DDI 08: Cantik

Hari dimana sidang mediasi di gelar, Dan Raga benar-benar tidak datang. Jadi Ran datang bersama Alif. Hari ini Alif akan jadi asisten Ran. Mahasiswa itu sangat senang. Kesempatan untuk mengikuti jalannya persidangan menjadi hal yang paling luar biasa untuk kegiatan magang.

" Hari ini yang perlu kamu perhatikan adalah apa yang dimau oleh penggugat. Catetin hal-hal pokok. Oke Lif!" ucap Ran memberi perintah kepada Alif.

" Siap Bu!"

Alif terlihat sangat antusias, dan Ran senang akan hal itu. Ia sengaja jika apa yang akan dilakukannya bukan hanya sekedar menyelesaikan pekerjaan tapi juga menjadi ilmu bagi Alif.

Ran dan Alif lebih dulu masuk ke dalam ruang mediasi di pengadilan negeri agama, lalu setelah itu di susul oleh Rena dan Pak Jhony. Ya, karena Ran sudah masuk dalam ikatan pengacara yang dibentuk di negeri ini, ia pun juga menghela pengacara senior tersebut. Mereka berdua bahkan saling berjabat tangan.

" Waah ternyata kamu Ran."

" Hehehe iya Pak Jhony, semoga kita bisa mendapatkan hasil yang baik ya pak."

Ran membalas senyuman Pak Jhony dan kini mereka duduk bersama. Rena melihat sekeliling dan juga ke arah pintu, tapi tidak ada yang muncul juga setelah mereka duduk. Pintu juga sudah di tutup.

" Tergugat?" tanya orang dari pengadilan agama.

" Maaf, klien saya hari ini tidak bisa hadir. Tapi beliau mengatakan kepada saya bahwa persidangan cerai ini sebaiknya tidak lagi mengadakan mediasi untuk kedua atau ketiga kalinya. Klien saya hanya ingin bercerai dengan baik-baik saja." Ran menjalankan secara tenang atas ketidakhadiran Raga.

" Tunggu, saya harus bertemu dengan Raga karena ada hal yang ingin saya sampaikan," ucap Rena cepat. Dia benar-benar merasa ada yang kurang jika tidak bertemu dengan Raga sendiri karena perihal yang ingin dia sampaikan.

" Maaf Nyonya Rena, Anda bisa menyampaikan kepada saya. Saya sudah diberi kuasa penuh oleh Beliau untuk mewakili beliau dalam perceraian ini. Jadi Anda bisa mengatakan apa yang ingin Anda katakan kepada Beliau melalui saya." Ran berkata tegas, karena memang seperti itulah mandat yang ia terima dari kliennya.

Grrrrrttt

Rena mengepalkan tangannya dengan erat. Apa yang sudah ia rencanakan dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan sekarang. Tapi dia bertekad bahwa apa yang jadi keinginannya harus terwujud. Jika Raga memang sudah mewakilkan semuanya kepada kuasa hukumnya, maka dia tidak akan sungkan untuk mengatakan semuanya. Rena tidak peduli, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana mendapatkan 500 juta beserta mobil yang dimiliki oleh Raga sebagai ganti rugi.

" Baiklah kalau memang begitu, tolong sampaikan ini kepada Raga. Saya menginginkan ganti rugi sebanyak 500 juta dan sebuah mobil yang sekarang dipakai oleh dia. Dengan begitu saya tidak akan mengungkapkan di persidangan bahwa dia menderita impoten. Saya akan menyimpannya ini untuk saya sendiri. Tapi jika Raga tidak mau memberikannya, maka saya akan mengungkapkan kepada publik alasan perceraian kami."

" Apa?"

Ran begitu terkejut dengan apa yang baru saja Rena katakan. Ia melirik ke arah Pak Jhony, pria itu hanya mengangguk kecil. Itu sebuah tanda bahwa memang seperti itulah keinginan klien.

Sedangkan Alif, ia juga tidak kalah terkejutnya. Dari kemarin dia bertanya siapa yang menderita impoten, ternyata itu adalah klien saat ini.

Ran mengepalkan tangannya, rupanya ini yang sedari kemarin membuatnya merasa tidak nyaman. Sebuah feeling yang tidak enak ternyata terjawab sudah.

" Ganti rugi? Apa Anda tidak salah?" elak Ran. Dia tidak mungkin membiarkan Raga membayar uang sejumlah itu kepada wanita ini.

" Tentu tidak, bukankah ini semacam penipuan. Sudah tahu dirinya impoten, mengapa tetap bersikukuh menikahi saya. Akhirnya saya harus menyandang status janda. Bukankah reputasi saya juga dipertaruhkan." Rena berkata dengan yakin.

" Gila!"

Ran mengumpat lirih, ia sangat kesal dengan pernyataan dari wanita itu.

***

Sidang mediasi yang hanya mendengarkan sebuah tuntutan dari Rena itu akhirnya berakhir. Dan sudah disepakati bahwa tidak akan mediasi untuk selanjutnya sehingga agenda yang akan datang langsung pada sidang perceraian.

Saat ini Ran langsung mendatangi DIS untuk menemui Raga. Ia sudah tidak tahan lagi untuk menyampaikan apa yang tadi dia dengar. Tapi sebelumnya ia meminta Alif untuk kembali ke kantor dan menyelesaikan berkas laporan untuk hari ini.

" Pak Raga, saya di kantin DIS."

Drap drap drap

Raga yang mendapat pesan dari Ran langsung bergegas menuju ke kantin. Ia bahkan mengacuhkan Tito yang saat ini memanggilnya. Raga hanya melambaikan tangannya ke arah Tito sambil berjalan cepat.

" Ran!"

" Eh, kirain masih ngajar Pak. Duduk Pak, mau pesan minum apa?"

Ran bangkit dari duduknya dan memesan sebuah minuman untuk Raga. Padahal Raga belum mengatakan apa yang dia inginkan tapi Ran sudah memesannya dulu.

" Lho, kok tahu aku suka ini Ran."

" Inget aja, Bapak dulu kalau ke kantin pesennya pasti es kopi hitam."

Ran menjawab sambil nyengir, ia memperlihatkan gigi-gigi putihnya. Raga sekilas memerhatikan mantan muridnya yang saat ini jadi pengacaranya itu. Muridnya dulu yang masih ABG, kini terlihat begitu dewasa. Gadis yang dulu masih suka berlarian di lorong kelas itu kini menjadi wanita dewasa yang jalannya pun begitu anggun.

" Cantik," gumam Raga lirih. Tapi detik selanjutnya ia menggelengkan kepalanya. Saat ini bukan waktunya ia mengagumi kecantikan Ran. Gen Abinawa memang tidak bisa dipungkiri. Bahkan warna mata Ran juga indah. Meskipun tidak seperti ayahnya, tapi warna mata Ran juga tidak banyak dimiliki orang. Warna hitam kebiruan, ya warna mata Ran tidak sepenuhnya hitam. Ada semburat biru yang membuat ia terlihat semakin cantik dan juga bercahaya ketika tengah memandang. Persis sama dengan mata milik kembaran Ran yakni Kaivan.

" Oh Iya Ran, ada apa kok langsung kesini." Raga mengalihkan perhatiannya dan menanyakan apa keperluan Ran mendatanginya.

" Itu, ini soal mediasi tadi Pak. Wanita itu, dia minta ganti rugi 500 juta plus mobil yang Bapak pakai."

" Heh? Keliatan aslinya. Haaah. Bener-bener deh."

Ran mengerutkan alisnya ketika melihat ekspresi Raga yang sama sekali tidak terkejut atas permintaan Rena. Pria itu sekarang mengerti mengapa Rena mengiriminya pesan untuk datang ke sidang mediasi.

" Lalu, apa bapak mau ngasih?"

" Nggak lah, ngapain."

" Tapi dia ngancem pak, mau nyebarin tentang Bapak yang menderita impoten."

Raga menarik satu sudut bibirnya. Ia lalu menggelengkan kepalanya pelan dan tidak menanggapi apa yang baru saja Ran katakan. Sungguh, Ran sedikit bingung. Tapi dia tidak akan memaksa Raga untuk memberikan tanggapannya. Saat ini yang Ran pikirkan adalah mungkin saja Raga syok atas tuntutan ganti rugi yang Rena berikan dan mungkin saja Raga butuh waktu untuk berpikir.

" Baiklah Pak, Ran harus balik ke kantor dulu. Apa ada yang mau dikatakan lagi?"

" Nggak ada Ran. Makasih ya udah langsung kesini buat ngabari. Padahal kan bisa via telepon. Yuk aku anter kamu sampe parkiran."

Ran mengangguk. Mereka berdua berjalan beriringan, sesekali Ran melirik ke arah Raga dan menerka-nerka apa yang sendang pria itu pikirkan. Tapi Ran tidak berani untuk menanyakannya langsung. Dan sampai tempat parkir tidak ada kata yang terucap dari keduanya, hingga Ran berpamitan. Raga mengangguk kecil lalu melambaikan tangannya kepada Ram saat mobil itu mulai pergi menjauh dan menghilang dibalik gerbang.

" Terserah mau dia nyebarin kalau aku impoten, yang jelas aku nggak impoten. Dia masih beraksi dengan sangat baik kok."

TBC

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Udah tersebar juga kan,dia yg udah nyebarin.ngapain harus ngancam lagi..Lagian Raga polos banget gak oernah nyelidikin saat isteri nya di luar rumah,kalo dia ada bukti isteri nya lah yg selingkuh, Raga bisa nuntut balik isterinya..

2024-12-15

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Biarlah anjing menggonggong.... kafilah tetep berlalu....Batin Raga....

2024-12-07

0

Bzaa

Bzaa

sebarin aja jgn takut

2025-01-03

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!