Baru saja beberapa hari sekolah, akhir pekan pum kembali tiba. Febby yang berniat akan menginap di rumah Laluna, seketika rencananya buyar karena pertemuan rutin keluarga Ayahnya malam itu tak boleh di lewatkan. Febby merasa malas menghadiri sebuah pertemuan keluarga, apa lagi bertemu dengan Keen, rasanya Ia mendadak meriang.
Jam menunjukkan pukul 19:02 malam, Fabio sudah menunggu Febby di depan teras. Dengan langkah malas, Febby menyusul sang Ayah yang ternyata hanya memakai pakaian tidur. Lalu, apa gunanya Ia menggunakan pakaian formal?
"Papa!" Protes Febby menghentakkan kakinya dan berniat mengganti pakaiannya.
"Pakai itu saja." Ujar Fabio kembali menghentikan langkah Febby.
"Tapi..."
"Kau tak akan dihukum hanya karena penampilanmu." Kembali Fabio menegaskan dan meyakinkan sampai Febby akhirnya menurut dan segera memasuki mobil. Ia sudah terbiasa dengan pelayanan di rumahnya. Bahkan air untuk mandi pun Ia tak tahu kapan disiapkannya.
Singkatnya, mereka sampai di kediaman utama Arvasatya. Banyak pertanyaan muncul di benak Febby saat Ayahnya mengatakan jika rumah ini adalah rumah utama. Lantas rumah Fabio itu rumah apa?
"Sepupu!!! Sini, sini!" Febby mendelik saat mendengar suara Keen yang menyambutnya di depan pintu.
"Kakak!" Selanjutnya terdengar suara anak kecil menyusul Keen dan menggandeng tangannya. Febby termangu mendapati wajah Aracelly yang hampir mirip dengan Keen.
"Ini Ara. Adikku." Ujar Keen menyadari segala pertanyaan dari raut wajah Febby.
"Aku tahu. Wajah kalian mirip."
"Benarkah? Hemmm pasti Uncle yang bilang kan?" Kini Keen melirik ke arah Fabio yang berjalan melewati mereka begitu saja.
"Hei Ara! Main sama aku aja, yuk!" Ajakan Febby tak perlu ada penolakan. Ara langsung mengangguk dan menggandeng tangan Febby berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Saat Febby melihat Reindra, dan Riana, Febby segera menghampiri dan mencium tangan keduanya dengan sopan.
"Apa kabar keponakan Om?" Sapa Reindra mencairkan kegugupan Febby.
"Baik Om." Jawabnya masih terdengar gugup.
"Cucu kakek sudah sampai?" Febby seketika menoleh mendengar suara Emran yang baru keluar dari ruang kerjanya. Ia segera menghampiri sang Kakek dan mencium tangannya dengan sopan.
"Kakek apa kabar?" Sapa Febby mencoba mencairkan suasana hatinya.
"Baik, nak. Bagaimana denganmu? Lukamu sudah sembuh?" Tanya Emran selanjutnya. Febby mengangguk lalu menoleh ke arah Fabio yang seakan tak ingin terlibat dalam obrolan mereka.
"Fabio. Apa kau--"
"Aku baik-baik saja Ayah!" Tegas Fabio menyela sebelum Emran sepenuhnya bertanya. Ada rasa sesal dari sorot mata keduanya hingga tak ada lagi yang berbicara.
"Katanya malam ini mau bakar-bakar!" Ujar Keen mencairkan suasana yang mendadak membeku. Riana dan Reindra tak ingin ikut campur urusan Emran dan Fabio yang masih memanas akibat kejadian tempo hari. Diketahui sejak Febby dan Fabio keluar dari rumah sakit, Emran tak menjenguk mereka ke rumah Fabio. Bahkan menitipkan salam pun tidak.
"Sudah bertemu, kan? Kalau begitu aku dan Febby pamit pulang." Sontak Emran dan yang lainnya termasuk Febby pun tercengang mendengar penuturan Fabio yang merasa tiba-tiba. Baru saja sampai, kenapa pulang? Mungkin pertanyaan tersebut yang muncul di benak Febby.
Fabio beranjak dari duduknya, lalu merangkul paksa pundak Febby dan mengajaknya segera pergi dari sana. Meski masih kebingungan, Febby hanya bisa menurut dan berpamitan dengan masih dalam rangkulan Fabio.
Terlihat Keen ingin menahan Fabio, namun mendapati sikap orang tua dan kakeknya yang acuh, niatnya urung begitu saja. Gagal lagi kebersamaannya dengan Febby. Baru saja Ia merasakan bahagia karena mempunyai sepupu yang seumuran, dan teman berbagi cerita yang mungkin lebih menarik dari siapapun.
"Papa. Kenapa tiba-tiba pulang?" Protes Febby setelah Ia masuk ke dalam mobil.
"Kau berharap apa?"
'Deg!'
Febby terdiam seketika. Ia membisu tak bisa menjawab pertanyaan Ayahnya yang terasa menusuk. Benar, Ia berharap apa? Ia hanya seorang anak yang baru di pertemukan dengan keluarga besarnya, dan mungkin berharap dekat dengan semua anggota keluarga. Tanpa terasa, bulir bening jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Cepat-cepat Febby memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela. Ia tak mau jika Fabio tahu jika dirinya menangis.
"Rumah utama tak seindah bayanganmu." Ujar Fabio menyadari kesedihan putrinya. Ia tahu jika Febby teringin lebih dekat dengan keluarga Reindra. Apa lagi dengan Ara, meskipun masih kecil, namun Febby dan Ara sama-sama anak perempuan.
...****************...
"Tuan. Saya rasa, lebih bahaya jika identitas Nona Febby diketahui semua orang. Bukan maksud saya harus terus menyembunyikan, tapi saya lebih setuju jika nama Nona hanya menggunakan Inisial saja. Kita tak akan tahu bahaya apa yang mengintai Nona jika tahu dia keturunan dari keluarga Arvasatya. Bukankah Tuan Keen juga hanya menggunakan inisial saja di internet? Jika hanya teman-teman di sekolahnya saja, memang tak akan bahaya. Bagaimana pun, Nona Febby berbeda dengan Tuan Keen. Nona Febby tak bisa bela diri seperti Tuan Keen." Papar Sammy pada akhirnya. Setelah menimbang keputusan, Sammy memilih untuk tetap menyembunyikan identitas Nona kecilnya.
"Lalu, caranya mereka tahu Febby putriku, bagaimana Sam?" Meski suaranya tenang, namun ada sedikit tekanan sehingga Sammy sedikit menunduk tak berani menatap wajah Fabio.
"Saat acara ulang tahun perusahaan digelar, anda boleh mengatakan anda memiliki anak perempuan, tapi saya mohon, jangan tunjukkan siapa Nona Febby pada semua orang."
"Kenapa kau bersikeras menyembunyikannya Sam? Itu hak ku mengumumkan siapa aku dan siapa Febby."
"Saya tidak berani menentang Tuan, tapi entah kenapa saya merasa tidak tenang jika Nona Febby dikenal sebagai Putri anda. 16 tahun ini Nona Febby baik-baik saja karena tidak ada yang tahu siapa orang tuanya, dan Tuan menutup identitas Tuan dari media mana pun. Jika ada yang menyadari, tak ada jaminan Nona aman dari orang-orang yang mungkin kalah dalam dunia bisnis. Hal itu sering terjadi. Di tahun 2013 lalu, Nona Qinara dari keluarga Sanjaya pun sempat menjadi korban penculikan oknum yang kalah dalam hal bisnis dengan Tuan Sanjaya. Nona Ghea meninggal dalam kecelakaan saat menjadi korban penculikan 2 tahun silam. Akibatnya keluarga Pahlevi pindah ke luar kota untuk menghindari masalah yang sama kepada adik Nona Ghea." Jelas Sammy lagi. Fabio sejenak berpikir, Ia mendadak risau dengan keselamatan Febby. 3 hari sudah Febby tak menegurnya. Bahkan saat makan pun, Febby seperti tak bersemangat.
"Sejauh ini tak ada yang tahu kalau Febby putriku, kan?" Tanya Fabio memastikan. Dan Sammy menggeleng meyakinkan jika identitas Febby masih aman.
"Sepertinya tak ada yang tahu kalau Tuan memiliki seorang anak. Semua orang tahu kalau anak Tuan sudah meninggal 16 tahun yang lalu." Tutur Sammy kemudian. Fabio mendadak sendu mengingat dirinya begitu egois dan tega pada Febby yang jelas lebih membutuhkan dirinya dari pada Laluna.
"Lalu, bagaimana kabar Laluna? Sudah 1 minggu ini dia tidak menemui Febby."
"Laluna baik-baik saja Tuan. Dia saat ini tengah sibuk dengan butiknya."
"Butik?" Fabio mengernyitkan dahinya penasaran dengan tempat baru Laluna.
"Tuan ingin menemui Laluna?" Fabio seketika menoleh mendapati tawaran Sammy dan Ia mengangguk ragu.
"Apa Ayah dan Kak Reindra tidak berpikir macam-macam pada Laluna, kan?"
"Untuk masalah itu, saya kurang tahu Tuan. Tapi melihat situasinya, sepertinya mereka tak ada macam-macam pada Laluna."
"Baguslah. Awasi Laluna Sam! Jangan sampai mereka menyentuh Laluna sedikitpun." Titah Fabio terdengar serius. Baginya Laluna adalah tanggung jawab dan harus menjaganya. Selain karena Laluna adik iparnya, Laluna juga sudah berjasa merawat Febby selama 16 tahun ini.
...****************...
"Tuan. Laluna sudah jauh dari pengawasan Tuan Fabio." Ujar Seth seraya menyerahkan beberapa dokumen ke hadapan Reindra.
"Jangan gegabah Seth. Aku tahu Sammy orangnya seperti apa. Tunggu mereka lengah saja. Dan saat mereka tak lagi menyadari kehadiran wanita itu, lenyapkan dia dan pastikan Febby tak menyadari Aunty kesayangannya hilang." Sorot mata tajam nan menusuk itu tak luput menyimpan sebuah misteri akan perangainya. Reindra sang Presdir Arvasatya 2, dikenal ramah dan baik hati, namun Ia tak akan segan melenyapkan seseorang yang menurutnya menjadi pengganggu. Siapapun itu.
...-bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
niktut ugis
Fabio loe tuch hutang nyawa sama Laluna... kekuasaan & harta loe tdk akan bisa membayar pengorbanan laluna
2025-01-11
0