Sudah 11 tahun lamanya Fabio menetap di kota yang tak ia temukan tenang. Setiap langkahnya untuk meninggalkan kenangan, justru Ia selalu dihadapkan dengan kenyataan. Ia yang merupakan seorang pimpinan perusahaan, tanpa sengaja bertemu dengan seorang ibu yang membawa putrinya. Melihatnya begitu kesulitan, Fabio menawarkan bantuan untuk mengantarkannya ke sebuah klinik karena putrinya tengah sakit demam. Ingatannya berputar memperlihatkan wajah mungil seorang bayi perempuan yang Ia hindari selama ini. 10 tahun terakhir ini Ia merasa sudah melupakan semua hal tentang Ralisha, dan 1 tahun pertama Ia masih dihantui depresi dan kehilangan. Namun tiba-tiba Ia kembali teringat hanya karena tersentuh oleh kasih sayang seorang ibu pada putrinya.
Selain itu, Ia pun sempat bertemu dengan seorang laki-laki dengan begitu bahagianya menggendong putri kecilnya menyusuri setiap sudut taman dengan tawa riang mengiringi kegembiraan mereka.
Fabio teringat terakhir Sammy melaporkan perkembangan Febby padanya adalah 11 tahun yang lalu, dimana saat itu Sammy memberitahu Fabio jika Febby akan berulang tahun.
"Sam! Sekarang tanggal berapa?" Tanya Fabio memutar kursi kerjanya sehingga menghadap ke arah Sammy.
"13 Februari 2023 Tuan." Jawab Sammy tersenyum ramah. Fabio terlihat manggut-manggut lalu terdiam melamun tak kembali bicara.
"Tepatnya Lusa adalah hari ulang tahun Tuan. Apakah Tuan ingin saya membuat agenda--"
"Siapkan pesawat untuk pulang, Sam." Fabio cepat menyela sebelum Sammy menyelesaikan penuturannya.
"Eh?" Jelas saja Sammy belum mengerti maksud Fabio. Pulang? Kemana? Bukankah rumah mereka sekarang di kota itu?
"Iya pulang. Ke Jakarta." Ucap Fabio memperjelas maksud permintaannya tersebut.
"Ja-Jakarta Tuan?" Sammy yang masih tak percaya begitu terkejut dan menatap heran pada Fabio yang memalingkan pandangan dengan malas.
"Sejak kapan kau jadi tuli, Sam?"
"Ma-maaf Tuan. Sa-saya kurang fokus. Jadi, Kita akan pulang? Mak-Maksud saya sementara atau selamanya Tuan?" Saking gugupnya, Sammy sampai terbata melontarkan pertanyaan pada Fabio yang sedari tadi menatapnya tak kalah heran.
"Apa maksud pertanyaanmu itu, Sam?" Fabio sudah tak faham dengan pikiran Sammy yang mendadak menjadi tidak fokus. Apakah permintaannya begitu aneh sampai membuat Sammy berpikir lama dan tak langsung mengerti.
Meski Sammy masih kebingungan akan alasan Fabio ingin pulang, namun Ia dengan senang hati mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan dan jadwal penerbangan.
"Kita akan sampai di Jakarta sekitar pukul 4 sore Tuan. Dan saya sudah memberitahu kepala pelayan Villa untuk mempersiapkan kebutuhan Tuan saat sampai nanti." Papar Sammy menjelaskan saat keduanya sudah berada di dalam pesawat.
"Aku ingin ke makam Ralisha dulu Sam. Sudah lama aku tak berziarah ke makamnya." Ujar Fabio ditanggapi anggukan pelan oleh Sammy.
"Dan sudah lama juga Tuan menutup hati untuk wanita lain. Sudah 16 tahun Tuan sendiri. Dan Tuan masih setia pada mendiang nyonya Ralisha." Batin Sammy menatap nanar Fabio yang kini tengah menatap keluar jendela pesawat.
"Sudah seperti apa dia sekarang?" Batin Fabio yang tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
...******...
"Ada lagi yang Tuan inginkan?" Tanya Sammy sesaat ketika Fabio turun dari mobilnya dan mematung seakan baru teringat sesuatu.
"Aku lupa mawar putihnya Sam. Bisa kau belikan 16 tangkai?"
"Baik Tuan. Hanya itu?" Tanya Sam dengan sigap.
"Sudah. Itu saja." Setelah memberi jawaban pada Sammy, Fabio bergegas melangkahkan kakinya memasuki area pemakaman umum yang sedikit asing di matanya. Banyak perubahan sampai-sampai Ia kesulitan mencari makam mendiang Istrinya. Ketika tengah menyusuri nama, Fabio tak sengaja menabrak seseorang dan menjatuhkan benda pipih canggih dari tangannya.
"Maaf. Saya tak sengaja." Ujar Fabio membuka kaca mata hitamnya ketika gadis itu mengambil ponselnya sendiri. Setelahnya, terlihat Ia mendongak dan tersenyum santun dan menggeleng pelan menanggapi permintaan maaf dari Fabio.
"Gapapa Om. Saya yang minta maaf, tadi terlalu fokus lihat ponsel." Balasnya tak ditanggapi apapun oleh Fabio yang tiba-tiba mematung tak bergerak menatap wajah gadis di depannya. Bahkan saat gadis itu berlalu setelah berpamitan, Ia tak sedikitpun menjawab ataupun bergerak. Dengan tiba-tiba, air matanya berderai begitu saja dengan tubuh mendadak gemetaran tak bisa Ia kendalikan.
"Ra-Ralisha? Tidak. Bukan. Tapi.... Ralisha!" Fabio sedikit berteriak memanggil gadis itu dengan membalikkan tubuhnya. Namun sayang, gadis yang Ia temui sudah berlalu menjauh dengan sepedanya. Dan sepertinya Ia tak mendengar panggilan Fabio yang kembali memanggil nama Ralisha hanya untuk sekedar memastikan.
Fabio kembali menoleh ke arah makam yang begitu bersih dan terawat, bahkan terlihat seperti ada orang yang baru saja menuangkan air dan menaburkan bunga segar di atasnya. Pikirannya mulai berkecamuk, siapa yang berziarah ke makam istrinya? Apakah gadis tadi? Atau siapa?
...******...
"Ishhh Febby. Kau kemana saja?" Tegur Laluna cepat-cepat menghampiri keponakannya yang baru pulang entah dari mana.
"Hehe. Maaf Aunty, tadi Febby ke rumah Abila, terus mampir dulu ke makam Mama." Jawabnya menjelaskan sejujur-jujurnya. Laluna tahu jika keponakannya ini tidak pernah berbohong, jadi Ia hanya bisa percaya pada apa yang dikatakan Febby.
"Ya sudah. Sekarang sebaiknya kau mandi, dan makan. Aunty beli gulai ayam kesukaan kamu."
"Oke Aunty. Febby mandi dulu ya!"
Melihat langkah Febby yang begitu ringan, Laluna kembali menghela nafas lega. Namun hatinya selalu bertanya-tanya, akankah Febby bahagia hidup bersamanya? Dan apakah Fabio akan kembali setelah sekian lama menghilang dan menelantarkan anaknya sendiri? Ia terlalu takut jika suatu hari nanti, Fabio akan datang dan mengambil Febby darinya.
...******...
"Maaf Tuan. Rumah ini sudah saya beli 8 tahun yang lalu. Dan saya tidak tahu kemana penghuni lama ini pindah." Ucap seorang wanita paruh baya yang kini menghuni rumah yang dulunya adalah milik Laluna. Villa yang tak dihuni, bahkan rumah yang sudah dijual, kemana dua anak itu pergi? Pikiran Sammy mulai berkecamuk. Ia tak tahu harus mencari Laluna kemana?
"Bagaimana Sam?" Tanya Fabio setelah Sammy memasuki mobil.
"Maaf Tuan. Nona kecil dan Laluna sudah tidak tinggal di sana." Jawab Sammy begitu kecewa.
"Begitu ya? Ya sudah kita ke rumah Ayah saja, Sam." Titah Fabio langsung ditanggapi anggukan oleh Sammy. Keduanya melaju ke kediaman keluarga besar Arvasatya. Dimana semua anggota keluarga tinggal di sana. Kecuali Fabio yang memilih tinggal bersama Ralisha.
Kedatangannya disambut hangat oleh Emran yang sudah merindukan Fabio. Meski mereka sudah semakin tua, namun seorang ayah tetap akan selalu merindukan anaknya.
"Ayah. Aku ingin bertanya sesuatu." Ujar Fabio mendahului pembicaraan.
"Tentang apa? Perusahaan?" Tanya Emran menebak kemungkinan dengan terkekeh pelan.
"Tidak Ayah. Bukan. Tapi... tentang seseorang. Apa selama aku pergi, ada seorang wanita muda dan anak perempuan datang ke sini?" Dengan sedikit ragu, Fabio memberanikan diri bertanya mengenai hal ini pada Emran.
"Wanita muda? Anak perempuan? Emmm seingatku tidak ada. Memangnya siapa mereka? Istrimu? Bukankah dia sudah meninggal? Istri barumu? Atau gundikmu?" Lagi, Emran menebak dengan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Bukan, Ayah. Sejak Ralisha meninggal, aku belum punya pendamping lagi." Terlihat Fabio memaksakan senyumnya ketika menjawab setiap dugaan asal ayahnya itu.
Suasana yang semula sedikit bising karena obrolan mereka masing-masing, kini berubah hening meratapi nasib yang menimpa Fabio.
"Aku pulang!" Teriak seorang laki-laki muda memasuki ruang keluarga dan berhasil memecah suasana canggung yang terjadi sebelumnya.
"Mama...." disusul teriakan anak berusia 6 tahun berlari dan memeluk Riana dengan riang.
"Hati-hati. Kalau jatuh gimana?" Tegur Riana ditanggapi tawa renyah oleh Aracelly.
"Mereka anak-anakmu, Kak?" Tanya Fabio semakin sendu menatap kebahagiaan Riana saat memeluk putri kecilnya. Dan, terlihat Reindra begitu bangga pada anak sulungnya yang begitu tampan dan berwibawa.
"Iya. Kau tak pernah pulang, jadi kau tak tahu. Ini Arcelio Keen, dan yang itu Ceisya Aracelly. Nah, Keen! Sapa Pamanmu. Dia Arga Fabio, pemilik perusahaan Arvasatya 3." Lagi, Fabio memaksakan senyumnya saat Reindra memperkenalkan kedua anaknya pada Fabio.
"Salam kenal Uncle. Aku Keen, calon pewaris Arvasatya 2. Hehe." Candanya saat berkenalan dengan sang paman.
"Apakah jika aku memperkenalkan anak itu, aku juga akan merasa bangga seperti Kak Reindra?" Batin Fabio entah bertanya pada dirinya sendiri, atau menebak kemungkinan yang tak pernah terjadi.
"Pewaris, kah?" Gumam Fabio berbisik sendiri.
"Mirip." Pekik Keen terhenyak sendiri menatap wajah Fabio di depannya. Ia teringat seseorang di sekolahnya yang memiliki garis wajah hampir sama dengan pamannya itu.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments