DDI 19: Ada Yang Panas

Setelah peristiwa di restoran itu, Ran merasa sangat malu jika Raga mengajak bertemu. Namun komunikasi mereka menjadi intens. Walaupun jarang menelpon tapi keduanya begitu sering berkirim pesan. Ran yang jarang sekali memainkan ponselnya jadi sering melihat ke arah ponsel, sama halnya dengan Raga. Sampai-sampai, Tito pun merasa heran dengan temannya itu.

" Roman-romannya lagi puber kedua nih, dari maren ku lihatin kau tak lepas dari tuh hape?"

" Hahaha apaan sih To. Biasa aja kali," elak Raga. Dia hanya tertawa terbahak ketika temannya itu berbicara seperti itu kepadanya. Raga lalu meletakkan ponselnya dan kembali melihat beberapa kertas koreksian ulangan anak-anak muridnya.

Tito hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Raga yang menurutnya persis seperti anak ABG yang sedang kasmaran. Bisa Tito lihat dari wajah Raga yang berseri ketika mendapat sebuah pesan. Secara tidak langsung Tito jadi penasaran dengan siapa temannya itu bertukar pesan. Tapi untuk saat ini Tito tidak akan bertanya, melihat Raga yang begitu senang dan bersemangat, ia ingin membiarkan ini dulu. Hanya saja Tito sedikit khawatir jika Raga kembali kecewa seperti kemarin saat bersama Rena.

Akan tetapi, Tito merasa ada yang berbeda dari Raga saat ini. Dulu saat bersama Rena, dia tidak seperti sekarang. Jika ada pesan, dia tidak langsung melihat dan membalasnya. Atau terkadang hanya sekedar dilihat dan akan membalasnya nanti. Tapi sat ini tidak, ketika ponselnya berbunyi, Raga dengan sigap langsung membalasnya plus dengan senyuman yang lebar.

" Haah, begini to yang namanya kasmaran. Teman pun lupa," gerutu Tito.

Plak

Lengan Tito mendapat sebuah keplakan kuat dari Raga, dan dia hanya bisa nyengir sambi memperlihatkan giginya.

" Diem, gue sleding juga nih bocah dari tadi ngedumel mulu," ucap Raga dengan tatapan yang tajam ke arah Tito. Tito hanya tertawa cekikikan melihat Raga yang terlihat sangat kesal itu. Tapi sungguh Tito bahagia melihat sang teman yang seperti memiliki semangat hidup.

Drtzzz

Ponsel Raga kembali berdering. Pria itu tersenyum cerah namun saat melihat ponselnya senyuman itu hilang dan berubah menjadi sebuah seringai. Bukan hanya itu. Wajah Raga pun berkerut, jelas sekali dia sangat kesal.

Tito yang menyadari perubahan ekspresi dari sang teman, secara reflek langsung melihat ponsel Raga. Ia menjadi penasaran dan kemudian ikut membaca isi pesan itu.

Brak!

Tito menggebrak meja sehingga membuat Raga terkejut. " Eeh kampret. Napa kamu pake gebrak-gebrak meja, kaget tahu," omel Raga kepada Tito.

" Asli dah gue gedek banget ma tuh cewek. Dia maunya apa sih?"

Tito tampak sangat kesal setelah membaca pesan di ponsel Raga. Rupanya pesan itu dari Rena. Di dalam pesan tersebut tertulis bahwa Rena mengajak Raga bertemu, dan ia mengatakan maaf atas perbuatannya selam ini. Sungguh lucu bukan, wanita yang kemarin begitu kukuh minta bercerai kini malah terlihat berusaha untuk mendekat.

" Udah, nggak usah dipeduliin. Biar aja dia mau ngapain. Gue mah bodo amat dia mau kayak gimana," sahut Raga. Ya saat ini dia sama sekali tidak ingin memedulikan Rena. Baginya mereka sudah menjadi orang asing yang tidak ada hubungan sama sekali. Jad Raga sama sekali tidak berkewajiban untuk menjawab panggilan telepon maupun membalas pesan dari Rena.

" Bagus, anyepin aja tuh perempuan. Inget apa yang udah dia lakukan ke Lo Ga. Jadi gue harap Lo jangan pernah terpengaruh sama dia."

" Nggak akan, tenang aja."

Tito menepuk pindah Raga. Ia sungguh berharap Raga tidak lagi berhubungan dengan Rena. Karena bagi Tito, Rena bukalah wanita yang baik. Dan tentu saja Raga tahu akan hal itu. Dia juga enggan untuk terlibat dengan Rena barang sedikit pun.

Drtzzz

" Ya Hallo Ran, ada apa?"

" Pak, bisa bisa ketemu kah sekarang?"

" Bisa, tunggu ya, dimana?"

Sraak

Tap tap tap

Raga langsung bergegas pergi dengan menyambar jaket dan kunci mobil serta tasnya. Dia meninggalkan mejanya yang masih sedikit berserakan dengan kertas koreksian ulangan para muridnya. Raga terlihat begitu terburu-buru untuk pergi menemui Ran. Padahal Ran tidak bicara hal yang membuatnya khawatir. Tapi entah mengapa Raga merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman di hatinya saat Ran menghubunginya.

Di tempat lain, tepatnya di sebuah halte bus Ran tengah duduk. Dia terlihat kesal saat ini. Terlebih dengan orang yang ada di depannya.

" Apa yang Anda inginkan Nona Rena. Bukankah kita tidak punya urusan ya?" ucap Ran tajam tapi masih mengutamakan kesopanan.

" Heh cewek kemarin sore, Lo ngapain deket-deket sama Raga hah!"

Doengggg

Ran ingin tertawa keras sekarang. Lucu, ya itulah yang ia lihat dari wajah Rena saat ini. Bagi Ran ini sangat menggelikan. Bagaimana bisa wanita yang ia lihat bercumbu dengan pria, sekarang tiba-tiba mengusik wanita yang lain yang sedang dekat dengan mantan suaminya. Ya walaupun kedekatan yang Ran lakukan kepada Raga memang sengaja untuk membuat Rena merasa kesal dan itu berhasil.

Tapi tetap saja Ran merasa bahwa ini sungguh lucu melihat Rena seperti sekarang ini. Rena yang melihat Ran di lampu merah langsung meminta Ran untuk menepi. Awalnya Ran tidak tahu siapa itu, tapi setalah melihat secara seksama dia akhirnya mengenali wanita tersebut.

" Owalah Mbak, ya saya mau deket sama siapa aja itu ya suka-suka saya. Dan Mas Raga, diakan single ya. Jadi ya bebas aja mau deket sama siapa aja. Lha kok. Mbaknya yang repot. Mbak kan udah jadi MANTAN jadi nggak ada hal buat nyampuin urusan asmara Mas Raga."

Ran sengaja menekankan kata mantan agar Rena paham dan mengetahui posisinya saat ini. Ran sungguh tidak habis pikir dengan isi kepala Rena. Tapi dia menikmati momen tersebut.

Ckiiit

Sebuah mobil Pajero sport berhenti di belakang dua mobil lainnya. Raga keluar dari sana dan berjalan cepat ke arah Ran. Spontan Raga memegang kedua lengan Ran. Wajah khawatirnya kelas terlihat oleh Ran.

" Kamu nggak apa-apa kan Ran?"

" Mass, mantan kamu nih. Masa dia bilang aku nggak boleh deket-deket sama kamu."

Shaaaah

Raga langsung melihat Rena dengan tatapan yang tajam. Giginya bergemelutuk karena merasa kesal dengan ulah wanita yang ada di depannya itu. Dan sepertinya Rena tidak tahu saat ini dia sedang berurusan dengan siapa. Keturunan Abinawa ini bukanlah wanita yang biasa-biasa saja.

" Kamu ada masalah apa sih Ren? Aku mau deket sama siapa aja urusanku. Dan nggak usah nemuin Ran kayak gini. aku peringatan sekali lagi, jangan usik Ran.

" Tapi Ga."

Raga dan Ran sudah melenggang pergi dari halte bus tersebut. Walaupun dengan mobil masing-masing tapi mereka berdua pergi secara beriringan.

Rena sungguh sangat kesal, wajahnya merah padam melihat bagaimana Raga memperlakukan Ran dengan sangat lembut. Bahkan terlihat sekali Raga amat sangat melindungi Ran.

" Sialan, cewek brengsek!"

TBC

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

BLOKIR aja nomornya gampang kan?

2024-12-15

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

🤣🤣🤣🤣🤣 g tau malu kok di piara.....

2024-12-07

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒈𝒂𝒌 𝒕𝒉 𝒎𝒂𝒍𝒖 𝒔𝒊 𝑹𝒆𝒏𝒂 😤😤

2024-10-17

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!