Bab 12. Rumah

Sebagai ganti kekecewaannya, Laluna memilih menghabiskan waktu di Butik miliknya. Karena sudah tak lagi bekerja di perusahaan Fabio, Laluna lebih terfokus mengelola usaha yang Ia anggap sampingan, kini sudah menjadi mata pencahariannya. Jika tidak dari butik, Ia tak tahu harus darimana mencari uang. Mungkin jika melamar kembali ke sebuah perusahaan, besar kemungkinan Ia akan diterima. Namun, mengingat ada beberapa pesanan customer yang mulai membuatnya kewalahan, Ia memutuskan untuk menjadi designer selama ekonominya baik-baik saja.

...****************...

Di samping itu, Febby termangu saat mobil yang Ia tumpangi masuk ke pekarangan sebuah rumah besar setelah pintu gerbang hitam menjulang itu di buka. Ada 3 lantai dari bangunan dominan putih dengan perpaduan warna abu silver dan gold yang memberi kesan elegan.

"I-Ini rumah Papa?" Tanya Febby memaksakan berucap meski sebenarnya Ia sangat gugup. Sammy tersenyum seraya menepikan mobil tepat di depan pintu utama yang tak kalah membuat Febby terpaku. Selanjutnya Sammy turun dan membukakan pintu untuk Febby yang kebingungan dibuatnya. Setiap akan masuk dan keluar dari mobil, Ia selalu dibukakan pintu oleh Sammy.

"Akan saya antar Nona ke ruangan Tuan." Ujar Sammy seraya mengiringi langkah Febby. Dengan refleks, Febby meraih tangan Sammy dan menggandengnya sampai di ruang keluarga. Mata Febby tak bisa diam, Ia melirik ke setiap sudut ruangan dengan interior yang begitu mewah. Ada satu pajangan yang membuatnya semakin terpaku. Febby melepaskan genggaman tangannya dari Sammy, lalu melangkah menuju sebuah bingkai foto besar yang terpampang di ruang keluarga. Perlahan Febby meraih bingkai tersebut lalu bibirnya tersenyum getir menatap potret siapa yang ada di dalamnya.

"Mama." Lirihnya tanpa sadar kini berderai air mata.

"Tuan sangat mencintai Nyonya, bahkan sampai detik ini, beliau masih memajang foto Nyonya Ralisha."

"Mama cantik ya?" Canda Febby menoleh ke arah Sammy dengan tersenyum riang seakan mengabaikan penuturan Sammy.

"Sam!" Panggil seseorang yang tak asing bagi Febby dan Sammy. Keduanya menoleh ke arah salah satu pintu yang kini ada seorang pria tengah berdiri dengan tatapan datar tanpa ekspresi.

"Tuan. Saya membawa Nona Febby. Apakah anda--"

"Antarkan dia ke kamarnya. Aku ingin istirahat." Fabio menyela sebelum Sammy menyelesaikan penuturannya. Sammy mengangguk lalu membawa Febby menuju lantai atas untuk memperlihatkan kamar miliknya. Sepanjang langkahnya menaiki tangga, Febby tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari Fabio. Ia selalu dibuat heran oleh sikap Ayahnya yang terasa berubah-ubah. Ada kalanya Fabio seperti menginginkan kehadiran Febby, namun terkadang seperti tak ingin walau sekedar melihat wajah Febby.

Sammy membuka sebuah pintu dan mempersilahkan Febby masuk untuk menempati kamar itu. Mata Febby membulat sempurna mendapati begitu cantiknya nuansa kamar yang simple namun terlihat klasik.

"I-ini?" Karena takjub, sampai-sampai Febby terbata bertanya pada Sammy.

"Tentu saja kamar Nona." Jawab Sammy lagi-lagi tersenyum begitu ramah untuk menyenangkan hati Febby.

"Novel? Papa tahu aku suka novel?" Lagi, Febby bertanya dengan antusias. Dan Sammy hanya menanggapi tersenyum. Kali ini Ia tak membenarkan pertanyaan Febby, namun tak menampik pula karena tak mau merusak mood Febby.

"Ada lagi di sebelah sini, Nona." Ujar Sammy seraya membuka pintu balkon. Febby kembali dibuat takjub dengan pemandangan di atas balkon kamarnya, dan berbagai macam bunga menjadi hiasannya.

Di sisi lain, Fabio kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia bersandar di meja dengan meraih dadanya yang terus berdegup keras. Ia memandangi foto pernikahannya bersama Ralisha.

"Itu anak kita. Sha! Aku harus bagaimana? Melihatnya, aku seperti melihatmu. Dia cantik sepertimu, tapi wajahnya lebih mirip denganku. Aishhh dia memang anak kita. Kau memang curang Sha. Kau pergi, tapi kau meninggalkan duplikat dirimu dan aku dalan satu orang. Bagus sekali permainanmu. Bahkan Ayahku saja sampai dibuat kagum sendiri. Ia bilang dia seperti melihatku, tapi juga dirimu. Ah lupakan tentang itu. Sekarang, aku harus bagaimana? Aku gugup Sha. Aku tak pernah segugup ini bertemu dengan perempuan selain kamu Sha." Fabio terus bergumam sendiri dengan gelisah.

"Apa Febby akan bahagia tinggal bersamaku? Apa dia tidak marah? Sha! Dia tidak marah kan? Fia tidak punya dendam padaku kan? Sha! Aku takut dia membenciku. Aku takut dia tidak menerimaku. Aku tak tahu makanan favoritnya apa, aku juga tak tahu hal yang tidak disukainya. Bagaimana Sha? Aku butuh bantuanmu. Aku tak ingin lari lagi kali ini. Aku ingin menjadi rumah untuk Febby. Aku ingin menebus semua kesalahanku."

"Tuan! Apa Tuan Emran akan diberitahu?" Tanya Sammy tiba-tiba. Fabio berdecak kesal karena lamunannya buyar dan Ia terhenyak karena Sammy tak mengetuk pintu lebih dulu.

"Diberitahu apa Sam?" Lirikan tajam Fabio berhasil membuat Sammy yang bersemangat menjadi menunduk terintimidasi.

"Kalau Nona Febby ada di sini." Jawab Sammy.

"Ahhh Ayah selalu saja ingin ikut campur. Beritahu saja kalau Febby hanya menginap. Jangan beritahu apapun lagi, Sam. Dan jangan biarkan Ayah ke sini. Aku tak mau Febby minggat karena tak nyaman ada Ayah."

"Ba-baik Tuan." Segera Sammy berlalu dan Fabio kembali berkecamuk dengan pikirannya. Sekarang tambah satu masalah lagi, Ia semakin tak tahu harus menghadapi Ayahnya bagaimana.

...****************...

Malam menyapa, Laluna menghela nafas dalam saat menatap kursi yang biasa Febby duduki saat makan. Ia begitu kehilangan Febby sepenuhnya meski alasan Febby hanya untuk menginap saja.

"Belum genap 1 malam saja, Aunty sudah rindu, Feb. Bagaimana nanti kalau kamu tinggal di sana?"

Sementara itu, Febby dibuat canggung oleh situasi di depannya. Ia tak tahu harus memulai makan dari yang mana, sebab semua makanan yang tersaji terlalu banyak untuknya.

"Kenapa melamun? Makanlah!" Tegur Fabio sehingga Febby terhenyak karena terkejut.

"I-iya." Hanya begitu jawaban Febby tanpa mengatakan Ia ingin apa. Fabio mengernyit mencoba menebak apa yang Febby pikirkan.

"Apa makanannya tidak enak?" Tanya Fabio selanjutnya. Febby menoleh sejenak lalu kembali menunduk sendu.

"Oh.. bu-bukan." Lagi, tanggapan Febby tak memberikan jawaban apa yang Fabio inginkan.

"Aku tak tahu harus makan apa? Papa begitu mudah hanya mengambil sedikit saja. Ini sayang kalau tidak habis." Batin Febby menatap satu persatu makanan di depannya.

"Apa dia belum pernah makan makanan seperti ini? Kenapa terlihat bingung? Apa Laluna tak memberikan makanan layak untuk Febby?" Batin Fabio menebak apa yang mungkin di pikirkan Febby saat ini.

"Papa!" Panggil Febby memberanikan diri. Fabio menoleh dengan antusias tanpa menanggapi panggilan Febby.

"Apa ini akan habis? Kalau kita berdua yang makan, ini tak akan habis, Pa!" Protesnya heran sendiri. Fabio termangu, ternyata anaknya ini bukan tak pernah memakan masakan seperti ini, tapi lebih memikirkan tentang makanannya.

"Apa kau tak suka?"

"Aku tak suka kalau makanannya tersisa. Kalau hanya berdua, jangan memasak sebanyak ini. Apa selama ini Papa selalu membuang-buang makanan?"

"Kenapa kau banyak bicara? Apa Laluna mengajarkanmu tak sopan pada orang tua? Makanlah! Setelah itu kau tidur." Ucap Fabio dengan sedikit memberi penegasan.

"Maaf." Ujar Febby sedikit ketus namun dengan suara yang lirih.

...****************...

Febby merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Ia menatap sekeliling dengan kagum akan semua hiasan di kamarnya. Meskipun bukan Fabio, namun Ia heran mengapa konsep kamarnya seperti ini. Jika di lihat dari karakter Fabio, jelas sangatlah jauh. Ia menebak jika Ayahnya sangat suka warna hitam, kalau tidak abu-abu.

"Papa sedang apa ya? Apa seperti ini suasana rumah Papa setiap harinya? Banyak orang, tapi terasa sunyi. Kalau rumahnya saja seperti ini, apa hatinya juga seperti rumahnya? Sunyi, sepi, terasa kosong. Kalau aku coba-coba mendekatinya, bisa dibunuh juga." Gumam Febby menerka-nerka. Ia beranjak lalu keluar menuju balkon dan menatap langit malam yang penuh gemerlap bintang.

Tanpa Ia sadari, dari gazebo taman, seseorang tengah memantaunya dengan sirat senyum yang begitu manis. Kepulan asap rokok melewati tiang gazebo dan sosok itu kembali bersandar dan memejamkan matanya sejenak.

"Bahkan dia sepertimu, Sha! Suka menatap langit malam yang penuh bintang-bintang. Tapi malam ini, kau yang kami tatap diantara gemerlap bintang." Ujar Fabio ketika membuka mata dan menatap satu bintang yang bersinar lebih terang dari pada yang lainnya.

...-bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!