Rega menerobos beberapa murid yang tengah berdiri diantara koridor kelas mereka. Tatapan penuh tanya mereka lemparkan melihat Rega yang membawa Febby menuju UKS.
"Sya... Febby." Ucap salah seorang teman Rasya memberitahunya dengan panik. Secepatnya Rasya menyusul Rega menuju UKS dan Ia berpapasan dengan Keen yang ternyata tengah menyusul Rega.
Tak berselang lama, Febby membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di ranjang UKS. Bukan hanya hidungnya yang terasa sakit, dahinya pun memerah akibat benturan yang sangat keras.
"Pantesan sakit." Ujar Febby menyentuh kembali dahi yang terus berdenyut.
"Feb!" Pekik ketiga laki-laki secara bersamaan. Sontak Febby menoleh dan mendapati wajah-wajah tak asing di sampingnya.
"Kamu kok bisa nabrak pintu sih?" Tegur Rega mencoba menginterogasi Febby akan kejadian tersebut. Febby mencoba mengingat dan menjelaskan apa yang Ia rasa dan alami saat hendak memasuki ruang kelas.
"Qinara itu yang sekelas sama Keen, kan?" Tanya Rega kemudian.
"Oh... yang anak pengusaha itu kan? Dia emang agak populer sih." Timpal Rasya mengakui kenyataan rumor yang Ia dengar.
"Iya. Dia pacarnya Keen." Ujar Febby mengejutkan Keen sendiri. Keen menatap penuh tanya bahkan dengan wajah konyol mengharap jawaban yang sesuai dengan fakta.
"Apa? Pacarku? Apa kau gegar otak, Feb?" Jelas sekali Keen mengelak. Ia tak merasa bahwa Qinara adalah pacarnya.
"Dia kasih aku peringatan buat jauhin kamu. Katanya peringatan terakhir. Ya aku kira kalian memang pacaran, makanya dia marah. Terlepas kemarin kamu berbagi payung sama aku, dia anggap kita ada hubungan."
"Feb. Aku sama dia itu jangankan pacaran, bertegur sapa aja belum pernah." Sanggah Keen lagi, namun kali ini Febby hanya mengedikan bahunya tanda Ia tak tahu apa-apa.
"Lagi pula, kita itu punya hubungan, Feb. Bahkan lebih erat dari ikatan apapun. Kita ini sepupu." Batin Keen seketika menunduk dan melamun hingga akhirnya tersadar saat Febby menepuk tangannya.
"Ayo ke kelas! Bel sudah bunyi!" Ajak Febby yang ternyata sudah beranjak dari tempatnya.
"Tapi itu luka kamu."
"Aku gak luka. Ini cuman mimisan aja kok." Kali ini giliran Febby yang mengelak. Ia meyakinkan Keen bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kalau ada apa-apa, kasih tahu aku aja ya, Feb." Ujar Rasya sebelum dirinya memasuki kelas yang kebetulan mereka lewati.
"Gapapa Kak. Febby ada aku kok." Dengan cepat Rega mendahului menjawab sebelum Febby bersuara. Alhasil, Febby hanya tersenyum yang entah kepada siapa. Dalam diamnya, Keen mengamati sikap kedua laki-laki yang begitu peduli pada sepupunya itu.
...****************...
Sepulang sekolah, lagi-lagi Keen masuk diantara kebersamaan Rega dan Febby. Sampai akhirnya ketika di gerbang, Ia melihat mobil asisten ayahnya yang sudah menunggu, dan dengan terpaksa Ia harus meninggalkan Febby yang masih terlihat menahan sakit. Dengan langkah cepat, Keen menghampiri Seth yang tengah membukakan pintu untuknya. Sementara itu, Rega menemani Febby menunggu Laluna datang untuk menjemput.
Siapa sangka, Fabio datang membuntuti Laluna hanya untuk melihat gadis kecil yang disebut putrinya itu.
"Sam? Apa-apaan anak laki-laki itu? Kenapa begitu dekat dengan Febby?" Tanya Fabio mendadak panik saat melihat Febby meraih kepalanya dan Rega pun refleks membantu Febby. Bahkan Rega mengantarkan Febby menuju mobil Laluna. Terlihat Laluna keluar dan meraih Febby dengan begitu panik. Entah apa yang Laluna katakan, namun Fabio bisa tahu jika Laluna tengah begitu khawatir bahkan seperti menahan amarah saat berbicara dengan Rega.
"Makasih ya Rega. Kalau kamu tahu pelakunya, kasih tahu Aunty. Ini gak bisa dibiarin loh Ga. Febby terluka begini, dan sekolah gak ambil tindakan." Ujar Laluna ditanggapi anggukan oleh Rega.
"Itu gampang Aunty, yang penting sekarang calon pendamping masa depan aku ini udah gapapa. Iyakan sayang?" Canda Rega tak ditanggapi apapun oleh Febby. Bahkan ketika Rega merangkul pundaknya, Febby masih menatapnya dengan datar.
"Sayang apanya? Palingan pas nanti kamu lulus sekolah, terus kuliah, terus kerja, yang dinikahinya pasti bukan aku." Celoteh Febby memalingkan pandangannya dengan kesal. Namun Ia juga merasa senang jika akhirnya Rega tak lagi marah.
"Oh jadi kamu mau nanti nikah sama aku?" Dengan penuh antusias, Rega menatap Febby penuh harap.
"Ish Rega. Kita itu baru 16 tahun, sekolah pun baru kelas 10. Masih jauh untuk ngebahas nikah."
"Iya aku tahu kita masih sekolah, tapi aku cuman mau mastiin aja, kamu beneran mau nikah sama aku nanti?"
"Ya kan itu nanti, berarti bahasnya nanti aja."
"Enggak. Takut kamu di ambil orang."
Laluna yang menyaksikan perdebatan anak muda di depannya, Ia menepuk bahu merasa tersaingi oleh keponakannya sendiri.
"Mau sampai kapan kalian bertengkar?" Tegur Laluna akhirnya bisa menghentikan perdebatan Febby dan Rega.
"Udah ah. Aku mau pulang." Dengan cepat, Febby berlari menuju kursi samping kemudi yang berada di sisi lain tempat Rega berdiri.
"Dahhhh sayang!" Canda Rega melambaikan tangan saat mobil Laluna sudah berlalu. Tak lama, Ia melihat mobil lain melewatinya namun dengan pengemudi yang tengah menatapnya dengan tajam. Saking terkejutnya, Rega sampai mundur beberapa langkah, karena wajah pria dewasa itu begitu menakutkan dan penuh ancaman.
"Tuan. Jangan menakuti anak orang!" Tegur Sammy saat Ia melihat tingkah konyol majikannya.
"Harunya aku bunuh anak itu Sam. Beraninya dia merangkul Febby." Mendengar alasan Fabio, Sammy tersenyum merasa geli.
"Apa Tuan cemburu? Jujur saja, sikap Tuan ini sama persis seperti saat Tuan melihat Nyonya ketika dengan laki-laki lain." Ucap Sammy namun disanggah oleh Fabio sendiri.
"Aku bukan cemburu Sam! Aku hanya waspada. Bagaimana kalau anak itu macam-macam pada Febby?"
"Tuan memang tak mau jujur pada orang lain." Batin Sammy masih menanggapi dengan senyuman dan melajukan mobil semakin cepat meninggalkan area persekolahan.
...****************...
Malam kembali menyapa, Febby tengah mengumpulkan air dan beberapa bunga segar di atas meja. Laluna tahu kemana Febby akan pergi hari esok. Selanjutnya Febby meraih foto sang ibu yang sudah lama berpulang.
"Mama... bohong jika aku bilang aku tak rindu. Tapi mau bagaimana pun aku meminta, Mama tak akan kembali lagi. Mama, apa aku bisa bertemu dnegan Papa?" Terlihat embun kembali lolos dari pelupuk mata Febby seiring perkataan yang sangat menyayat hati. Laluna tak kuasa menahan air matanya dan tak bisa menahan diri untuk memeluk gadis malang yang Ia besarkan sendiri.
"Febby... mungkin memang sudah saatnya kamu bertemu dnegan Papa kamu." Ujar Laluna setelah menjadi sedikit lebih tenang. Febby terhenyak, Ia merasa siap tak siap jika memang harus bertemu dengan ayah kandungnya.
"Aunty? Apa aku akan siap bertemu dengan Papa? Apa dia akan tahu aku anaknya? Bukankah Papa tak pernah menemui ku sejak aku masih kecil? Apa aku akan tahu jika dia Papaku? Aunty... aku takut kalau Papa tak mau bertemu denganku." Kali ini, Laluna yang terhenyak tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan-pertanyaan yang terlontar.
"Mau bagaimana pun nanti, Aunty pastikan kalian bersama seperti harapan kak Ralisha." Batin Laluna.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments