"Aunty... aku punya sesuatu untuk Aunty."ujar Febby sesaat setelah Laluna menyusulnya ke kamar. Ia memberikan salah satu kantong berisi belanjaan kepada Laluna yang memasang wajah penasaran nan menyebalkan. Dengan perlahan, Laluna membuka hadiah apa yang Febby berikan untuknya. Seketika matanya membulat mendapati apa yang Ia dapatkan.
"Feb... ini serius untuk Aunty?" Tanya Laluna seraya memperlihatkan pada Febby untuk sekedar memastikan kebenarannya. Febby mengangguk antusias menanggapi pertanyaan Laluna yang langsung menutup mulutnya merasa terharu dan kegirangan.
"Aaa terima kasih keponakanku yang cantik. Padahal Aunty bisa beli sendiri. Kau pasti pakai uang Papamu kan?" Terka Laluna tak langsung ditanggapi oleh Febby. Ia melirikkan matanya ke sembarang arah lalu tertawa kecil menandakan bahwa pertanyaan dan tebakan Laluna memang benar.
"Tapi Aunty suka kan dengan tasnya?"
Laluna mengangguk antusias seraya memeluk tas yang menjadi hadiah untuknya itu. "Suka banget." Jawabnya tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia tak menyangka jika Febby lah yang membelikan tas yang Ia mau. Selain karena model terbaru, tas itu merupakan produk limited edition yang dijual hanya 3 saja di Indonesia.
"Aunty... ternyata uang Papa banyak." Bisik Febby kemudian. Laluna semula terdiam lalu tertawa terbahak-bahak membuat Febby keheranan.
"Kau baru tahu?" Ejek Laluna segera beranjak dan berjalan menuju balkon. Ia menatap satu persatu bunga yang sebagian sudah bermekaran.
"Tempatnya nyaman ya?" Ucap Laluna kemudian. Febby hanya terdiam sejenak lalu menyusul Laluna ke luar dan ikut menatap bunga-bunga di depannya.
"Lebih nyaman kalau Aunty juga tinggal disini." Ujar Febby berhasil membuat Laluna mengernyit tak habis pikir.
"Jangan gila kamu! Kalau Aunty tinggal di sini, sama saja bunuh diri." Kini giliran Febby yang mengernyit heran. Ia tak cukup paham dengan maksud penuturan Laluna.
"Maksudnya? Bunuh diri kenapa?"
"Selain karena Aunty dan Papamu sama-sama berstatus tidak menikah, keluarga Papamu juga tak akan tinggal diam jika sampai ada kabar miring tentang Papamu. Dan Aunty yang akan terkena imbasnya." Jelas Laluna sedikit membuat Febby mulai mengerti.
Semakin di perhatikan, Laluna merasa ada yang berbeda dari keponakannya.
"Kau sakit? Bibirmu pecah-pecah." Laluna segera meraih dahi Febby setelah bertanya namun tak ingin mendapatkan jawaban 'iya' dari keponakannya itu. Ia terkejut karena dugaannya benar, dahi Febby terasa hangat dan matanya terlihat sayu.
"Enggak Aunty... ini efek cuaca panas." Sanggah Febby mencoba meyakinkan Laluna agar tak terlalu mengkhawatirkannya.
...****************...
Angin malam terasa menelisik ke dalam tulang. Febby menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal yang Ia gunakan. Entah angin dari mana, namun tubuhnya terasa menggigil malam ini. Febby memejamkan matanya yang berat namun seperti tak mau tertidur. Ia kembali menyingkapkan selimut, lalu beranjak dari tidurnya dan hendak mengambil gelas di atas nakas. Sayang, air yang hendak Ia minum ternyata habis. Terpaksa Ia harus mengambil ke lantai bawah sendirian. Ada rasa takut menyeruak, namun Ia berusaha berani karena mungkin ayahnya atau pelayan lain belum tertidur.
Benar saja, saat Ia melangkah ke anak tangga yang terakhir, Ia mendapati Ayahnya tengah berada di sofa. Fabio bersandar menghadap ke arah layar televisi. Febby mengira Ayahnya belum tidur karena mendengar gumaman kecil entah apapun itu. Febby bergegas ke dapur untuk mengambil air hangat dan cepat-cepat kembali ke kamar karena sudah kedinginan. Sebelum menaiki tangga, Ia menoleh ke arah Fabio yang seakan tak menyadari keberadaan dirinya.
"Papa!" Panggilnya tak mendapati sahutan dari Fabio. Febby penasaran, Ia mencoba mendekat dan memastikan jika Fabio tidak tertidur. Namun ketika saat Febby berada di depan Fabio, Ia melihat Ayahnya sudah tertidur lelap dalam posisi duduk. Ia melihat kening Fabio mengkerut, nafasnya menderu, dan mulai seperti orang panik.
"Papa!" Febby mencoba membangunkan Fabio sekali lagi agar Ayahnya itu tak terlarut dalam mimpi buruk. Ketika Febby mencoba mengguncangkan tubuh Fabio, tangannya dicengkram keras dan ternyata Fabio sudah tersadar dengan mata tajam menatapnya. Febby mendadak ketakutan dan berusaha menarik diri untuk terlepas dari Fabio. Apalah daya, tenaganya tak cukup kuat melawan kekuatan Fabio yang seperti tengah marah.
"Papa..." lirih Febby dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Siapa yang kau bilang Papa?"
'Deg!'
Febby terhenyak mendengar pertanyaan yang bahkan Ia sendiri tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan tersebut. Mata Fabio semakin tajam, dan Febby semakin menciut berlutut di hadapan Fabio dengan tangan yang masih dicekal.
"Papa sakit." Kali ini terdengar isak tangis Febby seiring rintihannya karena kesakitan.
"Kembalikan Ralisha ku! Anak sial!"
Kali ini, bukan tangannya saja yang sakit, namun hatinya terasa perih seakan tersayat pisau yang sangat tajam. Benaknya mulai berkecamuk, Ia mengira Fabio sebenarnya memang membencinya. Selama ini kebaikannya hanya kepura-puraan saja.
Febby beranjak dan membalas tatapan Fabio tak kalah tajam. Air matanya tak henti berderai tak kuasa menahan sakit di ulu hatinya.
"Kalau Papa sebenarnya membenciku, lantas kenapa Papa mencari dan membawaku kemari?" Tegas dan menyakitkan. Fabio semakin naik pitam, Ia menghempaskan tangan Febby sekuat tenaga sampai gadis itu terhempas ke belakang dan pinggangnya membentur ujung meja.
"Akh." Rintih Febby langsung terduduk karena linu. Benturan itu menyebabkan gelas yang Febby letakkan di atas meja jatuh dan menimbulkan suara keras. Dan seketika itu, Fabio seakan tersadar dan terkejut melihat Febby yang merintih kesakitan di dekat meja. Apa barusan Ia bermimpi? Fabio menampar pipinya sendiri sebelum Ia meraih Febby dengan kehati-hatian. Namun, gadis itu segera menepis tangan Fabio yang merasakan suhu tubuh Anaknya berbeda dari suhu tubuhnya.
"Febby... kau baik-baik saja?" lirih Fabio tak tahu harus bertanya apa lagi untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Baik-baik saja apanya?" Pekik Febby berteriak begitu keras sebelum akhirnya gadis itu beranjak dan berlari menuju kamarnya. Pintu segera Ia kunci untuk mengurung dirinya sendiri. Karena Ia tak mungkin meminta Laluna untuk menjemputnya. Dan untuk kabur pun, Ia tak mungkin lolos. Penjagaan di rumah Fabio sangatlah ketat.
Sementara itu, Fabio kebingungan melihat Putrinya menangis dan terlihat sangat marah. Dan mengapa Febby terduduk di bawah dengan gelas pecah di sampingnya. Namun tak ada satupun jawaban yang muncul. Fabio terduduk lesu di atas sofa memejamkan mata mengingat hal yang terjadi di mimpinya. Apa mungkin mimpi itu bukan mimpi? Ia menyakiti Putrinya sendiri? Sialnya Ia tak bisa sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Seiring matanya terpejam, Ia seakan melihat kejadian barusan memutar di kepalanya.
"Apa itu, Ralisha?" Geramnya kesal sendiri.
Febby merasakan kepalanya semakin berdenyut seiring kerasnya tangis yang Ia keluarkan. Berkali-kali Ia meringis dan memanggil Laluna, namun itu tak berarti. Lututnya semakin gemetaran, dan suhu tubuhnya kian bertambah panas.
"Aunty... pusing... kepalanya sakit." Rintih Febby merengek sendiri di dalam selimut. Ia menggigil hebat merasakan seluruh tubuhnya kedinginan.
"Aunty..." Febby terus merengek tanpa menyadari cairan merah mewarnai pipinya yang terus mengalir dari hidung. Matanya semakin terpejam dengan wajah yang sudah begitu pucat.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments