Bab 13. Rumah (PART 2)

"Sepupu.....!!" Pagi-pagi buta terdengar suara Keen berteriak dari pintu utama sampai kamar Febby. Bukan hanya Febby yang merasa risih, namun Fabio juga sempat memelototi Keen saat anak itu berjalan melewati kamarnya yang ada di lantai bawah.

"Apa-apaan Keen?" Pekik Febby yang terkejut karena Keen masuk ke kamarnya tanpa permisi.

"Kau tak mau sekolah? Ini sudah jam 7. Kau belum mandi. Iihhhh!" Keen sudah tak canggung lagi mengejek Febby. Bahkan wajahnya begitu mengesalkan di depan Febby.

"Apa sifat aslinya memang begini? Berisik sekali dia!" Batin Febby melirik sinis dan terheran dengan perbedaan sikap Keen. Meski sudah menyaksikan berkali-kali, namun Ia masih tak bisa memahami sebenarnya sikap asli Keen yang mana.

"Eh... pacar kamu kemarin galau terus." Ujar Keen mengernyitkan alis Febby.

"Pacar? Siapa?"

"Loh. Itu si Rega, Raga, Rangga, Saga, Vega, ahhh siapa ya lupa." Febby yang mendengar hal tersebut pun semakin memicingkan matanya. Ia mendadak kesal sendiri dengan sikap Keen ini.

"Rega." Jawab Febby mendelik kesal.

"Nahhh sepertinya yang itu. Eh? Benar, kan? Kau punya pacar?" Pekik Keen ketika baru menyadari ada yang tidak beres dengan jawaban Febby. "Uncleee!!! FEBBY PUNYA PACAR." Teriak Keen membuat panik Febby seketika. Sampai-sampai Febby menutup mulut Keen karena takut Ayahnya akan salah faham.

...****************...

Febby mendorong Keen menuju pintu utama setelah mereka berdebat di kamar Febby. Fabio menatap sejenak kebersamaan kedua anak itu lalu senyumnya sedikit miring merasa lega jika Keen menerima Febby sepenuhnya.

"Uncle... aku berangkat ya! Salam dari pacarnya Febby!" Lagi-lagi Keen berteriak dengan sengaja agar Fabio tahu jika Febby mempunyai pacar di sekolahnya. Fabio hanya terdiam tanpa menanggapi candaan Keen meski Febby terlihat gelisah. Setelah Keen berlalu, Febby menoleh padanya dengan tatapan mata yang memohon.

"Papa. Keen bohong. Aku tidak punya pacar. Serius!" Ujar Febby menjelaskan dengan memasang dua jari di samping wajahnya. Fabio semakin lekat menatap wajah putrinya, sehingga Febby menunduk panik. Febby terlalu takut jika Fabio akan memarahi Rega, bukan dirinya.

"Sarapan dulu! Setelah itu kau bebas mau apa di rumah ini. Papa ada pekerjaan di kantor." Febby mendongak merasakan sebuah tangan menyentuh kepalanya seiring penuturan ayahnya terlontar. Setelah itu, Fabio berjalan lebih dulu ke arah ruang makan, kemudian di susul Febby yang mengikuti dari belakang. Ada rasa ingin menggandeng tangan Fabio, namun niatnya urung karena rasa takut lebih mendominasi dirinya.

"Papa. Apa boleh kalau aku menginap semalam lagi?" Tanya Febby seketika menghentikan langkah Fabio hingga membuat Febby menabrak punggung Ayahnya.

"Apa kau tak menganggap ini rumahmu?" Tanya Fabio terdengar begitu dingin. Terlebih di telinga Febby terasa mencekam. Apa lagi saat Fabio berbalik dan berhadapan dengannya saat ini.

"Terserah kau saja. Yang jelas, kau adalah pemilik rumah ini, bukan tamu." Suara Fabio masih terdengar dingin. Sampai-sampai Febby tak bisa berucap sama sekali karena lidahnya mendadak kelu.

Fabio kembali berlalu ke ruang makan meninggalkan Febby yang masih mematung di tempatnya menatap kepergian Fabio dari hadapannya.

...****************...

Laluna menghela nafas dalam sesaat sebelum Ia membelokkan mobilnya ke sebuah tempat sebelum ke butiknya. Mobilnya Ia parkirkan di samping mobil mewah yang sudah siap untuk berangkat. Ia melirik jam di tangannya, baru jam 8 lewat 6 menit. Ia yakin jika keponakannya tak sekolah hari ini. Laluna keluar dengan mencoba percaya diri.

"Kak Sam. Apa Febby tidak sekolah?" Tanya Laluna memastikan. Sammy yang tengah mengobrol dengan pekerja kebun pun menoleh lalu menggeleng seraya tersenyum tipis. Dengan sopan, Laluna meminta izin untuk masuk ke rumah sang pemilik perusahaan terbesar ke-2 setelah perusahaan Reindra.

Kedatangannya di sambut ramah oleh salah satu pelayan rumah dan mempersilahkan Laluna menunggu di ruang tamu. Saat Ia menunggu kedatangan Febby, Ia melihat Fabio yang berjalan melewatinya lalu berhenti dan menatapnya dengan sinis. Laluna membalas tatapan Fabio tak kalah sinis sampai Fabio memalingkan wajahnya dengan kasar.

"Dasar iblis." Cetus Laluna bergumam pelan.

"Aunty...." pekik Febby dengan antusias. Ia berlari dan memeluk erat Laluna sampai luka di tangannya kembali terasa perih.

"Aduhh." Rintihnya membuat Fabio kembali masuk ke dalam rumah.

"Apa kau sakit?" Tanya Fabio tanpa memperlihatkan raut wajah khawatir sedikitpun.

"Tidak. Ini tidak sengaja." Jawab Febby mengelak. Ia takut jika Fabio akan menyalahkan Laluna dan melarang mereka untuk bertemu.

"Apa dia sudah minum obat?" Laluna beralih bertanya pada Fabio yang meliriknya dengan datar, lalu kembali meninggalkan mereka.

"Tanya saja sendiri." Cetus Fabio tepat setelah Ia melewati pintu. Laluna yang terlanjur kesal, Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sangat menyesal karena menjadi adik ipar dari seorang Fabio.

...****************...

Seperti biasa, Keen berjalan dengan terus fokus pada ponsel dan earphone-nya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat ada seseorang menghalangi jalannya. Keen mendongak sesaat kemudian Ia memalingkan pandangannya dengan malas.

"Mak lampir mau apa lagi?" Celetuk Keen benar-benar tak ingin berurusan dengan Qinara.

"Loh kamu kok gitu sama aku? Kita kan pasangan masa depan. Kamu gak inget? Kita--"

"Di jodohkan sama orang tua? Kamu nganggap serius? Kuno banget sih! Jaman sekarang mana ada perjodohan. Ayah juga bilang kalau aku bebas milih pasangan. Lagian umur kita tuh masih 16 tahun. Masih jauh lah kalau bahas-bahas hal-hal begitu." Habis sudah kesabaran Keen menghadapi sikap kekanakan Qinara yang mengaku mereka pasangan.

"Aku gak peduli. Selagi Papa aku sama Papa kamu bekerja sama, kita masih terikat. Lagian kamu juga gak punya pacar lain, kan?" Kali ini Keen tersenyum menanggapi Qinara.

"Siapa bilang?" Hanya begitu, Keen berlalu tanpa ingin meladeni Qinara yang mungkin akan tantrum saat diabaikan olehnya. Siapa yang tahu, Keen mengepalkan tangannya sendiri saat mengingat hal yang tak ingin Ia ingat. Air matanya berderai seiring ingatan itu berputar di benaknya. Sudah 2 tahun berlalu, Ia terus lari dari kesedihannya sendiri, dan saat sedihnya telah sembuh, Ia harus kembali mengingat hal tersebut. Tak ada hal indah lain selain kenangannya bersama seseorang dari masa lalu.

"Ghea. Aku harus bagaimana agar bisa melupakanmu?"Batin Keen membasuh wajahnya di wastafel. Ia menatap wajahnya yang sedikit memerah menahan tangis.

...****************...

"Sam! Cari tahu siapa pacar Febby!" Titah Fabio terdengar tiba-tiba. Bahkan Sammy yang tengah membukakan pintu ruangan Fabio pun tak langsung menanggapi, Ia termangu sejenak sebelum mengumpulkan niat bertanya balik.

"Maaf, Tuan?"

"Kau tak mendengarku?" Suara Fabio sedikit meninggi karena kesal dengan Sammy yang selalu telat berpikir.

"Sa-saya dengar, Tuan. Tapi saya kurang paham maksud Tuan. Nona Febby tidak punya pacar."

"Keen bilang Febby punya pacar, Sam. Makanya aku ingin tahu siapa pacar Febby, dan latar belakangnya. Aku tak mau kalau Febby berhubungan dengan orang yang tidak jelas." Celoteh Fabio masih disimak oleh Keen dengan sabar. Ia tersenyum lega melihat kekhawatiran Fabio pada anak semata wayangnya.

"Sam! Sudah waktunya Febby menjadi Putri Arvasatya yang sesungguhnya. Buat acara resmi, lalu umumkan siapa Febby pada semua orang. Dan juga, buka identitasku di internet, Sam. Sudah cukup sampai di sini aku bersembunyi." Lanjut Fabio lebih serius dari sebelumnya. Sammy masih merasa heran mengapa Fabio tiba-tiba ingin membuka identitasnya?

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!