Bab 16. Hadiah untuk Laluna

"Kak. Apa gak sebaiknya Kakak terima karyawan lagi? Kalau hanya kita berdua, aku kurang yakin pesanan akan siap sebelum hari H." Ujar Nuna di sela pekerjaannya. Ia mencoba memberi masukan meski sebenarnya takut jika Laluna akan marah dan mengatainya sok tahu. Dengan masih fokus memasangkan Fayet di sebuah gaun, Nuna tak berniat mendongak sedikitpun. Begitu pun dengan Laluna yang sama-sama fokus pada busana di depannya.

"Hemmm kamu capek ya?" Tanya Laluna tak langsung dijawab oleh Nuna. Gadis itu terlihat gugup dan gelisah mendapati pertanyaan majikannya.

"Maksud aku itu..."

"Kenapa kamu mendadak gugup, Na? Gapapa kok mengutarakan pendapat selagi itu baik. Lagian, aku juga punya pikiran sama. Cuman, aku bingung gaji kalian nanti. Aku kan masih merintis, dan pesanan pun belum bisa dikatakan banyak. Kalau kamu ngerasa capek, boleh istirahat atau libur beberapa hari."

"Maaf ya Kak. Aku bukan maksud gitu. Kalau Kakak gak rekrut karyawan baru juga gapapa. Aku masih bisa bantuin Kakak. Cuman aku khawatir sama Kakak aja." Mendengar penuturan Nuna tersebut, Laluna tersenyum merasa lega mempunyai karyawan sekaligus teman yang baik seperti Nuna.

"Na... makasih ya.. kamu udah mau jadi rekan aku. Kamu capek-capek kerja sendiri waktu aku masih kerja di kantor." Ujar Laluna sejenak menghentikan aktifitasnya. Ia tersenyum melihat respons Nuna yang terlihat menyebalkan namun membuatnya tenang.

"Nanti kalau pesanannya makin banyak, ada kita dapat untung banyak, aku bakal buat butik baru yang lebih besar dan nerima karyawan baru juga." Tutur Laluna selanjutnya. Nuna ikut menyemangati dengan mengangguk antusias.

...****************...

Seharian keduanya merangkai busana pesanan customer,Laluna memesan makanan siap saji untuk mengisi perut mereka yang mungkin sudah keroncongan di jam makan siang yang sudah terlewat. Mereka pikir dengan mengemil makanan ringan, perut mereka tak akan terasa lapar. Namun ternyata, cacing di perut mereka sudah memanggil ingin di beri asupan.

Tak berselang lama, ada seorang pria berpakaian rapi masuk ke dalam butik. Nuna yang terkejut, lantas beranjak dari tempatnya dan berlindung di belakang Laluna. Wajahnya cukup memperlihatkan raut ketakutan melihat sosok yang datang itu.

"Kenapa dia ketakutan, Laluna?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Sammy. Laluna menoleh sesaat kepada Nuna lalu beralih menatap Sammy dengan tersenyum miring.

"Mungkin dia mengira kau hantu." Jawab Laluna dengan begitu santainya. Ia tak takut sama sekali pada lelaki yang dikenal tak mempunyai perasaan itu. Sammy mengangguk mengerti kemudian duduk di kursi pelanggan tanpa izin. Laluna menghampiri dan duduk di sofa lainnya untuk sekedar menyambut kedatangan Sammy.

"Apa yang membuat Kakak kemari? Apa Febby baik-baik saja?" Tanya Laluna memulai obrolan intinya. Ia tak ingin banyak basa-basi karena pekerjaannya sudah menumpuk.

"Nona baik-baik saja. Aku kemari ingin memberikanmu ini." Jawab Sammy seraya meletakkan sebuah map diatas meja. Laluna mendadak heran sekaligus penasaran akan apa isi dari map tersebut. Ia ragu-ragu ingin mengambil benda itu, dan Sammy menggeser sedikit lebih dekat pada Laluna agar wanita di depannya tidak ragu lagi. Laluna mencoba membuka lembar demi lembar isi dokumen yang tertera, matanya membulat membaca salah satu dokumen. Laluna merasa tak percaya, Ia terus menoleh kearah kertas dan Sammy secara bergantian. Hal itu Ia lakukan berulang-ulang sampai Sammy mengangguk dengan senyum tipisnya.

"Tuan ingin berterima kasih karena kamu sudah merawat Nona Febby selama ini. Jika ada yang kurang atau ada hal lain yang kau inginkan, katakan saja. Tuan Fabio akan memberikannya untukmu." Tutur Sammy menjelaskan hal yang mungkin ingin Laluna ketahui maksudnya.

"I-ini serius? Atau Fabio ingin menjahili ku? Kak Sam. Aku tak percaya Fabio melakukan ini untukku. Mustahil Fabio baik padaku, Kak." Protes Laluna yang masih tak percaya.

"Tidak mustahil, Laluna. Tuan memang ingin memberikanmu hadiah ini."

"Ini terlalu banyak, Kak Sam!"

"Ini masih sedikit, Laluna. Tuan bisa memberikanmu hal lain jika kamu mau. Dia tidak melakukannya sekarang karena Tuan tahu kau akan protes begini. Makanya sekarang aku tanya apa lagi yang kau inginkan." Penjelasan Sammy kali ini berhasil membuat Laluna terdiam. Wanita itu menunduk lesu nan sendu sebelum menjawab pertanyaan yang Sammy lontarkan secara berulang-ulang.

"Aku tidak akan menerima semua ini, Kak. Tapi untuk menghargai Fabio, mungkin aku akan menerima tawaran pembangunan butik untukku. Tapi untuk mobil, uang dan villa, maaf itu terlalu banyak. Aku tak berhak untuk menerima semuanya. Lagi pula, aku tulus merawat Febby, karena Febby keponakanku. Ada darah keluargaku yang mengalir di tubuhnya. Jika Fabio meminta hak asuhnya, aku tak akan menghalangi. Tapi jika dengan cara seperti ini, sama saja dengan kalian membeli Febby dariku. Aku tak akan melakukannya." Laluna memaparkan semua yang muncul dipikirannya. Sungguh bodoh jika menolak pemberian hadiah yang fantastis, namun Ia akan lebih bodoh jika menerima semua hadiahnya. Baginya semua itu tak ada nilainya dibandingkan dengan senyum keponakannya.

Sekuat-kuatnya Sammy meyakinkan jika ini bukan jual beli, namun Laluna juga lebih meyakinkan Sammy jika Ia tak butuh semua itu.

"Kalau memang Fabio memaksa aku harus meminta sesuatu darinya, mungkin aku akan menjadikan ini sebagai permintaanku seumur hidup." Penuturan Laluna sejenak terjeda sebab nafasnya seperti habis di rongga paru-parunya. Dihirupnya udara segar dengan sebanyak-banyaknya agar Ia tak gugup untuk kembali berucap.

"Tolong jadi waliku. Dalam hal apapun itu, termasuk pernikahanku nanti. Walaupun aku belum tahu kapan, tapi setidaknya aku sudah menentukan hal yang penting. Tapi itupun jika Fabio mau, dan jika menolak pun aku tak keberatan. Kakak sendiri tahu aku tak punya siapa-siapa lagi, saudara almarhum Ayah tak tahu mereka ada dimana. Dan aku tak tahu harus meminta bantuan ini kepada siapa. Disini aku hanya punya Febby dan kalian saja." Lanjut Laluna kemudian kembali menghela nafas dalam setelahnya. Terlihat Sammy tak menanggapi apapun, bahkan ekspresinya tak berubah sedikitpun. Ia seperti setuju, namun juga tidak. Dan Laluna sendiri tak bisa menebak apa isi pikiran Sammy.

Sementara itu, Nuna memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dari pada terlibat obrolan pribadi kedua orang itu. Ia tak mau disebut sebagai orang yang mencampuri urusan orang lain.

Pada akhirnya, Sammy beranjak dan berpamitan untuk kembali ke kantor karena pekerjaannya tak kalah menumpuk. Dan Ia tak mau jika Fabio sampai menegurnya karena terlambat kembali bekerja.

Sepeninggal Sammy, Laluna masih menatap sendu semua dokumen di depannya. Sammy tak mengatakan apapun mengenai permintaannya yang mungkin tak masuk di akal. Orang gila mana yang berani meminta seorang Fabio menjadi walinya? Begitu pikiran Laluna.

Lamunan Laluna mendadak buyar ketika Ia mendengar ketukan di pintu kaca sebelum pintu itu di buka oleh orang yang datang. Ternyata pengantar makanan. Laluna tersenyum ramah seraya bertransaksi dengan kurir tersebut.

Setelahnya, Laluna memberikan 1 paket makanan untuk Nuna, dan lainnya untuk dirinya. Ia berniat makan setelah memastikan kurir tersebut sudah berlalu dan tak ada lagi tamu yang masuk. Baru beberapa langkah menuju ruang pribadinya, Laluna kembali berbalik saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya membulat sempurna mendapati siapa yang datang kali ini.

"Laluna. Apa kabar?" Sapa Seth dengan senyum khasnya.

"Seth?" Pekik Laluna tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!