orang, kalau dia tak mengusikku. Lagi pula, aku hanya memberinya sedikit pelajaran."

"Apa di sekolahmu ada yang memiliki nama belakang Arvasatya?" Tanya Fabio mengalihkan pembicaraan.

"Ishhh kenapa Uncle juga bertanya? Kemarin Papa, sekarang Uncle. Aku kurang tahu, tapi kata teman-temanku dari kelas lain, memang ada siswa perempuan bernama belakang Arvasatya. Tapi katanya dia bukan dari keluarga kita. Ibunya sudah meninggal, dan ayahnya pergi entah kemana." Papar Keen menjelaskan semua hal yang Ia ketahui saja.

"Keen! Apa kau pernah dengar kalau aku punya anak?" Lagi, Fabio bertanya hal yang membingungkan untuk Keen.

"Kata Papa, anak Uncle itu sudah meninggal." Jawabnya begitu santai. Jawaban Keen itu seakan seperti belati yang langsung menghujam jantung Fabio seketika. Ia benar-benar seorang laki-laki tak bertanggung jawab.

...****************...

"Ini data yang anda inginkan, Tuan." Ujar Seth, asisten pribadi Reindra. Ia menyerahkan sebuah map berisi beberapa berkas yang diinginkan Reindra. Perlahan Reindra membuka map dan mulai meraih salah satu berkas.

"Azrina Febby Arvasatya. Ayah kandung, Arga Fabio Arvasatya? Ibu kandung, Ralisha Athaya. Dan ini, hak asuh berada ditangan Laluna El Anantha." Reindra memaparkan semua data dengan mata yang membulat. Ia masih tak percaya jika keponakannya memang masih hidup. 14 tahun lalu, Ia berhenti mencari keberadaan Febby karena Fabio yang tak bisa mengendalikan emosi dengan mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal. Ia percaya saja dan berhenti mencari.

"Apa aku beritahu Ayah? Ah sebaiknya tidak. Aku ingin memastikan dulu. Apa anak ini juga yang Fabio maksud tempo hari? Sial! Sebegini dekatnya, aku tak bisa menemukan keberadaan keponakanku sendiri? Bagaimana dia hidup selama ini? Ah tak perlu melakukan tes DNA. Wajahnya sangat mirip dengan Fabio dan Ralisha." Reindra terus bergumam pada dirinya sendiri tentang segala kemungkinan yang terjadi.

"Laluna El Anantha. Dialah yang bertanggung jawab." Geram Fabio mencengkram kuat kertas di tangannya.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!