Gemerincik hujan di pagi hari membuat Laluna semakin malas untuk terbangun dari tidurnya. Apa lagi saat mengingat hari kemarin, dimana atasannya menegur dirinya karena berani memaki bos besar secara langsung. Meski Airin dan rekan kerja yang lain sempat menanyakan alasannya mengatakan hal itu, namun Laluna memilih diam dan tak menjelaskan ikatannya dengan Fabio sebenarnya sudah lebih dari sekedar dekat.
"Aunty.... bangun! Ini sudah siang. Antarkan aku ke sekolah." Teriak Febby seraya menyingkapkan selimut yang menutupi seluruh tubuh Laluna. Meski Febby menyebalkan, namun Ia tak pernah memarahinya jika kejahilan dan kenakalannya masih bisa di tolerir.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Laluna seolah Ia baru membuka mata, padahal sebenarnya Ia sudah terbangun dari subuh.
"Jam setengah 7 lewat. Aunty tidak bekerja? Biasanya Aunty sudah siap."
"Mau sarapan?" Tanya Laluna seakan mengabaikan celotehan Febby.
"Ishhh Aunty..." rengeknya manja dan berlalu meninggalkan kamar Laluna begitu saja.
"Aku akan sangat merindukan sikap menyebalkanmu itu, Feb." Batin Laluna tersenyum sendu sebelum akhirnya Ia beranjak dan bersiap mengantarkan Febby ke sekolah.
Pikiran Laluna berkecamuk sepanjang Ia melajukan mobil menembus jalanan yang sedikit lenggang karena hujan. Beberapa kali Ia menimbang keputusan apa yang harus Ia ambil. Memberikan Febby pada Fabio, atau kabur membawa Febby ke suatu tempat yang tak bisa di jangkau oleh Fabio.
"Aunty..." panggil Febby sedikit lebih keras dari sebelumnya.
"Eh? Apa?" Sahut Laluna yang baru tersadar dari lamunannya.
"Fokus Aunty. Jangan melamun!" Laluna sempat terdiam sejenak, kemudian Ia tersenyum melihat kekesalan keponakannya.
"Febby... sejujurnya Aunty tak tahu harus memberimu hadiah apa. Jadi Aunty ingin tanya padamu hadiah apa yang kau mau?" Dan kali ini giliran Febby yang terdiam. Terlihat kebimbangan dari sorot matanya yang sayu. Namun, tiba-tiba Febby tersenyum dengan lebar dan menggeleng menanggapi pertanyaan Laluna.
"Tidak Aunty. Aku tidak mau hadiah apa-apa. Seperti biasa saja, aku hanya ingin bercerita di makam mama. Apa tahun ini Aunty akan menemaniku lagi?"
"Tentu saja. Aunty akan lakukan apapun untukmu." Seru Laluna akhirnya menghela nafas lega. Namun, kelegaan itu seketika berubah saat raut wajah Febby berubah sendu. Laluna segera mencari tempat untuk menepikan mobilnya yang tak jauh dari area gerbang sekolah. Ketika Febby hendak membuka pintu, Laluna menahan Febby dan memastikan jika Febby baik-baik saja.
"Jujurlah. Kau inginkan sesuatu dari Aunty, kan?" Lagi-lagi Febby terdiam dan bahkan kali ini menunduk semakin sendu.
"Aunty.... apa ulang tahun kali ini, aku akan bertemu Papa?"
'Deg!'
Laluna benar-benar dibuat mematung seketika. Lidahnya mendadak kelu dan tubuhnya mendadak membeku.
