Bab 8. Cemburu

Rega menerobos beberapa murid yang tengah berdiri diantara koridor kelas mereka. Tatapan penuh tanya mereka lemparkan melihat Rega yang membawa Febby menuju UKS.

"Sya... Febby." Ucap salah seorang teman Rasya memberitahunya dengan panik. Secepatnya Rasya menyusul Rega menuju UKS dan Ia berpapasan dengan Keen yang ternyata tengah menyusul Rega.

Tak berselang lama, Febby membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di ranjang UKS. Bukan hanya hidungnya yang terasa sakit, dahinya pun memerah akibat benturan yang sangat keras.

"Pantesan sakit." Ujar Febby menyentuh kembali dahi yang terus berdenyut.

"Feb!" Pekik ketiga laki-laki secara bersamaan. Sontak Febby menoleh dan mendapati wajah-wajah tak asing di sampingnya.

"Kamu kok bisa nabrak pintu sih?" Tegur Rega mencoba menginterogasi Febby akan kejadian tersebut. Febby mencoba mengingat dan menjelaskan apa yang Ia rasa dan alami saat hendak memasuki ruang kelas.

"Qinara itu yang sekelas sama Keen, kan?" Tanya Rega kemudian.

"Oh... yang anak pengusaha itu kan? Dia emang agak populer sih." Timpal Rasya mengakui kenyataan rumor yang Ia dengar.

"Iya. Dia pacarnya Keen." Ujar Febby mengejutkan Keen sendiri. Keen menatap penuh tanya bahkan dengan wajah konyol mengharap jawaban yang sesuai dengan fakta.

"Apa? Pacarku? Apa kau gegar otak, Feb?" Jelas sekali Keen mengelak. Ia tak merasa bahwa Qinara adalah pacarnya.

"Dia kasih aku peringatan buat jauhin kamu. Katanya peringatan terakhir. Ya aku kira kalian memang pacaran, makanya dia marah. Terlepas kemarin kamu berbagi payung sama aku, dia anggap kita ada hubungan."

"Feb. Aku sama dia itu jangankan pacaran, bertegur sapa aja belum pernah." Sanggah Keen lagi, namun kali ini Febby hanya mengedikan bahunya tanda Ia tak tahu apa-apa.

"Lagi pula, kita itu punya hubungan, Feb. Bahkan lebih erat dari ikatan apapun. Kita ini sepupu." Batin Keen seketika menunduk dan melamun hingga akhirnya tersadar saat Febby menepuk tangannya.

"Ayo ke kelas! Bel sudah bunyi!" Ajak Febby yang ternyata sudah beranjak dari tempatnya.

"Tapi itu luka kamu."

"Aku gak luka. Ini cuman mimisan aja kok." Kali ini giliran Febby yang mengelak. Ia meyakinkan Keen bahwa dirinya baik-baik saja.

"Kalau ada apa-apa, kasih tahu aku aja ya, Feb." Ujar Rasya sebelum dirinya memasuki kelas yang kebetulan mereka lewati.

"Gapapa Kak. Febby ada aku kok." Dengan cepat Rega mendahului menjawab sebelum Febby bersuara. Alhasil, Febby hanya tersenyum yang entah kepada siapa. Dalam diamnya, Keen mengamati sikap kedua laki-laki yang begitu peduli pada sepupunya itu.

...****************...

Sepulang sekolah, lagi-lagi Keen masuk diantara kebersamaan Rega dan Febby. Sampai akhirnya ketika di gerbang, Ia melihat mobil asisten ayahnya yang sudah menunggu, dan dengan terpaksa Ia harus meninggalkan Febby yang masih terlihat menahan sakit. Dengan langkah cepat, Keen menghampiri Seth yang tengah membukakan pintu untuknya. Sementara itu, Rega menemani Febby menunggu Laluna datang untuk menjemput.

Siapa sangka, Fabio datang membuntuti Laluna hanya untuk melihat gadis kecil yang disebut putrinya itu.

"Sam? Apa-apaan anak laki-laki itu? Kenapa begitu dekat dengan Febby?" Tanya Fabio mendadak panik saat melihat Febby meraih kepalanya dan Rega pun refleks membantu Febby. Bahkan Rega mengantarkan Febby menuju mobil Laluna. Terlihat Laluna keluar dan meraih Febby dengan begitu panik. Entah apa yang Laluna katakan, namun Fabio bisa tahu jika Laluna tengah begitu khawatir bahkan seperti menahan amarah saat berbicara dengan Rega.

