Semenjak pertemuannya dengan Fabio kemarin, Laluna merasa malas untuk sekedar pergi bekerja. Bahkan sepanjang malam Ia terus berpikir untuk resign saja.
"Aunty. Hari ini aku pulang terlambat ya! Soalnya mau kerja kelompok di rumah Abila." Ujar Febby meminta izin sekaligus memberitahu agar Laluna tidak terus menelponnya saat waktu pulang sekolah tiba.
"Sampai jam berapa?" Tanya Laluna memastikan.
"Rencana sampai jam 5 saja. Tapi kalau sedikit terlambat lagi, paling jam setengah 6 di usahakan selesai." Jawabnya lagi namun kali ini sedikit kurang yakin. Dan ada rasa ragu dalam hati Febby saat meminta izin hari ini.
"Untuk sekarang, jangan kemana-mana dulu ya! Aunty khawatir sama kamu. Takut terjadi apa-apa."
"A-Aunty kenapa? Kok bicara Aunty agak aneh." Seketika Laluna terhenyak mendengar pertanyaan Febby. Apakah dirinya terlalu memperlihatkan kecemasan? Jujur, Laluna memang merasa khawatir jika Febby akan bertemu dengan Fabio di saat Ia tak bersamanya.
"Oh.. ti-tidak Febby. A-Aunty hanya khawatir saja. Kamu kan perempuan, dan rasanya kurang baik jika kamu keluyuran di sore hari menjelang malam. Kita tidak tahu kan kapan bahaya datang? Karena hari sial tidak ada di daftar kalender."
"Hahaha iya sih. Ya sudah. Nanti Febby coba bicarakan sama teman-teman ya!" Laluna hanya mengangguk menanggapi. Meski ragu, Ia berusaha untuk percaya pada keponakannya. Dan hal yang masih membuatnya heran, kemarin Fabio tidak ada mengikutinya pulang. Ada rasa lega, namun semakin khawatir juga. Apakah Fabio tengah merencanakan sesuatu?
"Aunty...." panggil Febby untuk yang kesekian kali. Laluna kembali terhenyak dan tersadar dari lamunannya dengan langsung menatap penuh tanya pada Febby.
"Aunty baik-baik saja? Kenapa Aunty melamun? Apa karena aku? Kalau memang Aunty tidak memberi izin, aku bisa bicara pada teman-temanku." Tutur Febi kemudian. Melihat Febby yang lebih khawatir, Laluna tak bisa menahan haru. Air matanya tiba-tiba berderai membasahi pipi. Saat itu juga, Febby langsung memeluk Laluna dan meyakinkan kembali bahwa Ia tak akan pergi.
"Bagaimana bisa aku mengembalikan Febby pada Fabio? Melihatnya pergi untuk belajar saja aku merasa tak bisa. Kenapa aku seegois ini? Bukannya ini yang aku harapkan dari dulu? Tapi kenapa rasanya tak rela? Aku belum siap berpisah dengan Febby. Dia bukan belahan jiwa Fabio, tapi dia jantung hatiku." Batin Laluna membalas pelukan Febby lebih erat. Ia seakan meminta Febby untuk tetap di sana. Meski merasa heran, Febby berusaha menenangkan Aunty yang sudah Ia anggap sebagai Ibunya sendiri itu.
"Aunty... Aku janji, aku tak akan meninggalkan Aunty." Dan mendengar ungkapan Febby, Laluna malah semakin keras menangis. Ia semakin tak rela jika Fabio membawa Febby darinya.
"Aunty sayang sama kamu Febby..." lirih Laluna dengan suara yang begitu gemetar. Suasana kian terasa memilukan. Febby sendiri ikut terbawa suasana dan tak sadar Ia pun mulai menangis memeluk erat Aunty kesayangannya.
"Aku juga sayang Aunty." Terdengar pula suara Febby sedikit gemetaran mengungkapkan perasaan sayangnya. Ia merasa pelukan ini seakan menjadi pelukan terakhir dari Laluna untuknya.
"Apa Aunty mau pergi?" Tanya Febby selanjutnya. Laluna tak langsung menjawab, Ia terdiam sejenak mengatur nafas sebelum berucap.
"Kamu yang akan pergi dari Aunty, Febby." Namun pada akhirnya, kalimat itu taj bisa Laluna lontarkan. Ia hanya membatin dalam hati tak kuasa berucap dengan kata. Membayangkannya saja, Ia sudah tak rela. Apa lagi saat waktunya tiba.
...****************...
Menjelang siang, Febby lebih banyak melamun mengingat sikap aneh Laluna pagi ini. Bahkan mereka sampai menangis bersama seperti sebuah perpisahan.
"Azrina! Bisa bawa buku tugas ini ke ruang guru?" Titah salah seorang guru saat menyadari Febby yang lebih banyak diam hari ini.
