Sebagai ganti kekecewaannya, Laluna memilih menghabiskan waktu di Butik miliknya. Karena sudah tak lagi bekerja di perusahaan Fabio, Laluna lebih terfokus mengelola usaha yang Ia anggap sampingan, kini sudah menjadi mata pencahariannya. Jika tidak dari butik, Ia tak tahu harus darimana mencari uang. Mungkin jika melamar kembali ke sebuah perusahaan, besar kemungkinan Ia akan diterima. Namun, mengingat ada beberapa pesanan customer yang mulai membuatnya kewalahan, Ia memutuskan untuk menjadi designer selama ekonominya baik-baik saja.
...****************...
Di samping itu, Febby termangu saat mobil yang Ia tumpangi masuk ke pekarangan sebuah rumah besar setelah pintu gerbang hitam menjulang itu di buka. Ada 3 lantai dari bangunan dominan putih dengan perpaduan warna abu silver dan gold yang memberi kesan elegan.
"I-Ini rumah Papa?" Tanya Febby memaksakan berucap meski sebenarnya Ia sangat gugup. Sammy tersenyum seraya menepikan mobil tepat di depan pintu utama yang tak kalah membuat Febby terpaku. Selanjutnya Sammy turun dan membukakan pintu untuk Febby yang kebingungan dibuatnya. Setiap akan masuk dan keluar dari mobil, Ia selalu dibukakan pintu oleh Sammy.
"Akan saya antar Nona ke ruangan Tuan." Ujar Sammy seraya mengiringi langkah Febby. Dengan refleks, Febby meraih tangan Sammy dan menggandengnya sampai di ruang keluarga. Mata Febby tak bisa diam, Ia melirik ke setiap sudut ruangan dengan interior yang begitu mewah. Ada satu pajangan yang membuatnya semakin terpaku. Febby melepaskan genggaman tangannya dari Sammy, lalu melangkah menuju sebuah bingkai foto besar yang terpampang di ruang keluarga. Perlahan Febby meraih bingkai tersebut lalu bibirnya tersenyum getir menatap potret siapa yang ada di dalamnya.
"Mama." Lirihnya tanpa sadar kini berderai air mata.
"Tuan sangat mencintai Nyonya, bahkan sampai detik ini, beliau masih memajang foto Nyonya Ralisha."
"Mama cantik ya?" Canda Febby menoleh ke arah Sammy dengan tersenyum riang seakan mengabaikan penuturan Sammy.
"Sam!" Panggil seseorang yang tak asing bagi Febby dan Sammy. Keduanya menoleh ke arah salah satu pintu yang kini ada seorang pria tengah berdiri dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Tuan. Saya membawa Nona Febby. Apakah anda--"
"Antarkan dia ke kamarnya. Aku ingin istirahat." Fabio menyela sebelum Sammy menyelesaikan penuturannya. Sammy mengangguk lalu membawa Febby menuju lantai atas untuk memperlihatkan kamar miliknya. Sepanjang langkahnya menaiki tangga, Febby tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari Fabio. Ia selalu dibuat heran oleh sikap Ayahnya yang terasa berubah-ubah. Ada kalanya Fabio seperti menginginkan kehadiran Febby, namun terkadang seperti tak ingin walau sekedar melihat wajah Febby.
Sammy membuka sebuah pintu dan mempersilahkan Febby masuk untuk menempati kamar itu. Mata Febby membulat sempurna mendapati begitu cantiknya nuansa kamar yang simple namun terlihat klasik.
"I-ini?" Karena takjub, sampai-sampai Febby terbata bertanya pada Sammy.
"Tentu saja kamar Nona." Jawab Sammy lagi-lagi tersenyum begitu ramah untuk menyenangkan hati Febby.
"Novel? Papa tahu aku suka novel?" Lagi, Febby bertanya dengan antusias. Dan Sammy hanya menanggapi tersenyum. Kali ini Ia tak membenarkan pertanyaan Febby, namun tak menampik pula karena tak mau merusak mood Febby.
"Ada lagi di sebelah sini, Nona." Ujar Sammy seraya membuka pintu balkon. Febby kembali dibuat takjub dengan pemandangan di atas balkon kamarnya, dan berbagai macam bunga menjadi hiasannya.
Di sisi lain, Fabio kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia bersandar di meja dengan meraih dadanya yang terus berdegup keras. Ia memandangi foto pernikahannya bersama Ralisha.
"Itu anak kita. Sha! Aku harus bagaimana? Melihatnya, aku seperti melihatmu. Dia cantik sepertimu, tapi wajahnya lebih mirip denganku. Aishhh dia memang anak kita. Kau memang curang Sha. Kau pergi, tapi kau meninggalkan duplikat dirimu dan aku dalan satu orang. Bagus sekali permainanmu. Bahkan Ayahku saja sampai dibuat kagum sendiri. Ia bilang dia seperti melihatku, tapi juga dirimu. Ah lupakan tentang itu. Sekarang, aku harus bagaimana? Aku gugup Sha. Aku tak pernah segugup ini bertemu dengan perempuan selain kamu Sha." Fabio terus bergumam sendiri dengan gelisah.
"Apa Febby akan bahagia tinggal bersamaku? Apa dia tidak marah? Sha! Dia tidak marah kan? Fia tidak punya dendam padaku kan? Sha! Aku takut dia membenciku. Aku takut dia tidak menerimaku. Aku tak tahu makanan favoritnya apa, aku juga tak tahu hal yang tidak disukainya. Bagaimana Sha? Aku butuh bantuanmu. Aku tak ingin lari lagi kali ini. Aku ingin menjadi rumah untuk Febby. Aku ingin menebus semua kesalahanku."
"Tuan! Apa Tuan Emran akan diberitahu?" Tanya Sammy tiba-tiba. Fabio berdecak kesal karena lamunannya buyar dan Ia terhenyak karena Sammy tak mengetuk pintu lebih dulu.
"Diberitahu apa Sam?" Lirikan tajam Fabio berhasil membuat Sammy yang bersemangat menjadi menunduk terintimidasi.
"Kalau Nona Febby ada di sini." Jawab Sammy.
"Ahhh Ayah selalu saja ingin ikut campur. Beritahu saja kalau Febby hanya menginap. Jangan beritahu apapun lagi, Sam. Dan jangan biarkan Ayah ke sini. Aku tak mau Febby minggat karena tak nyaman ada Ayah."
"Ba-baik Tuan." Segera Sammy berlalu dan Fabio kembali berkecamuk dengan pikirannya. Sekarang tambah satu masalah lagi, Ia semakin tak tahu harus menghadapi Ayahnya bagaimana.
...****************...
Malam menyapa, Laluna menghela nafas dalam saat menatap kursi yang biasa Febby duduki saat makan. Ia begitu kehilangan Febby sepenuhnya meski alasan Febby hanya untuk menginap saja.
"Belum genap 1 malam saja, Aunty sudah rindu, Feb. Bagaimana nanti kalau kamu tinggal di sana?"
Sementara itu, Febby dibuat canggung oleh situasi di depannya. Ia tak tahu harus memulai makan dari yang mana, sebab semua makanan yang tersaji terlalu banyak untuknya.
"Kenapa melamun? Makanlah!" Tegur Fabio sehingga Febby terhenyak karena terkejut.
"I-iya." Hanya begitu jawaban Febby tanpa mengatakan Ia ingin apa. Fabio mengernyit mencoba menebak apa yang Febby pikirkan.
"Apa makanannya tidak enak?" Tanya Fabio selanjutnya. Febby menoleh sejenak lalu kembali menunduk sendu.
"Oh.. bu-bukan." Lagi, tanggapan Febby tak memberikan jawaban apa yang Fabio inginkan.
"Aku tak tahu harus makan apa? Papa begitu mudah hanya mengambil sedikit saja. Ini sayang kalau tidak habis." Batin Febby menatap satu persatu makanan di depannya.
"Apa dia belum pernah makan makanan seperti ini? Kenapa terlihat bingung? Apa Laluna tak memberikan makanan layak untuk Febby?" Batin Fabio menebak apa yang mungkin di pikirkan Febby saat ini.
"Papa!" Panggil Febby memberanikan diri. Fabio menoleh dengan antusias tanpa menanggapi panggilan Febby.
"Apa ini akan habis? Kalau kita berdua yang makan, ini tak akan habis, Pa!" Protesnya heran sendiri. Fabio termangu, ternyata anaknya ini bukan tak pernah memakan masakan seperti ini, tapi lebih memikirkan tentang makanannya.
"Apa kau tak suka?"
"Aku tak suka kalau makanannya tersisa. Kalau hanya berdua, jangan memasak sebanyak ini. Apa selama ini Papa selalu membuang-buang makanan?"
"Kenapa kau banyak bicara? Apa Laluna mengajarkanmu tak sopan pada orang tua? Makanlah! Setelah itu kau tidur." Ucap Fabio dengan sedikit memberi penegasan.
"Maaf." Ujar Febby sedikit ketus namun dengan suara yang lirih.
...****************...
Febby merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Ia menatap sekeliling dengan kagum akan semua hiasan di kamarnya. Meskipun bukan Fabio, namun Ia heran mengapa konsep kamarnya seperti ini. Jika di lihat dari karakter Fabio, jelas sangatlah jauh. Ia menebak jika Ayahnya sangat suka warna hitam, kalau tidak abu-abu.
"Papa sedang apa ya? Apa seperti ini suasana rumah Papa setiap harinya? Banyak orang, tapi terasa sunyi. Kalau rumahnya saja seperti ini, apa hatinya juga seperti rumahnya? Sunyi, sepi, terasa kosong. Kalau aku coba-coba mendekatinya, bisa dibunuh juga." Gumam Febby menerka-nerka. Ia beranjak lalu keluar menuju balkon dan menatap langit malam yang penuh gemerlap bintang.
Tanpa Ia sadari, dari gazebo taman, seseorang tengah memantaunya dengan sirat senyum yang begitu manis. Kepulan asap rokok melewati tiang gazebo dan sosok itu kembali bersandar dan memejamkan matanya sejenak.
"Bahkan dia sepertimu, Sha! Suka menatap langit malam yang penuh bintang-bintang. Tapi malam ini, kau yang kami tatap diantara gemerlap bintang." Ujar Fabio ketika membuka mata dan menatap satu bintang yang bersinar lebih terang dari pada yang lainnya.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments