Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya

Waktu bergulir, sudah masuk di pertengahan bulan maret, Febby sesekali menginap di rumah Laluna dan Ia lebih sering menginap di rumah ayahnya. Semua teman dekatnya mulai menyadari dengan perubahan Febby yang semula diantar jemput oleh Laluna, kini Ia lebih sering diantar jemput oleh supir pribadi dengan mobil yang lebih mewah dari mobil sebelumnya.

Rega yang semula terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada Febby, kini sikapnya perlahan tak seperti biasanya. Mereka akrab, bahkan masih dekat, tapi tak seperti dulu. Biasanya Rega selalu merayu Febby, kini tak lagi. Seakan ikatan pertemanan lebih menyenangkan dari pada percintaan. Rega terlalu takut jika ikatannya lebih dari teman, Ia akan kehilangan Febby.

"Ga... kok kamu kayak cuek sih sekarang sama Febby? Bukannya kamu suka sama Febby?" Abila memulai pertanyaan saat keduanya tengah duduk berdua. Pandangan Abila tak berpaling dari Febby yang tengah mengobrol dengan Rangga di ambang pintu. Sepertinya pintu menjadi tempat favorit bagi Febby. Terlihat canda tawanya begitu lepas tanpa beban. Abila merasa jika Febby memang sudah melepaskan beban yang selama ini sengaja di pendam.

"Enggak lah. Aku nunggu sukses aja. Lagian Febby udah mau nunggu aku lamar nanti." Jawab Rega dengan penuh percaya diri.

"Cieee yang udah lamar-lamar. Aku doain semoga kalian bener-bener jodoh ya! Kasian kamu kalau sampai gak jodoh." Ejek Abila tertawa puas kemudian menyusul Febby yang tengah baku hantam dengan Rangga. Rega tersenyum lega melihat senyum Febby yang sudah lepas. Ia meraih dadanya dimana jantungnya yang terasa berdegup kencang.

"Aku harus cepat-cepat ke dokter. Takut diabetes." Ujarnya seraya duduk di meja Febby. Seketika pandangannya tertuju pada coretan di meja Febby yang tak lain adalah huruf A dan R. Rega penasaran, Ia mencoba menerka-nerka Inisial nama siapa yang Febby ukir?

"Ahh gak seru." Terdengar suara keluhan Rangga yang kini berjalan menghampiri Rega dengan wajah kecewa. Rega hendak bertanya, namun pandangannya kembali tertuju pada sosok yang tengah berbincang dengan Febby, bahkan keduanya pergi entah kemana. Rega beranjak dan mencoba mencari tahu kemana perginya 2 sejoli itu. Dan pada akhirnya, keduanya duduk di kursi taman dengan perbincangan yang serius.

"Aku tahu ini terlambat kak. Tapi, sesuai janji aku, aku akan terima tawaran kakak." Ujar Febby tanpa basa-basi. Sejenak Rasya terdiam, namun kemudian Ia tercengang dan tanpa sadar meraih bahu Febby dengan wajah antusias.

"Jadi kamu udah ketemu sama Papa kamu? Ahhh syukurlah. Dan ini gak terlambat, justru ini waktu yang tepat. Dan juga kamu gapapa gak jadi sekertaris, kamu jadi pasangan aku aja. Aku lebih percaya sama kamu dari pada orang lain, Feb. Gimana?"

"Pasangan?" Pekik Febby dan Rega bersamaan, meski sebenarnya Rega tak menimbulkan suara. Ia hanya ikut terkejut dengan penawaran Rasya. Ia masih tak paham dengan maksud 'pasangan', tentang apa? Apa Rasya menunjukkan perasaannya pada Febby dengan dalih bekerja sama menjadi osis? Rega tak habis pikir, Ia beranjak tanpa ingin tahu apa yang terjadi setelahnya.

"Kalau jadi wakil, aku gak bisa kak. Tapi kalau jadi sekertaris, aku usahakan." Tutur Febby segera beranjak agar tak ada yang salah faham dengan kedekatannya dengan Rasya. Selanjutnya Febby pamit untuk kembali ke kelasnya dan Rasya masih memilih untuk kembali duduk tanpa ingin menghentikan kepergian Febby.

"Sikap cuek kamu yang mungkin lebih aku sukai, Feb. Aku harap, kamu belum punya orang spesial di hati kamu. Tapi, kalau menunggu semakin lama, aku gak jamin kamu masih sendiri. Setelah aku jadi ketua osis, aku bakal nyatain perasaan aku sama kamu, Feb." Gumam Rasya menyemangati dirinya sendiri dengan penuh pengharapan.

...****************...

Rega menatap sesaat dua inisial ukiran Febby itu, dan Ia menerka jika nama yang dimaksud adalah Azrina dan Rasya. Atau bisa saja Azrina dan Rega. Semua teka-teki itu mulai berkecamuk di pikiran Rega.

"Cieee habis ngedate nih." Sindir Abila langsung di bungkam dengan senggolan tangan Shanaya. Abila terdiam seketika saat melihat Rega yang mendadak murung di bangku paling belakang.

"Hahahaha mana mungkin lah. Febby kan istri masa depan Rega. Hahaha iya kan?" Meski tak ingin, Rangga memaksakan tawa agar suasana dingin diantara Rega dan Febby kembali mencair.

"Kalian kenapa sih? Aku sama kak Rasya gak ada apa-apa, dan aku sama Rega juga gak ada apa-apa." Tegas Febby membuat Rega semakin murung. "Aku masih 16 tahun. Gak ada cinta-cintaan atau pacaran. Lagi pula, kalau aku punya pacar, kasihan pacar aku. Bisa digantung sama Papa." Celotehnya kemudian. Ke empat temannya terdiam dan saling lirik satu sama lain. Sebelumnya Febby tak pernah menceritakan tentang Ayahnya, namun ini kali pertama Ia menyebut 'Papa' dalam obrolan mereka.

"Papa kamu orangnya gimana, Feb? Kita belum tahu Papa kamu siapa." Ujar Rangga. Kali ini Febby yang membungkam mulutnya sendiri. Bisa-bisanya Ia keceplosan tentang Ayahnya.

"Iya Feb. Sekali-kali kenalin kita ke Papa kamu dong!" Timpal Shanaya menatap penuh harap pada Febby yang mulai gelisah.

"I-iya nanti kalau Papa aku gak sibuk ya." Jawab Febby mencoba mencari alasan agar mereka tak semakin memojokkannya.

...****************...

Sepulang sekolah, Febby mencoba menghindari Abila dan Shanaya agar tak ada pertanyaan mengenai Ayahnya. Siapa sangka, Rega memintanya untuk menunggu dan memintanya berjalan bersama sampai gerbang sekolah.

"Feb.. aku gak mau ada kesalahpahaman diantara kita. Aku mau tanya sesuatu sama kamu." Ujar Rega sesaat setelah Ia berhasil menyusul Febby yang baru saja sampai di depan perpustakaan.

"Ga! Aku tahu apa yang mau kamu tanyain. Rega Pradipta yang terhormat. Aku sama Kak Rasya gak ada hubungan apa-apa. Tadi, aku sama dia cuman ngomongin tentang osis. Aku udah janji sama dia bakal jadi sekertaris kalau dia yang jadi ketuanya, dan kalau aku berhasil ketemu sama Papa aku. Jelas?" Papar Febby menjelaskan dengan detail sampai Rega mengangguk dan tersenyum lega.

"Syukurlah kalau gitu kenyataannya. Tapi tetep aja aku ngerasa takut kehilangan kamu. Gak ada jaminan kamu bakal nepatin janji kamu."

"Kamu ragu sama janji aku? Ya udah kalau ragu. Aku cari pacar aja." Mata Rega membulat sempurna mendengar apa yang Febby ucapkan. Keraguannya malah membuat Febby semakin jauh.

"Gak ragu. Tapi kalau gak ada bukti ikatan, aku takut aja. Bisa aja kamu ketemu sama orang yang lebih baik dari aku."

"Ga! Udah aku bilang. Kita itu masih 16 tahun. Perjalanan kita masih panjang. Dan aku gak pernah ingkar janji sama orang." Kembali Febby menegaskan meski Rega masih merasa bimbang. Rega menyentuh dadanya lagi, Ia merasa denyutan itu semakin berdebar keras.

"Perjalanannya masih panjang ya? Benar! Demi kamu aku akan bertahan lebih lama." Penuturan Rega kali ini tak bisa Febby cerna dengan cepat. Ia mengernyit mencoba menebak maksud Rega, namun tak mendapati sebuah jawaban. Dan saat itu, terlihat Sammy memanggilnya dari seberang jalan dan menjemputnya ke depan gerbang.

"Aku duluan ya Ga." Ujar Febby berpamitan. Rega sebenarnya merasa familiar dengan wajah Sammy, namun Ia tak ingin terlalu memikirkan hal yang tidak perlu. Ia segera mencari keberadaan mobil Ayahnya yang hari ini sengaja menjemputnya.

"Rega. Jadwalnya 30 menit lagi. Ayah sudah ambilkan nomor antrian buat kamu biar kamu gak terlalu lama nunggu." Ucap Haidar tepat saat Rega menutup pintu mobil.

"Iya Ayah. Terima kasih. Sekalian beli obat lagi. Stok punyaku hanya tinggal 2 kali konsumsi lagi. Dan juga, aku mau jalani terapi sesuai prosedur medis, Yah. Aku mau hidup lebih lama. Belum terlambat kan?" Haidar tak langsung menjawab pertanyaan Putranya, Ia terdiam sejenak lalu mengangguk pelan mengiyakan. Setelah sekian lama, akhirnya Rega mau menjalani terapi agar umurnya tidak sesingkat yang dikatakan dokter. Air mata Haidar meluruh pelan meminta pengharapan akan kesembuhan sang Putra.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!