DDI 09: Kegilaan

" Arghhh sial sial sial. Ragaaaa, bisa bisanya Lo nggak mau datang hah. Kampret bener sih tuh laki. Dan tumpul, pengecut pula. Aaaghhh, brengsek!"

Rena mengamuk di kamarnya, ia merasa amat sangat kesal dengan ketidakhadiran Raga. Padahal itu adalah kesempatan besar untuk mendapatkan apa yang dia mau. Meskipun dia sudah mengatakannya kepada Ran, tapi tetap rasanya tidak puas dengan itu. Dia tetap ingin langsung berbicara kepada Raga, karena bisa leluasa dan pastinya tepat sasaran.

" Aku jadi semakin ragu dia mau ngasih aku 500 juta. Apa aku harus membuka di Instagram biar dia kapok. Biar dia malu sekalian. Tapi sidang belum dimulai, nanti malah bisa jadi serangan balik. Kecuali ... ."

Sebuah seringai terbit dari bibir Rena. Ia menemukan sebuah ide. Ide yang sangat brilian agar tujuannya tercapai. Merasa bahwa peluang untuk mendapatkan 500 juta dari raga agaknya kecil, Rena menempuh cara lain. Cara agar namanya bersih, tidak sebagai janda ayang buruk karena baru 6 bulan menikah tapi sudah bercerai.

Rena mengambil ponselnya, bagaimanapun dia tidak boleh memiliki predikat janda dengan banyak asumsi buruk dari teman-temannya. Yang ingin dia tekankan adalah perceraian ini terjadi karena dia ditipu. Itu akan membangun simpati publik dan seandainya pun dia meminta ganti rugi maka itu adalah hal yang wajar.

" Halo Dys, gue boleh minta tolong nggak sama Lo?"

" Oh hallo Ren. Tolong apa ya, kalau gue bisa gue bakal tolongin."

" Jadi gini, gue ... ."

Pembicaraan Rena di telepon berlangsung lumayan lama. Meskipun ia memberikan gambaran singkat, tapi tetaplah membutuhkan waktu lebih dari 15 menit untuk membicarakannya.

Orang yang dihubungi Rena adalah Gladys, dia adalah teman Rena semasa kuliah dulu. Gladys ini seorang ibu yang memiliki satu orang anak, tapi dia merupakan influencer dan juga konten kreator yang setiap unggahannya banyak sekali disaksikan oleh netizen. Selain itu dia biasanya juga suka mengadakan bincang-bincang dengan teman untuk membahas sesuatu. Dan Rena, ia ingin Gladys melakukan sesuatu sesuai rencananya.

" Jadi Dys, apa kira-kira gue bisa dimasukin ke acara bincang-bincang Lo."

" Bisa. Bisa banget, entar gue bikin flyer nya ya. Ehmm karena Minggu depan gue udah ada temen yang bakal ngisi acara bincang-bincang, jadi hanya Minggu ini doang yang kosong. Karena jadwal acara bincang-bincang gue tuh cuma seminggu sekali. Gimana Lo bisa nggak Minggu ini?"

Mata Rena berbinar, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan kemudahan dalam menjalankan rencana ini. Tentu saja ia langsung mengiyakan tawaran dari sang teman. Ini merupakan kesempatan emas buat dia dalam melakukan tujuannya.

Haaaahhhh

Sebuah helaan nafas panjang dilakukan oleh wanita itu. Tampaknya ia benar-benar sangat lega karena menemukan sebuah jalan keluar. Namun tiba-tiba ia terbayang oleh sosok raga. Siapa yang tidak terpikat oleh pria tersebut, wajah tampan, tubuh tinggi dan pastinya otot-otot tubuh yang bagus dan terbentuk membuat para wanita pasti akan menyukainya.

Tidak terkecuali Rena, saat masih tinggal serumah, ia selalu melihat Raga ketika tengah berolah raga. Keringat yang membasahi tubuh Raga terlihat begitu seksi dan menggoda bagi Rena.

" Ughhh, sial. Cuma inget-inget pas dia lagi begitu aja udah buat gue berhasrat gini. Huh emang brengsek tuh Raga. Ganteng-ganteng tumpul. Padahal pas nikah gue udah bayangan gimana hot nya dia kalau main di ranjang. Aaah, brengsek gue yakin bener barangnya dia bagus dan ukurannya juga manteb. Bisa gue pastiin lebih oke dari pada punya Jerez. Uugh, gue jadi pengen bangsaat."

Jeng jeng jeng

Ternyata seperti inilah Rena. Agaknya dia memiliki keinginan dalam berhubungan seksuall yang lebih besar. Terbukti hanya dengan membayangkan tubuh Raga saja hasratnya muncul. Maka dari itu dia tidak bisa menerima Raga yang menurutnya jelas impoten.

Rena beranggapan itu karena ia yakin ketika dirinya mencoba untuk memegang milik Raga dengan tampilan seksi dan menggoda, tapi milik pria itu hanya diam. Tidak ada reaksi apapun, jangan menegang hanya sekedar mengeras saja tidak.

" Ughh Raga ... Hah hah hah, gue beneran pengen Lo. Tapi, kenapa sih Lo harus tumpul. Padahal bayangan betapa nikmatnya saat bersamamu udah aku harapkan dari pertama kali kenal."

Rena berakhir di kamar mandi, menuntaskan dirinya sendiri. Karena tidak mungkin dia menghubungi Jerez saat kedua orang tuanya di rumah.

Ya, hubungannya dengan Jerez tidak lah diketahui oleh kedua orang tuanya. Jerez yang hanya seorang pemilik toko menurut ayah Rena tidak lah pas untuk dijadikan suami. Padahal Rena dan Jerez sudah berpacaran dari lama. Dan Rena juga memberikan miliknya yang berharga pada Jerez sejak mereka pacaran. Hubungan ranjang Rena dan Jerez bukanlah hanya sekali dua kali saja tapi sudah sering dan tentunya berkali-kali semenjak mereka saling mengenal dibangku kuliah.

" Haah Baiklah, rasanya tetep harus nemuin Jerez. Nggak bisa kalau nggak ketemu."

Rena melepaskan bajunya dan menggantinya dengan yang bersih. Ia lalu meraih tas tangannya dan mengambil kunci mobil yang ada di meja rias. Padahal malam sudah menjelang tapi dia tetap ingin bertemu dengan kekasih gelapnya itu. Atau kekasih yang sebenarnya. Entah sebutan apa yang tepat untuk Jerez.

Tapi yang jelas, hubungan mereka memang bukanlah hubungan pertemanan biasa. Mana ada hubungan pertemanan yang saling memberikan kehangatan tubuh yang dilakuan secara berulang. Bahkan sebelum pernikahan pun mereka masih bisa melakukannya.

" Mau kemana Ren?" tanya sang ibu yang sedang ada di dapur menyiapkan makan malamnya.

" Iya, mau kemana. Kamu nggak mau cerita tadi gimana pas sidang mediasi," imbuh sang ayah. Pada akhirnya Rena yang sudah sampai di depan pintu mau tidak mau harus memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke dalam rumah. Ia menarik kursi lalu duduk bersama ayah dan ibunya.

" Nggak sesuai harapan. Raga nggak mau datang dan nggak mau lagi ada mediasi. Dia langsung mau sidang putusan cerai aja. Padahal aku niatnya mau minta ganti rugi 500 juta sama dia."

" Apa?"

Dua orang tua itu langsung memfokuskan mata mereka kepada sang putri. Mereka tidak tahu rencana Rena yang itu. " Terus kira-kira bakalan bisa dapet nggak?" Rupanya ibunya Rena terlihat antusias.

" Nggak tahu, maka dari itu ini kau keluar buat nyari cara gimana bisa dapetin apa. yang Rena mau."

Bohong, bukan itu tujuan Rena keluar. Tujuan wanita itu keluar adalah untuk bertemu dengan Jerez. Ia ingin menuntaskan hasratnya yang tertunda.

TBC

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Nah kan ku bilang juga apa,Udah jadi barang BEKAS makanya milik Raga gak mau bangun,

2024-12-15

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Haaahhhhh.....bener2 ya perempuan satu ini ....bener2 gatelan... menjijikkan....

2024-12-07

0

Bzaa

Bzaa

rena, dodol banget

2025-01-03

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!