Waktu bergulir, sudah masuk di pertengahan bulan maret, Febby sesekali menginap di rumah Laluna dan Ia lebih sering menginap di rumah ayahnya. Semua teman dekatnya mulai menyadari dengan perubahan Febby yang semula diantar jemput oleh Laluna, kini Ia lebih sering diantar jemput oleh supir pribadi dengan mobil yang lebih mewah dari mobil sebelumnya.
Rega yang semula terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada Febby, kini sikapnya perlahan tak seperti biasanya. Mereka akrab, bahkan masih dekat, tapi tak seperti dulu. Biasanya Rega selalu merayu Febby, kini tak lagi. Seakan ikatan pertemanan lebih menyenangkan dari pada percintaan. Rega terlalu takut jika ikatannya lebih dari teman, Ia akan kehilangan Febby.
"Ga... kok kamu kayak cuek sih sekarang sama Febby? Bukannya kamu suka sama Febby?" Abila memulai pertanyaan saat keduanya tengah duduk berdua. Pandangan Abila tak berpaling dari Febby yang tengah mengobrol dengan Rangga di ambang pintu. Sepertinya pintu menjadi tempat favorit bagi Febby. Terlihat canda tawanya begitu lepas tanpa beban. Abila merasa jika Febby memang sudah melepaskan beban yang selama ini sengaja di pendam.
"Enggak lah. Aku nunggu sukses aja. Lagian Febby udah mau nunggu aku lamar nanti." Jawab Rega dengan penuh percaya diri.
"Cieee yang udah lamar-lamar. Aku doain semoga kalian bener-bener jodoh ya! Kasian kamu kalau sampai gak jodoh." Ejek Abila tertawa puas kemudian menyusul Febby yang tengah baku hantam dengan Rangga. Rega tersenyum lega melihat senyum Febby yang sudah lepas. Ia meraih dadanya dimana jantungnya yang terasa berdegup kencang.
"Aku harus cepat-cepat ke dokter. Takut diabetes." Ujarnya seraya duduk di meja Febby. Seketika pandangannya tertuju pada coretan di meja Febby yang tak lain adalah huruf A dan R. Rega penasaran, Ia mencoba menerka-nerka Inisial nama siapa yang Febby ukir?
"Ahh gak seru." Terdengar suara keluhan Rangga yang kini berjalan menghampiri Rega dengan wajah kecewa. Rega hendak bertanya, namun pandangannya kembali tertuju pada sosok yang tengah berbincang dengan Febby, bahkan keduanya pergi entah kemana. Rega beranjak dan mencoba mencari tahu kemana perginya 2 sejoli itu. Dan pada akhirnya, keduanya duduk di kursi taman dengan perbincangan yang serius.
"Aku tahu ini terlambat kak. Tapi, sesuai janji aku, aku akan terima tawaran kakak." Ujar Febby tanpa basa-basi. Sejenak Rasya terdiam, namun kemudian Ia tercengang dan tanpa sadar meraih bahu Febby dengan wajah antusias.
"Jadi kamu udah ketemu sama Papa kamu? Ahhh syukurlah. Dan ini gak terlambat, justru ini waktu yang tepat. Dan juga kamu gapapa gak jadi sekertaris, kamu jadi pasangan aku aja. Aku lebih percaya sama kamu dari pada orang lain, Feb. Gimana?"
"Pasangan?" Pekik Febby dan Rega bersamaan, meski sebenarnya Rega tak menimbulkan suara. Ia hanya ikut terkejut dengan penawaran Rasya. Ia masih tak paham dengan maksud 'pasangan', tentang apa? Apa Rasya menunjukkan perasaannya pada Febby dengan dalih bekerja sama menjadi osis? Rega tak habis pikir, Ia beranjak tanpa ingin tahu apa yang terjadi setelahnya.
"Kalau jadi wakil, aku gak bisa kak. Tapi kalau jadi sekertaris, aku usahakan." Tutur Febby segera beranjak agar tak ada yang salah faham dengan kedekatannya dengan Rasya. Selanjutnya Febby pamit untuk kembali ke kelasnya dan Rasya masih memilih untuk kembali duduk tanpa ingin menghentikan kepergian Febby.
"Sikap cuek kamu yang mungkin lebih aku sukai, Feb. Aku harap, kamu belum punya orang spesial di hati kamu. Tapi, kalau menunggu semakin lama, aku gak jamin kamu masih sendiri. Setelah aku jadi ketua osis, aku bakal nyatain perasaan aku sama kamu, Feb." Gumam Rasya menyemangati dirinya sendiri dengan penuh pengharapan.
...****************...
Rega menatap sesaat dua inisial ukiran Febby itu, dan Ia menerka jika nama yang dimaksud adalah Azrina dan Rasya. Atau bisa saja Azrina dan Rega. Semua teka-teki itu mulai berkecamuk di pikiran Rega.
"Cieee habis ngedate nih." Sindir Abila langsung di bungkam dengan senggolan tangan Shanaya. Abila terdiam seketika saat melihat Rega yang mendadak murung di bangku paling belakang.
"Hahahaha mana mungkin lah. Febby kan istri masa depan Rega. Hahaha iya kan?" Meski tak ingin, Rangga memaksakan tawa agar suasana dingin diantara Rega dan Febby kembali mencair.
"Kalian kenapa sih? Aku sama kak Rasya gak ada apa-apa, dan aku sama Rega juga gak ada apa-apa." Tegas Febby membuat Rega semakin murung. "Aku masih 16 tahun. Gak ada cinta-cintaan atau pacaran. Lagi pula, kalau aku punya pacar, kasihan pacar aku. Bisa digantung sama Papa." Celotehnya kemudian. Ke empat temannya terdiam dan saling lirik satu sama lain. Sebelumnya Febby tak pernah menceritakan tentang Ayahnya, namun ini kali pertama Ia menyebut 'Papa' dalam obrolan mereka.
"Papa kamu orangnya gimana, Feb? Kita belum tahu Papa kamu siapa." Ujar Rangga. Kali ini Febby yang membungkam mulutnya sendiri. Bisa-bisanya Ia keceplosan tentang Ayahnya.
"Iya Feb. Sekali-kali kenalin kita ke Papa kamu dong!" Timpal Shanaya menatap penuh harap pada Febby yang mulai gelisah.
"I-iya nanti kalau Papa aku gak sibuk ya." Jawab Febby mencoba mencari alasan agar mereka tak semakin memojokkannya.
...****************...
Sepulang sekolah, Febby mencoba menghindari Abila dan Shanaya agar tak ada pertanyaan mengenai Ayahnya. Siapa sangka, Rega memintanya untuk menunggu dan memintanya berjalan bersama sampai gerbang sekolah.
"Feb.. aku gak mau ada kesalahpahaman diantara kita. Aku mau tanya sesuatu sama kamu." Ujar Rega sesaat setelah Ia berhasil menyusul Febby yang baru saja sampai di depan perpustakaan.
"Ga! Aku tahu apa yang mau kamu tanyain. Rega Pradipta yang terhormat. Aku sama Kak Rasya gak ada hubungan apa-apa. Tadi, aku sama dia cuman ngomongin tentang osis. Aku udah janji sama dia bakal jadi sekertaris kalau dia yang jadi ketuanya, dan kalau aku berhasil ketemu sama Papa aku. Jelas?" Papar Febby menjelaskan dengan detail sampai Rega mengangguk dan tersenyum lega.
"Syukurlah kalau gitu kenyataannya. Tapi tetep aja aku ngerasa takut kehilangan kamu. Gak ada jaminan kamu bakal nepatin janji kamu."
"Kamu ragu sama janji aku? Ya udah kalau ragu. Aku cari pacar aja." Mata Rega membulat sempurna mendengar apa yang Febby ucapkan. Keraguannya malah membuat Febby semakin jauh.
"Gak ragu. Tapi kalau gak ada bukti ikatan, aku takut aja. Bisa aja kamu ketemu sama orang yang lebih baik dari aku."
"Ga! Udah aku bilang. Kita itu masih 16 tahun. Perjalanan kita masih panjang. Dan aku gak pernah ingkar janji sama orang." Kembali Febby menegaskan meski Rega masih merasa bimbang. Rega menyentuh dadanya lagi, Ia merasa denyutan itu semakin berdebar keras.
"Perjalanannya masih panjang ya? Benar! Demi kamu aku akan bertahan lebih lama." Penuturan Rega kali ini tak bisa Febby cerna dengan cepat. Ia mengernyit mencoba menebak maksud Rega, namun tak mendapati sebuah jawaban. Dan saat itu, terlihat Sammy memanggilnya dari seberang jalan dan menjemputnya ke depan gerbang.
"Aku duluan ya Ga." Ujar Febby berpamitan. Rega sebenarnya merasa familiar dengan wajah Sammy, namun Ia tak ingin terlalu memikirkan hal yang tidak perlu. Ia segera mencari keberadaan mobil Ayahnya yang hari ini sengaja menjemputnya.
"Rega. Jadwalnya 30 menit lagi. Ayah sudah ambilkan nomor antrian buat kamu biar kamu gak terlalu lama nunggu." Ucap Haidar tepat saat Rega menutup pintu mobil.
"Iya Ayah. Terima kasih. Sekalian beli obat lagi. Stok punyaku hanya tinggal 2 kali konsumsi lagi. Dan juga, aku mau jalani terapi sesuai prosedur medis, Yah. Aku mau hidup lebih lama. Belum terlambat kan?" Haidar tak langsung menjawab pertanyaan Putranya, Ia terdiam sejenak lalu mengangguk pelan mengiyakan. Setelah sekian lama, akhirnya Rega mau menjalani terapi agar umurnya tidak sesingkat yang dikatakan dokter. Air mata Haidar meluruh pelan meminta pengharapan akan kesembuhan sang Putra.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments