Febby yang sudah tersadar dari pingsannya, Ia mengurung diri di kamar tanpa ingin mendengar bujukan Laluna. Febby benar-benar merasa terpukul karena ekspetasinya sangat tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Ia pikir jika Ia meminta ayahnya kembali, Ia akan bahagia, tapi ternyata Ia malah mendapatkan jawaban mengapa selama ini ayahnya tak kunjung menemuinya.
"Papa bilang aku sudah mati. Jadi untuk apa aku hidup? Aku mau menyusul Mama saja." Rengeknya di dalam kamar. Semua benda yang Ia lihat, Ia lemparkan ke sembarang arah dan seketika kamarnya menjadi berantakan. Terlintas pikiran dangkal di benak Febby saat Ia melihat sebuah tali.
Di luar, Laluna terus memanggil nama keponakannya, namun tak juga ada jawaban. Ia semakin khawatir saat suasana di dalam berubah hening, hanya suara gemercik hujan yang terdengar dari luar. Laluna mencoba mendorong pintu, namun Ia tak cukup kuat. Hingga Ia dengan terpaksa menghubungi Sammy untuk meminta pertolongannya.
"Anggap saja, ini permintaanku yang terakhir. Tolong!" Laluna tak bisa menahan dirinya, Ia begitu gemetaran saat menunggu Sammy datang.
Selang 10 menit berlalu, Sammy datang dengan basah kuyup. Tanpa di berikan kesempatan untuk mengeringkan rambut dan badan, Laluna meminta Sammy untuk mendobrak kamar Febby yang terkunci dari dalam. Dengan menurut, Sammy segera mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Dan, di usahanya yang ke sekian, akhirnya pintu terbuka dan memperlihatkan Febby tengah naik ke atas meja riasnya dengan seuntai tali yang Ia buat dari bagian selimut dan kain lain.
"Apa yang kau lakukan Febby?" Pekik Laluna segera berlari hingga Febby terhenyak dan kehilangan keseimbangannya. Akibatnya, Ia terjatuh dan tertimpa meja rias beserta benda-benda kecil lainnya. Suara pecahan kaca begitu nyaring bersamaan dengan suara petir yang menggelegar memekik telinga.
"Febby.. tidak tidak tidak." Laluna berlari meraih tangan Febby yang masih dapat di gerakkan. Sementara tubuh lainnya tertimpa furniture favoritnya itu.
Sammy segera menyingkirkan meja rias yang di design menyatu dengan lemari sehingga Ia berusaha sekuat tenaga agar Febby tak cidera parah. Setelah lemari berhasil di singkirkan dari tubuh Febby, Laluna dapat memeluk erat tubuh kecil itu dengan penuh kasih sayang dan rasa sesal.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau bersikap bodoh? Kenapa pikiranmu sedangkal itu?" Febby tak lagi bereaksi meski Laluna dengan keras menangis dan menyalahkan tindakannya. Fabio mematung mendapati suasana kamar yang begitu berantakan, dan sebuah tali menjuntai seperti sesuatu yang tak asing baginya. Kemudian, Fabio menoleh ke arah Febby yang tergeletak di dalam dekapan Laluna yang masih menangis.
"Sesakit itukah hatinya sampai Ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya?" Batin Fabio mulai gemetaran hebat saat melangkah mendekati Laluna dan Febby.
"Tuan! Anda..." pekik Sammy yang terkejut akan kedatangan Fabio. Semula Ia tak berniat membawa Fabio ke kediaman Laluna, namun sepertinya Fabio ingin tahu kemana dirinya pergi.
"Laluna... berikan padaku. Aku ingin memeluknya." Pinta Fabio membuat Laluna semakin erat memeluk Febby.
"Kau pikir aku gila? Aku tak akan memberikan Febby pada iblis sepertimu. Dia begini gara-gara kau! Kalau saja kau tak mengatakan hal menyakitkan itu, Febby tak mungkin nekat membahayakan dirinya sendiri.
"Laluna..."
"Tuan. Sebaiknya kita bawa Nona ke rumah sakit. Pendarahan di kepalanya semakin banyak." Ujar Sammy yang lebih dulu merebut Febby yang terlelap pergi menuju mobil. Fabio dan Laluna masih saling beradu tatap hingga akhirnya mereka menyusul Sammy.
...****************...
Febby membuka matanya perlahan, dan Ia mendapati sebagian tubuhnya terbalut perban dan tangannya di infus. Bau obat di sekeliling ruangan membuatnya yakin jika Ia tengah berada di rumah sakit. Perlahan Febby mengedarkan pandangan mencari tahu apa yang terjadi. Ia merasakan kepalanya berdenyut keras dan hidungnya lembab.
"Eh aku mimisan." Ujar Febby mencari tissue dan beranjak dari tidurnya. Sangat sepi, dan juga tenang. Ia tak menemukan siapapun di ruangan itu. Hanya sendiri.
Kemudian terdengar pintu terbuka dan memperlihatkan Keen tersenyum membawakan beberapa buah untuknya.
"Sudah sadar?" Tanyanya meski sudah tahu jawabannya.
"Kamu ngapain di sini?" Heran bercampur penasaran, Febby balik bertanya dengan keberadaan Keen di sana.
"Aku jenguk kamu. Kata Uncle kamu kecelakaan di rumah. Aku kira hanya bercanda, ternyata sungguhan. Kepalamu bocor, lenganmu tersayat kaca. Uhhh pasti sakit." Ujar Keen menjawab pertanyaan Febby. Jelas Febby sedikit merasa heran akan sikap Keen yang terasa berbeda. Saat di sekolah, Keen begitu dingin dan nyaris tak pernah tersenyum. Tapi di depannya, seakan berubah 180 derajat, dan lebih banyak bicara.
"Uncle?" Febby baru sadar siapa yang dimaksud oleh Keen.
"Iya Uncle! Uncle Fabio. Dia ayah kamu, kan? Mana mungkin kau tak ingat."
"Sebentar Keen! Kau tahu Papaku? Dia memang punya nama belakang Arvasatya, tapi harusnya kau tak perlu ambil hati, Keen. Namaku dan Papa pasti kebetulan punya kesamaan dengan nama keluarga besar mu." Lagi-lagi Febby menjelaskan jika dirinya tidak termasuk keluarga Arvasatya. Keen hanya tersenyum lalu menggeleng pelan seraya berkata.
"Tidak Feb. Bukan sekedar kebetulan. Kita memang saudara. Kau dan aku adalah sepupu. Kau dengar? Sepupu!" Keen dengan tegas mengulang kata agar Febby paham dan tahu yang sebenarnya. Namun, Febby tertawa menanggapi penuturan Keen yang Ia anggap tidak masuk akal.
"Kau tahu?" Tanya Febby ditanggapi anggukan oleh Keen.
"Lantas?" Kali ini Keen mengernyit tak mengerti dengan pertanyaan Febby yang selanjutnya.
"Lantas? Apa?" Keen ikut mengulang pertanyaan yang sama. Ia benar-benar tak tahu dan tak mengerti.
"Lantas kenapa tak ada satu pun dari keluargamu yang mencari ku? Kenapa kalian membiarkan Aunty ku berjuang sendirian menghidupiku. Bahkan saat aku masih bayi, Aunty masih berusia 17 tahun. 17 tahun Keen! 17 tahun itu waktu yang tepat untuk menikmati hidup, bukan terbebani hidup." Pecah sudah tangis Febby meluapkan emosinya yang mendadak naik, namun Keen hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa. Masalah ini tak Ia ketahui sedikitpun.
"Febby! Apa yang kau bicarakan? Baru siuman dari koma jangan dulu banyak bicara!" Tegur Laluna menghampiri Febby yang masih menangis. Febby melihat ada bekas air mata di ujung mata Laluna. Dan kedatangan Laluna ternyata tidak sendiri, ada beberapa orang asing ikut menghampiri mereka.
"Ternyata kau sangat mirip dengan Fabio. Nak, kemana saja kau selama ini? Kenapa kau bersembunyi?" Tanpa basa-basi lebih lama, Emran memeluk Febby dengan begitu erat penuh kerinduan. Terlihat raut wajah kebingungan Febby seakan mempertanyakan siapa lelaki tua yang tiba-tiba memeluknya.
"Febby. Kami dari keluarga Arvasatya. Aku, Reindra. Ayah Keen, dan kakak dari ayahmu. Lebih tepatnya, aku adalah pamanmu. Lalu, itu kakekmu. Hanz Emran Arvasatya." Papar Reindra membulatkan mata Febby seketika sesaat setelah Emran melepas pelukannya.
"Maaf karena baru sekarang kita bertemu. Kakek dan pamanmu baru mengetahui kalau kau masih hidup." Ujar Emran tak henti-henti mengelus rambut Febby dengan penuh kehangatan.
"Iya! Wajar saja. Karena Papa bilang kalau aku sudah mati kan? Kalian tenang saja! Aku tidak marah. Aku hanya ingin tahu, kenapa aku dianggap sudah mati? Apa karena aku penyebab Mama meninggal? Lalu apa aku tak berhak menjadi bagian keluarga Arvasatya?" Kali ini, giliran Emran yang terbelalak karena Febby bisa berpikiran demikian.
"Tidak Febby. Tidak. Kenapa kau berpikiran seperti itu?" Sanggah Emran kian sendu menatap Febby yang terlihat murung.
"Selama 16 tahun aku hanya tinggal dengan Aunty. Padahal Aunty masih butuh kebebasan saat itu. Tak ada yang mencari, dan tak ada yang mengakui. Aku pikir, aku hanya punya Aunty saja. Mama sudah meninggal, dan keluarga Papa entah dimana." Tutur Febby memberikan jawaban yang mungkin Emran inginkan.
"Kalau kau berpikir demikian, Kakek minta maaf. Semua terjadi karena kesalahpahaman. Tidak ada yang bersalah di sini. Jadi Kakek harap kau tak membenci keluarga ayahmu ya! Kalau Ayahmu yang salah, kakek akan tegur dia. Sekarang, apa kau mau tinggal dengan Kakek atau Ayahmu?"
"Eh?" Febby terkejut akan pertanyaan tersebut. Jelas Ia akan tinggal bersama Laluna sampai kapanpun. Tak ada pikiran Ia akan tinggal dengan keluarga yang terasa seperti orang lain. Namun, sorot mata Laluna seperti menyuruhnya untuk tinggal bersama mereka. Di balik itu, terlihat pula Laluna seakan tak rela jika Febby pergi dari hidupnya.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments