Laluna duduk di tepi ranjang dan menatap nanar punggung Febby yang terbaring membelakanginya. Hari ini keponakannya itu tak seperti biasanya. Laluna semakin gelisah dan bimbang, niat hati ingin membawa Febby pergi, namun situasi terasa semakin rumit. Harusnya Ia merasa senang jika Fabio menginginkan hak asuh Febby, karena dengan begitu Ia akan cepat untuk menikah tanpa mengkhawatirkan keadaan Febby. Entah kenapa, Ia merasa lebih khawatir jika Febby tinggal bersama Fabio.
"Sebenarnya siapa yang egois? Aku mengharapkan kebahagiaan Febby, tapi kebahagiaannya ternyata ada pada Fabio. Aku harus bagaimana?" Batin Laluna termenung sendiri sampai Ia tak sadar jika air matanya sudah berderai membasahi pipinya. Pandangannya beralih menatap sebuah kalender kecil dan melihat ada bulatan kecil diantara angka-angka yang berjejer. Sejenak Laluna terdiam lalu tersenyum dan mengusap rambut Febby yang mungkin sudah terlelap dalam tidurnya.
"Tidur yang nyenyak ya! Doakan Aunty banyak uang agar bisa bawa kamu pergi. Aunty gak mau pisah sama kamu. Aunty sayang sama kamu melebihi keluarga Papamu. Maaf Aunty gak bisa kasih tahu kamu kebenaran kalau sebenarnya Papa kamu ada di kota ini sekarang. Aunty belum siap pisah sama kamu yang udah Aunty anggap sebagai anak sendiri. Dari bayi Aunty rawat kamu sampai sekarang tanpa campur tangan keluarga mereka. Aunty khawatir kalau kamu tahu siapa keluarga Papa kamu, baik kamu ataupun mereka, akan sama-sama memisahkan kamu dari Aunty." Tercurah sudah isi hati Laluna dengan suara kian melirih dan tersengal menahan tangis. Tanpa Ia tahu, Febby mendengar semua apa yang Laluna ucapkan. Bahkan Febby membiarkan air matanya terus berderai dengan mencoba tetap tenang dan mengendalikan nafasnya agar tidak ketahuan.
...****************...
Paginya, Febby ragu-ragu menghampiri Laluna di meja makan. Aunty nya itu terlihat sumringah meski sebenarnya Ia tahu jika Laluna tengah gundah. Perlahan Febby duduk berhadapan dengan Laluna seperti biasanya.
"Aunty. Jangan terlalu memikirkan permintaanku ya! Aku bahagia sama Aunty. Maaf kalau kemarin aku egois. Dengan Aunty ada di samping aku, duniaku akan baik-baik saja." Tutur Febby terasa tiba-tiba. Laluna yang mendengarnya pun merasa terkejut dan embun kembali menggenang di kelopak matanya.
"Maaf juga kalau Aunty gak bisa kasih kamu yang terbaik." Laluna tak bisa menahan dirinya untuk segera memeluk tubuh mungil keponakannya sebelum embun itu berderai di hadapan Febby.
"Aunty kado terbaik yang pernah aku temukan di dunia ini. Kalau tidak ada Aunty, aku tak tahu sekarang aku bagaimana tanpa Mama dan Papa."
"Aishhhh bisa tidak kalau pagi-pagi itu jangan bahas yang mengandung bawang?" Rengek Laluna ditanggapi kekehan kecil oleh Febby.
Selanjutnya, Febby dan Laluna memilih untuk segera sarapan dan berangkat secepat mungkin karena waktu sudah semakin siang. Seperti biasa, Febby selalu berceloteh sepanjang jalan sebelum mereka sampai di area sekolah. Dan, lambaian tangan serta senyuman riang itu akan sangat Laluna rindukan saat nanti kebersamaan mereka usai.
"Apa memang akan berpisah? Apa harus berpisah? 16 tahun itu bukan waktu yang singkat. Kalau aku bicara pada Fabio, apa dia akan menerima keputusanku? Ah sepertinya tidak akan bisa. Aku harus bagaimana?" Gumam Laluna terus menerus berperang dengan pikirannya sendiri.
Di sekolah, Febby kembali menjadi Febby yang dikenal seperti biasanya. Bahkan Abila dan Shanaya pun merasa lega jika akhirnya Febby tak lagi murung.
"Hallo Nona Arvasatya." Sapa Abila membuat Febby terbelalak dan menutup mulut Abila dengan ekspresi yang begitu panik.
"Kamu kenapa sih Bil? Udah aku bilangin jangan asal ngomong. Kalau orang lain salah faham gimana? Mereka pasti ngira aku ini emang anak dari keluarga Arvasatya." Tegur Febby benar-benar dibuat panik.
"Loh memangnya kenapa Feb? Kamu kok panik gitu? Bukannya senang ya kalau memang kamu anak dari keluarga kaya itu. Banyak yang berharap loh Feb." Ucap Shanaya ikut menimpali.
"Hidup aku dan Aunty udah tenang, Sha. Aku gak mau cuman karena kesalah fahaman ini, Aunty jadi terbawa masalah." Sanggah Febby lagi.
"Hei Feb..." Sapa Rangga dibalas lambaian tangan oleh Febby sendiri. Namun Rega terlihat memalingkan wajahnya saat Febby menyapanya dengan senyuman. Seketika itu juga, raut wajah Febby berubah terheran melihat sikap Rega yang tak biasa.
"Ga..." sapa Febby lagi namun hanya ditanggapi senyum paksa dari Rega. Bukan hanya Febby, teman-temannya yang lain pun merasa heran akan sikap Rega yang berubah.
"Ga.. itu Febby nyapa." Tegur Rangga dengan suara berbisik.
"Hemmm." Hanya begitu tanggapan Rega.
"Ishhhh sayang loh. Itu senyumnya manis banget." Ucap Rangga lagi.
"Ah sial... senyumnya memang manis. Lagian aku kenapa? Bawaannya gak mau nyapa Febby." Batin Rega berpikir sejenak kemudian kembali berlalu masih dengan pikiran yang berkecamuk.
"Rega kenapa? Tumben gak tantrum? Biasanya suka godain Febby." Ujar Abila tanpa sadar wajah Febby kembali sendu. Rangga yang tak tahu ada masalah apa diantara Febby dan Dega, sejenak berpikir dan mengingat kejadian kemarin.
"Mungkin gara-gara anak baru itu? Iya kan? Ngaku aja Ga! Cemburu kan lihat Febby berduaan di bawah hujan?" Celetuk Rangga dan diiyakan oleh Abila sendiri.
"Iya ih. Kemarin kamu kan sepayung berdua sama Keen."
"Ohhh namanya Keen." Timpal Shanaya mengangguk sendiri.
"Ishhh kemarin tuh kebetulan. Aku sama Keen itu--"
"Apa? Ngomongin aku?" ucapan Febby terhenti saat tiba-tiba Keen melewati mereka dan masuk ke dalam obrolan. Senyum itu tersungging diiringi kekehan kecil yang khas.
"Aku sama Febby itu gak pacaran dan gak akan pernah pacaran. Iya kan Feb?" Seketika Keen menoleh ke arah Febby yang kebingungan dan mengangguk pelan menanggapi pertanyaannya. Entah apa maksudnya, namun Ia hanya bisa mengangguk dan entah kenapa harus mengangguk. Rasanya Keen tak asing di hidupnya meski baru beberapa kali mereka bertemu.
"Oh iya Keen. Kau dari keluarga Arvasatya kan?" Kali ini Rangga bertanya seraya menepuk bahu Keen yang langsung mengangguk dengan sedikit waspada.
"Febby juga nama belakangnya Arvasatya. Sepertinya kalian memang saudara." Ucap Rangga lagi begitu antusias meski raut wajah Febby berubah panik.
"Aaaaa... ee.... Keen... ma-maaf. Ra-Rangga gak maksud.... a-aku bukan ngaku-ngaku anak keluarga kalian. Teman-teman aku memang selalu mengejekku begitu. Aku sendiri saja tak tahu tentang keluarga Arvasatya. Maaf ya!" Keen terheran, Ia pikir masalah ini akan cepat terungkap dengan mudah hanya karena kesamaan nama mereka. Ternyata, selama ini Febby tak menganggap dirinya keturunan dari keluarga mereka. Bahkan seperti takut saat Rangga bercanda tentang hal ini.
"Lagi pula kalau dipikir lagi, Keen dan Febby seumuran, dan mereka tidak kembar. Mana mungkin bisa bersaudara. Betul tidak Keen?" Pertanyaan dari Rangga ini berhasil membuat Keen tersadar dari lamunannya. Ia mengangguk ragu dan masih tak mengerti dengan apa yang terjadi pada keluarga pamannya.
"Bisa saja aku sama Keen itu punya kesamaan nama saja. Seperti Rega dan anak kelas 11 kan?" Lagi, Febby menyanggah kemungkinan dan kenyataan yang jelas sudah terungkap itu. Rega lebih dulu melangkah meninggalkan teman-temannya yang masih mengobrol dan bercanda di tempat mereka. Ia merasa hatinya terbakar melihat tatapan mata Keen yang penuh arti pada Febby.
Febby semakin merasa gelisah dengan perubahan sikap Rega, Ia jelas tak tahu pasti apa salahnya pada Rega. Bahkan sampai jam istirahat pun, Rega tak lagi menjahilinya selama pelajaran berlangsung.
Febby duduk termenung sendiri di kursi depan kelas, Ia kembali memikirkan nama yang sama dengan keluarga kaya namun sedikit misterius itu. Setiap Ia mencari informasi tentang mereka, tak ada yang Ia dapat sama sekali. Tentang Keen yang tak ada pada informasi keluarga, dan pemilik perusahaan Arvasatya 1-3. Jangankan potret wajah, bahkan namanya saja tidak dipaparkan dengan jelas. Hanya inisialnya saja, itu pun tidak benar-benar jelas.
Sedang asyik merenung dan melamun, 3 orang murid dari kelas lain tiba-tiba menghampiri dan duduk menghimpit dirinya.
"Oh ini yang kemarin goda Keen?" Ujar Qinara bertanya pada kedua temannya dengan senyum menjengkelkan.
"Apa sih?" Febby menanggapi dengan begitu acuh. Dan tiba-tiba, tangan Qinara merangkul pundak Febby dan mendekatkan wajahnya.
"Ini peringatan terakhir! Jangan berani mendekati Keen lagi! Atau.... kau mungkin tahu, konsekuensi apa yang akan diterima sama penggoda sepertimu." Tutur Qinara ditanggapi senyum tipis oleh Febby, dan senyum itu semakin melebar hingga akhirnya menciptakan tawa yang nyaring.
"Siapa yang suka sama Keen? Kalau kau suka, ya silahkan. Aku punya 1 laki-laki saja sudah pusing, apa lagi ditambah 1 yang seperti Keen." Ucapnya masih tertawa. Qinara mendadak naik pitam, Ia beranjak dan menatap tajam Febby yang menaikkan alisnya sebelah tanda bertanya dan menantang. Karena tak ingin menambah masalah, Febby memilih beranjak dan menerobos pertahanan Qinara untuk masuk ke kelasnya. Siapa sangka, Febby merasa tersandung kaki seseorang dan wajahnya tepat membentur pintu di depannya. Febby tersungkur dan terduduk di ambang pintu seraya meraih wajahnya yang linu. Rega dengan refleks memanggil Febby lalu menghampirinya.
"Feb..." pekiknya kemudian merangkul pundak Febby yang menoleh dan memperlihatkan tangannya.
"Ga... darah..." setelah mengatakan 2 kata dengan terbata, Febby perlahan terlelap dan Rega tak bisa membangunkan Febby dengan hidung yang sudah berdarah.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments