Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.

3 hari sudah Febby terbaring di ranjang rumah sakit. Dan 3 hari utu pula Fabio tak menjenguknya. Meski Sammy beberapa kali meyakinkan Fabio tidak seburuk yang Febby pikir, namun melihat kenyataan Fabio yang tak menemuinya, Febby semakin yakin jika Fabio benar-benar menganggapnya sudah mati.

"Hai sepupu!" Sapa Keen saat membuka pintu. Febby hanya melambaikan tangan dengan senyum tipis menghiasi wajah pucatnya.

"Mana Aunty Laluna?" Tanya Keen selanjutnya.

"Ke butik." Jawab Febby seraya memejamkan matanya.

"Ohh." Hanya begitu tanggapan Keen yang tak ingin mood Febby menjadi berantakan.

"Hei Feb. Jadi bagaimana keputusanmu?" Keen kembali bertanya setelah suasana hening beberapa saat.

"Tentang apa?"

"Apa kau akan tinggal dengan--"

"Aku belum memikirkan itu Keen. Sekarang aku hanya ingin cepat pulih saja. Kasihan Aunty. Dia bolak-balik ke butik, lalu ke sini untuk merawatku." Febby menyela sebelum Keen benar-benar menyelesaikan ucapannya.

"Kakek menawarkan seorang pelayan kan untuk merawatmu?"

"Kau pikir aku akan menerima tawaran itu, Keen? Dari bayi aku dirawat oleh Aunty. Tidak sembarang orang yang paham tentang aku. Apa yang aku suka, dan apa yang aku tidak suka. Saat sakit, hanya Aunty yang tahu aku harus makan apa, dan aku tak boleh makan apa. Seharusnya kau dan keluarga besarmu itu paham sampai sana." Jelas Febby berhasil membungkam Keen seketika. Sikapnya lebih acuh dari sebelumnya. Semula terasa hangat, kini terasa lebih dingin dari orang dingin yang pernah Keen temui. Senyum manis yang menjadi favorit teman-teman di sekolahnya, kini hilang entah kemana.

"Selama 16 tahun aku dianggap sudah mati oleh Papaku sendiri. Jadi aku tak berhak berada di dalam keluarga Arvasatya, meskipun ada pada namaku."

"Kakek tidak berpikiran begitu Feb. Kalau kamu kecewa pada Uncle Fabio, silahkan! Tapi jangan ikut membenci keluarga besar. Ini semua terjadi karena kesalahpahaman Aunty mu dan keluargaku. Kakek mengakui kalau ini semua murni kesalahan Uncle. Bahkan sekarang, Uncle tengah dihukum oleh Kakek." Mendengar penjelasan Keen kali ini, Febby tertawa geli dan menggeleng tak habis pikir.

"Seperti anak kecil saja dihukum. Yahh palingan biasanya diambil saham saja, iya kan? Atau di cabut fasilitas yang Papa pakai. Termasuk perusahaan." Dan kali ini giliran Keen yang tersenyum menanggapi tebakan Febby.

"Tidak. Kakek menghukum Uncle lebih parah dari itu. Kalau kau ingin tahu, kau bisa melihatnya di kamar sebelah." Sontak mata Febby membulat sempurna. Ia terkejut sekaligus heran mengapa Ayahnya berada di kamar sebelah? Dengan tanpa sadar, kakinya turun dari ranjang, dan Keen sigap membantu Febby yang mungkin mendadak khawatir pada Fabio. Langkahnya masih tertatih saat Keen memboyongnya ke luar ruangan.

Dengan ragu, Febby membuka pintu berwarna putih itu secara perlahan dan Ia mendadak lemas seketika saat melihat sang ayah tengah terbaring lemah. Semula kakinya yang tertatih lemas, kini mendadak kuat dan Febby berlari menuju Fabio yang masih terlelap.

"Papa!" Pekiknya meraih wajah Fabio. Walau bagaimana pun, Fabio tetaplah ayah kandungnya. Awalnya membenci, sekarang merubah iba melihat keadaan Fabio yang penuh luka memar di bagian wajah, dan tubuhnya lebih dingin dari suhu tubuh Febby sendiri.

"Papa. Bangun Pa... ini Febby." Rengeknya mencoba mengguncangkan tubuh Fabio. Terlihat alisnya mengkerut dan matanya mulai terbuka. Fabio melirik Febby dengan perlahan, dan terlihat senyum tersimpul di bibir Fabio.

"Sudah sembuh?" Tanya Fabio ditanggapi tangisan pilu oleh Febby.

"Papa kenapa?" Hanya pertanyaan itu yang dapat Febby lontarkan. Ingin sekali Ia bertanya apakah Fabio sudah menganggapnya ada?

"Tak apa! Papa hanya kecelakaan sedikit." Keen mengernyit, mengapa Fabio tak jujur jika semua luka itu akibat hukuman dari Emran? Semenjak Febby masuk rumah sakit, dan sepulang Emran menjenguk, Emran mengirim bawahannya untuk membawa Fabio dan menahan Sammy agar tak membantu Fabio saat itu. Dimana, Fabio habis dipukuli tanpa perasaan di depan seluruh keluarga kecuali Aracelly, dan Ia di siram oleh air es, lalu dibiarkan di luar rumah sampai kedinginan dengan di ikat pada sebuah kursi. Bahkan dokter mengatakan jika Fabio sudah memasuki gejala hipotermia. Jika terlambat menangani, bisa dipastikan Fabio akan mati. Emran sempat berniat mengambil semua aset Fabio, namun Reindra tak menyetujuinya. Karena ini terjadi atas kesalahpahaman saja. Dan biarkan Fabio diampuni tanpa harus menghukum lebih parah.

"Selamat ulang tahun, Nak!" Lirih Fabio meraih kepala Febby yang semakin pilu menangis di dekapannya.

"Papa kemana saja?" Pecah sudah tangis Febby yang semula tak ada suara, kini terdengar memekik telinga. Fabio tahu jika tangisan itu telah Febby tahan selama bertahun-tahun.

"Hangat." Lagi, Fabio melirih saat Ia memeluk erat kepala Febby. Di saat keduanya tengah melepas rindu, terdengar suara Laluna yang tengah kalap di luar ruangan. Keen segera menghampiri Laluna dan memberitahu jika Febby bersama Fabio.

Laluna perlahan masuk dan mendapati pemandangan yang mungkin Ia inginkan selama ini, dan juga tidak. Ingin sekali Laluna menarik Febby dari dekapan Fabio, namun Ia tak cukup berani melakukan hal itu. Febby memang keponakannya, namun Febby adalah anak kandung Fabio. Jika dilihat dari mana pun, Fabio lah yang berhak atas hak asuh Febby.

...****************...

Setelah 5 hari lamanya Febby terbaring di rumah sakit, akhirnya Ia bisa menghirup kembali udara segar. Dan hari ini pula, Ia harus memberikan jawaban atas permintaan Fabio untuk tinggal bersamanya. Beribu kali Febby memikirkan hal ini, dan Ia tak kunjung mendapatkan jawaban.

"Kalau kamu masih bingung, kamu boleh menginap dulu di rumah Papa kamu untuk beberapa hari, setelah itu baru kau putuskan ingin tinggal dimana." Ujar Laluna memberi saran.

"Tapi, Aunty akan sendirian." Kalimat mengharukan bagi Laluna, yang membuat dirinya semakin berat melepas Febby untuk tinggal bersama keluarganya.

"Itu konsekuensinya. Lagi pula, Aunty tak mungkin sendirian terus, kan? Aunty juga akan menikah nanti. Ya... entah kapan?"

Benar, Febby mulai berpikir jika Laluna harus segera menikah. Karena tertundanya rencana pernikahan Laluna 6 tahun yang lalu pun karena dirinya yang masih butuh sosok Laluna. Meski memang mereka akan tetap tinggal bersama, namun Laluna masih khawatir akan Febby yang belum terjamin kebahagiaannya jika Ia menikah.

"Ya sudah Aunty. Nanti aku pikirkan lagi. Aunty jangan khawatir padaku lagi ya! Kalau Aunty mau menikah, menikah saja. Sekarang aku ada Papa. Maaf ya Aunty. Gara-gara Aunty rawat aku, Aunty belum juga menikah sampai sekarang."

"Eh... kamu bicara apa? Aunty belum menikah ya karena belum waktunya. Bukan salah kamu." Ujar Laluna seraya mencubit hidung Febby.

"Aduh sakit Aunty. Ini masih linu." Rengek Febby merajuk manja.

"Siapa suruh nabrak pintu?"

"Eh ini salahnya si Qinara ya! Dia cemburu sama aku gara-gara dekat sama Keen. Padahal Keen waktu itu udah tahu kalau aku sepupunya. Si Qinara aja yang cari masalah." Sanggah Febby dengan begitu kesal.

"Nona. Mobil sudah siap. Mau saya antar langsung ke rumah, atau mau mampir ke kediaman Tuan dulu?" Dengan sopan, Sammy memperlakukan Febby seperti putri kecilnya yang dulu.

"Febby mau ke rumah Papa, Om." Jawab Febby membuat Sammy mematung seketika. Ia tak percaya jika akhirnya Febby mau menginjakkan kaki di rumah Fabio. Sementara sesaat setelah insiden kecelakaan di kamar itu, Febby bersikeras tak ingin berurusan lagi dengan Fabio.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!