Bab 9. Temu

Pagi-pagi sekali Febby bergegas menitipkan secarik kertas kepada teman baiknya, Abila. Selain karena rumahnya yang paling dekat, Abila juga bisa diajak kompromi dalam hal apapun. Termasuk hari ini, dimana Febby izin untuk tidak bersekolah karena alasan sakit. Mungkin guru dan teman sekelasnya pun akan memaklumi karena kemarin Ia memang masuk UKS akibat tak sadarkan diri.

Setelahnya, Febby melakukan rutinitas tahunannya ke makam sang ibu. Ia ditemani Laluna menyusuri setiap gundukan tanah menuju tempat dimana Ralisha dikebumikan. Sudah hampir jam 8 mereka ke sana, terlihat tak ada seorang pun yang mengunjungi makam. Dengan kata lain, hanya mereka berdua.

Febby membersihkan rerumputan liar yang ada di sekitar makam Ralisha, kemudian Ia menuangkan air di atas makam, dan menaburkan bunga seraya membaca sebuah doa. Selanjutnya, Febby menatap nanar pada batu nisan yang bertuliskan nama sang ibu, yang bahkan Ia tak tahu bagaimana perwujudannya.

"Mama... happy birthday for me. Aku ulang tahun lagi Ma. Tak terasa ya? Aku sudah 16 tahun sekarang. Mama tahu tidak? Aku kemarin jatuh, kesandung kaki orang. Tapi, aku gapapa. Hidungku cuma berdarah, dan dahiku cuman memar. Tuh masih ada." Paparnya seraya menyingkapkan poni yang menghalangi dahinya. "Hari ini, mungkin aku gak akan banyak bercerita, karena gak ada hal istimewa yang harus aku ceritakan. Aku belum bertemu Papa, Ma. Jujur, aku rindu Papa, tapi semakin lama, rindu itu kian menghilang karena Papa tak kunjung menemui ku. Aku gak tahu harus rindu atau enggak. Jika rindu, apa yang harus aku rindukan? Kasih sayang? Papa tak pernah menyayangiku. Hartanya, aku tak tahu rasanya mendapatkan uang darinya, Ma. Semakin aku beranjak dewasa, aku semakin mengerti kalau Papa tak pernah peduli padaku. Tapi jika Papa memang tak mau bertemu denganku, setidaknya aku ingin tahu wajahnya bagaimana? Ma... kasihan Aunty. Aunty belum juga menikah, karena khawatir padaku." Papar Febby selanjutnya. Tanpa Febby sadari, Laluna terkejut mendapati seseorang berdiri tepat di belakangnya dan ada buket bunga tepat di samping kaki pria itu. Wajahnya berpaling sesaat setelah Ia menoleh dan memastikan. Kemudian, terdengar suara benda jatuh di belakang Febby yang mengharuskan dirinya menoleh. Pandangannya terpaku mendapati wajah yang tak asing tengah menatapnya dengan deraian air mata.

"Siapa? Kenapa dia menatapku begitu? Wajahnya tak asing bagiku, tapi siapa?" Batin Febby memalingkan wajah seraya menyeka embun yang hampir terjatuh dari pelupuk matanya.

Dalam waktu yang lama mereka saling diam, bahkan Febby pun tak lagi bercerita sepatah katapun karena keberadaan Fabio di sana.

"Sedang apa kau di sini?" Suara berat, menekan, dan dingin itu berhasil membuat Febby terhenyak merinding dibuatnya.

"Aku tanya, sedang apa kau di sini?" Suara Fabio kian meninggi saat tak mendapati jawaban apapun dari Febby ataupun Laluna.

"Tidak kah anda lihat saya sedang berziarah di makam Mama saya?" Suara Febby tak kalah menekan dan lebih terdengar seperti menantang Fabio.

"Mama? Kau katakan dia Mama? Hahaha anak mana yang berani membunuh Ibunya sendiri?"

'Deg!'

Bukan hanya Febby, Laluna pun sama terkejutnya dengan apa yang dikatakan Fabio.

"Anda tahu apa tentang saya dan Mama?" Pekik Febby beranjak dan menghadap langsung pada Fabio dengan wajah penuh dengan air mata.

"Aku suaminya! Aku lebih tahu apa yang terjadi pada istriku!" Lagi, Fabio kembali dengan suara dingin menjawab pertanyaan Febby.

"Su-suami? Jika anda suaminya, maka aku...."

"Anakku sudah mati!" Kali ini bukan hanya dingin, namun jawaban Fabio begitu tak berperasaan sampai Febby terhuyung merasakan dahinya berdenyut. Sebelum pandangan Febby semakin gelap, Ia melihat wajah Fabio begitu sendu menatapnya yang kian melemah dan tak sadarkan diri.

"Febby." Pekik Laluna meraih Febby sesegera mungkin agar tak terjatuh diantara tanah merah yang mungkin akan membuat pakaiannya kotor.

"Nona!" Pekik Sammy yang baru saja sampai menyusul Fabio.

"Kak Sam! Tolong bawa Febby ke mobilku. Ini kuncinya." Titah Laluna seraya memberikan kunci mobilnya pada Sammy. Tanpa menunggu titah dari Fabio, Sammy langsung menggendong Febby dan segera meninggalkan Fabio dan Laluna.

Tak lama berselang, terdengar suara nyaring yang tak asing di telinga Sammy yang membuat dirinya menoleh dan mendapati Fabio yang sedikit memalingkan wajahnya. Meski demikian, Sammy terus berjalan meninggalkan area makam menuju tempat parkir mobil.

"Apa kau puas? Kalau akhirnya kau akan begini pada Febby, lantas untuk apa usahamu kemarin, hah? Untuk apa kau menanyakan semua yang Febby suka, untuk apa kau mengawasi Febby setiap saat? Ishhhhh kau memang sudah gila. Aku semakin yakin untuk tidak menyerahkan Febby padamu." Pecah sudah tangis dan amarah Laluna, dan sejujurnya Ia belum puas jika hanya menampar wajah Fabio satu kali saja.

Laluna bergegas menyusul Sammy menuju mobil dan membawa Febby pulang. Ia tak ingin terlibat dalam pertemuannya dengan Fabio semakin lama.

"Laluna..."

"Terima kasih Kak Sam. Maaf aku pulang dulu. Dan katakan pada majikanmu, jangan pernah menemuiku dan Febby lagi. Siang nanti aku akan mengajukan surat pengunduran diri." Tutur Laluna menyela cepat sebelum Sammy mengatakan apa yang ingin Ia katakan.

"Tapi Laluna.."

"Kak Sam. Aku tak mau Febby semakin sakit hati karena terus bertemu dengan ayah yang sudah menganggapnya mati. Febby masih dalam fase mencari jati dirinya sendiri, dan luka pertama yang Ia dapatkan justru dari ayahnya. Kau tak akan paham jika Febby sangat terpukul dengan ucapan Fabio. Jika memang tak ingin bertemu, setidaknya jangan melontarkan kata-kata kejam yang membuat Febby terpuruk. Jadi, berhenti mencari tahu keberadaan ku dan Febby lagi. Aku dan Febby sudah cukup tenang tanpa kehadiran kalian."

Dan setelah mengatakan kalimat panjang lebar itu, Laluna segera pergi meninggalkan Sammy yang mematung menatap kepergiannya.

"Kau salah faham Laluna. Tuan tidak seburuk itu. Dia selalu depresi tepat di hari kematian Nyonya Ralisha." Gumam Sammy kian sendu.

Di depan makam Ralisha, Fabio terduduk lesu dan tangisnya semakin menjadi. Ia mencengkram kuat rambutnya dan terus memaki dirinya sendiri. Rasa sesal mulai memenuhi pikiran dan hatinya.

"Tuan..." panggil Sammy dengan suara yang begitu tenang.

"Pergi Sam. Aku ingin sendiri." Ucap Fabio penuh penegasan. Tanpa menjawab ataupun menanggapi, Sammy berlalu dan mengawasi Fabio dari kejauhan. Dapat Ia lihat jika Fabio lebih terpukul telah membuat gadis yang mereka rindukan mungkin kini telah membencinya.

Hari semakin gelap dengan awan hitam menyelimuti langit siang ini, dan Fabio belum juga beranjak dari tempatnya. Bahkan saat hujan turun semakin deras pun, Fabio masih tetap di sana. Payung hitam melindungi Fabio dari derasnya hujan, dan Sammy tak berucap sepatah katapun agar amarah majikannya tak lagi meluap. Sammy tahu sesedih apa Fabio saat tiba hari kematian istrinya. Cinta yang begitu besar membuat Fabio tak lagi berniat menikah setelah 16 tahun lamanya Ia sendiri. Di benak Fabio, tak ada cinta yang tulus selain cinta Ralisha untuknya. Kalau pun ada, mungkin Ia yang tak akan bisa melihatnya. Semua rasa cintanya sudah habis untuk Ralisha seorang. Dan saat Ralisha hilang, hidupnya hancur berantakan. Tak Ia temukan lagi sosok yang mampu menata kembali puing-puing luka yang sudah membekas selama belasan tahun.

"Maafkan Papa, Febby." Lirih Fabio tak begitu terdengar oleh Sammy.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!