"Ada lagi yang anda inginkan, Tuan?" Seperti biasanya, Sammy bertanya sebelum Ia benar-benar pergi.
"Tidak Sam! Hanya saja, aku ingin berjalan-jalan saja sore ini. Bisa kau handle sebentar?" Meski bernada pertanyaan, namun bagi Sammy itu merupakan sebuah perintah dimana Ia harus mengatur jadwal untuk bosnya.
"Apa Tuan baik-baik saja?" Sammy kembali bertanya karena Ia begitu khawatir melihat Fabio yang terus murung sejak mereka pulang.
"Sam. Aku mengira, dengan melupakan apa yang seharusnya aku miliki, bahkan aku lindungi sepenuh hati, akan membuatku merasa tenang. Tapi sepertinya, separuh jiwaku bukan lagi pada Ralisha, tapi pada anak tak berdosa itu. Dia satu-satunya belahan jiwaku saat ini, Sam. Kenapa aku begitu bodoh meninggalkannya sendirian dengan Laluna yang bahkan belum mengerti bagaimana merawat seorang bayi. Dimana mereka sekarang, Sam? Kemana Laluna membawa putriku pergi?" Kelopak matanya mengembun, hatinya terasa ikut tersayat mendengar Fabio mengutarakan isi hatinya. Bahkan, Sammy melihat bulir bening terus berderai dari kelopak mata Fabio. Pria yang dikenal tak punya hati, yang membuat semua koleganya merasa tertekan dengan aura dingin dari Fabio.
"Apakah anda ingin saya menyebarkan berita pencarian orang hilang?" Fabio menoleh sesaat mendengar tawaran Sammy.
"Tidak Sam. Jangan! Mereka bukan hilang, tapi aku yang menyia-nyiakan mereka. Aku akan mencarinya sendiri, dengan caraku sendiri."
"Saya akan turut membantu anda, Tuan."
Fabio tak menanggapi penuturan Sammy, ia hanya tersenyum merasa beruntung mendapat kaki tangan yang setia membantunya selama ini.
...******...
Hiruk pikuk kota Jakarta kembali Ia rasakan setelah sekian lama melarikan diri dari kenyataan yang seharusnya Ia hadapi. Tawa canda riang anak-anak yabg berlarian menyusuri taman, dan lalu lalang kendaraan yang sedikit padat membuatnya teringat akan kenangan masa lalu. Fabio terduduk menatap senja yang hampir tak terlihat terhalang bangunan tinggi menjulang, bola matanya kembali menyapu suasana baru taman yang penuh kenangan bersama Ralisha dulu.
"Febby.... cepat! Ice cream nya sudah hampir habis." Teriak seorang anak berpakaian seragam SMA saling kejar-kejaran menyebrang jalan untuk berburu Ice cream di area taman.
"Abila.... kau curang!" Seru Febby yang tak mau kalah dari temannya itu.
Fabio semula terheran dengan tingkah konyol anak-anak jaman sekarang, hingga pandangannya tertuju pada sosok yang tak asing di matanya. Fabio beranjak dari duduknya hendak menahan langkah gadis kecil itu.
"Permisi..." ujar Febby sedikit menunduk saat melewati Fabio. Sungguh adab yang luar biasa. Di jaman sekarang, hanya sedikit, bahkan tak ada anak yang begitu sopan kepada orang yang lebih tua. Hanya orang tua dengan didikan luar biasa pula yang bisa membuat anak menjadi begitu santun.
Fabio menatap nanar kepergian Febby dari hadapannya dan ingin sekali bertanya tentang siapakah Ia sebenarnya. Namun, entah apa yang menghalangi, ia tak bisa menghentikan langkah gadis itu. Ia tak tahu siapa namanya, dan apa yang harus ia tanyakan nantinya.
"Febby... yang coklat habis! Ada Vanila dan Strawberry."
"Strawberry saja." Febby cepat-cepat menjawab sebelum Shanaya menjahilinya.
Febby yang duduk tak jauh dari stand ice cream tersebut, lantas mengeluarkan benda pipih canggih miliknya. Ia mengetik sesuatu lalu kembali meletakkannya di atas meja seraya menunggu kedua temannya.
Fabio menatap lekat pada Febby yang tengah melamun sendirian di tempat duduk, seketika pandangannya berpaling dan mendapati kedua teman Febby tengah membicarakannya. Samar, namun masih bisa terdengar.
"Menoleh." Bisik Abila ditanggapi anggukan oleh Shanaya.
"Tampan sekali. Pesona Om-Om memang tak pernah gagal. Aku tebak, pasti dia orang kaya." Ujar Shanaya pun berbisik.
"Sepertinya begitu. Istrinya pasti cantik. Anaknya juga."
"Hei. Kalian bergosip apa?" Tegur Febby mengejutkan kedua temannya itu seketika.
"Ti-tidak." Jawab keduanya saling memalingkan pandangan. Tak berselang lama, pesanan mereka akhirnya siap. Shanaya membawa 2 ice cream di tangannya dan memberikan 1 kepada Febby.
"Terima kasih." Ujar Febby sesaat setelah menerima camilan dingin itu.
"Sama-sama. Oh iya. Nanti pulang kau dengan siapa?" Tanya Shanaya yang duduh bersebelahan dengan Febby.
"Sepertinya aku di jemput Aunty." Jawabnya mulai fokus pada camilan di tangannya.
"Aunty mu itu hebat ya! Belum menikah tapi sudah sukses."
"Tapi sayang, sampai sekarang dia belum menikah." Balas Febby mendadak lemas saat membicarakan Aunty kesayangannya.
"Hanya itu yang disayangkan. Kalau misal sudah ada calon, langsung saja menikah." Timpal Abila ditanggapi anggukan oleh Febby.
"Aku pun sudah beberapa kali bilang, tapi Aunty hanya tersenyum setiap aku memintanya menikah. Dia pernah bilang padaku katanya dia tak akan menikah sebelum aku bahagia. Padahal, tinggal dengannya saja aku sudah bahagia."
"Eh jangan salah! Sepertinya Aunty mu tak mau kalau nanti suaminya tergoda olehmu." Canda Abila langsung tertawa puas menebak kemungkinan yang ada di pikiran Laluna karena memilih belum menikah di usia yang tak lagi muda.
"Ishhh tidak." Elak Febby memalingkan pandangannya ke sembarang arah.
Fabio beranjak dengan senyum tersirat di wajahnya. Ia meninggalkan tempat duduknya dan hendak melangkah semakin jauh. Namun, langkahnya kembali terhenti saat mendengar percakapan ketiga gadis itu yang kian menarik perhatiannya. Fabio mengubah arah sehingga Ia dapat melewati mereka dan berharap mendengar percakapan apa yang mereka bahas.
"Kau tahu keluarga Arvasatya? Aku dengar 1 dari 2 bersaudara itu masih lajang. Bagaimana kalau kau menjadi sugar babby nya saja Feb." Celetuk Abila langsung ditanggapi toyoran di kepalanya.
"Kau kira aku wanita apa? Meskipun Papaku tak kunjung pulang, aku tak mau sampai Ia tahu aku menjadi simpanan Sugar Daddy. Lagi pula, aku tak mau berurusan dengan orang kaya."
"Aihhh bukankah kau juga kaya? Apa lagi kau punya nama belakang yang sama dengan mereka."
"Sekali tidak, tetap tidak, Bil. Sudahlah. Aku akan pulang sekarang. Aunty ku sudah hampir sampai. Terima kasih traktirannya. Sampai bertemu besok." Ujar Febby cepat-cepat beranjak dari duduknya dan segera berlalu dari hadapan mereka. Fabio yang tak mendapatkan jawaban yang pasti, Ia memilih ikut berlalu meninggalkan tempat ramai tersebut.
Tepat ketika Febby sampai di area parkiran, Ia melihat sebuah mobil hitam melaju ke arahnya. Tentu Ia mengembangkan senyum melihat Aunty kesayangannya sampai untuk menjemputnya.
"Aunty... mampir ke mini market depan komplek ya! Aku mau beli sesuatu." Pintanya sedikit membujuk agar Laluna tidak marah padanya.
"Iya baiklah keponakanku yang manis." Balas Laluna mendelik malas dan hanya ditanggapi tawa kecil oleh Febby.
...******...
"Maaf Tuan. Saya belum menemukan keberadaan Laluna dan nona kecil." Ujar Sammy terlihat kecewa dan menyesal karena tak bisa memenuhi keinginan Fabio.
"Mau bagaimana lagi, Sam. Aku juga tak akan memaksakan ego kalau kau sendiri tak bisa. Mungkin kita perlu bersabar sebentar lagi. Aku akan menyelidiki sendiri jiga gadis itu adalah anakku." Sammy mengangguk pelan menanggapi penuturan Fabio, meski pada akhirnya Sammy terhenyak mencoba mencerna maksud Fabio tersebut.
"Tu-Tuan... apakah anda..." pekik Sammy langsung mengerti meski kali ini Fabio tak memberikan jawaban apapun padanya.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Aulia putri©®
penulisan nya rapi gak bikin pusing pas dibaca
2024-06-26
2