"Kalau memang Papa masih hidup, aku ingin tahu. Tapi kalau Papa sudah meninggal, dimana makamnya? Aunty selalu bilang kalau Papa itu pergi entah kemana. Itu berarti Aunty tahu kan siapa Papa, dan dimana dia? Sebenarnya aku ingin tahu apa alasan Aunty menyembunyikan semuanya dariku. Aku coba mencari tahu siapa Arga Fabio Arvasatya itu siapa, tapi aku tak menemukannya. Jadi, untuk hadiah ulang tahunku tahun ini, tolong pertemukan aku dengan Papa." Suara Febby kian melirih, merasakan hatinya semakin pilu. Melihat Laluna tak bereaksi dan menanggapi, Febby keluar dari mobil tanpa membawa payung sama sekali. Ia ingin menyembunyikan kesedihannya di bawah gerimis agar tak ada orang yang menyadari.
Namun saat Ia baru saja menyebrang jalan, seseorang melindunginya dari hujan dengan sebuah payung abu-abu. Febby semula terfokus pada payung di atasnya, hingga Ia menoleh dan matanya membulat mendapati sosok yang ternyata jauh dari perkiraannya.
"K-Kau?"
"Kenapa kau terkejut begitu? Apa aku seperti hantu?" Tanya Keen dengan sedikit mengejek.
"Tidak. Bukan itu maksudku. Kenapa kau berbagi payung denganku?" Febby balik bertanya dan lebih merasa heran akan sikap Keen yang menurutnya terasa sangat dekat. Bahkan mereka seperti orang yang sudah lama kenal.
"Nama belakangmu Arvasatya, bukan?" Tanya Febby sedikit gugup. Ia takut jika pembahasan ini akan membuatnya mendapat masalah.
"Hemm. Kenapa memang?" Pertanyaan balik itu sedikit membuat Febby terhenyak.
"Anu... apa... di keluargamu ada yang namanya--"
"Keen! Cieee sama siapa tuuhhhh.." teriak salah seorang teman Keen yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.
"Husshh apa sih? Udah sana ke kelas duluan!" Balas Keen mengelak dugaan-dugaan teman-temannya. Sementara itu Febby hanya terdiam dan memalingkan pandangan menghindari setiap mata yang tertuju ke arahnya.
Beragam bisikan mulai terdengar, namun Febby yang memikirkan teka-teki di hidupnya tak begitu menghiraukan apa saja yang mereka ucapkan.
Tak perlu menunggu hari esok, gosip tentang kebersamaan Keen dan Febby susah menyebar di seluruh sekolah. Mereka berbicara seolah berita yang mereka katakan itu benar adanya.
"Feb... beneran kamu jadian sama anak baru itu?" Tanya Rega mencoba memastikan.
"Apa sih? Enggak ya! Kenal aja enggak." Jawab Febby kembali mengelak setelah beberapa pertanyaan yang sama terlontar dari sebagian teman-temannya.
"Terus tadi?"
"Itu kebetulan. Lagian aku gak ada waktu buat kayak gitu. Sekarang di pikiran aku cuman cari cara gimana ulang tahun kali ini aku bisa ketemu Papa." Sejenak Rega termangu. Ia mengingat jika 3 hari kemudian adalah hari ulang tahun Febby.
"Feb... kau serius kan?"
"Ishhh kau kenapa Ga? Kapan aku bercanda?"
"Ya kan siapa tahu. Kamu nolak aku terus, dan tiba-tiba pacaran sama orang lain."
"Kamu apaan sih Ga? Aku lagi males bercanda."
"Apa dia memang sesedih itu? Harusnya aku tak banyak bicara." Batin Rega menatap nanar wajah Febby yang memang tak seperti biasanya. Gadis yang dikenal begitu ceria, kali ini, Ia lebih banyak diam dan sulit untuk diajak berbicara.
Rega terus menatap Febby, sampai Febby beranjak pun, Rega terus mengikutinya dengan tatapan sebagai ganti penjagaannya. Terlihat gadis itu berdiri mematung di ambang pintu kelas, dengan sesekali membalas sapaan dari teman-temannya yang lewat. Tak bisa dipungkiri, kecantikan Febby dan kelembutan sikapnya membuat beberapa murid laki-laki merasa tertarik. Ditambah latar belakang Febby yang mereka ketahui pun bukan anak dari keluarga yang kurang mampu. Meski Laluna yang menjadi wali Febby, Laluna sudah dikenal sebagai wanita karir yang sukses. Walaupun Laluna seorang karyawan di salah satu perusahaan, namun Ia juga menekuni dunia bisnis sendiri. Ia membuat usaha butik kecil karena kecintaannya pada fashion. Pasangan Aunty dan keponakan itu memang dikenal sebagai putri jelita tanpa seorang raja.
Sudah 5 menit Febby hanya berdiri, Rega berniat untuk menyusul dan ingin menemaninya lagi. Baru beberapa langkah, Ia melihat seorang murid laki-laki terlihat akrab dan menggoda Febby dengan candaannya.
"Ibu sekertaris osis kok sendirian aja?" Goda Rasya yang tak jadi melewati Febby.
"Loh. Bukannya sekertaris osis itu kak Anita?" Sangkal Febby yang terkejut dengan panggilan barunya.
"Ya engga! Kan kamu calonnya yang baru. Kayaknya aku yang di tunjuk buat jadi calon ketua osis selanjutnya. Dan aku gak mau kalau sekretarisnya bukan kamu." Mungkin pada awalnya Febby pun bersemangat karena saat ini Ia juga sudah terdaftar menjadi osis baru, namun raut wajah Febby tak seperti sebelumnya. Terlihat ada kebimbangan dari sorot mata sayu yang meneduhkan itu.
"Kak... jangan terlalu berharap berlebihan ya! Kayaknya aku gak jadi masuk Osis deh. Aku... ada sesuatu hal yang belum selesai di hidup aku." Tutur Febby semakin menunduk sendu.
"Kamu kenapa Feb? Kan kamu udah janji mau jadi sekretaris Osis kalau aku yang jadi ketuanya."
"Iya Kak. Tapi maaf. Aku gak akan fokus untuk saat ini." Mendengar suara tertekan Febby yang seakan menahan rasa sedih, Rasya sejenak menghela nafas dalam untuk menenangkan pikirannya juga.
"Coba kamu kasih aku satu alasan kenapa kamu berubah pikiran!" Titah Rasya dengan nada bicara yang begitu tenang.
"Mungkin, aku akan buat kesepakatan sama Kakak. Kalau memang Kakak mau aku jadi sekertaris Osis, oke aku bersedia. Tapi setelah aku ketemu sama Papa aku."
"Kalau gak ketemu?"
"Aku akan keluar dari Organisasi. Dan gak akan berurusan sama Osis lagi."
"Loh... kata kamu jangan bawa masalah pribadi ke sekolah."
"Tapi aku gak Bisa Kak. Maaf. Ini bagi aku masalah serius." Ujar Febby berniat untuk berbalik dan kembali ke mejanya. Namun, tangannya Rasya tahan agar Febby tetap di sana.
"Apa kamu butuh bantuan? Mungkin aku bisa carikan informasi tentang Papamu. Kakakku seorang asisten Presdir. Dia punya jangkauan yang lumayan luas. Bagaimana?" Sejenak Febby berpikir dan mematung dengan tangan yang masih berpegangan dengan Rasya.
"Apa tidak merepotkan?" Tanya Febby justru membuat Rasya tersenyum begitu lebar. Ia mengangguk dan menggeleng antusias menanggapi pertanyaan Febby.
"Enggak kok. Aku seneng kamu mau aku bantu."
"Kalah selangkah sama kakak kelas." Batin Rega mengeluh meratapi kekalahannya dan masih berdiri mematung dari dekat mejanya.
"Tapi aku mau bertemu dengan Papaku saat hari ulang tahunku." Ujar Febby kemudian. Rasya sedikit mengernyit apakah pertemuan itu Febby inginkan sebagai kado ulang tahun?
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments