DDI 13: Semangat Ketemuan

Raga dengan senyum cerah mengembang melenggang di lorong kelas menuju kantor guru. Bahkan duda baru netes itu bersenandung kecil, perasaannya sungguh baik. Rasa lega ada di dadanya terlebih setelah mengabarkan kepada kedua orang tuanya perihal dirinya yang sudah bercerai.

Meskipun awalnya mereka terkejut, namun setelah mendengar penjelasan dari Raga, mereka pun memaklumi. Bukan hanya itu, mereka juga mendukung keputusan putra mereka untuk berpisah.

" Rapopo Le, berarti memang kui wadon Dudu jodohmu ( nggak apa-apa nak, berarti wanita itu memang bukan jodohmu)."

" Iyo, insyaAllaah Allah bakal maringi jodoh sik luweh apik ( Iya, insyaAllah, Allah akan memberikan jodoh yang lebih baik)."

Seperti itulah kata-kata dari bapak dan ibunya Raga. Raga sangat bersyukur kedua orang tuanya adalah orang tua yang open minded sehingga ia pun mudah menjelaskan situasinya. Tidak ada yang Raga tutupi dari hal yang menyebabkan dirinya bercerai dengan Rena. Keterkejutan mereka jelas tidak bisa dipungkiri, tapi ada rasa syukur dari keduanya yakni anak mereka tidak lah meneruskan pernikahan yang dari awal sudah salah

Meskipun begitu Raga tetap mendapatkan sebuah teguran dari sang ayah, yakni mengapa harus meneruskan pernikahan jika dia sudah tahu dari awal. Lagi-lagi jawaban Raga adalah seperti semula yang ia pikirkan, dia tidak ingin membuat keluarganya dan keluarga dari Rena malu.

Lagi pula sekarang ini menyandang status duda juga bukan hal yang buruk. Yang penting dia merupakan seorang duda yang tentunya masih perjaka walau harus di cap impoten oleh beberapa orang yang mengetahui kasusnya.

" Oii, bahagia kali kau rupanya ya," ucap Tito sambil menepuk bahu Raga. Kini mereka berjalan beriringan menuju ke kantor guru.

" Hahahha yoi, harus lah bahagia. Semua beres!" sahut Raga dengan menunjukkan wajahnya yang benar-benar bahagia.

Tito tersenyum melihat temannya begitu. Ia sungguh bersyukur karena sang teman telah keluar dari masalah hidupnya. Dan Tito berharap Raga menemukan wanita yang tepat nanti sebagai istrinya.

Drtzzz

Ponsel Raga berbunyi, pria itu menghentikan langkah kakinya sejenak untuk melihat siapa yang menghubunginya. Sebuah senyum mengembang dari bibirnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.

" Woii, pesen dari sapa sih, senyam senyum sendiri gitu?" Teriakan Tito membuat Raga mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wajah sang teman.

" Aah ini pengacara ku, yang aku bilang mantan murid sini itu lho. Namanya Ran." Raga menjawab dengan apa adanya. Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa hal tersebut malah membuat Tito penasaran.

" Lihat-lihat, kek mana orangnya. Kenalin ke gue dong."

" Kagak!"

Tap tap tap

Raga langsung memasukkan ponselnya saat Tito hendak melihatnya. Ia pun langsung pergi melenggang lebih dulu meninggalkan Tito yang masih berdiri mematung.

Entahlah apa yang saat ini Raga rasakan, tapi yang jelas dia tidak ingin memperlihatkan wajah Ran kepada Tito. Padahal di aplikasi berkirim pesan yang ia miliki, Ran tidak memasangkan foto dirinya. Poto profil yang digunakan Ran adalah logo kantor firma hukum miliknya.

" Tuh anak napa sih, kalau gini kan gue makin kepo sama cewek yang bernama Ran itu. Lagian Raga, orang cuma pengen lihat kek apa itu mantan muridnya, pelit banget sih." Tito mengomel sepanjang jalan menuju ke kantor. Ia merasa heran dengan sikap sang teman yang baru saja diperlihatkan. Selama ini Raga tidak pernah bersikap begitu.

***

Jam sekolah usai, Raga terlihat terburu-buru dalam membereskan barang-barangnya. Hal tersebut kembali menarik perhatian Tito. Biasanya Raga akan santai jika jam pulang tiba, tapi kali ini pria itu terlihat ingin segera meninggalkan sekolah.

" Mau kemana, ada janji kah kau?"

" Ho o, aku duluan ya. Bye!"

Tito mengerutkan alisnya, hari ini Raga benar-benar terlihat sangat aneh. Kenapa dia bicara seperti itu, karena apa yang dilakukan Raga kali ini sungguh di luar kebiasannya dia. Bahkan sepanjang hari, pria tersebut terus melihat ponselnya. Entah dengan siapa dia berkirim pesan, Tito tidak tahu dan tidak bertanya juga.

Melihat Raga yang tampaknya senang melakukan itu, karena wajahnya berbinar setiap melihat pesan membuat Tito membiarkan sang teman. Malah menurut Tito, semenjak pernikahan baru kali ini Raga memiliki raut wajah yang baik. Ya, selama pernikahannya dengan Rena, wajah Raga selalu kusut bagaikan memiliki beban segunung.

" Kali tuh bocah lagi puber lagi. Aah biarkan saja, yang penting seneng. Dan gue juga sengaja lihat dia bersemangat macem itu," gumam Tito lirih sambil merapikan kertas-kertas hasil ulangan para muridnya.

Ckiiiit

Tap tap tap

Raga memarkirkan mobilnya lalu berjalan masuk ke Soul Restoran. Di dalam sudah ada Ran yang duduk di salah satu meja. Wanita itu melambaikan tangan kepada Raga sebagai tanda.

" Sorry, dah lama ya nunggunya?" ucap Raga sambil menarik kursi lalu duduk tepat di depan Ran.

" Nggak kok Pak, Ran baru aja Dateng juga. Belum makan siang kan, persen dulu aja ya. Ran juga belum pesen, nunggu Bapak," sahut Ran dengan senyuman.

Degh!

Tiba-tiba dada Raga bergemuruh melihat senyuman Ran. Padahal bukan sekali ini dia melihat mantan muridnya itu tersenyum begitu. Dan dia mengakui bahwa senyuman Ran semakin menambah aura cantiknya.

Raga bahkan harus mengalihkan pandangannya dari wajah Ran ke daftar menu yang ada di meja. Entahlah rasanya wajahnya terasa panas saat ini. Ia takut itu diketahui oleh Ran.

" Pak Raga sakit, kok wajahnya sedikit merah? Apa demam."

Blush

Semakin panas saja wajahnya saat Ran menyentuh tangannya. Ini benar-benar membuat Raga frustasi. " Nggak Ran, aku nggak demam. Mungkin karena diluar panas, jadi berasa panas juga tubuh ku."

" Aah gitu, iya di luar memang panas buanget."

Huuuft

Raga membuang nafasnya penuh dengan kelegaan. Ran percaya apa yang ia katakan. Jika melihat sepintas bisa Raga lihat bahwa Ran ini bukanlah orang yang curigaan terhadap seseorang yang dekat dengannya. Wanita tersebut juga terlihat polos, dan entah mengapa hal ini membuat Raga menjadi was-was.

" Nah sudah datang, makan dulu Pak. Nanti kalau udah kelar, baru kita bahasa hasil sidangnya."

" Oke, selamat makan Ran."

Keduanya menikmati makan siang yang ada di Soul Restoran dengan begitu hikmat. Masing-masing menikmati makanan yang mereka pesan hingga habis tidak bersisa. Dan pada akhirnya mereka pun selesai makan dengan mencuci tangan masing-masing.

" Jadi Pak, semuanya sudah selesai. Putusan cerai juga sudah dikeluarkan. Maaf harus berkata begini, tapi selamat anda sudah menjadi duda hehehe.

Ran mengulurkan tangannya kepada Raga dan Raga meyambut tangan Ran tersebut. Ada satu hal yang ada di kepala Raga saat ini, ia pikir tangan Ran aku halus tapi ternyata tidak. Itu berarti Ran juga melakukan pekerjaan rumah. Ia pikir seorang Abinawa tidak akan melakukan pekerjaan rumah. Raga tidak tahu saja bahwa sudah dari kecil mereka dilatih untuk mandiri, bahkan dari usia 5 tahun Ran dan Kaivan sudah diajari beladiri oleh Abi dan Ummi mereka.

" Terimakasih Ran. Semua atas kerja kerasmu."

" Tapi pak, Ran heran. Kok dia nggak ngelawan ya. Dan dia juga nggak bahas soal ganti rugi waktu itu."

" Ooh itu, entahlah."

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Woooii.....ada duren manget nih..... siapa daftar....🤣🤣🤣

2024-12-07

0

Bzaa

Bzaa

blm tau aja, ada kotak Pandora ny

2025-01-03

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑹𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒕𝒊" 𝒍𝒉𝒐 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑹𝒂𝒈𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒏𝒂 𝒔𝒌𝒓𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒊𝒏𝒄𝒂𝒓𝒂𝒏 𝑹𝒂𝒈𝒂 𝒚𝒈 𝒃𝒂𝒓𝒖 𝒋𝒅 𝒅𝒖𝒅𝒂 😅😅

2024-10-17

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!