"Sepupu.....!!" Pagi-pagi buta terdengar suara Keen berteriak dari pintu utama sampai kamar Febby. Bukan hanya Febby yang merasa risih, namun Fabio juga sempat memelototi Keen saat anak itu berjalan melewati kamarnya yang ada di lantai bawah.
"Apa-apaan Keen?" Pekik Febby yang terkejut karena Keen masuk ke kamarnya tanpa permisi.
"Kau tak mau sekolah? Ini sudah jam 7. Kau belum mandi. Iihhhh!" Keen sudah tak canggung lagi mengejek Febby. Bahkan wajahnya begitu mengesalkan di depan Febby.
"Apa sifat aslinya memang begini? Berisik sekali dia!" Batin Febby melirik sinis dan terheran dengan perbedaan sikap Keen. Meski sudah menyaksikan berkali-kali, namun Ia masih tak bisa memahami sebenarnya sikap asli Keen yang mana.
"Eh... pacar kamu kemarin galau terus." Ujar Keen mengernyitkan alis Febby.
"Pacar? Siapa?"
"Loh. Itu si Rega, Raga, Rangga, Saga, Vega, ahhh siapa ya lupa." Febby yang mendengar hal tersebut pun semakin memicingkan matanya. Ia mendadak kesal sendiri dengan sikap Keen ini.
"Rega." Jawab Febby mendelik kesal.
"Nahhh sepertinya yang itu. Eh? Benar, kan? Kau punya pacar?" Pekik Keen ketika baru menyadari ada yang tidak beres dengan jawaban Febby. "Uncleee!!! FEBBY PUNYA PACAR." Teriak Keen membuat panik Febby seketika. Sampai-sampai Febby menutup mulut Keen karena takut Ayahnya akan salah faham.
...****************...
Febby mendorong Keen menuju pintu utama setelah mereka berdebat di kamar Febby. Fabio menatap sejenak kebersamaan kedua anak itu lalu senyumnya sedikit miring merasa lega jika Keen menerima Febby sepenuhnya.
"Uncle... aku berangkat ya! Salam dari pacarnya Febby!" Lagi-lagi Keen berteriak dengan sengaja agar Fabio tahu jika Febby mempunyai pacar di sekolahnya. Fabio hanya terdiam tanpa menanggapi candaan Keen meski Febby terlihat gelisah. Setelah Keen berlalu, Febby menoleh padanya dengan tatapan mata yang memohon.
"Papa. Keen bohong. Aku tidak punya pacar. Serius!" Ujar Febby menjelaskan dengan memasang dua jari di samping wajahnya. Fabio semakin lekat menatap wajah putrinya, sehingga Febby menunduk panik. Febby terlalu takut jika Fabio akan memarahi Rega, bukan dirinya.
"Sarapan dulu! Setelah itu kau bebas mau apa di rumah ini. Papa ada pekerjaan di kantor." Febby mendongak merasakan sebuah tangan menyentuh kepalanya seiring penuturan ayahnya terlontar. Setelah itu, Fabio berjalan lebih dulu ke arah ruang makan, kemudian di susul Febby yang mengikuti dari belakang. Ada rasa ingin menggandeng tangan Fabio, namun niatnya urung karena rasa takut lebih mendominasi dirinya.
"Papa. Apa boleh kalau aku menginap semalam lagi?" Tanya Febby seketika menghentikan langkah Fabio hingga membuat Febby menabrak punggung Ayahnya.
"Apa kau tak menganggap ini rumahmu?" Tanya Fabio terdengar begitu dingin. Terlebih di telinga Febby terasa mencekam. Apa lagi saat Fabio berbalik dan berhadapan dengannya saat ini.
"Terserah kau saja. Yang jelas, kau adalah pemilik rumah ini, bukan tamu." Suara Fabio masih terdengar dingin. Sampai-sampai Febby tak bisa berucap sama sekali karena lidahnya mendadak kelu.
Fabio kembali berlalu ke ruang makan meninggalkan Febby yang masih mematung di tempatnya menatap kepergian Fabio dari hadapannya.
...****************...
Laluna menghela nafas dalam sesaat sebelum Ia membelokkan mobilnya ke sebuah tempat sebelum ke butiknya. Mobilnya Ia parkirkan di samping mobil mewah yang sudah siap untuk berangkat. Ia melirik jam di tangannya, baru jam 8 lewat 6 menit. Ia yakin jika keponakannya tak sekolah hari ini. Laluna keluar dengan mencoba percaya diri.
"Kak Sam. Apa Febby tidak sekolah?" Tanya Laluna memastikan. Sammy yang tengah mengobrol dengan pekerja kebun pun menoleh lalu menggeleng seraya tersenyum tipis. Dengan sopan, Laluna meminta izin untuk masuk ke rumah sang pemilik perusahaan terbesar ke-2 setelah perusahaan Reindra.
Kedatangannya di sambut ramah oleh salah satu pelayan rumah dan mempersilahkan Laluna menunggu di ruang tamu. Saat Ia menunggu kedatangan Febby, Ia melihat Fabio yang berjalan melewatinya lalu berhenti dan menatapnya dengan sinis. Laluna membalas tatapan Fabio tak kalah sinis sampai Fabio memalingkan wajahnya dengan kasar.
"Dasar iblis." Cetus Laluna bergumam pelan.
"Aunty...." pekik Febby dengan antusias. Ia berlari dan memeluk erat Laluna sampai luka di tangannya kembali terasa perih.
"Aduhh." Rintihnya membuat Fabio kembali masuk ke dalam rumah.
"Apa kau sakit?" Tanya Fabio tanpa memperlihatkan raut wajah khawatir sedikitpun.
"Tidak. Ini tidak sengaja." Jawab Febby mengelak. Ia takut jika Fabio akan menyalahkan Laluna dan melarang mereka untuk bertemu.
"Apa dia sudah minum obat?" Laluna beralih bertanya pada Fabio yang meliriknya dengan datar, lalu kembali meninggalkan mereka.
"Tanya saja sendiri." Cetus Fabio tepat setelah Ia melewati pintu. Laluna yang terlanjur kesal, Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sangat menyesal karena menjadi adik ipar dari seorang Fabio.
...****************...
Seperti biasa, Keen berjalan dengan terus fokus pada ponsel dan earphone-nya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat ada seseorang menghalangi jalannya. Keen mendongak sesaat kemudian Ia memalingkan pandangannya dengan malas.
"Mak lampir mau apa lagi?" Celetuk Keen benar-benar tak ingin berurusan dengan Qinara.
"Loh kamu kok gitu sama aku? Kita kan pasangan masa depan. Kamu gak inget? Kita--"
"Di jodohkan sama orang tua? Kamu nganggap serius? Kuno banget sih! Jaman sekarang mana ada perjodohan. Ayah juga bilang kalau aku bebas milih pasangan. Lagian umur kita tuh masih 16 tahun. Masih jauh lah kalau bahas-bahas hal-hal begitu." Habis sudah kesabaran Keen menghadapi sikap kekanakan Qinara yang mengaku mereka pasangan.
"Aku gak peduli. Selagi Papa aku sama Papa kamu bekerja sama, kita masih terikat. Lagian kamu juga gak punya pacar lain, kan?" Kali ini Keen tersenyum menanggapi Qinara.
"Siapa bilang?" Hanya begitu, Keen berlalu tanpa ingin meladeni Qinara yang mungkin akan tantrum saat diabaikan olehnya. Siapa yang tahu, Keen mengepalkan tangannya sendiri saat mengingat hal yang tak ingin Ia ingat. Air matanya berderai seiring ingatan itu berputar di benaknya. Sudah 2 tahun berlalu, Ia terus lari dari kesedihannya sendiri, dan saat sedihnya telah sembuh, Ia harus kembali mengingat hal tersebut. Tak ada hal indah lain selain kenangannya bersama seseorang dari masa lalu.
"Ghea. Aku harus bagaimana agar bisa melupakanmu?"Batin Keen membasuh wajahnya di wastafel. Ia menatap wajahnya yang sedikit memerah menahan tangis.
...****************...
"Sam! Cari tahu siapa pacar Febby!" Titah Fabio terdengar tiba-tiba. Bahkan Sammy yang tengah membukakan pintu ruangan Fabio pun tak langsung menanggapi, Ia termangu sejenak sebelum mengumpulkan niat bertanya balik.
"Maaf, Tuan?"
"Kau tak mendengarku?" Suara Fabio sedikit meninggi karena kesal dengan Sammy yang selalu telat berpikir.
"Sa-saya dengar, Tuan. Tapi saya kurang paham maksud Tuan. Nona Febby tidak punya pacar."
"Keen bilang Febby punya pacar, Sam. Makanya aku ingin tahu siapa pacar Febby, dan latar belakangnya. Aku tak mau kalau Febby berhubungan dengan orang yang tidak jelas." Celoteh Fabio masih disimak oleh Keen dengan sabar. Ia tersenyum lega melihat kekhawatiran Fabio pada anak semata wayangnya.
"Sam! Sudah waktunya Febby menjadi Putri Arvasatya yang sesungguhnya. Buat acara resmi, lalu umumkan siapa Febby pada semua orang. Dan juga, buka identitasku di internet, Sam. Sudah cukup sampai di sini aku bersembunyi." Lanjut Fabio lebih serius dari sebelumnya. Sammy masih merasa heran mengapa Fabio tiba-tiba ingin membuka identitasnya?
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments