DDI 12: Selesai

Sidang perceraian diadakan 2 kali, dan 2 kali itu juga Raga tidak menampakkan dirinya. Ia memang sudah melakukan kesepakatan dengan Ran bahwa tidak akan menghadiri sidang sama sekali. Dimana hal terebut benar-benar Raga lakukan. Agaknya ia sungguh konsisten dengan kata-katanya.

Keputusan bercerai pun dikeluarkan oleh hakim dan pengadilan negeri agama setempat. Ketidakhadiran Raga mempercepat prosesnya, dan Raga tahu akan hal tersebut. Maka dari itu dia memilih untuk absen.

Namun ada hal yang membuat Ran merasa aneh bahwa wanita itu sama sekali tidak meributkan soal ganti rugi yang 500 juta dan mobil yang waktu itu diajukan saat mediasi. Padahal Ran sudah bersiap jika Rena kukuh memintanya. Akan tetapi semuanya tidak seperti yang Ran pikirkan, dan siapa sangka semua berakhir dengan cepat dan mudah. Rena juga terlihat tidak ada ambisi di wajahnya. Dia jua tidak mengajukan banding. Biasanya jika tidak sesuai dengan kemauan, maka seorang tergugat atau penggugat bisa mengajukan untuk banding.

" Kenapa Bu Ran, apa ada yang menganggu pikiran Ibu? Bukannya sidangnya berjalan lancar ya?" tanya Alif, saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju kembali ke kantor. Alif bertanya seperti itu karena melihat ekspresi wajah Ran.

" He'em sih emang lancar, tapi Lif aku ngrasa ada yang ganjel gitu lho. Kamu tahu kan gimana wanita itu menggebu-nggebu meminta uang ganti rugi, tapi tiba-tiba kok mlempem and nerima gitu aja." Ran berkata pajang lebar.

Sebenarnya Alif juga merasa sedikit aneh, tapi tentu dia tidak punya keberanian untuk menerka-nerka. Baginya sidang berjalan denan lancar saja sudah sangat baik.

Mobil berhenti tepat di depan kantor, Ran masuk lebih dulu dan Alif berjalan belakangan. Ran langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa bicara apapun. Ha tersebut membuat Doni dan Prita saling pandang.

" Lif, Bu Bos kenapa? Sidangnya nggak lancar kah? Apa si penggugat minta banding?" tanya Doni. Ia bertanya demikian karena melihat wajah Ran yang kusut.

" Iya Lif, kenapa tuh Bu Bos," timpal Prita.

" Lancar kok Pak Doni, Bu Prita. Langsung putusan cerai. Lancar jaya malah," jawab Alif dengan sangat meyakinkan karena memang seperti itu lah keadaannya.

Alif pun pamit undur diri untuk menyelesaikan laporan dan membuat arsip untuk sidang kali ini. Sedangkan Doni dan Prita yang masih penasaran dengan apa yang terjadi langsung menemui Ran di ruangannya. Keduanya duduk di kursi sambil menunggu Ran bercerita. tanpa mereka bertanya pun Ran sudah tahu arti kedua temannya itu mendatangi ruangannya.

" Semua lancar kok guys," ucap Ran sambil melihat Doni dan Prita bergantian.

"Trus nape muka Lo suntuk gitu?" sahut Prita cepat.

" Entahlah, gue ngrasa nggak puas aja. Kayak ada yang ngeganjel, tapi gue nggak ngerti itu apa."

" Ran, Lo nggak lupa kan tujuan Lo buat klien? Mewujudkan apa yang mereka mau. Nah itu kan sudah tercapai, soal urusan kepuasan kita itu nomor sekian. Yang penting kemauan klien sudah terpenuhi. Gue tahu Lo itu perfeksionis tapi jika permintaan klien emang udah sesuai, ya udah ngga masalah. Udah nggak usah dipikirin. Masih ada tugas Lo satu lagi, yani mengabarkan hasil keputusan sidang, udah belum?"

Ucapan Prita yang panjang lebar masuk ke dalam otak dan hati Ran. Dan semua yang dikatakan oleh Prita itu benar adanya. Dia melakukan pekerjaan jasa ini adalah bagaimana klien merasa puas dan mewujudkan keinginan dari si klien. Klien di sini adalah Raga, keinginan Raga untuk bercerai tanpa huru-hara ternyata benar-benar terwujud, jadi dia sudah berhasil untuk melakukan hal tersebut.

Ran tersenyum kepada kedua temannya, ia berterimakasih atas support dari Doni dan Prita. Kedua temannya itu selalu tahu bagaimana suasana hatinya hanya dengan melihat wajah. Mungkin ini adalah efek karena sudah berteman dan bekerja sama selama bertahun-tahun. Mereka saling mengerti satu sama lain.

Ran mengambil ponselnya lalu menghubungi Raga, ia meminta bertemu malam ini. Awalnya Ran ingin menyampaikan putusan sidang besok, tapi sepertinya lebih cepat lebih baik agar Raga merasa lega.

Berbanding terbaik dengan Ran yang merasa lega dengan hasil putusan sidang, di tempat yang berbeda Rena tengah memendam rasa kesalnya. Bahkan ingin sekali wanita itu berteriak, tapi dia tidak bisa melakukannya. Saat ini dia sedang duduk bersama kedua orang tuanya. Ibunya tampak sangat kesal dan marah karena Rena gagal mendapatkan 500 juta yang awalnya ia sangat percaya diri bahwa ia akan mendapatkannya.

" Kamu kok bodoh banget sih, katanya bakalan dapetin 500 juta itu. Tapi mana, ngomong doang kamu Ren? Padahal Ibu dah bayangin liburan sambil nambah modal buat usaha. Bukannya kamu mau nyebarin soal dia yang impoten itu!"

Rena hanya diam melihat omelan sang ibu yang panjang lebar. Ia tidak bisa menjawab bahwa semua itu adalah karena ancaman Raga yanga kan menyebarkan foto-foto tidak senonoh miliknya. Jadi ia membiarkan ibunya untuk mengomel sesuka hati.

" Huh, malah diem aja. Emang nggak bisa dipercaya omongan mu itu Ren," imbuh sanga ibu.

" Bu udahlah, aku capek. Lagian semuanya udah kelar ini. Nggak usah ngarep dapat uang itu. Udah aku mau ke kamar capek."

Rena bangkit dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan sang ibu yang terlihat masih sangat kesal. Sesampainya dikamar Rena melemparkan tubuhnya ke ranjang. Ia berteriak sambil menutup wajahnya dengan bantal agar suaranya tidak terdengar darai luar.

" Arghhh brengsek, semua ngga kayak yang gue harepin. Brengsek brengsek brengsek! Raga bangsat, bisa-bisanya dia lebih cerdik. Gue ngga nyangka dia bisa nutup mulut gue bahkan sebelum gue bertindak lebih jauh. Sial, sekarang gue ngga dapet apa-apa. Haah, cuma tinggal mas kawin dan seserahan yang dia kasih ke gue waktu itu. Aah sia, bener-bener sial."

Rena sungguh tidak bisa melakukan apapun. Sidang putusan cerai sudah turun, kini dia sah berstatus sebagai janda. Kini dia dan Raga bukan lagi suami istri. Padahal awalnya dia kukuh sekali minta cerai dan paling bersemangat. Tapi setelah hakim ketok palu, dia sama sekali tidak merasa lega. Dia juga tidak merasa senang akan hal itu. Ini aneh bukan? Ya, seperti itulah memang yang Rena rasakan. Bahkan bisa dibilang ada sebuah penyesalan dalam dirinya bercerai dengan Raga.

"Sebenarnya ada apa? kok gue ngrasa gini ya. Bukannya seneng tapi ngrasa ada yang hilang. Gue butuh Jerez buat ngilangin gundah yang gue rasain."

TBC

Terpopuler

Comments

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

mahalininya keluar wkwkwkwk.....

2024-10-25

1

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

kan udah soak duluan kena ulti 🤣🤣🤣

2024-10-25

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑹𝒆𝒏𝒂 𝒃𝒆𝒏𝒆𝒓" 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒈 😤😤😤

2024-10-17

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!