Bab 5. Ikatan keluarga

Semenjak pertemuannya dengan Fabio kemarin, Laluna merasa malas untuk sekedar pergi bekerja. Bahkan sepanjang malam Ia terus berpikir untuk resign saja.

"Aunty. Hari ini aku pulang terlambat ya! Soalnya mau kerja kelompok di rumah Abila." Ujar Febby meminta izin sekaligus memberitahu agar Laluna tidak terus menelponnya saat waktu pulang sekolah tiba.

"Sampai jam berapa?" Tanya Laluna memastikan.

"Rencana sampai jam 5 saja. Tapi kalau sedikit terlambat lagi, paling jam setengah 6 di usahakan selesai." Jawabnya lagi namun kali ini sedikit kurang yakin. Dan ada rasa ragu dalam hati Febby saat meminta izin hari ini.

"Untuk sekarang, jangan kemana-mana dulu ya! Aunty khawatir sama kamu. Takut terjadi apa-apa."

"A-Aunty kenapa? Kok bicara Aunty agak aneh." Seketika Laluna terhenyak mendengar pertanyaan Febby. Apakah dirinya terlalu memperlihatkan kecemasan? Jujur, Laluna memang merasa khawatir jika Febby akan bertemu dengan Fabio di saat Ia tak bersamanya.

"Oh.. ti-tidak Febby. A-Aunty hanya khawatir saja. Kamu kan perempuan, dan rasanya kurang baik jika kamu keluyuran di sore hari menjelang malam. Kita tidak tahu kan kapan bahaya datang? Karena hari sial tidak ada di daftar kalender."

"Hahaha iya sih. Ya sudah. Nanti Febby coba bicarakan sama teman-teman ya!" Laluna hanya mengangguk menanggapi. Meski ragu, Ia berusaha untuk percaya pada keponakannya. Dan hal yang masih membuatnya heran, kemarin Fabio tidak ada mengikutinya pulang. Ada rasa lega, namun semakin khawatir juga. Apakah Fabio tengah merencanakan sesuatu?

"Aunty...." panggil Febby untuk yang kesekian kali. Laluna kembali terhenyak dan tersadar dari lamunannya dengan langsung menatap penuh tanya pada Febby.

"Aunty baik-baik saja? Kenapa Aunty melamun? Apa karena aku? Kalau memang Aunty tidak memberi izin, aku bisa bicara pada teman-temanku." Tutur Febi kemudian. Melihat Febby yang lebih khawatir, Laluna tak bisa menahan haru. Air matanya tiba-tiba berderai membasahi pipi. Saat itu juga, Febby langsung memeluk Laluna dan meyakinkan kembali bahwa Ia tak akan pergi.

"Bagaimana bisa aku mengembalikan Febby pada Fabio? Melihatnya pergi untuk belajar saja aku merasa tak bisa. Kenapa aku seegois ini? Bukannya ini yang aku harapkan dari dulu? Tapi kenapa rasanya tak rela? Aku belum siap berpisah dengan Febby. Dia bukan belahan jiwa Fabio, tapi dia jantung hatiku." Batin Laluna membalas pelukan Febby lebih erat. Ia seakan meminta Febby untuk tetap di sana. Meski merasa heran, Febby berusaha menenangkan Aunty yang sudah Ia anggap sebagai Ibunya sendiri itu.

"Aunty... Aku janji, aku tak akan meninggalkan Aunty." Dan mendengar ungkapan Febby, Laluna malah semakin keras menangis. Ia semakin tak rela jika Fabio membawa Febby darinya.

"Aunty sayang sama kamu Febby..." lirih Laluna dengan suara yang begitu gemetar. Suasana kian terasa memilukan. Febby sendiri ikut terbawa suasana dan tak sadar Ia pun mulai menangis memeluk erat Aunty kesayangannya.

"Aku juga sayang Aunty." Terdengar pula suara Febby sedikit gemetaran mengungkapkan perasaan sayangnya. Ia merasa pelukan ini seakan menjadi pelukan terakhir dari Laluna untuknya.

"Apa Aunty mau pergi?" Tanya Febby selanjutnya. Laluna tak langsung menjawab, Ia terdiam sejenak mengatur nafas sebelum berucap.

"Kamu yang akan pergi dari Aunty, Febby." Namun pada akhirnya, kalimat itu taj bisa Laluna lontarkan. Ia hanya membatin dalam hati tak kuasa berucap dengan kata. Membayangkannya saja, Ia sudah tak rela. Apa lagi saat waktunya tiba.

...****************...

Menjelang siang, Febby lebih banyak melamun mengingat sikap aneh Laluna pagi ini. Bahkan mereka sampai menangis bersama seperti sebuah perpisahan.

"Azrina! Bisa bawa buku tugas ini ke ruang guru?" Titah salah seorang guru saat menyadari Febby yang lebih banyak diam hari ini.

"Baik Bu." Sahutnya menyanggupi dan langsung beranjak membawa setumpuk buku catatan tugas seluruh murid di kelasnya. Tepat setelah Ia keluar dari ruang guru, bel istirahat berbunyi. Ia memilih memutar jalan untuk ke kelasnya lewat belakang perpustakaan yang dimana di sana adalah lapangan basket. Dan, tepat saat Ia berbelok, Ia berpapasan dengan murid pindahan yang kemarin membuat onar, Keen. Febby hanya tersenyum menyapa kemudian menunduk saat mereka berpapasan.

"Sepupu!" Ujar Keen tepat di telinga Febby. Gadis itu terhenti, sedangkan Keen terus berjalan seakan tak pernah mengatakan apapun.

"Apa dia berkata sesuatu? Atau hanya perasaanku saja?" Batin Febby yang memilih kembali berlalu menuju kelasnya.

Di samping itu, Keen tersenyum dan menoleh sesaat menatap punggung Febby yang semakin jauh.

"Benar-benar duplikat Uncle." Batinnya terkekeh pelan. Ia yang baru tahu jika Febby adalah sepupunya. Tempo hari saat Ia berpapasan dengan Febby, Ia memang merasa sedikit familiar. Ia tiba-tiba teringat pada adik perempuannya yang masih kecil. Sekilas, ada beberapa kesamaan pada wajah mereka. Dan itu alasan Keen mengapa saat pertama kali bertemu dengan Fabio, Ia mengatakan kata 'mirip'. Semula Ia hanya menganggap angin lalu saja, dan mungkin hanya kebetulan. Namun ternyata, nama Arvasatya di belakang nama Febby memang memiliki latar belakang dan tak ada orang yang tahu.

Meski Keen sudah tahu tentang siapa Febby sebenarnya, Ia tak ada hak untuk mendahului ayahnya ataupun Fabio sendiri untuk mengungkap kebenaran. Ia akan menunggu perintah atau menunggu salah satu diantara mereka mengungkap semuanya. Tugasnya saat ini hanya melindungi Febby dari siapapun yang mengusiknya. Dan dari apapun yang membahayakannya.

...****************...

"Apa konsep seperti ini, Tuan?" Tanya Sammy menunjukan dekorasi kamar untuk seorang anak perempuan.

"Apa dia akan suka? Sam! Kenapa tak kau belikan boneka? Bukannya anak perempuan itu suka dengan boneka?" Protes Fabio.

"Ma-maaf Tuan. Saya terlupa." Ucap Sammy tertawa kikuk seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menyadari kesalahannya dan langsung bergegas pergi mencari apa yang diminta Fabio.

"Bi... apa lagi yang disukai anak perempuan?" Tanya Fabio beralih pada pelayan rumah.

"Biasanya anak remaja perempuan sangat suka dengan pajangan dinding, Tuan. Seperti lukisan abstrak bunga, dan buku-buku novel remaja."

"Novel? Bukan dongeng?" Dengan polosnya Fabio bertanya demikian, pelayannya itu terlihat menahan diri agar tidak tertawa saat itu.

"Bukan Tuan. Dongen hanya untuk anak-anak."

"Apa bedanya? Bukannya novel juga berbentuk buku? Dan dua-duanya menceritakan cerita fiksi, kan?"

"Betul Tuan. Tapi keduanya memiliki perbedaan."

"Isshhh perempuan memang rumit. Ya sudah. Kau beli saja novel apapun itu. Asal jangan novel dewasa." Titah Fabio kemudian.

"baik Tuan." Seru pelayan yang langsung berlalu meninggalkan ruangan yang akan dijadikan kamar untuk Febby. Sepeninggal Sammy dan pelayannya, Fabio mengedarkan pandangan lalu membuka pintu balkon lebar-lebar. Ia merasakan jika ada sesuatu yang kurang.

"Hemmm terlalu kosong. Apa aku belikan furniture untuknya bersantai? Sepertinya itu ide bagus. Ah... aku belikan bunga juga, mungkin? Tapi... dia suka bunga apa ya?" Gumam Fabio berbicara sendiri di atas balkon. Ia menebak-nebak apa saja yang disukai oleh putrinya itu.

Tanpa pikir panjang, Fabio berlalu dari rumahnya menuju tempat yang terlintas di benaknya.

Setelah Ia menelusuri jalan, Fabio sampai di sebuah gedung miliknya sendiri. Ia bergegas masuk dan terburu-buru menuju salah satu ruangan. Bukan ke ruang pribadinya, melainkan ke salah satu ruangan yang dimana ada seseorang yang ingin Ia temui. Fabio membuka pintu dan langsung menghampiri seseorang.

"Laluna. Febby suka bunga apa?" Tanyanya seketika menarik perhatian semua orang.

"Eh?" Laluna mendadak gugup dan menoleh kesana-kemari dan mendapati tatapan penuh tanya dari semua rekan kerjanya.

"Mawar putih dan anggrek." Jawab Laluna selanjutnya. Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, Fabio bergegas kembali berlalu tanpa sepatah katapun.

"Orang gila!" Umpat Laluna setelah Fabio benar-benar tak terlihat. Seluruh rekannya saling pandang dan terkejut mengapa Laluna bisa seberani itu mengatai bos mereka?

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!