Bab 18. Sisi Lain

"Aunty... aku punya sesuatu untuk Aunty."ujar Febby sesaat setelah Laluna menyusulnya ke kamar. Ia memberikan salah satu kantong berisi belanjaan kepada Laluna yang memasang wajah penasaran nan menyebalkan. Dengan perlahan, Laluna membuka hadiah apa yang Febby berikan untuknya. Seketika matanya membulat mendapati apa yang Ia dapatkan.

"Feb... ini serius untuk Aunty?" Tanya Laluna seraya memperlihatkan pada Febby untuk sekedar memastikan kebenarannya. Febby mengangguk antusias menanggapi pertanyaan Laluna yang langsung menutup mulutnya merasa terharu dan kegirangan.

"Aaa terima kasih keponakanku yang cantik. Padahal Aunty bisa beli sendiri. Kau pasti pakai uang Papamu kan?" Terka Laluna tak langsung ditanggapi oleh Febby. Ia melirikkan matanya ke sembarang arah lalu tertawa kecil menandakan bahwa pertanyaan dan tebakan Laluna memang benar.

"Tapi Aunty suka kan dengan tasnya?"

Laluna mengangguk antusias seraya memeluk tas yang menjadi hadiah untuknya itu. "Suka banget." Jawabnya tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia tak menyangka jika Febby lah yang membelikan tas yang Ia mau. Selain karena model terbaru, tas itu merupakan produk limited edition yang dijual hanya 3 saja di Indonesia.

"Aunty... ternyata uang Papa banyak." Bisik Febby kemudian. Laluna semula terdiam lalu tertawa terbahak-bahak membuat Febby keheranan.

"Kau baru tahu?" Ejek Laluna segera beranjak dan berjalan menuju balkon. Ia menatap satu persatu bunga yang sebagian sudah bermekaran.

"Tempatnya nyaman ya?" Ucap Laluna kemudian. Febby hanya terdiam sejenak lalu menyusul Laluna ke luar dan ikut menatap bunga-bunga di depannya.

"Lebih nyaman kalau Aunty juga tinggal disini." Ujar Febby berhasil membuat Laluna mengernyit tak habis pikir.

"Jangan gila kamu! Kalau Aunty tinggal di sini, sama saja bunuh diri." Kini giliran Febby yang mengernyit heran. Ia tak cukup paham dengan maksud penuturan Laluna.

"Maksudnya? Bunuh diri kenapa?"

"Selain karena Aunty dan Papamu sama-sama berstatus tidak menikah, keluarga Papamu juga tak akan tinggal diam jika sampai ada kabar miring tentang Papamu. Dan Aunty yang akan terkena imbasnya." Jelas Laluna sedikit membuat Febby mulai mengerti.

Semakin di perhatikan, Laluna merasa ada yang berbeda dari keponakannya.

"Kau sakit? Bibirmu pecah-pecah." Laluna segera meraih dahi Febby setelah bertanya namun tak ingin mendapatkan jawaban 'iya' dari keponakannya itu. Ia terkejut karena dugaannya benar, dahi Febby terasa hangat dan matanya terlihat sayu.

"Enggak Aunty... ini efek cuaca panas." Sanggah Febby mencoba meyakinkan Laluna agar tak terlalu mengkhawatirkannya.

...****************...

Angin malam terasa menelisik ke dalam tulang. Febby menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal yang Ia gunakan. Entah angin dari mana, namun tubuhnya terasa menggigil malam ini. Febby memejamkan matanya yang berat namun seperti tak mau tertidur. Ia kembali menyingkapkan selimut, lalu beranjak dari tidurnya dan hendak mengambil gelas di atas nakas. Sayang, air yang hendak Ia minum ternyata habis. Terpaksa Ia harus mengambil ke lantai bawah sendirian. Ada rasa takut menyeruak, namun Ia berusaha berani karena mungkin ayahnya atau pelayan lain belum tertidur.

Benar saja, saat Ia melangkah ke anak tangga yang terakhir, Ia mendapati Ayahnya tengah berada di sofa. Fabio bersandar menghadap ke arah layar televisi. Febby mengira Ayahnya belum tidur karena mendengar gumaman kecil entah apapun itu. Febby bergegas ke dapur untuk mengambil air hangat dan cepat-cepat kembali ke kamar karena sudah kedinginan. Sebelum menaiki tangga, Ia menoleh ke arah Fabio yang seakan tak menyadari keberadaan dirinya.

"Papa!" Panggilnya tak mendapati sahutan dari Fabio. Febby penasaran, Ia mencoba mendekat dan memastikan jika Fabio tidak tertidur. Namun ketika saat Febby berada di depan Fabio, Ia melihat Ayahnya sudah tertidur lelap dalam posisi duduk. Ia melihat kening Fabio mengkerut, nafasnya menderu, dan mulai seperti orang panik.

"Papa!" Febby mencoba membangunkan Fabio sekali lagi agar Ayahnya itu tak terlarut dalam mimpi buruk. Ketika Febby mencoba mengguncangkan tubuh Fabio, tangannya dicengkram keras dan ternyata Fabio sudah tersadar dengan mata tajam menatapnya. Febby mendadak ketakutan dan berusaha menarik diri untuk terlepas dari Fabio. Apalah daya, tenaganya tak cukup kuat melawan kekuatan Fabio yang seperti tengah marah.

"Papa..." lirih Febby dengan mata mulai berkaca-kaca.

"Siapa yang kau bilang Papa?"

'Deg!'

Febby terhenyak mendengar pertanyaan yang bahkan Ia sendiri tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan tersebut. Mata Fabio semakin tajam, dan Febby semakin menciut berlutut di hadapan Fabio dengan tangan yang masih dicekal.

"Papa sakit." Kali ini terdengar isak tangis Febby seiring rintihannya karena kesakitan.

"Kembalikan Ralisha ku! Anak sial!"

Kali ini, bukan tangannya saja yang sakit, namun hatinya terasa perih seakan tersayat pisau yang sangat tajam. Benaknya mulai berkecamuk, Ia mengira Fabio sebenarnya memang membencinya. Selama ini kebaikannya hanya kepura-puraan saja.

Febby beranjak dan membalas tatapan Fabio tak kalah tajam. Air matanya tak henti berderai tak kuasa menahan sakit di ulu hatinya.

"Kalau Papa sebenarnya membenciku, lantas kenapa Papa mencari dan membawaku kemari?" Tegas dan menyakitkan. Fabio semakin naik pitam, Ia menghempaskan tangan Febby sekuat tenaga sampai gadis itu terhempas ke belakang dan pinggangnya membentur ujung meja.

"Akh." Rintih Febby langsung terduduk karena linu. Benturan itu menyebabkan gelas yang Febby letakkan di atas meja jatuh dan menimbulkan suara keras. Dan seketika itu, Fabio seakan tersadar dan terkejut melihat Febby yang merintih kesakitan di dekat meja. Apa barusan Ia bermimpi? Fabio menampar pipinya sendiri sebelum Ia meraih Febby dengan kehati-hatian. Namun, gadis itu segera menepis tangan Fabio yang merasakan suhu tubuh Anaknya berbeda dari suhu tubuhnya.

"Febby... kau baik-baik saja?" lirih Fabio tak tahu harus bertanya apa lagi untuk mengetahui apa yang terjadi.

"Baik-baik saja apanya?" Pekik Febby berteriak begitu keras sebelum akhirnya gadis itu beranjak dan berlari menuju kamarnya. Pintu segera Ia kunci untuk mengurung dirinya sendiri. Karena Ia tak mungkin meminta Laluna untuk menjemputnya. Dan untuk kabur pun, Ia tak mungkin lolos. Penjagaan di rumah Fabio sangatlah ketat.

Sementara itu, Fabio kebingungan melihat Putrinya menangis dan terlihat sangat marah. Dan mengapa Febby terduduk di bawah dengan gelas pecah di sampingnya. Namun tak ada satupun jawaban yang muncul. Fabio terduduk lesu di atas sofa memejamkan mata mengingat hal yang terjadi di mimpinya. Apa mungkin mimpi itu bukan mimpi? Ia menyakiti Putrinya sendiri? Sialnya Ia tak bisa sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Seiring matanya terpejam, Ia seakan melihat kejadian barusan memutar di kepalanya.

"Apa itu, Ralisha?" Geramnya kesal sendiri.

Febby merasakan kepalanya semakin berdenyut seiring kerasnya tangis yang Ia keluarkan. Berkali-kali Ia meringis dan memanggil Laluna, namun itu tak berarti. Lututnya semakin gemetaran, dan suhu tubuhnya kian bertambah panas.

"Aunty... pusing... kepalanya sakit." Rintih Febby merengek sendiri di dalam selimut. Ia menggigil hebat merasakan seluruh tubuhnya kedinginan.

"Aunty..." Febby terus merengek tanpa menyadari cairan merah mewarnai pipinya yang terus mengalir dari hidung. Matanya semakin terpejam dengan wajah yang sudah begitu pucat.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!