"Makasih ya Rega. Kalau kamu tahu pelakunya, kasih tahu Aunty. Ini gak bisa dibiarin loh Ga. Febby terluka begini, dan sekolah gak ambil tindakan." Ujar Laluna ditanggapi anggukan oleh Rega.

"Itu gampang Aunty, yang penting sekarang calon pendamping masa depan aku ini udah gapapa. Iyakan sayang?" Canda Rega tak ditanggapi apapun oleh Febby. Bahkan ketika Rega merangkul pundaknya, Febby masih menatapnya dengan datar.

"Sayang apanya? Palingan pas nanti kamu lulus sekolah, terus kuliah, terus kerja, yang dinikahinya pasti bukan aku." Celoteh Febby memalingkan pandangannya dengan kesal. Namun Ia juga merasa senang jika akhirnya Rega tak lagi marah.

"Oh jadi kamu mau nanti nikah sama aku?" Dengan penuh antusias, Rega menatap Febby penuh harap.

"Ish Rega. Kita itu baru 16 tahun, sekolah pun baru kelas 10. Masih jauh untuk ngebahas nikah."

"Iya aku tahu kita masih sekolah, tapi aku cuman mau mastiin aja, kamu beneran mau nikah sama aku nanti?"

"Ya kan itu nanti, berarti bahasnya nanti aja."

"Enggak. Takut kamu di ambil orang."

Laluna yang menyaksikan perdebatan anak muda di depannya, Ia menepuk bahu merasa tersaingi oleh keponakannya sendiri.

"Mau sampai kapan kalian bertengkar?" Tegur Laluna akhirnya bisa menghentikan perdebatan Febby dan Rega.

"Udah ah. Aku mau pulang." Dengan cepat, Febby berlari menuju kursi samping kemudi yang berada di sisi lain tempat Rega berdiri.

"Dahhhh sayang!" Canda Rega melambaikan tangan saat mobil Laluna sudah berlalu. Tak lama, Ia melihat mobil lain melewatinya namun dengan pengemudi yang tengah menatapnya dengan tajam. Saking terkejutnya, Rega sampai mundur beberapa langkah, karena wajah pria dewasa itu begitu menakutkan dan penuh ancaman.

"Tuan. Jangan menakuti anak orang!" Tegur Sammy saat Ia melihat tingkah konyol majikannya.

"Harunya aku bunuh anak itu Sam. Beraninya dia merangkul Febby." Mendengar alasan Fabio, Sammy tersenyum merasa geli.

"Apa Tuan cemburu? Jujur saja, sikap Tuan ini sama persis seperti saat Tuan melihat Nyonya ketika dengan laki-laki lain." Ucap Sammy namun disanggah oleh Fabio sendiri.

"Aku bukan cemburu Sam! Aku hanya waspada. Bagaimana kalau anak itu macam-macam pada Febby?"

"Tuan memang tak mau jujur pada orang lain." Batin Sammy masih menanggapi dengan senyuman dan melajukan mobil semakin cepat meninggalkan area persekolahan.

...****************...

Malam kembali menyapa, Febby tengah mengumpulkan air dan beberapa bunga segar di atas meja. Laluna tahu kemana Febby akan pergi hari esok. Selanjutnya Febby meraih foto sang ibu yang sudah lama berpulang.

"Mama... bohong jika aku bilang aku tak rindu. Tapi mau bagaimana pun aku meminta, Mama tak akan kembali lagi. Mama, apa aku bisa bertemu dnegan Papa?" Terlihat embun kembali lolos dari pelupuk mata Febby seiring perkataan yang sangat menyayat hati. Laluna tak kuasa menahan air matanya dan tak bisa menahan diri untuk memeluk gadis malang yang Ia besarkan sendiri.

"Febby... mungkin memang sudah saatnya kamu bertemu dnegan Papa kamu." Ujar Laluna setelah menjadi sedikit lebih tenang. Febby terhenyak, Ia merasa siap tak siap jika memang harus bertemu dengan ayah kandungnya.

"Aunty? Apa aku akan siap bertemu dengan Papa? Apa dia akan tahu aku anaknya? Bukankah Papa tak pernah menemui ku sejak aku masih kecil? Apa aku akan tahu jika dia Papaku? Aunty... aku takut kalau Papa tak mau bertemu denganku." Kali ini, Laluna yang terhenyak tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan-pertanyaan yang terlontar.

"Mau bagaimana pun nanti, Aunty pastikan kalian bersama seperti harapan kak Ralisha." Batin Laluna.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!