Bab 10. Pertemuan tak terduga

Febby yang sudah tersadar dari pingsannya, Ia mengurung diri di kamar tanpa ingin mendengar bujukan Laluna. Febby benar-benar merasa terpukul karena ekspetasinya sangat tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Ia pikir jika Ia meminta ayahnya kembali, Ia akan bahagia, tapi ternyata Ia malah mendapatkan jawaban mengapa selama ini ayahnya tak kunjung menemuinya.

"Papa bilang aku sudah mati. Jadi untuk apa aku hidup? Aku mau menyusul Mama saja." Rengeknya di dalam kamar. Semua benda yang Ia lihat, Ia lemparkan ke sembarang arah dan seketika kamarnya menjadi berantakan. Terlintas pikiran dangkal di benak Febby saat Ia melihat sebuah tali.

Di luar, Laluna terus memanggil nama keponakannya, namun tak juga ada jawaban. Ia semakin khawatir saat suasana di dalam berubah hening, hanya suara gemercik hujan yang terdengar dari luar. Laluna mencoba mendorong pintu, namun Ia tak cukup kuat. Hingga Ia dengan terpaksa menghubungi Sammy untuk meminta pertolongannya.

"Anggap saja, ini permintaanku yang terakhir. Tolong!" Laluna tak bisa menahan dirinya, Ia begitu gemetaran saat menunggu Sammy datang.

Selang 10 menit berlalu, Sammy datang dengan basah kuyup. Tanpa di berikan kesempatan untuk mengeringkan rambut dan badan, Laluna meminta Sammy untuk mendobrak kamar Febby yang terkunci dari dalam. Dengan menurut, Sammy segera mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Dan, di usahanya yang ke sekian, akhirnya pintu terbuka dan memperlihatkan Febby tengah naik ke atas meja riasnya dengan seuntai tali yang Ia buat dari bagian selimut dan kain lain.

"Apa yang kau lakukan Febby?" Pekik Laluna segera berlari hingga Febby terhenyak dan kehilangan keseimbangannya. Akibatnya, Ia terjatuh dan tertimpa meja rias beserta benda-benda kecil lainnya. Suara pecahan kaca begitu nyaring bersamaan dengan suara petir yang menggelegar memekik telinga.

"Febby.. tidak tidak tidak." Laluna berlari meraih tangan Febby yang masih dapat di gerakkan. Sementara tubuh lainnya tertimpa furniture favoritnya itu.

Sammy segera menyingkirkan meja rias yang di design menyatu dengan lemari sehingga Ia berusaha sekuat tenaga agar Febby tak cidera parah. Setelah lemari berhasil di singkirkan dari tubuh Febby, Laluna dapat memeluk erat tubuh kecil itu dengan penuh kasih sayang dan rasa sesal.

"Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau bersikap bodoh? Kenapa pikiranmu sedangkal itu?" Febby tak lagi bereaksi meski Laluna dengan keras menangis dan menyalahkan tindakannya. Fabio mematung mendapati suasana kamar yang begitu berantakan, dan sebuah tali menjuntai seperti sesuatu yang tak asing baginya. Kemudian, Fabio menoleh ke arah Febby yang tergeletak di dalam dekapan Laluna yang masih menangis.

"Sesakit itukah hatinya sampai Ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya?" Batin Fabio mulai gemetaran hebat saat melangkah mendekati Laluna dan Febby.

"Tuan! Anda..." pekik Sammy yang terkejut akan kedatangan Fabio. Semula Ia tak berniat membawa Fabio ke kediaman Laluna, namun sepertinya Fabio ingin tahu kemana dirinya pergi.

"Laluna... berikan padaku. Aku ingin memeluknya." Pinta Fabio membuat Laluna semakin erat memeluk Febby.

"Kau pikir aku gila? Aku tak akan memberikan Febby pada iblis sepertimu. Dia begini gara-gara kau! Kalau saja kau tak mengatakan hal menyakitkan itu, Febby tak mungkin nekat membahayakan dirinya sendiri.

"Laluna..."

"Tuan. Sebaiknya kita bawa Nona ke rumah sakit. Pendarahan di kepalanya semakin banyak." Ujar Sammy yang lebih dulu merebut Febby yang terlelap pergi menuju mobil. Fabio dan Laluna masih saling beradu tatap hingga akhirnya mereka menyusul Sammy.

...****************...

Febby membuka matanya perlahan, dan Ia mendapati sebagian tubuhnya terbalut perban dan tangannya di infus. Bau obat di sekeliling ruangan membuatnya yakin jika Ia tengah berada di rumah sakit. Perlahan Febby mengedarkan pandangan mencari tahu apa yang terjadi. Ia merasakan kepalanya berdenyut keras dan hidungnya lembab.

"Eh aku mimisan." Ujar Febby mencari tissue dan beranjak dari tidurnya. Sangat sepi, dan juga tenang. Ia tak menemukan siapapun di ruangan itu. Hanya sendiri.

Kemudian terdengar pintu terbuka dan memperlihatkan Keen tersenyum membawakan beberapa buah untuknya.

"Sudah sadar?" Tanyanya meski sudah tahu jawabannya.

"Kamu ngapain di sini?" Heran bercampur penasaran, Febby balik bertanya dengan keberadaan Keen di sana.

"Aku jenguk kamu. Kata Uncle kamu kecelakaan di rumah. Aku kira hanya bercanda, ternyata sungguhan. Kepalamu bocor, lenganmu tersayat kaca. Uhhh pasti sakit." Ujar Keen menjawab pertanyaan Febby. Jelas Febby sedikit merasa heran akan sikap Keen yang terasa berbeda. Saat di sekolah, Keen begitu dingin dan nyaris tak pernah tersenyum. Tapi di depannya, seakan berubah 180 derajat, dan lebih banyak bicara.

"Uncle?" Febby baru sadar siapa yang dimaksud oleh Keen.

"Iya Uncle! Uncle Fabio. Dia ayah kamu, kan? Mana mungkin kau tak ingat."

"Sebentar Keen! Kau tahu Papaku? Dia memang punya nama belakang Arvasatya, tapi harusnya kau tak perlu ambil hati, Keen. Namaku dan Papa pasti kebetulan punya kesamaan dengan nama keluarga besar mu." Lagi-lagi Febby menjelaskan jika dirinya tidak termasuk keluarga Arvasatya. Keen hanya tersenyum lalu menggeleng pelan seraya berkata.

"Tidak Feb. Bukan sekedar kebetulan. Kita memang saudara. Kau dan aku adalah sepupu. Kau dengar? Sepupu!" Keen dengan tegas mengulang kata agar Febby paham dan tahu yang sebenarnya. Namun, Febby tertawa menanggapi penuturan Keen yang Ia anggap tidak masuk akal.

"Kau tahu?" Tanya Febby ditanggapi anggukan oleh Keen.

"Lantas?" Kali ini Keen mengernyit tak mengerti dengan pertanyaan Febby yang selanjutnya.

"Lantas? Apa?" Keen ikut mengulang pertanyaan yang sama. Ia benar-benar tak tahu dan tak mengerti.

"Lantas kenapa tak ada satu pun dari keluargamu yang mencari ku? Kenapa kalian membiarkan Aunty ku berjuang sendirian menghidupiku. Bahkan saat aku masih bayi, Aunty masih berusia 17 tahun. 17 tahun Keen! 17 tahun itu waktu yang tepat untuk menikmati hidup, bukan terbebani hidup." Pecah sudah tangis Febby meluapkan emosinya yang mendadak naik, namun Keen hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa. Masalah ini tak Ia ketahui sedikitpun.

"Febby! Apa yang kau bicarakan? Baru siuman dari koma jangan dulu banyak bicara!" Tegur Laluna menghampiri Febby yang masih menangis. Febby melihat ada bekas air mata di ujung mata Laluna. Dan kedatangan Laluna ternyata tidak sendiri, ada beberapa orang asing ikut menghampiri mereka.

"Ternyata kau sangat mirip dengan Fabio. Nak, kemana saja kau selama ini? Kenapa kau bersembunyi?" Tanpa basa-basi lebih lama, Emran memeluk Febby dengan begitu erat penuh kerinduan. Terlihat raut wajah kebingungan Febby seakan mempertanyakan siapa lelaki tua yang tiba-tiba memeluknya.

"Febby. Kami dari keluarga Arvasatya. Aku, Reindra. Ayah Keen, dan kakak dari ayahmu. Lebih tepatnya, aku adalah pamanmu. Lalu, itu kakekmu. Hanz Emran Arvasatya." Papar Reindra membulatkan mata Febby seketika sesaat setelah Emran melepas pelukannya.

"Maaf karena baru sekarang kita bertemu. Kakek dan pamanmu baru mengetahui kalau kau masih hidup." Ujar Emran tak henti-henti mengelus rambut Febby dengan penuh kehangatan.

"Iya! Wajar saja. Karena Papa bilang kalau aku sudah mati kan? Kalian tenang saja! Aku tidak marah. Aku hanya ingin tahu, kenapa aku dianggap sudah mati? Apa karena aku penyebab Mama meninggal? Lalu apa aku tak berhak menjadi bagian keluarga Arvasatya?" Kali ini, giliran Emran yang terbelalak karena Febby bisa berpikiran demikian.

"Tidak Febby. Tidak. Kenapa kau berpikiran seperti itu?" Sanggah Emran kian sendu menatap Febby yang terlihat murung.

"Selama 16 tahun aku hanya tinggal dengan Aunty. Padahal Aunty masih butuh kebebasan saat itu. Tak ada yang mencari, dan tak ada yang mengakui. Aku pikir, aku hanya punya Aunty saja. Mama sudah meninggal, dan keluarga Papa entah dimana." Tutur Febby memberikan jawaban yang mungkin Emran inginkan.

"Kalau kau berpikir demikian, Kakek minta maaf. Semua terjadi karena kesalahpahaman. Tidak ada yang bersalah di sini. Jadi Kakek harap kau tak membenci keluarga ayahmu ya! Kalau Ayahmu yang salah, kakek akan tegur dia. Sekarang, apa kau mau tinggal dengan Kakek atau Ayahmu?"

"Eh?" Febby terkejut akan pertanyaan tersebut. Jelas Ia akan tinggal bersama Laluna sampai kapanpun. Tak ada pikiran Ia akan tinggal dengan keluarga yang terasa seperti orang lain. Namun, sorot mata Laluna seperti menyuruhnya untuk tinggal bersama mereka. Di balik itu, terlihat pula Laluna seakan tak rela jika Febby pergi dari hidupnya.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!