Riuh bisingnya suara murid-murid lain yang ada di lapangan, seketika menyita perhatian seluruh murid yang masih berada di dalam kelas. Beribu tanya mulai terlontar tentang ada apakah yang terjadi di sana? Salah satu murid berlari menuju ruang guru dan segera memisahkan 2 murid yang tengah berkelahi.
"Ada yang ribut. Tuh lagi adu tinju." Celetuk Rangga yang kebetulan kembali ke kelas karena sudah bosan menonton.
"Siapa Ga?" Tanya Febby begitu penasaran. Karena selama hampir setahun Ia bersekolah di sana, Ia tak pernah mendengar keributan apapun. Dan secara tiba-tiba, seisi sekolah dibuat geger dengan adanya perkelahian yang terjadi di lapangan.
"Wihhhh besar juga nyali anak baru itu." Ujar Rega dengan santainya duduk di samping Febby yang masih berdiri ingin tahu siapa orang yang membuat keributan itu.
"Memangnya siapa anak baru itu Ga?"
"Nanya ke siapa, Febby?" Rega dan Rangga bertanya dengan serentak sehingga Febby menoleh dan tertawa kecil dibuatnya.
"Yang mana aja. Mau Rangga atau Rega. Yang jelas aku butuh jawaban."
"Kata teman sekelasnya, dia itu dari keluarga Arvasatya." Jawab Rega sedikit menjelaskan hal yang Ia dengar.
"Tahu dia dari keluarga Arvasatya itu dari siapa?" Tanya Febby lagi.
"Semua keluarga Arvasatya itu punya nama belakang yang sama. Ya itu. Makanya aku pernah nanya ke kamu, kamu itu anak siapa kok nama belakangnya Arvasatya."
"Iya tapi gak semuanya kan? Bisa aja nama aku sama dengan nama orang lain. Kayak kamu sama Silva. Nama belakang kalian sama-sama Radipta. Padahal kalian gak sekeluarga, kan?" Sejenak Rega terdiam dan berpikir sesaat seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iya sih. Sudahlah gak penting. Yang penting, nanti kalau udah lulus, kita kuliah bareng, terus nikah! Ya?" Ucap Rega begitu antusias. Ia tak bosan-bosan menjahili Febby dan menggodanya. Namun, entah karena dorongan apa, Rega seakan tak bisa melewati batas pertemanan mereka. Selain karena paras Febby yang terbilang cantik, Rega juga merasa bahwa Febby bukanlah gadis biasa. Dengan arti, Febby adalah anak dari keluarga terpandang. Ia memang belum memiliki bukti, tapi dari auranya, Febby seakan memang berasal dari keluarga ternama.
...****************...
"Luna.... kau melamun lagi?" Tegur Airin saat menyadari jika celotehannya tak di dengarkan oleh Laluna.
"Maaf Airin. Aku tak fokus. Jadi, apa tadi?"
"Tidak jadi! Kamu mikirin apa lagi sih? Pacar gak punya, calon suami apa lagi." Ejeknya menahan dagu tepat di depan Laluna. Dengan begitu, Ia leluasa menatap mata sahabatnya agar tidak terus mengelak jika ditanya tentang masalah pribadinya.
"3 hari lagi keponakanku ulang tahun. Apa yang harus aku berikan ya? Semua keperluannya sudah aku penuhi." Jawab Laluna masih begitu bimbang.
"Kau tanya saja apa yang dia inginkan di hari ulang tahunnya."
"Itu bukan kejutan namanya."
"Lalu untuk apa memikirkan kejutan, sedangkan kau sendiri tak tahu harus memberikan apa. Lebih bagus sih kau memberikan Uncle untuknya." Lagi, Airin mengejek dengan sedikit terkekeh.
"Mohon perhatian semua! Seusai jam istirahat, kita ada audit dengan direktur utama dan bos besar. Diharapkan area kerjanya rapi, dan tidak berantakan." Ucap seseorang yang dikenal sebagai supervisor di departemen yang Laluna tempati.
"Bos besar? Pak Reindra mungkin?" Gumam Laluna yang menebak kemungkinan. Bukan tanpa alasan Laluna berpikir Reindra yang akan datang. Karena selama ini, yang mereka kenal sebagai bos besar adalah Reindra saja. Baginya, Fabio sudah mati ditelan bumi sejak 11 tahun yang lalu. Ia sempat resign dan istirahat selama 2 tahun, lalu kembali bekerja di perusahaan Arvasatya sampai saat ini, dan tak menemukan tanda-tanda kepulangan Fabio.
...****************...
Sesuai jadwal, supervisor menyuruh mereka berbaris menyambut kedatangan bis besar mereka. Laluna tak terlalu memperhatikan karena Ia pikir yang datang memanglah Reindra.
"Selamat siang semuanya." Sapa seorang pria yang tak asing di telinga Laluna. Seketika itu, Laluna mendongak dan terbelalak menatap siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Sa-Sam? Dan Fa-Fabio?" Lirih Laluna mendadak gemetar ketakutan. Meski wajahnya sedikit berbeda, namun tak menutup kemungkinan jika Sammy dan Fabio akan mengenali dirinya.
"Kenapa mereka ada di sini?" Batin Laluna seketika pandangannya menjadi kabur dan akhirnya gelap tanpa cahaya.
Laluna membuka kedua matanya dan mengerjap perlahan mengedarkan pandangan. Ia pikir dirinya aman, namun ternyata Ia mendapati sosok lelaki yang memang tak asing ada di hadapannya.
"Laluna! Akhirnya aku menemukanmu." Pekik Sammy begitu antusias sampai-sampai Ia meraih kedua bahu Laluna dan menatap harap kedua matanya. Manik itu mulai berembun, hingga pada akhirnya embun itu meluruh membasahi kedua pipi Laluna.
"Ini mimpi kan? Ini tak nyata kan? Kenapa kita bertemu? Kak Sam! Kemana saja kau?" Pekik Laluna dengan nafas yang tersenggal. Ulu hatinya mendadak pedih dan tenggorokannya mendadak sakit mengingat begitu teganya Fabio meninggalkan Febby.
"Maaf Laluna. Tuan baru kembali beberapa hari yang lalu. Dia ingin bertemu dengan nona Febby." Perlahan Sammy mencoba menjelaskan berharap Laluna akan mengerti situasi dan maksud Sammy. Sedangkan Laluna, Ia tak langsung menjawab, Ia memilih terdiam menyeka air matanya lalu memalingkan pandangan menghindari kontak mata dengan Sammy.
"Jangan terlalu dekat denganku, Kak. Aku takut jika istrimu akan menyalahkanku."
"Aku sudah bercerai, Laluna. Sebaiknya kau jawab pertanyaanku! Dimana nona Febby? Dimana kalian tinggal? Dan kenapa kau tak tinggal di Villa yang sudah aku siapkan?"
"Untuk apa, Kak? Untuk apa aku tinggal di sana tapi kalian tak ada peduli pada Febby. Dan sekarang, untuk apa Kakak menanyakan keberadaan Febby sedangkan Fabio tak peduli sama sekali?" Pecah sudah tangis Laluna meratapi kemalangan gadis kecil kesayangannya yang sekian lama tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya sendiri.
"Laluna!" Panggil seseorang dari ambang pintu berhasil menghentikan tangis Laluna seketika. Pandangannya mendadak tertuju pada sosok pria yang selama ini ia benci. Tangisnya kembali menjadi saat Fabio mulai berjalan mendekat.
"Laluna. Dimana Putriku?" Tanya Fabio tak langsung dijawab oleh Laluna. Gadis itu terlihat tertawa kecil sehingga Fabio mulai kehabisan kesabarannya. Dengan dingin, Fabio meraih dagu Laluna dan mencengkramnya dengan kuat.
"Katakan padaku dimana Putriku? Jangan menguji kesabaranku, Laluna. Aku tak akan segan padamu meskipun kau adik Ralisha." Suara Fabio semakin terdengar berat tanda Ia tengah menahan amarah yang ingin meluap.
"Putrimu? Sejak kapan kau mengaku jika keponakanku itu Putrimu? Bukahkah kau sendiri yang memutus ikatanmu dengan Febby? Aku masih heran, kenapa kakakku dulu mau menikah dengan iblis sepertimu." Tanpa segan, Laluna memaki Fabio seakan Ia mengutarakan apa yang selama ini ingin Ia lontarkan.
"Apa penyesalanku terkesan sia-sia? Aku ingin menebus dosaku pada Putriku, dan kau seakan menghalangi dengan dalih aku yang bersalah atas semua penderitaanmu. Aku tahu Laluna. Kau tak bisa kuliah karena harus merawat Putriku, dan aku tahu kalau selama ini kau juga terlalu banyak berkorban untuknya. Jadi, tolong kembalikan Putriku, Laluna." Pinta Fabio merubah nada bicaranya sedikit lirih dan memelas.
"Lantas, kapan aku mengambil Putrimu, Fabio? Kau sendiri yang tak mengakuinya. Bahkan dengan teganya kau mengatakan kepada seluruh dunia bahwa Febby sudah meninggal."
"Aku menyesal Laluna. Aku ingin memperbaiki semuanya. Dia hartaku satu-satunya. Dia belahan jiwaku, pengganti Ralisha."
"Aku tak bisa Fabio." Lirih Laluna kembali menangis pilu.
"Dia Putriku." Tegas Fabio berharap tak ada lagi penolakan dan alasan dari Laluna.
"Dia keponakanku! Aku yang merawatnya dari bayi. Dan aku juga tak bisa hidup tanpanya." Laluna tak kalah menegaskan sisi hati dan perasaannya terhadap Febby.
...****************...
"Keen membuat masalah dan aku harus datang ke sekolahnya, bukankah hal yang bagus? Aku bisa memastikan sendiri siapa anak yang memiliki nama belakang keluargaku. Apa dia memang anak Fabio? Aku harus segera mencari tahu." Gumam Reindra pada dirinya sendiri dengan terus melajukan mobilnya menembus jalanan menuju sekolah Keen.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments