Dicintai Duda Impoten

Dicintai Duda Impoten

DDI 01: Hanya Ingin Cerai

" Ummi, Ran berangkat dulu ya. Lho, Abi mana Ummi. Tumbenan kok belum kelihatan."

Kieran pagi itu harus menuju kantornya lebih pagi dari biasanya karena katanya ada klien yang harus ditemui dan minta Kieran menangani kasusnya secara langsung.

Ya, Ran setelah lulus dari mengejar pendidikan dan mendapat gelar Master Hukum di strata dua nya mendirikan sebuah kantor jasa hukum yang ia namai Abinawa & Co. Di sana ia juga menangani segala hal yang berkaitan dengan perusahaan milik sang ayah yakni ADIS yang sudah didirikan lama oleh seorang Kai Bhumi Abinawa.

" Abi udah berangkat dari tadi. Hari ini ada rapat pagi juga. Kamu kok tumbenan udah jalan juga, biasanya agak entaran," jawab Kirana.

" Aah gitu to, pantesan. Iya, Ran ada janji temu sama klien. Kliennya minta ketemu lebih pagi. Ya udah Mi, Ran jalan dulu ya. Kembar berarti juga udah berangkat ke sekolah bareng Abi ya?"

Kirana mengangguk sambil tersenyum ke arah putri satu-satunya nya. Kirana memiliki 4 orang anak yang dilahirkan secara dua kali saja. Kelahiran pertama kembar laki-laki dan perempuan. Mereka adalah Kieran dan Kaivan. Dan kelahiran kedua berjarak 17 tahun, mereka dinamai Kemal dan Kamil. Jadi sekarang adik dari Kieran baru berusia 10 tahun. Sedangkan Kaivan saat ini berada di kota Malang mengelola cabang ADIS yang berada di sana.

Kieran yang lebih sering dipanggil Ran itu segera menuju ke mobil setelah berpamitan kepada sang ibu. Ia harus cepat. Janji ketemu klien kali ini dimulai jam 07.30. Padahal kantor pengacara yang ia buat itu biasanya buka pukul 08.00. Namun klien memohon untuk bertemu lebih awal karena pukul 09.00 nanti dia harus bekerja yang mana pekerjaan itu tidak dapat ditinggalkan.

" Eiissh, sebenarnya siapa sih kliennya. Ini tumbenan banget minta ketemu lebih awal. Kan aku jadi buru-buru gini. Haaah," gerutu Kieran sepanjang jalan menuju kantor.

Beruntung pagi ini jalanan lumayan lenggang, jadi ia pun bisa sampai kantornya lebih awal dari jam janjian dengan klien. Ran langsung memarkirkan mobilnya depan kantor. Saat hendak turun, ia melihat seorang yang berdiri disamping mobil, sekilas dari postur tubuhnya Ran seperti kenal dengan orang itu. Tapi dia menepis dugaannya dan segera untuk turun.

" Selamat pagi, apakah Anda yang sudah membuat janji temu dengan kantor Abinawa & Co."

Sreeet

Pria itu membalikkan tubuhnya, dan tersenyum lebar ke arah Ran. Seketika itu juga Ran membuka mulutnya lebar-lebar. Rupanya dugaannya tidak salah, pria itu adalah pria yang sangat ia kenal. Kenal baik malah.

" P-pak Raga? Anda Pak Raga kan? Bapak ngapain di sini? Tunggu, apa bapak yang mau cerai itu?"

" Hello Kieran, lama tidak ada kabar ya? Bagaimana kabarmu?"

" Halah Pak, serius napa pak. Bapak bercanda kan. Bukannya Pak Raga belum lama nikah ya. Aaah udah saya speechless, mari masuk dulu."

Raga hanya tersenyum simpul mendengar cara bicara Ran yang tidak berubah dari masa sekolah dulu. Ia pun mengikuti Ran yang membawanya masuk ke dalam kantor. Ran mempersilakan Raga untuk duduk dan mengambilkan secangkir teh. Setelah itu Ran juga ikut duduk, tapi ia masih belum bicara apapun. Dia terlebih dulu mengamati wajah pria yang tidak lain adalah mantan gurunya dulu di SMA.

" Jangan melihat saya begitu Ran? Muka saya kelihatan tua kah?" ucap Raga sambil meminum teh yang disajikan.

" Eish, Pak Raga nggak ada kelihatan tua-tuanya. Saya muridnya bapak sudah kelihatan menua tapi Pak Raga nggak tuh. Ini masih jadi misteri. Kenapa wajah guru-guru tuh kayaknya nggak nambah tua gitu. Dan wajah murid lah yang boros. Aah lupakan itu Pak, jadi serius Bapak mau cerai. Sekarang coba ceritakan permasalahannya."

Raga mengambil sepucuk surat dan memberikannya kepada Ran. Dari kop suratnya Ran tentu tahu bahwa itu adalah surat gugatan yang dikeluarkan oleh pengadilan agama. Dengan hati-hati ia mengeluarkan isi surat dan membacanya secara seksama.

Mata Ran membulat sempurna saat membaca inti dari surat itu. Sebuah alasan dimana istri dari Raga meminta cerai. Ia lalu melihat ke arah Raga. Pria itu terlihat tenang dan tidak menampilkan ekspresi apapun.

Masih sama seperti dulu, Araga Yusuf Satria tidak pernah bisa ditebak dari raut wajahnya. Dia merupakan seorang guru yang terkenal dikalangan para murid karena memiliki wajah yang tampan. Tinggi tubuhnya sekitar 180cm, memiliki rambut lurus, mata berwarna coklat, hidung mancung, dan kulit yang putih. Sungguh perpaduan yang bagus. Bahkan para murid wanita dulu merasa bahwa Raga lebih cocok menjadi seorang artis dari pada menjadi guru.

" Pak, ini serius digugat karena ini? Maaf kalau Ran kurang sopan. Bapak serius impoten aah maksud Ran adalah bapak mengalami disfungsi ereksi?"

" Dia bilang begitu, ya anggap saja begitu."

Ran amat sangat terkejut mendengar jawaban Raga yang begitu datar. Pria itu sepertinya terlihat acuh dengan gugatan sang istri yang ingin meminta pisah.

" Pak, Ran tanya ya. Apakah Pak Raga serius mau bercerai? Apa bapak tidak ingin menyangkal ini? Sekarang juga kita ke dokter dan memastikan kesehatan alat reproduksi Bapak. Kita bisa melawan ini di pengadilan nanti."

Entahlah, saat ini Ran merasa sedikit kesal dengan situasi ini. Raga terlihat sangat santai dan pasrah digugat oleh istrinya. Dianggap sebagai pria yang impoten, sepertinya ia pun juga tidak keberatan. Ran jadi merasa curiga, sebenarnya permasalahan apa yang ada pada rumah tangga Raga dan istrinya yang baru terjalin 6 bulan itu.

Ran tentu tidak lupa bagaimana dia dan teman-temannya dulu menghadiri pernikahan Raga. Terlihat sekali pasangan itu saling mencintai. Meskipun dari rumor yang beredar mereka belum lah berpacaran lama, tapi keputusan menikah langsung dibuat oleh mereka.

Sebagai murid yang pernah diajar oleh Raga, Ran tentu senang melihat guru yang dikenal baik dan tidak neko-neko itu menikah dengan wanita yang dicintainya. Setidaknya itu yang Ran dan teman-temannya lihat saat itu.

" Apa Pak Raga memang mencari saya untuk menangani kasus Bapak?"

" Ya, saya mencari kamu. Punya murid seorang pengacara hebat tentu saya ingin kamu membantu saya untuk berpisah dengan dia. Bagaimana, apa kamu bisa membantu saya Ran?"

Degh!

Ran melihat sorot mata yang berbeda dari tadi. Ia seperti melihat ada sebuah kesedihan yang dipendam. Ran beranggapan bahwa pria yang ada di depannya itu sepertinya masih mencintai istrinya. Tapi agaknya si istri tetap menginginkan untuk pisah.

Ran menjadi iba dengan mantan gurunya itu. Ia sudah menangani beberapa kasus perceraian dan dia bisa melihat bahwa terkadang ada beberapa pihak yang tidak ingin berpisah namun harus melakukan itu. Dan yang Ran lihat dari Raga juga sejenis itu.

" Baik, saya akan bantu Bapak. Saya akan membantu Bapak untuk membuktikan bahwa Bapak tidak seperti yang dikatakan."

" Ran, saya hanya ingin ini cepat selesai. Jadi bisakah kita melewati tahap mediasi dan langsung pada putusan pisah?"

" Ya?"

TBC

Terpopuler

Comments

Sapnah

Sapnah

semangat Kak,aku tunggu end saja, karena tidak rajin baca kalau update tiap hari, sayang bila nabung bab sampai banyak, gaskeun sampai 100 bab lebih end,gpp 2-3jam cukup bacanya.

2024-06-16

1

Murwati Murwati

Murwati Murwati

Pastilah ada sesuatu yang membuat pak Arga tidak mau mediasi...agar cepat putusan cerainya....
Lanjut.....jangan lama" up nya.../Smile/

2024-06-16

0

Mamayati Yati

Mamayati Yati

baru musang nih cerita anaknya kai. seru. dpt notif langsung di liat

2024-06-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!