DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh

Raga memberi isyarat kepada Ran untuk menepi di taman yang terlihat di depan. Ran menganggukkan kepala tanda dia mengerti. Ran lalu mencari temat parkir untuk menghentikan mobilnya, ia melihat tempat parkir kosong di sisi kanan taman dan berhenti disana. Disusul Raga yang ada di belakangnya dan menempatkan mobil miliknya juga di sebelah mobil milik Ran.

Kedua keluar dari mobil, raga menuntun Ran untuk duduk di bangku taman yang kosong. " Maaf ya Ran, gara-gara aku kamu jadi digituin sama Rena. Haah, wanita itu bener-bener nggak habis pikir aku." Raga mengeluhkan perbuatan yang Rena lakukan baru saja terhadap Ran. Ia juga sangat menyesal karena menyeret Ran dalam situasinya.

" Pak Raga santai aja, aku nggak masalah kok. Lagi pula sebenarnya memang bapak kan ngga punya urusan lagi sama dia. Dan aku sengaja manggil Bapak tadi biar dia ada efek jera. Takutnya nanti kalau ada wanita yang ngedeketin Bapak digituin lagi sama dia. Ah iya baru inget, maaf ya dari waktu di puncak aku manggil Bapak jadi Mas."

Ya, Ran merasa tidak enak karena mengubah panggilannya kepada sang mantan guru. Tapi percayalah, Ran amat sangat canggung saat memanggil Raga dengan panggilan mas, rasanya sedikit aneh.

" Eh nggak masalah kok, malah aku seneng kamu mau manggil aku gitu. Lagian kita kan udah bukan guru dan murid, jadi nggak ada masalah kamu mau manggil apapun ke aku."

Raga tersenyum lebar saat mengatakan ha tersebut. Ya, dia lebih nyaman dan senang jika dipanggil mas. Akhir-akhir ini jika Ran memanggilnya Pak atau bapak, seakan-akan ada tembok tinggi diantara mereka. Dan sebenarnya Raga sangat senang dipanggil seperti itu.

Ran mengangguk kecil, meskipun sedikit canggung tapi ia tenang karena Raga tidak mempermasalahkan soal panggilan. Dia pun akan berusaha menjadi lebih nyaman dalam memanggil Raga kedepannya nanti.

" Ah iya selain mendatangimu, apa dia juga ngirimin kamu pesan?" tanya Raga. Ia merasa Rena tidak akan berhenti sampai disitu saja dan Raga mengkhawatirkan hal tersebut.

" Nggak ada sih, untuk saat ini dia belum mengirimi ku pesan. Apa dia melakukan hal lain juga ke Mas."

Degh!

Dada raga bergemuruh mendengar Ran memanggilnya sepeti itu. Padahal dia sendiri tadi yang meminta, tapi entah mengapa rasanya saat ini berbeda. Ada kupu-kupu yang menggelitik dadanya, dimana rasa itu belum pernah ia rasakan sebelumnya.

" Nggak ada Ran. Hanya saja tadi dia ngirimi aku pesan seperti ini." Raga mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pesan dari Rena.

_Ga, bisa ketemu nggak. Ada yang mau aku omongin. Aku mau kita bisa berhubungan baik meskipun udah pisah. Aku juga mau minta maaf soa apa yang udah aku lakuin ke kamu._

Seperti itulah isi pesan dari Rena. Ran mengerutkan alisnya, mencoba menelaah apa makna yang tersirat di dalamnya. Ia juga menghubungkan dengan peristiwa tadi, dimana Rena menemuinya dan berkata seperti tadi.

Sebuah kesimpulan dua ambil, yakni agaknya Rena ingin kembali dekat dengan Raga. Dan wanita itu merasa tidak suka jika ada wanita lain yang mendekati Raga.

Ran memberikan hipotesisnya kepada Raga, tamaknya pria itu pun setuju dengan pemikiran Ran.

" Lalu, apakah Mas mau nemuin dia?"

" Nggak lah ngapain. Dia kan yang minta pisah, nah udah terkabul tuh. So, ngapain dia sekarang minta deket lagi. Pokoknya kalau dia ngusik kamu, langsung kabari aku, dan jangan ditanggapi, ok?"

Raga khawatir terhadap Ran, tidak seharusnya Ran berada dalam situasi seperti ini. Apapun yang Ran lakukan adalah untuk membantunya. Maka dari itu Raga harus melindungi Ran. Setidaknya itulah yang saat ini terlintas dalam pikiran Raga.

Obrolan mereka berlanjut, hingga matahari mulai merangkak ke sisi barat, meninggalkan sinar kuning menjadi semburat jingga yang indah. Semburat di langit senja membuat suasana hati yang tadi buruk menjadi lebih baik lagi.

" Ran, ayo pulang. Sebentar lagi magrib."

" Iya Mas, semoga hari esok lebih baik dari ini."

Mereka berdua berpisah di taman dan pulang ke kediaman masing-masing. Sepanjang jalan menuju ke rumah Ran terus memikirkan apa yang tejadi hari ini. Semua tertuju pada Rena, dan ia pun tidak pernah menyangka akan ikut pada urusan yang seperti ini. Tapi Ran tidak menyesal, karena dari awal dia lah yang ingin membantu Raga.

Saat ini malah Ran merasa ingin lebih membantu Raga. Melihat kelakuan Rena, Ran menjadi tidak bisa menerima jika suatu hari nanti Raga kembali pada wanita itu. Bagi Ran, Raga berhak mendapatkan wanita yang lebih baik lagi.

Lalu soal impoten, menurut Ran sepertinya ia harus sedikit memaksa Raga agar mau memeriksakan kesehatan reproduksinya ke rumah sakit. Untuk soal kerahasiaan, tentu saja ran berani menjamin. Pasalnya dia memiliki banyak kenalan dekat di rumah sakit. Terutama Rumah Sakit Mitra Harapan, banyak sekali orang yang ia kenal di sana. bahkan pimpinan rumah sakit pun berhubungan baik dengan keluarganya. Jadi tentu saja tidak akan jadi soal.

" Ini PR nya hanya di Mas Raga. Aku harus bisa membujuknya, demi masa depannya. Tapi mungkin untuk sampai ditahap itu, kita harus lebih deket lagi," gumam Ran lirih.

Adzan berkumandang pas sekali dengan Ran yang sampai di rumah. Ia mencium tangan Kai dan Kirana, lalu pamit untuk membersikan diri sebelum menjalani ibadah 3 rakaat bersama dengan seluruh anggota keluarga.

Kai bergerak menjadi imam, lantunan ayat suci begitu merdu terdengar. Bahkan Kirana yang sudah menjalani biduk pernikahan selama 28 tahun itu pun masih sangat menyukai suara sang suami ketika menjadi imam sholat.

Salam diucapkan sebagai tanda ibadah telah usai. Semuanya saling mencium tangan kepada yang lebih tua. Dan kegiatan tersebut di akhiri dengan mengaji bersama. Kai selalu membuat hal tersebut rutin dilakukan. Minimal satu lembar dalam kitab suci harus mereka lakukan.

" Bi, apakah disfungsi ereksi itu bisa disembuhkan?"

" Tentu saja bisa, kenapa emangnya? buat gurumu itu ya?"

Ran mengangguk cepat, dan hal tersebut membuat Kai merasa curiga kepada putrinya. Baru kali ini Ran terlewat perhatian kepada orang yang pernah jadi kliennya. Ya walaupun pria itu adalah guru Ran dulu.

"Coba tanya Om Nataya, dia pasti punya kenalan dokter yang pas. Lha bukannya Neha juga dokter Ran, coba tanya Neha. Neha putri pertama dari Om Nataya juga dokter di RSMH."

" Ah iya, lupa. Oke Bi, makasih."

Ran langsung berlari ke kamarnya. Meskipun Kai penasaran mengapa Ran begitu perhatian kepada Raga, tapi untuk saat ini dia hanya akan diam dulu. Baru nanti dia akan bertanya jika dirasa perhatian Ran sudah melebihi kapasitas.

" Tidak mungkin kan Ran menyukai duda itu?"

TBC

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

ga apa2 abi, biar duda tpi masih perjaka 🤣

2025-01-04

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Udah lemes aja manggil Mas Raga .....☺️☺️☺️☺️☺️

2024-12-07

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑨𝒃𝒊 𝑲𝒂𝒊 𝒑𝒆𝒌𝒂 𝒏𝒊𝒉 𝒌𝒍 𝑹𝒂𝒏 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝒅𝒂𝒉 𝒂𝒅𝒂 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒕𝒑 𝒃𝒍𝒎 𝒏𝒈𝒆𝒉 🤭🤭

2024-10-17

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!