Bab 14. Rumah Utama Arvasatya

Baru saja beberapa hari sekolah, akhir pekan pum kembali tiba. Febby yang berniat akan menginap di rumah Laluna, seketika rencananya buyar karena pertemuan rutin keluarga Ayahnya malam itu tak boleh di lewatkan. Febby merasa malas menghadiri sebuah pertemuan keluarga, apa lagi bertemu dengan Keen, rasanya Ia mendadak meriang.

Jam menunjukkan pukul 19:02 malam, Fabio sudah menunggu Febby di depan teras. Dengan langkah malas, Febby menyusul sang Ayah yang ternyata hanya memakai pakaian tidur. Lalu, apa gunanya Ia menggunakan pakaian formal?

"Papa!" Protes Febby menghentakkan kakinya dan berniat mengganti pakaiannya.

"Pakai itu saja." Ujar Fabio kembali menghentikan langkah Febby.

"Tapi..."

"Kau tak akan dihukum hanya karena penampilanmu." Kembali Fabio menegaskan dan meyakinkan sampai Febby akhirnya menurut dan segera memasuki mobil. Ia sudah terbiasa dengan pelayanan di rumahnya. Bahkan air untuk mandi pun Ia tak tahu kapan disiapkannya.

Singkatnya, mereka sampai di kediaman utama Arvasatya. Banyak pertanyaan muncul di benak Febby saat Ayahnya mengatakan jika rumah ini adalah rumah utama. Lantas rumah Fabio itu rumah apa?

"Sepupu!!! Sini, sini!" Febby mendelik saat mendengar suara Keen yang menyambutnya di depan pintu.

"Kakak!" Selanjutnya terdengar suara anak kecil menyusul Keen dan menggandeng tangannya. Febby termangu mendapati wajah Aracelly yang hampir mirip dengan Keen.

"Ini Ara. Adikku." Ujar Keen menyadari segala pertanyaan dari raut wajah Febby.

"Aku tahu. Wajah kalian mirip."

"Benarkah? Hemmm pasti Uncle yang bilang kan?" Kini Keen melirik ke arah Fabio yang berjalan melewati mereka begitu saja.

"Hei Ara! Main sama aku aja, yuk!" Ajakan Febby tak perlu ada penolakan. Ara langsung mengangguk dan menggandeng tangan Febby berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Saat Febby melihat Reindra, dan Riana, Febby segera menghampiri dan mencium tangan keduanya dengan sopan.

"Apa kabar keponakan Om?" Sapa Reindra mencairkan kegugupan Febby.

"Baik Om." Jawabnya masih terdengar gugup.

"Cucu kakek sudah sampai?" Febby seketika menoleh mendengar suara Emran yang baru keluar dari ruang kerjanya. Ia segera menghampiri sang Kakek dan mencium tangannya dengan sopan.

"Kakek apa kabar?" Sapa Febby mencoba mencairkan suasana hatinya.

"Baik, nak. Bagaimana denganmu? Lukamu sudah sembuh?" Tanya Emran selanjutnya. Febby mengangguk lalu menoleh ke arah Fabio yang seakan tak ingin terlibat dalam obrolan mereka.

"Fabio. Apa kau--"

"Aku baik-baik saja Ayah!" Tegas Fabio menyela sebelum Emran sepenuhnya bertanya. Ada rasa sesal dari sorot mata keduanya hingga tak ada lagi yang berbicara.

"Katanya malam ini mau bakar-bakar!" Ujar Keen mencairkan suasana yang mendadak membeku. Riana dan Reindra tak ingin ikut campur urusan Emran dan Fabio yang masih memanas akibat kejadian tempo hari. Diketahui sejak Febby dan Fabio keluar dari rumah sakit, Emran tak menjenguk mereka ke rumah Fabio. Bahkan menitipkan salam pun tidak.

"Sudah bertemu, kan? Kalau begitu aku dan Febby pamit pulang." Sontak Emran dan yang lainnya termasuk Febby pun tercengang mendengar penuturan Fabio yang merasa tiba-tiba. Baru saja sampai, kenapa pulang? Mungkin pertanyaan tersebut yang muncul di benak Febby.

Fabio beranjak dari duduknya, lalu merangkul paksa pundak Febby dan mengajaknya segera pergi dari sana. Meski masih kebingungan, Febby hanya bisa menurut dan berpamitan dengan masih dalam rangkulan Fabio.

Terlihat Keen ingin menahan Fabio, namun mendapati sikap orang tua dan kakeknya yang acuh, niatnya urung begitu saja. Gagal lagi kebersamaannya dengan Febby. Baru saja Ia merasakan bahagia karena mempunyai sepupu yang seumuran, dan teman berbagi cerita yang mungkin lebih menarik dari siapapun.

"Papa. Kenapa tiba-tiba pulang?" Protes Febby setelah Ia masuk ke dalam mobil.

"Kau berharap apa?"

'Deg!'

Febby terdiam seketika. Ia membisu tak bisa menjawab pertanyaan Ayahnya yang terasa menusuk. Benar, Ia berharap apa? Ia hanya seorang anak yang baru di pertemukan dengan keluarga besarnya, dan mungkin berharap dekat dengan semua anggota keluarga. Tanpa terasa, bulir bening jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Cepat-cepat Febby memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela. Ia tak mau jika Fabio tahu jika dirinya menangis.

"Rumah utama tak seindah bayanganmu." Ujar Fabio menyadari kesedihan putrinya. Ia tahu jika Febby teringin lebih dekat dengan keluarga Reindra. Apa lagi dengan Ara, meskipun masih kecil, namun Febby dan Ara sama-sama anak perempuan.

...****************...

"Tuan. Saya rasa, lebih bahaya jika identitas Nona Febby diketahui semua orang. Bukan maksud saya harus terus menyembunyikan, tapi saya lebih setuju jika nama Nona hanya menggunakan Inisial saja. Kita tak akan tahu bahaya apa yang mengintai Nona jika tahu dia keturunan dari keluarga Arvasatya. Bukankah Tuan Keen juga hanya menggunakan inisial saja di internet? Jika hanya teman-teman di sekolahnya saja, memang tak akan bahaya. Bagaimana pun, Nona Febby berbeda dengan Tuan Keen. Nona Febby tak bisa bela diri seperti Tuan Keen." Papar Sammy pada akhirnya. Setelah menimbang keputusan, Sammy memilih untuk tetap menyembunyikan identitas Nona kecilnya.

"Lalu, caranya mereka tahu Febby putriku, bagaimana Sam?" Meski suaranya tenang, namun ada sedikit tekanan sehingga Sammy sedikit menunduk tak berani menatap wajah Fabio.

"Saat acara ulang tahun perusahaan digelar, anda boleh mengatakan anda memiliki anak perempuan, tapi saya mohon, jangan tunjukkan siapa Nona Febby pada semua orang."

"Kenapa kau bersikeras menyembunyikannya Sam? Itu hak ku mengumumkan siapa aku dan siapa Febby."

"Saya tidak berani menentang Tuan, tapi entah kenapa saya merasa tidak tenang jika Nona Febby dikenal sebagai Putri anda. 16 tahun ini Nona Febby baik-baik saja karena tidak ada yang tahu siapa orang tuanya, dan Tuan menutup identitas Tuan dari media mana pun. Jika ada yang menyadari, tak ada jaminan Nona aman dari orang-orang yang mungkin kalah dalam dunia bisnis. Hal itu sering terjadi. Di tahun 2013 lalu, Nona Qinara dari keluarga Sanjaya pun sempat menjadi korban penculikan oknum yang kalah dalam hal bisnis dengan Tuan Sanjaya. Nona Ghea meninggal dalam kecelakaan saat menjadi korban penculikan 2 tahun silam. Akibatnya keluarga Pahlevi pindah ke luar kota untuk menghindari masalah yang sama kepada adik Nona Ghea." Jelas Sammy lagi. Fabio sejenak berpikir, Ia mendadak risau dengan keselamatan Febby. 3 hari sudah Febby tak menegurnya. Bahkan saat makan pun, Febby seperti tak bersemangat.

"Sejauh ini tak ada yang tahu kalau Febby putriku, kan?" Tanya Fabio memastikan. Dan Sammy menggeleng meyakinkan jika identitas Febby masih aman.

"Sepertinya tak ada yang tahu kalau Tuan memiliki seorang anak. Semua orang tahu kalau anak Tuan sudah meninggal 16 tahun yang lalu." Tutur Sammy kemudian. Fabio mendadak sendu mengingat dirinya begitu egois dan tega pada Febby yang jelas lebih membutuhkan dirinya dari pada Laluna.

"Lalu, bagaimana kabar Laluna? Sudah 1 minggu ini dia tidak menemui Febby."

"Laluna baik-baik saja Tuan. Dia saat ini tengah sibuk dengan butiknya."

"Butik?" Fabio mengernyitkan dahinya penasaran dengan tempat baru Laluna.

"Tuan ingin menemui Laluna?" Fabio seketika menoleh mendapati tawaran Sammy dan Ia mengangguk ragu.

"Apa Ayah dan Kak Reindra tidak berpikir macam-macam pada Laluna, kan?"

"Untuk masalah itu, saya kurang tahu Tuan. Tapi melihat situasinya, sepertinya mereka tak ada macam-macam pada Laluna."

"Baguslah. Awasi Laluna Sam! Jangan sampai mereka menyentuh Laluna sedikitpun." Titah Fabio terdengar serius. Baginya Laluna adalah tanggung jawab dan harus menjaganya. Selain karena Laluna adik iparnya, Laluna juga sudah berjasa merawat Febby selama 16 tahun ini.

...****************...

"Tuan. Laluna sudah jauh dari pengawasan Tuan Fabio." Ujar Seth seraya menyerahkan beberapa dokumen ke hadapan Reindra.

"Jangan gegabah Seth. Aku tahu Sammy orangnya seperti apa. Tunggu mereka lengah saja. Dan saat mereka tak lagi menyadari kehadiran wanita itu, lenyapkan dia dan pastikan Febby tak menyadari Aunty kesayangannya hilang." Sorot mata tajam nan menusuk itu tak luput menyimpan sebuah misteri akan perangainya. Reindra sang Presdir Arvasatya 2, dikenal ramah dan baik hati, namun Ia tak akan segan melenyapkan seseorang yang menurutnya menjadi pengganggu. Siapapun itu.

...-bersambung...

Terpopuler

Comments

niktut ugis

niktut ugis

Fabio loe tuch hutang nyawa sama Laluna... kekuasaan & harta loe tdk akan bisa membayar pengorbanan laluna

2025-01-11

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 1. Kembali setelah pelarian
3 Bab 2. Sesuatu yang hilang
4 Bab 3. Penyesalan
5 Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6 Bab 5. Ikatan keluarga
7 Bab 6. Permintaan
8 Bab 7. Nama yang sama
9 Bab 8. Cemburu
10 Bab 9. Temu
11 Bab 10. Pertemuan tak terduga
12 Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13 Bab 12. Rumah
14 Bab 13. Rumah (PART 2)
15 Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16 Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17 Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18 Bab 17. Kekasih masa lalu
19 Bab 18. Sisi Lain
20 Bab 19. Bukan tak peduli
21 Bab 20. Rahasia Rega
22 Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23 Bab 22. Putus karena restu
24 Bab 23. Waktu bersama
25 Bab 24. Dinner
26 Bab 25. Batal Dinner
27 Bab 26. Murid pindahan
28 Bab 27. Bukan orang yang sama
29 Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30 Bab 29. Liburan
31 Bab 30. Liburan (PART 2)
32 Bab 31. Kembali pulang
33 Bab 32. Tamu tak diundang
34 Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35 Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36 Bab 35. Pelarian
37 Bab 36. Kepedulian Keen
38 Bab 37. Laluna dan Dirga
39 Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40 Bab 39. Lagu untuk Febby
41 Bab 40. Restu Fabio
42 Bab 41. Rundingan
43 Bab 42. Kedatangan Emran
44 Bab 43. Satu sekolah
45 Bab 44. Double date tak disengaja
46 Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47 Bab 46. Acara peresmian
48 Episode 47. Jebakan?
49 Bab 48. Gertakan Sammy
50 Bab 49. Permintaan Seth.
51 Bab 50. Cinta tak terbalas.
52 Bab 51. Pengakuan Febby
53 Bab 52. Diambang kematian
54 Bab 53. "Tolong!"
55 Bab 54. Kesalahan fatal
56 Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57 Bab 56. Kebencian Keen.
58 Bab 57. Penyakit Rega.
59 Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60 Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61 Bab 60. Pemakaman
62 Bab 61. Kenangan
63 Bab 62. Kecurigaan Laluna
64 Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65 Bab 64. Tragedi
66 Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67 Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68 Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69 Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70 Bab 69. Kemarahan Sammy
71 Bab 70. Pasien kritis
72 Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73 Bab 72. Keinginan Febby.
74 Bab 73. Usaha Dirga
75 Bab 74. Pembuktian
76 Bab 75. Ikatan benang merah.
77 Bab 76. Acara perpisahan Febby
78 Bab 77. Bukan salah orang
79 Bab 78. Fabio dan Danish
80 Bab 79. Pergi dari rumah.
81 Bab 80. Pertemuan haru
82 Bab 81. Kabar tak terduga
83 Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84 Bab 83. Terungkap
85 Bab 84. Terkepung
86 Bab 85. Ceroboh
87 Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88 Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89 Bab 88. Tawaran
90 Bab 89. Dua wanita berharga
91 Bab 90. Licik
92 Bab 91. Tiga pasien kritis
93 Bab 92. Jantung hati.
94 Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95 Bab 94. Yang terkasih
96 Bab 95. Duka mendalam
97 Bab 96. Nisan yang bertuan
98 Bab 97. Kembali memulai hidup
99 Bab 98. Meninggalkan kenangan
100 Bab 99. Pindah
101 Bab 100. Episode terakhir
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1. Kembali setelah pelarian
3
Bab 2. Sesuatu yang hilang
4
Bab 3. Penyesalan
5
Bab 4. Pemilik nama Arvasatya
6
Bab 5. Ikatan keluarga
7
Bab 6. Permintaan
8
Bab 7. Nama yang sama
9
Bab 8. Cemburu
10
Bab 9. Temu
11
Bab 10. Pertemuan tak terduga
12
Bab 11. Keputusan, dan ucapan istimewa.
13
Bab 12. Rumah
14
Bab 13. Rumah (PART 2)
15
Bab 14. Rumah Utama Arvasatya
16
Bab 15. Kesepakatan dengan Rasya
17
Bab 16. Hadiah untuk Laluna
18
Bab 17. Kekasih masa lalu
19
Bab 18. Sisi Lain
20
Bab 19. Bukan tak peduli
21
Bab 20. Rahasia Rega
22
Bab 21. Berlindung di balik kata baik-baik saja.
23
Bab 22. Putus karena restu
24
Bab 23. Waktu bersama
25
Bab 24. Dinner
26
Bab 25. Batal Dinner
27
Bab 26. Murid pindahan
28
Bab 27. Bukan orang yang sama
29
Bab 28. Malam minggu bersama Papa
30
Bab 29. Liburan
31
Bab 30. Liburan (PART 2)
32
Bab 31. Kembali pulang
33
Bab 32. Tamu tak diundang
34
Bab 33. Haruskah lari dari kenyataan?
35
Bab 34. Masa lalu yang tak bisa diubah
36
Bab 35. Pelarian
37
Bab 36. Kepedulian Keen
38
Bab 37. Laluna dan Dirga
39
Bab 38. Dua Wanita Keras Kepala
40
Bab 39. Lagu untuk Febby
41
Bab 40. Restu Fabio
42
Bab 41. Rundingan
43
Bab 42. Kedatangan Emran
44
Bab 43. Satu sekolah
45
Bab 44. Double date tak disengaja
46
Bab 45. Lampu hijau dari Fabio
47
Bab 46. Acara peresmian
48
Episode 47. Jebakan?
49
Bab 48. Gertakan Sammy
50
Bab 49. Permintaan Seth.
51
Bab 50. Cinta tak terbalas.
52
Bab 51. Pengakuan Febby
53
Bab 52. Diambang kematian
54
Bab 53. "Tolong!"
55
Bab 54. Kesalahan fatal
56
Bab 55. Ketidakberdayaan Qinara.
57
Bab 56. Kebencian Keen.
58
Bab 57. Penyakit Rega.
59
Bab 58. Cinta pertama dan terakhir.
60
Bab 59. Pelukan pertama dan terakhir
61
Bab 60. Pemakaman
62
Bab 61. Kenangan
63
Bab 62. Kecurigaan Laluna
64
Bab 63. Wajah dibalik topeng.
65
Bab 64. Tragedi
66
Bab 65. Kuburan tanpa jasad dan Penyesalan Seth
67
Bab 66. Titip rindu pada rembulan
68
Bab 67. Kegundahan Revian, dan siapa pelakunya?
69
Bab 68. Siapa Putri Fabio?
70
Bab 69. Kemarahan Sammy
71
Bab 70. Pasien kritis
72
Bab 71. Kecemasan Miranda, dan kesadaran Laluna
73
Bab 72. Keinginan Febby.
74
Bab 73. Usaha Dirga
75
Bab 74. Pembuktian
76
Bab 75. Ikatan benang merah.
77
Bab 76. Acara perpisahan Febby
78
Bab 77. Bukan salah orang
79
Bab 78. Fabio dan Danish
80
Bab 79. Pergi dari rumah.
81
Bab 80. Pertemuan haru
82
Bab 81. Kabar tak terduga
83
Bab 82. Kabar tak terduga (part 2)
84
Bab 83. Terungkap
85
Bab 84. Terkepung
86
Bab 85. Ceroboh
87
Bab 86. Masa lalu bukan pemenangnya.
88
Bab 87. Separuh hati, belahan jiwa
89
Bab 88. Tawaran
90
Bab 89. Dua wanita berharga
91
Bab 90. Licik
92
Bab 91. Tiga pasien kritis
93
Bab 92. Jantung hati.
94
Bab 93. Seribu kasih untuk Febby
95
Bab 94. Yang terkasih
96
Bab 95. Duka mendalam
97
Bab 96. Nisan yang bertuan
98
Bab 97. Kembali memulai hidup
99
Bab 98. Meninggalkan kenangan
100
Bab 99. Pindah
101
Bab 100. Episode terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!