"Baik Bu." Sahutnya menyanggupi dan langsung beranjak membawa setumpuk buku catatan tugas seluruh murid di kelasnya. Tepat setelah Ia keluar dari ruang guru, bel istirahat berbunyi. Ia memilih memutar jalan untuk ke kelasnya lewat belakang perpustakaan yang dimana di sana adalah lapangan basket. Dan, tepat saat Ia berbelok, Ia berpapasan dengan murid pindahan yang kemarin membuat onar, Keen. Febby hanya tersenyum menyapa kemudian menunduk saat mereka berpapasan.
"Sepupu!" Ujar Keen tepat di telinga Febby. Gadis itu terhenti, sedangkan Keen terus berjalan seakan tak pernah mengatakan apapun.
"Apa dia berkata sesuatu? Atau hanya perasaanku saja?" Batin Febby yang memilih kembali berlalu menuju kelasnya.
Di samping itu, Keen tersenyum dan menoleh sesaat menatap punggung Febby yang semakin jauh.
"Benar-benar duplikat Uncle." Batinnya terkekeh pelan. Ia yang baru tahu jika Febby adalah sepupunya. Tempo hari saat Ia berpapasan dengan Febby, Ia memang merasa sedikit familiar. Ia tiba-tiba teringat pada adik perempuannya yang masih kecil. Sekilas, ada beberapa kesamaan pada wajah mereka. Dan itu alasan Keen mengapa saat pertama kali bertemu dengan Fabio, Ia mengatakan kata 'mirip'. Semula Ia hanya menganggap angin lalu saja, dan mungkin hanya kebetulan. Namun ternyata, nama Arvasatya di belakang nama Febby memang memiliki latar belakang dan tak ada orang yang tahu.
Meski Keen sudah tahu tentang siapa Febby sebenarnya, Ia tak ada hak untuk mendahului ayahnya ataupun Fabio sendiri untuk mengungkap kebenaran. Ia akan menunggu perintah atau menunggu salah satu diantara mereka mengungkap semuanya. Tugasnya saat ini hanya melindungi Febby dari siapapun yang mengusiknya. Dan dari apapun yang membahayakannya.
...****************...
"Apa konsep seperti ini, Tuan?" Tanya Sammy menunjukan dekorasi kamar untuk seorang anak perempuan.
"Apa dia akan suka? Sam! Kenapa tak kau belikan boneka? Bukannya anak perempuan itu suka dengan boneka?" Protes Fabio.
"Ma-maaf Tuan. Saya terlupa." Ucap Sammy tertawa kikuk seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menyadari kesalahannya dan langsung bergegas pergi mencari apa yang diminta Fabio.
"Bi... apa lagi yang disukai anak perempuan?" Tanya Fabio beralih pada pelayan rumah.
"Biasanya anak remaja perempuan sangat suka dengan pajangan dinding, Tuan. Seperti lukisan abstrak bunga, dan buku-buku novel remaja."
"Novel? Bukan dongeng?" Dengan polosnya Fabio bertanya demikian, pelayannya itu terlihat menahan diri agar tidak tertawa saat itu.
"Bukan Tuan. Dongen hanya untuk anak-anak."
"Apa bedanya? Bukannya novel juga berbentuk buku? Dan dua-duanya menceritakan cerita fiksi, kan?"
"Betul Tuan. Tapi keduanya memiliki perbedaan."
"Isshhh perempuan memang rumit. Ya sudah. Kau beli saja novel apapun itu. Asal jangan novel dewasa." Titah Fabio kemudian.
"baik Tuan." Seru pelayan yang langsung berlalu meninggalkan ruangan yang akan dijadikan kamar untuk Febby. Sepeninggal Sammy dan pelayannya, Fabio mengedarkan pandangan lalu membuka pintu balkon lebar-lebar. Ia merasakan jika ada sesuatu yang kurang.
"Hemmm terlalu kosong. Apa aku belikan furniture untuknya bersantai? Sepertinya itu ide bagus. Ah... aku belikan bunga juga, mungkin? Tapi... dia suka bunga apa ya?" Gumam Fabio berbicara sendiri di atas balkon. Ia menebak-nebak apa saja yang disukai oleh putrinya itu.
Tanpa pikir panjang, Fabio berlalu dari rumahnya menuju tempat yang terlintas di benaknya.
Setelah Ia menelusuri jalan, Fabio sampai di sebuah gedung miliknya sendiri. Ia bergegas masuk dan terburu-buru menuju salah satu ruangan. Bukan ke ruang pribadinya, melainkan ke salah satu ruangan yang dimana ada seseorang yang ingin Ia temui. Fabio membuka pintu dan langsung menghampiri seseorang.
"Laluna. Febby suka bunga apa?" Tanyanya seketika menarik perhatian semua orang.
"Eh?" Laluna mendadak gugup dan menoleh kesana-kemari dan mendapati tatapan penuh tanya dari semua rekan kerjanya.
"Mawar putih dan anggrek." Jawab Laluna selanjutnya. Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, Fabio bergegas kembali berlalu tanpa sepatah katapun.
"Orang gila!" Umpat Laluna setelah Fabio benar-benar tak terlihat. Seluruh rekannya saling pandang dan terkejut mengapa Laluna bisa seberani itu mengatai bos mereka?
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments