"Kak. Apa gak sebaiknya Kakak terima karyawan lagi? Kalau hanya kita berdua, aku kurang yakin pesanan akan siap sebelum hari H." Ujar Nuna di sela pekerjaannya. Ia mencoba memberi masukan meski sebenarnya takut jika Laluna akan marah dan mengatainya sok tahu. Dengan masih fokus memasangkan Fayet di sebuah gaun, Nuna tak berniat mendongak sedikitpun. Begitu pun dengan Laluna yang sama-sama fokus pada busana di depannya.
"Hemmm kamu capek ya?" Tanya Laluna tak langsung dijawab oleh Nuna. Gadis itu terlihat gugup dan gelisah mendapati pertanyaan majikannya.
"Maksud aku itu..."
"Kenapa kamu mendadak gugup, Na? Gapapa kok mengutarakan pendapat selagi itu baik. Lagian, aku juga punya pikiran sama. Cuman, aku bingung gaji kalian nanti. Aku kan masih merintis, dan pesanan pun belum bisa dikatakan banyak. Kalau kamu ngerasa capek, boleh istirahat atau libur beberapa hari."
"Maaf ya Kak. Aku bukan maksud gitu. Kalau Kakak gak rekrut karyawan baru juga gapapa. Aku masih bisa bantuin Kakak. Cuman aku khawatir sama Kakak aja." Mendengar penuturan Nuna tersebut, Laluna tersenyum merasa lega mempunyai karyawan sekaligus teman yang baik seperti Nuna.
"Na... makasih ya.. kamu udah mau jadi rekan aku. Kamu capek-capek kerja sendiri waktu aku masih kerja di kantor." Ujar Laluna sejenak menghentikan aktifitasnya. Ia tersenyum melihat respons Nuna yang terlihat menyebalkan namun membuatnya tenang.
"Nanti kalau pesanannya makin banyak, ada kita dapat untung banyak, aku bakal buat butik baru yang lebih besar dan nerima karyawan baru juga." Tutur Laluna selanjutnya. Nuna ikut menyemangati dengan mengangguk antusias.
...****************...
Seharian keduanya merangkai busana pesanan customer,Laluna memesan makanan siap saji untuk mengisi perut mereka yang mungkin sudah keroncongan di jam makan siang yang sudah terlewat. Mereka pikir dengan mengemil makanan ringan, perut mereka tak akan terasa lapar. Namun ternyata, cacing di perut mereka sudah memanggil ingin di beri asupan.
Tak berselang lama, ada seorang pria berpakaian rapi masuk ke dalam butik. Nuna yang terkejut, lantas beranjak dari tempatnya dan berlindung di belakang Laluna. Wajahnya cukup memperlihatkan raut ketakutan melihat sosok yang datang itu.
"Kenapa dia ketakutan, Laluna?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Sammy. Laluna menoleh sesaat kepada Nuna lalu beralih menatap Sammy dengan tersenyum miring.
"Mungkin dia mengira kau hantu." Jawab Laluna dengan begitu santainya. Ia tak takut sama sekali pada lelaki yang dikenal tak mempunyai perasaan itu. Sammy mengangguk mengerti kemudian duduk di kursi pelanggan tanpa izin. Laluna menghampiri dan duduk di sofa lainnya untuk sekedar menyambut kedatangan Sammy.
"Apa yang membuat Kakak kemari? Apa Febby baik-baik saja?" Tanya Laluna memulai obrolan intinya. Ia tak ingin banyak basa-basi karena pekerjaannya sudah menumpuk.
"Nona baik-baik saja. Aku kemari ingin memberikanmu ini." Jawab Sammy seraya meletakkan sebuah map diatas meja. Laluna mendadak heran sekaligus penasaran akan apa isi dari map tersebut. Ia ragu-ragu ingin mengambil benda itu, dan Sammy menggeser sedikit lebih dekat pada Laluna agar wanita di depannya tidak ragu lagi. Laluna mencoba membuka lembar demi lembar isi dokumen yang tertera, matanya membulat membaca salah satu dokumen. Laluna merasa tak percaya, Ia terus menoleh kearah kertas dan Sammy secara bergantian. Hal itu Ia lakukan berulang-ulang sampai Sammy mengangguk dengan senyum tipisnya.
"Tuan ingin berterima kasih karena kamu sudah merawat Nona Febby selama ini. Jika ada yang kurang atau ada hal lain yang kau inginkan, katakan saja. Tuan Fabio akan memberikannya untukmu." Tutur Sammy menjelaskan hal yang mungkin ingin Laluna ketahui maksudnya.
"I-ini serius? Atau Fabio ingin menjahili ku? Kak Sam. Aku tak percaya Fabio melakukan ini untukku. Mustahil Fabio baik padaku, Kak." Protes Laluna yang masih tak percaya.
"Tidak mustahil, Laluna. Tuan memang ingin memberikanmu hadiah ini."
"Ini terlalu banyak, Kak Sam!"
"Ini masih sedikit, Laluna. Tuan bisa memberikanmu hal lain jika kamu mau. Dia tidak melakukannya sekarang karena Tuan tahu kau akan protes begini. Makanya sekarang aku tanya apa lagi yang kau inginkan." Penjelasan Sammy kali ini berhasil membuat Laluna terdiam. Wanita itu menunduk lesu nan sendu sebelum menjawab pertanyaan yang Sammy lontarkan secara berulang-ulang.
"Aku tidak akan menerima semua ini, Kak. Tapi untuk menghargai Fabio, mungkin aku akan menerima tawaran pembangunan butik untukku. Tapi untuk mobil, uang dan villa, maaf itu terlalu banyak. Aku tak berhak untuk menerima semuanya. Lagi pula, aku tulus merawat Febby, karena Febby keponakanku. Ada darah keluargaku yang mengalir di tubuhnya. Jika Fabio meminta hak asuhnya, aku tak akan menghalangi. Tapi jika dengan cara seperti ini, sama saja dengan kalian membeli Febby dariku. Aku tak akan melakukannya." Laluna memaparkan semua yang muncul dipikirannya. Sungguh bodoh jika menolak pemberian hadiah yang fantastis, namun Ia akan lebih bodoh jika menerima semua hadiahnya. Baginya semua itu tak ada nilainya dibandingkan dengan senyum keponakannya.
Sekuat-kuatnya Sammy meyakinkan jika ini bukan jual beli, namun Laluna juga lebih meyakinkan Sammy jika Ia tak butuh semua itu.
"Kalau memang Fabio memaksa aku harus meminta sesuatu darinya, mungkin aku akan menjadikan ini sebagai permintaanku seumur hidup." Penuturan Laluna sejenak terjeda sebab nafasnya seperti habis di rongga paru-parunya. Dihirupnya udara segar dengan sebanyak-banyaknya agar Ia tak gugup untuk kembali berucap.
"Tolong jadi waliku. Dalam hal apapun itu, termasuk pernikahanku nanti. Walaupun aku belum tahu kapan, tapi setidaknya aku sudah menentukan hal yang penting. Tapi itupun jika Fabio mau, dan jika menolak pun aku tak keberatan. Kakak sendiri tahu aku tak punya siapa-siapa lagi, saudara almarhum Ayah tak tahu mereka ada dimana. Dan aku tak tahu harus meminta bantuan ini kepada siapa. Disini aku hanya punya Febby dan kalian saja." Lanjut Laluna kemudian kembali menghela nafas dalam setelahnya. Terlihat Sammy tak menanggapi apapun, bahkan ekspresinya tak berubah sedikitpun. Ia seperti setuju, namun juga tidak. Dan Laluna sendiri tak bisa menebak apa isi pikiran Sammy.
Sementara itu, Nuna memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dari pada terlibat obrolan pribadi kedua orang itu. Ia tak mau disebut sebagai orang yang mencampuri urusan orang lain.
Pada akhirnya, Sammy beranjak dan berpamitan untuk kembali ke kantor karena pekerjaannya tak kalah menumpuk. Dan Ia tak mau jika Fabio sampai menegurnya karena terlambat kembali bekerja.
Sepeninggal Sammy, Laluna masih menatap sendu semua dokumen di depannya. Sammy tak mengatakan apapun mengenai permintaannya yang mungkin tak masuk di akal. Orang gila mana yang berani meminta seorang Fabio menjadi walinya? Begitu pikiran Laluna.
Lamunan Laluna mendadak buyar ketika Ia mendengar ketukan di pintu kaca sebelum pintu itu di buka oleh orang yang datang. Ternyata pengantar makanan. Laluna tersenyum ramah seraya bertransaksi dengan kurir tersebut.
Setelahnya, Laluna memberikan 1 paket makanan untuk Nuna, dan lainnya untuk dirinya. Ia berniat makan setelah memastikan kurir tersebut sudah berlalu dan tak ada lagi tamu yang masuk. Baru beberapa langkah menuju ruang pribadinya, Laluna kembali berbalik saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya membulat sempurna mendapati siapa yang datang kali ini.
"Laluna. Apa kabar?" Sapa Seth dengan senyum khasnya.
"Seth?" Pekik Laluna tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments